Di Kaliwungu, pagi datang dengan asap tipis dari tungku-tungku dapur. Lastri membuka mata sebelum ayam berkokok, seperti yang diajarkan kakaknya dulu—bangun sebelum matahari, supaya kerja selesai sebelum panas. Ia bukan lagi anak kecil yang dititipi menjaga ibu pada hari Sutan pergi. Hampir setahun telah berlalu sejak itu. Tubuhnya memanjang, gerak tangannya cekatan, dan matanya—mata yang dulu sering berkaca-kaca—kini belajar menyimpan air mata di dalam.
Ia mengambil air dari sumur, menyalakan tungku, menanak nasi jagung yang tinggal sedikit. Beras sudah lama menjadi barang langka di kampung; sebagian besar diambil paksa oleh patroli yang lewat. Mbok Sari masih tidur di amben, batuknya terdengar dari dapur. Sejak musim hujan lalu, ibunya sering sakit. Lastri tahu sebagian sakit itu bukan dari tubuh, melainkan dari rindu yang tak kunjung berobat.
"Mbok," panggil Lastri lembut, membawa secangkir air panas dengan sedikit gula merah. "Minum dulu. Biar hangat."
Mbok Sari bangun perlahan, rambutnya yang sudah banyak memutih tergerai. Ia menerima cangkir itu, tangannya menyentuh pipi anak perempuannya. "Kau makin mirip kakakmu, Lastri. Caramu menyuruh orang minum, persis Sutan."
Lastri tersenyum kecil, tapi di dalam dadanya nama itu menyengat seperti garam di luka. Sudah berbulan-bulan tak ada kabar. Surat terakhir yang sampai—bukan dari kakaknya langsung, melainkan kabar berantai dari mulut ke mulut—mengatakan bahwa laskar selatan masih bertahan di suatu tempat. Setelah itu, sunyi.
Tapi Lastri punya rahasia yang tak ia ceritakan pada ibunya, agar ibunya tak menanggung harapan dan kecewa berganti-ganti. Di balik bilik bambu kamarnya, terselip di antara kasur dan dinding, ada sebuah buku tulis usang—bekas buku sekolah yang sudah lama tutup karena perang. Di buku itu, dengan pensil pendek yang ujungnya tinggal sejengkal, Lastri mencatat setiap kabar tentang kakaknya.
"Bulan Sapar, Mbah Karto pergi mengungsi, katanya laskar selatan belum habis."
"Bulan Mulud, pedagang garam dari selatan bilang ada pemuda Kaliwungu memimpin gerilya di hutan."
"Tak tahu benar tidaknya. Tapi kucatat. Supaya kalau Kakang pulang, ia tahu kami tak pernah melupakannya."
Itu cara Lastri berjuang. Anak perempuan tak bisa memanggul senapan, tak bisa menggali parit. Tapi ia bisa mengingat. Ia bisa menjaga ibunya tetap makan, tetap punya alasan untuk hidup sampai esok. Dan ia bisa mendengar—mendengar dengan telinga yang tajam saat orang-orang berbisik di pasar, di sumur, di balai desa.
Pagi itu, sambil menjemur sisa padi di halaman, Lastri mendengar derap. Ia mengangkat kepala. Dari jalan besar di ujung kampung, serombongan tentara berseragam hijau lewat, sepatu mereka berdebu, senapan tersandang. Di depan, seorang perwira berwajah pucat berjalan dengan punggung tegak, matanya menyapu kampung seakan menghitung tiap rumah.
Lastri menunduk, pura-pura sibuk dengan padinya, tapi jantungnya berdegup. Ia hafal patroli itu sekarang. Mereka datang hampir tiap pekan. Kadang berhenti, menanyai orang, menggeledah lumbung. Kadang hanya lewat, tapi mata sang perwira selalu mencatat.
Saat patroli sudah jauh, Lastri masuk ke dalam, mengambil buku tulisnya, dan menulis dengan tangan yang sedikit gemetar:
"Hari pasaran Kliwon. Patroli Belanda lewat lagi. Perwira pucat itu memandang ke arah rumah kita. Lama. Aku tak suka caranya memandang."
Ia menutup buku itu, menyembunyikannya kembali. Lalu ia kembali ke dapur, ke ibunya, ke pekerjaan-pekerjaan kecil yang menjaga keluarga ini tetap utuh. Di luar, hidup berjalan seperti biasa—orang ke sawah, anak-anak bermain, ayam berkokok. Tapi Lastri tahu, di balik kenormalan itu, ada mata yang mengawasi. Dan ia bersumpah dalam hati: apa pun yang terjadi, ia akan menjaga ibunya, dan ia akan menyimpan setiap kabar—agar kelak, jika kakaknya pulang, ada seseorang yang bisa berkata, "Kang, kami menunggumu. Tiap hari. Lihat, aku catat semuanya."
Malam harinya, sebelum tidur, Lastri menatap langit dari celah dinding bambu. "Kang Sutan," bisiknya, "di mana pun Kakang sekarang—di parit, di hutan, di mana saja—pulanglah. Mbok makin sering batuk. Dan aku... aku sudah hampir lupa suaramu."
Tak ada jawaban selain angin malam. Tapi Lastri menutup mata dengan satu keyakinan keras kepala yang diwarisinya dari kakaknya sendiri: bahwa selama ia masih mengingat, kakaknya belum benar-benar pergi.