"Kau sudah gila, Le?" Suara Mbok Sari pecah. Ia memungut sendok kayu yang jatuh dengan tangan gemetar. "Bapakmu sudah pergi. Sekarang kau mau pergi juga? Mau kau tinggalkan ibu dan adikmu untuk siapa?"
Sutan berlutut di hadapan ibunya, memegang tangan tua itu yang sudah penuh urat dan kapalan. "Mbok, justru karena Mbok dan Lastri, aku harus pergi. Kalau Belanda datang ke sini, kalau mereka membakar rumah kita seperti mereka membakar desa Darso, siapa yang akan melindungi Mbok? Aku tidak bisa cuma diam menunggu."
Mbok Sari menangis tanpa suara. Air matanya jatuh ke atas tangan anaknya. "Ibu sudah kehilangan suami. Ibu tidak sanggup kehilangan anak."
"Mbok tidak akan kehilangan aku," kata Sutan, meskipun ia sendiri tidak yakin. "Aku berjanji akan pulang. Aku akan menulis surat. Setiap ada kesempatan, aku akan menulis, supaya Mbok tahu aku masih hidup."
Dari balik tirai dapur, Lastri muncul. Anak sebelas tahun itu menatap kakaknya dengan mata yang terlalu dewasa untuk usianya. "Kakak benar-benar mau pergi?"
Sutan membentangkan tangannya, dan Lastri berlari ke pelukannya. "Iya, Las. Tapi Kakak akan kembali. Kau jaga Mbok, ya. Kau sekarang jadi orang yang paling Kakak andalkan di rumah ini."
Lastri mengangguk di dada kakaknya, isakannya tertahan.
Malam itu, setelah ibunya tertidur karena kelelahan menangis, Sutan keluar rumah. Bulan separuh menggantung di langit. Ia berjalan menyusuri pematang yang sudah ia kenal seumur hidupnya, menuju rumah keluarga Atmodjo. Di pagar bambu itu, ia berdiri lama, ragu apakah harus mengetuk pintu atau pulang saja.
Tetapi pintu itu terbuka sebelum ia memutuskan. Ningrum keluar membawa lampu teplok kecil. Tampaknya ia juga tidak bisa tidur.
"Tan?" Ningrum terkejut. "Sedang apa kau di sini malam-malam?"
Sutan menelan ludah. "Aku... aku mau pamit, Ningrum."
Cahaya lampu teplok bergoyang di tangan gadis itu. "Pamit ke mana?"
"Aku ikut laskar. Besok pagi aku berangkat."
Untuk beberapa saat, Ningrum tidak berkata apa-apa. Hanya suara jangkrik yang mengisi keheningan. Lalu, perlahan, ia meletakkan lampu teplok di atas pagar, dan menatap Sutan dengan mata yang bersinar oleh air mata yang tertahan.
"Kenapa harus kau, Tan? Kenapa bukan orang lain?"
"Karena kalau bukan aku, lalu siapa?" Sutan mengulang kalimat yang pernah diucapkan Kang Sapto, kalimat yang dulu tidak ia mengerti dan sekarang ia rasakan benar di tulangnya. "Ningrum, aku tidak pandai berkata-kata. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu sebelum aku pergi."
Ningrum menunggu, napasnya tertahan.
"Aku... aku menyukaimu. Sejak lama. Mungkin sejak kita masih kecil dan kau merebut layang-layangku di kali itu." Sutan tertawa kecil, gugup. "Aku tidak tahu apakah aku akan pulang. Tapi kalau aku pulang, dan kalau kau mau menungguku, aku ingin menikahimu, Ningrum. Setelah perang ini selesai."
Air mata Ningrum akhirnya jatuh. Tetapi ia tersenyum di antara tangisnya. "Bodoh. Kenapa baru sekarang kau bilang? Kenapa harus menunggu sampai kau mau pergi?"
"Karena aku pengecut," jawab Sutan jujur. "Tapi sekarang aku tidak mau jadi pengecut lagi."
Ningrum melepas sehelai kain kecil dari lehernya—sebuah selendang tipis berwarna biru pudar, kain yang selalu ia kenakan. Ia menyelipkannya ke tangan Sutan. "Bawa ini. Supaya kau ingat ada yang menunggumu pulang. Dan tulislah surat, Tan. Janji?"
Sutan menggenggam selendang itu erat-erat, seakan menggenggam seluruh dunia. "Aku janji. Aku akan menulis surat untukmu. Setiap hari kalau bisa. Meskipun mungkin tidak akan pernah sampai padamu, aku akan tetap menulis."
"Akan sampai," kata Ningrum. "Aku akan menunggu setiap suratmu."
Mereka berdiri di bawah cahaya bulan separuh itu, dua anak muda yang baru saja menemukan satu sama lain di ambang perpisahan. Sutan ingin memeluk Ningrum, tetapi adat dan rasa hormat menahannya. Maka ia hanya menatap wajah gadis itu lama-lama, mencoba menyimpan setiap garisnya di dalam ingatan, agar kelak, di parit yang dingin dan jauh, ia bisa mengingat untuk apa ia bertahan.
"Pulanglah dengan selamat, Sutan," bisik Ningrum.
Dan keesokan paginya, dengan selendang biru terselip di balik bajunya, Sutan meninggalkan Desa Kaliwungu untuk pertama kalinya dalam hidupnya.