Sandi dalam surat berjalan baik untuk beberapa pekan. Kabar mengalir, jalur kurir bekerja, dan beberapa kali gerilya berhasil menghindar dari patroli berkat peringatan yang tiba tepat waktu. Tapi keberuntungan, di masa perang, selalu punya batas.
Mulanya kabar buruk itu datang seperti tetes air yang menetes dari atap—satu demi satu, tak diperhatikan, sampai genangan menjadi banjir. Seorang kurir bernama Sukri—pemuda kurus dari dukuh sebelah—tak kembali dari pengantaran. Sepekan kemudian, dua kurir lain disergap di jalur yang seharusnya aman, jalur yang baru saja diubah dan hanya diketahui segelintir orang. Salah satunya gugur. Yang lain lolos dengan luka tembak di paha, dan dari mulutnyalah benih kecurigaan itu disemai.
"Mereka sudah menunggu kami, Komandan," kata kurir yang terluka itu, terbaring di tikar, wajahnya pucat sementara Pak Mantri membalut lukanya. "Mereka tahu kami akan lewat situ. Tahu jamnya. Tahu jumlah kami. Belanda tak mungkin menebak sebaik itu. Ada yang memberitahu mereka."
Kata-kata itu menggantung di udara gua seperti racun. Sutan, yang berdiri di dekat pintu, merasa perutnya mengeras. Darso di sampingnya menggumam, "Tidak mungkin. Kita semua satu darah di sini. Siapa yang tega?"
Tapi Komandan Marto tak menjawab cepat. Ia berdiri lama memandang api, kumis tebalnya menutupi gerak bibirnya, matanya menggelap oleh pikiran yang berat. Akhirnya ia berkata, suaranya pelan tapi tegas, "Jalur itu hanya diketahui delapan orang. Aku, Sutan, Darso, dan lima kurir. Kalau Belanda tahu, kebocoran berasal dari salah satu dari kita."
Sunyi mencekam. Pejuang-pejuang yang selama berbulan-bulan saling menyandarkan nyawa kini saling melirik dengan ekor mata. Kepercayaan yang dibangun lewat darah dan lapar bersama, retak dalam satu malam.
"Tidak," kata Sutan, suaranya bergetar oleh kemarahan dan kepedihan. "Komandan, mereka ini saudara-saudara kita. Kita makan dari nasi yang sama, tidur di tanah yang sama—"
"Justru karena itu, Sutan," potong Marto, matanya tajam menatap anak muda itu, "pengkhianatan dari dalam adalah yang paling membunuh. Bukan pelurunya yang menyakitkan. Tapi tangan yang menembakkannya. Aku tak ingin percaya ini sebagaimana kau tak ingin. Tapi nyawa kawan-kawan kita sudah hilang. Aku tak boleh menutup mata."
Sejak malam itu, markas gerilya berubah. Tawa yang biasanya pecah saat Darso melempar lelucon kini tertahan. Orang-orang makan dalam diam, mengamati satu sama lain. Wiji, kurir muda yang ceria, kini menyendiri, takut dicurigai. Bahkan Pak Mantri, yang menangani luka semua orang tanpa pandang bulu, terlihat lebih sering melepas kacamatanya untuk mengusap mata yang lelah.
Sutan tak bisa tidur. Ia keluar dari gua, duduk di batu di mulut hutan, memandang langit malam yang dingin. Darso menyusulnya, duduk di sebelahnya tanpa bicara untuk waktu yang lama.
"Aku takut, Tan," akhirnya Darso berkata, suaranya tak seperti biasanya. "Bukan takut peluru. Aku sudah biasa dengan peluru. Tapi takut menatap kawan dan bertanya-tanya, apakah ia menjualku ke maut. Takut tak bisa lagi memunggungi saudaraku sendiri."
Sutan mengangguk pelan. Ia mengeluarkan selendang biru dari dadanya, memegangnya seakan mencari kekuatan. "Kang Sapto pernah bilang padaku di awal perang—perang itu bukan cuma melawan musuh di seberang. Perang juga menguji apakah kita masih bisa percaya pada sesama. Yang membuat manusia kalah bukan kalah perang, tapi kalah pada curiga, sampai kita memandang saudara sebagai musuh."
Darso terdiam. "Lalu kita harus bagaimana?"
"Kita cari kebenaran," kata Sutan. "Bukan dengan menuduh sembarangan, bukan dengan menyiksa siapa pun. Dengan kepala dingin. Komandan Marto bukan orang yang gegabah. Ia akan menemukan siapa pun itu. Dan saat ditemukan..." Sutan menghela napas berat, menatap kegelapan hutan. "Saat ditemukan, kita akan tahu apa artinya tetap menjadi manusia, bahkan terhadap orang yang mengkhianati kita."
Di belakang mereka, dari mulut gua, terdengar Komandan Marto memberi perintah pelan kepada beberapa orang kepercayaannya. Sebuah rencana sedang disusun—jebakan diam-diam, jalur palsu yang sengaja dibocorkan ke tiap orang yang dicurigai, untuk melihat jalur mana yang akan disergap Belanda. Cara lama untuk menjaring tikus tanpa membakar lumbung.
Sutan menatap bintang-bintang dingin di atas hutan, dan untuk pertama kali sejak ia angkat senjata, ia merasakan ketakutan jenis baru: bukan takut mati, melainkan takut bahwa perang telah menyusup begitu dalam sampai bisa mengubah saudara menjadi pengkhianat. Ia menggenggam selendang biru lebih erat, dan berdoa agar di antara wajah-wajah yang ia kasihi di gua itu, tak ada satu pun yang telah menjual nyawa kawannya kepada van Daalen.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Sutan tahu—seseorang pasti telah melakukannya. Dan ia takut, ia sangat takut, akan siapa yang ditunjukkan oleh kebenaran nanti.