"Aku tak bisa pergi dari rumah ini, Zi," ucap Fandi saat ia mengatakan sudah memutuskan soal permintaan Zivana untuk pindah rumah.
Perempuan itu tak menentu tangkap jika suaminya tak bisa memenuhi keinginannya. Fandi lebih memilih bertahan di rumah warisan orang tuanya bersama abang dan kakak iparnya dibanding hidup mandiri bersama keluarga kecilnya.
Zivana jelas sangat kecewa dengan keputusan Fandi. Ia sangat berharap suaminya kali ini bisa bersikap bijak dan adil untuk dirinya. Namun, ternyata kenyataan itu telah menghemoaa semua mimpi yang ingin ia rangkau bersama lelaki berstatys suaminya.
"Kenapa kau tak bisa pindah dari sini, Mas?" tanya Zivana yang awalnya enggan untuk mengetahui alasan Fandi tak mau memiliki rumah baru, karena ia sudah tahu pasti alasannya, tetapi masih penasaran dengan jawaban lelaki itu.
"Aku tak enak dengan Bang Arman dan Kak Kak Angela."
"Tak enak dengan mereka atau kau tak bisa hidup tanpa meraka?" tanya Zivana sinis.
"Maksudmu?" Fandi mengernyit heran.
"Kau sudah tahu kemana arah pertanyaanku, Mas."
"Aku tahu arahnya, Zi. Jujur, Bang Arman dan Kak Angela sudah seperti orang tuaku sendiri. Mereka selalu ada di setiap aku butuhkan. Itulah sebabnya aku berat meninggalkan meraka."
"Kau berat meninggalkan merekamereka, tapi kau berat mengikuti keinginanku, apakah itu adil, Mas?"
"Maaf jika pilihanku telah melukaimu, Sayang."
"Masalah kita tak bisa hanya dengan kata maaf saja, Mas. Kau selalu seperti ini dan aku saja yang harus mengalahm sampai kapan, Mas? Entah sampai kapan juga aku bisa bertahan menghadapi sikapmu yang lebih mementingkan perasaan keluargamu dibanding aku yang istrimu."
"Kau meragukan ketulusanku mencintaimu?"
"Aku bahkan ragu setelah tahu jika aku tak lebih penting dari keluargamu. Aku jadi ragu apakah kaubenar-benar ingin membangun rumah tangga kita hingga waktu yang lama? Aku ragu dengan pernikahan kita, apakah akan baik-baik saja ke depannya atau sebaliknya."
"Jelas aku tak ingin pernikahan kita hancur, Sayang. Aku ingin membina rumah tangga denganmu hingga akhir hidupku."
"Apa dengan sikapmunyang seperti ini bisa mewujudkan keinginanmu itu, Mas."
"Kita akan berusaha, Sayang. Bukan masalah besar jika kita tak bisa memiliki rumah sendiri. Kita bisa membangun pernikahan ini sampai semuanya baik-baik saja."
"Aku ragu, Mas. Aku benar-benar kecewa padamu. Bukankah sebuah pernikahan itu adalah satu pemikiran yang sama-sama enak untuk keberlangsungan ke depannya? Tapi, sepertinya aku yang terlalu banyak berharap, sementara kau lebih memilih kebahagiaan orang lain."
"Kau benar-benar marah padaku?" Fandi merasa tak enak hati. Ini juga dilema untuknya. Pilihan yang sangat sulit baginya. Di lain sisi harus mengikuti keinginan sang istri, tapi di sisi lain harus meninggalkan abang dan kakak iparnya. Jelas itu membuatnya bingung.
Namun, ia lebih berat meninggalkan kakak yang selama ini telah menjadi pengganti orang tua baginya. Ia tak mau menyinggung perasaan mereka.
Apalagi rumah yang mereka tinggali begitu besar, rasanya cukup untuk dua keluarga tinggal. Akan tetapi, Zivana berpikiran lain. Ia lebih memilih tinggal di rumah sederhana tanpa keluarga yang lain.
"Kau tak mau berjuang untuk keluarga kita, Mas. Itu yang membuatku kecewa padamu. Jika untuk marah, kita bukan lagi anak kecil, kita paham masalah apa yang membuat hubungan ini sering berselisih paham, dan kurasa semua itu hanya butuh pemikiran yang bijak dan dewasa. Aku harap, kau bisa memikirkan ini, merenungkannya, dan memutuskan, apakah kita bisa baik-baik saja menjalani pernikahan ini atau justru sebaliknya?"
"Tentu saja aku akan berjuang untuk kebahagiaan keluarga kita dan hal itu tak perlu dengan meninggalkan rumah ini juga, kan?"
"Kau tak paham juga maksudku, Mas?"
"Aku paham, Zi, tapi aku ingin kau pun mengerti alasan kita tidak bisa pindah dari sini."
Zivana menghela napas panjang. Sudah sesuai dugaannya jika Fandi tak bisa hidup tanpa kakaknya. Entah kekhawatiran apa yang membuatnya mengabaikan untuk hidup mandiri dan tidak lagi berada di balik punggung sang kakak.
"Aku tak tahu lagi dengan cara apa bicara padamu agar bisa mengerti jika keinginanku ini sederhana. Aku hanya ingin membangun keluarga kecil kita di rumah sederhana. Apa itu sangat sulit bagimu, Mas?"
Zivana tak mampu lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Sikap Fandi yang masih mementingkan ego membuat ia sadar, jika suaminya tak bisa berusaha untuk menjadi dewasa, tak pernah bisa bijak dalam bertindak, dan tak bisa lepas dari bayang-bayang kakaknya.
Ia sudah pasrah dan menyerah dengan sikap Fandi. Ia tak mampu lagi menghadapi orang yang tak sejalan dengan pemikirannya. Sekarang hanyalah waktu yang bisa menjawab apa yang akan terjadi dalam rumah tangganya.
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu, tapi bukan berarti aku tak bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai suami sekaligus ayah. Aku akan berusaha membahagiakanmu bagaimanapun caranya. Aku mohon percayalah padaku."
Zivana tak menjawab. Ia hanya bergeming dan tak tahu harus menanggapi seperti apa. Keputusan Fandi sudah tak bisa diubah. Ia lebih memilih kakaknya dan itu sangat menyakitkan.
"Aku tahu, sejak awal memang aku tak lebih penting dibanding keluargamu. Apa mungkin kau ragu dengan pernikahan kita karena aku belum bisa mencintaimu? Aku pikir kita bisa sama-sama membangun rumah tangga kita, tapi sepertinya aku terlalu banyak berharap. Pikiran kita tak sejalan dan aku kecewa padamu, Mas," ucap Zivana sambil menyeka air mata yang kembali membasahi pipinya.
Setalah berkata begitu, ia merebahkan diri di atas ranjang dengan membelakangi suaminya. Isaknya masih terdengar jelas di telinga Fandi, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa meski itu hanya sekadar menenangkannya. Zivana sudah kecewa. Percuma membujuknya saat ini.
Hal yang Fandi khawatirkan hanyalah kondisi kehamilan sang istri. Baru saja perempuan itu keluar dari rumah sakit karena berselisih paham dengannya. Lagi-lagi masalah itu karena keluarga. Ia tak tahu dengan cara apa memberi istrinya pengertian, jika ia tak pernah bisa meninggalkan sang kakak yang selama ini telah berkorban banyak untuknya.
Sementara Zivana masih tersedu dalam kekecewaannya yang sudah memuncak. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa agar suaminya mau mengambil sikap yang mengutamakan rumah tangga dibandingkan perasaan keluarganya. Ia merasa tak penting dalam hidup Fandi jika lelaki itu tetap bersikap seperti sekarang.
Kembali nyeri ia rasakan. Ternyata cinta lelaki itu tak sebanding dengan pengorbannya. Tak ada yang bisa diperjuangkan dari hubungan yang baginya masih di bawah bayang-bayang orang lain, meski itu keluarga terdekat suaminya yang selalu siap membantu dan selalu ada di saat dibutuhkan.
Bukankah pernikahan itu adalah belajar menjadi dewasa dan mengambil sikap berdasarkan keputusan sendiri? Bijak dalam bertindak dan bertanggung jawab atas semua permasalahan yang terjadi.
Hal itu belum Zivana lihat dalam diri suaminya dan ia harus menelan pil pahit yang entah kapan akan bisa mengubah pandangan, jika rumah tangga adalah sebuah perjalanan menuju puncak yang di dalamnya hanya ada suami, istri, dan anak-anak.
_
"Teteh ingin ikut Papa dan Mama pulang, ya," ucap Zivana saat kedua orang tuanya datang berkunjung.
"Loh, kenapa mau ikut pulang?" tanya Sari heran.
"Kangen aja suasana rumah. Mumpung Mama dan Papa ke sini, Teteh sekalian ikut."
"Memangnya Fandi mengizinkan?" tanya Syam yang juga heran karena putrinya tiba-tiba ingin ikut pulang ke Majalengka, padahal saat di telepon tempo hari, Zivana tak mengatakan apa-apa.
"Mas Fandi ngizinin, ko, Pah," jawab perempuan itu pasti, padahal ia sama sekali belum meminta izin suaminya.
Sejak pertengkarannya kemarin malam, ia dan Fandi lebih banyak diam. Berusaha bersikap biasa saja di depan keluarga suaminya, seolah tak terjadi prahara yang membuat Zivana memutuskan untuk ikut pulang bersama kedua orang tuanya.
Ia ingin menenangkan diri di kampung halamannya. Menghadapi Fandi membuatnya teringat kembali sikap lelaki itu yang seketika membuatnya tak bisa mengontrol emosi dan hanya air mata yang mampu mewakili perasaannya.
"Yaudah, kalau Fandi mengizinkan Teteh ikut pulang bareng kami, Papa dan Mama lega mendengarnya," ucap Syam dengan senyum tipisnya.
"Memangnya Fandi ngga ikut Teteh ke Majalengka bareng kami?" tanya Sari penasaran.
"Ngga, Mah. Mas Fandi lagi sibuk di kantor. Dia ngga bisa ninggalin pekerjaannya," jawab Zivana. Ia memang tak mau Fandi ikut dengannya pulang ke Majalengka. Ia justru ingin menghindarinya sejauh dan selama mungkin.
"Mungkin nanti Fandi akan nyusul ke Majalengka setelah luang, sekalian jemput anak kita, Mah," ucap Syam membuat Zivana hanya tersenyum kecut.
Ia tak berharap suaminya akan datang menyusul secepat itu. Ia ingin selama mungkin di Majalengka. Jika bisa, ingin melahirkan di kota kelahirannya. Hidup di rumah mewah ini tak benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Ia lebih baik menghadapi sikap sambil ibu yang terkadang masam dan cerewet daripada harus terus menerus mrnelan pil pahit karena sikap suaminya.
Suasana rumah saat kedua orang tuanya datang memang tengah sepi. Papi dan Mami sudah lebih dulu pulang ke Manado karena ada urusan mendesak yangn harus segera diselesaikan. Fandi dan Arman tentu saja tengah berasa di kantor, sementara Angela tengah nada pertemuan bisnis dengan temannya.
Syam dan Sari pun harysnmenunghu Fandi datang karena hendak membawa Zivana pulang bersama mereka. Tak ingin begitu saja membawa putri mereka pulang sebelum tahu pasti suaminya.
Cukup lama Syam dan Sari menunggu Fandi pulang dari kantor. Mereka menikmati waktu dengan makan, ngobrol banyak hal, dan melihat-lihat keadaan rumah mewah milik keluarga Fandi.
"Teteh benar-benar betah di sini?" tanya Syam sambil memperhatikan taman belakang rumah yang luas dan ditumbuhi berbagai macam tanaman hias.
Zivana tak segera menjawab. Ia pun tak tahu, apakah selama ini benar-benar kerasan tinggal di rumah sebesar ini atau hanya karena ia ikut dengan sumianya saja mau tidak mau harus membiasakan diri dengan semua aturan di rumah ini.
"Tidak sebetah tinggak di rumah sendiri, Pah," jawab Zivana dengan senyumnya.
"Ya, tentu saja siapa pun juga akan menjawab hal yang sama, Teh. Lebih betah di rumah sendiri. Tapi, Teteh benar-benar senang tinggal di sini?" Sekali lagi Syak mencoba menanyakan hal itu.
"Senang, Pah. Abang dan kakak ipar Teteh juga baik, mereka perhatian dan sayang sama Teteh. Perlakuan mereka yang membuat Teteh juga betah," jawab Zivana apa adanya.
Namun, ia tak menceritakan jika sebenarnya ingin sekali pergi dari rumah itu dan hidup mandiri meski harus tinggal di rumah sederhana. Hanya saja, ternyata Fandi tak sependapat dengannya. Ia malah lebih memilih tinggal satu atap dengan keluarganya.
Zivana juga tak berniat menceritakan tentang pertengkarannya dengan Fandi. Bagaimanapun, ia harus menutupi aib rumah tangganya. Ia akan berusaha mencari jalan keluar dari permasalahannya itu, meski ia sendiri pun belum tahu seperti apa caranya.
Satu hal yang pasti, saat ini ia hanya ingin menyendiri dan merenungkan semua yang terjadi dengan rumah tangganya. Ia butuh waktu untuk menerima jika keinginannya t*i busa menjadi prioritas penting dalam hidup suaminya.
Ia pun akan memberikan waktu untuk Fandi berpikir, kemana arah mereka akan berjalan, seperti apa hubungan yang akan dijalani nanti, dan solusi apa yang membuat keduanya bisa sama-sama bahagia menjalani pernikahan mereka. Hingga saat itu tiba, ia ingin benar-benar menjauh dari Fandi.