'Pokoknya mamak gak mau tau, sore ini kau harus dapet kerja! Kalo gak dapet juga, mau gak mau kau harus kerja sama wak Ipin!'
Suara seorang wanita terdengar nyaring dari speaker ponsel hitam yang kini digenggam erat sang pemilik. Zahra menghembuskan nafas kasar. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa baru dua hari cari kerja sudah langsung dapat pekerjaan? Pikirannya kalut.
"Mak, aku baru masukkan lamaran hari ini. Mana mungkin sore nanti udah keterima," jawab Zahra mencoba memberi pengertian.
'Kan udah mamak bilang kerja aja sama wak Ipin. Nyapu jalan itu gajinya lumayan, Ra. Satu juta dua ratus sebulan,' ujar sang ibu memaksa.
"Gak bisa mak. Aku gak suka hutang budi sama saudara," jelas Zahra.
'Kalok gitu gak mau tau mamak. Sore nanti kalok belom dapat kerjaan, mamak telpon wak Ipin jemput kau. Uang mamak udah habis untuk kuliahmu yang gak jadi wisuda itu. Sekarang giliranmu cari uang.'
Tuut...tuut...tuut...
Zahra berdecak kesal saat panggilan terputus. Ibunya seenaknya saja menyuruh mencari pekerjaan dengan gaji tinggi secepat kilat. Memangnya babi ngepet yang bisa menghasilkan banyak uang dalam waktu semalam?
"Huuuhhhh, sabar Zahra, sabar. Ini semua akibat kesalahanmu juga. Huuuhhhh."
Zahra menghembuskan nafas berulang kali untuk meredakan rasa kesal. Saat ini ia sedang ada di pinggir jalan. Baru saja ia mengantar berkas lamaran di Laundry Fast yang tidak jauh dari kosannya. Pagi tadi ia sudah mengirim lamaran kerja di beberapa tempat melalui e-mail. Namun untuk melamar di Laundry Fast ternyata berkas lamaran harus diantar langsung ke tempatnya.
Matahari bersinar terik hampir di atas kepalanya yang tertutup kerudung hitam bermotif bunga sakura. Ia merogoh tasnya dan mengambil dompet.
"Tinggal dua ribu lima ratus. Mana cukup untuk naik angkot sama makan siang," lirih Zahra kecut melihat isi dompetnya yang lebih banyak udara daripada lembaran uang.
Menghela nafas pasrah akhirnya Zahra memutuskan jalan kaki kembali ke kosannya di tengah teriknya sengatan sinar mentari dan juga polusi dari berbagai kendaraan yang lalu-lalang.
Berulang kali ia menghela napas menyesal. Namun nasi sudah menjadi bubur. Keputusannya untuk berhenti kuliah dan memilih mencari kerja dengan bekal ijazah SMA sudah ia utarakan pada kedua orang tuanya dua hari lalu.
Ayahnya tidak berkomentar banyak, hanya menyayangkan sikap putri keduanya yang tidak terbuka padanya sejak awal perkuliahan. Pak Mutaz yang merupakan seorang pekerja di perkebunan sawit itu memang tidak pernah mau ikut campur urusan pendidikan anak. Bagi beliau, memberikan uang gaji pada istrinya dianggap sudah cukup kontribusinya pada kehidupan mereka. Pak Mutaz tidak pernah mau tahu berapa biaya kuliah dua anak gadisnya selama ini.
Sedangkan sang Ibu menangis histeris mendengar keputusan dan alasan Zahra berhenti kuliah. Uang. Adalah penghalang terbesarnya untuk melanjutkan kuliah. Sejak semester 3 perkuliahan, Zahra tidak pernah ikut ujian karena selalu terlambat membayar uang SKS. Namun ia hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun pada orang tuanya hingga kini ia harus berhenti kuliah di penghujung semester 7.
Ia memilih mengikuti jejak sang kakak yang sudah lebih dulu berhenti kuliah dan memilih bekerja sebagai pembantu rumah tangga demi menghidupi anaknya yang kini diasuh sang nenek, ibu Zahra dan Dara.
"Harusnya kau ngomong sama mamakmu kalok uang kuliah itu wajib dibayar sebelum ikut ujian, Ra!"
Zahra teringat ucapan teman sekamarnya ketika mereka mulai curiga pada Zahra yang tidak pernah pergi kuliah dan keluyuran entah ke mana beberapa bulan lalu.
"Aku gak bisa kak. Kasihan mamakku pontang-panting cari duit pinjaman," balas Zahra.
"Tapi memenuhi pendidikan anak itu tugas orang tua. Mau gimanapun kau harus tetap bilang ke mamakmu," ujar Ratna lagi.
Zahra menggeleng. "Kakak gak tau rasanya ngelihat mamak sendiri nangis diam-diam sambil mikirin mau cari duit ke mana lagi."
Ratna terdiam sebentar lalu menghembuskan napas pelan. "Terserah kau aja lah, Ra."
Melamunkan masa lalu membawa Zahra sampai di pintu gerbang kosan mereka yang kini penuh sesak dengan pembeli yang makan di warung merangkap kafe itu. Kosan itu kebetulan adalah sebuah ruko 4 lantai. Lantai pertama disewakan pemiliknya untuk jualan, sedangkan lantai 2 dan 3 digunakan sebagai kos-kosan. Lantai 4 hanya tempat menjemur pakaian untuk anak kos.
"Kak Zahra, dari mana?" tanya Dila, anak pemilik warung penyet.
"Oh, jalan-jalan aja. Mbak Isna ada di kos atau udah keluar, Dil?"
"Jalan-jalan ke mana kak? Gak kuliah? Kak Isna udah keluar kayaknya kak."
Dila ini selalu aja mau tau urusan orang, Zahra mencibir dalam hati meski raut wajahnya kini tengah tersenyum manis.
"Hari ini gak ada mata kuliah. Yaudah, aku nyusulin Mbak Isna ya!"
"Oh iya kak."
Zahra segera berlalu dari tempat itu menuju stand penjual minuman cokelat yang tidak jauh dari sana. Ia malas berlama-lama mengobrol sama Dila. Anak yang masih duduk di bangku SMA itu selalu suka ikut campur urusan orang lain.
"Kok gak pernah mamak tengok si Zahra itu kuliah. Apa udah gak kuliah lagi dia?" tanya Bu Yani pada anaknya, Dila.
"Dila mana tau mak, kok tanyak Dila pulak."
"Ya kan mamak cuma tanyak, Dil. Mamak pikir kau tau," ujar Bu Yani sambil mengerutkan kening.
"Dila gak berani tanyak-tanyak sama kak Zahra, mak. Segan Dila sama kakak itu," balas Dila sambil tangannya sibuk mengiris mentimun.
"Iya ya. Cuma dia lah anak kosan sini yang baik-baik. Gak pernah mamak lihat dia sama laki-laki pergi pacaran."
"Kak Zahra gak punya pacar, mak. Katanya haram," ujar Dila.
"Kenapa pulak haram? Bukannya ngapa-ngapain kalok pacaran."
"Jaman sekarang pacaran kan enaknya sambil ngapa-ngapain, mak!" sahut seseorang menimpali obrolan ibu dan anak itu.
"Ah kau, Riski. Ikut aja pun kau orang ngomong."
"Iya nih bang Riski. Mentang-mentang suka sama kak Zahra," cibir Dila sembari tertawa.
"Calon istriku itu, jangan digosipin terus," ujar Riski sambil terpingkal.
"Aiih, mana mau Zahra sama preman kayak kau, Ki..Ki..."
"Biarkan aja bang Riski mimpi, mak. Masih tidur dia siang-siang gini," ujar Dila menimpali ejekan Ibunya.
Riski tertawa lucu, tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan pemilik warung itu. Beginilah cara orang Medan mengakrabkan diri. Saling melempar dark jokes satu sama lain.
Sementara Zahra masih berjalan dalam diam sambil memikirkan rencananya untuk meminjam uang pada Isna. Ia juga butuh makan, padahal sisa uangnya sudah habis untuk ia melamar kerja. Ibunya sudah mengatakan tidak akan mengirimkan uang lagi. Jadi saat ini yang bisa dilakukan Zahra hanyalah meminjam uang sampai ia bisa mendapatkan pekerjaan.
"Oii, dek! Dari mana aja kau pagi-pagi buta udah hilang?" sambut Isna dengan raut pura-pura marah.
"Cari kerja, mbak," balas Zahra nyengir.
"Hah? Nyari kerja? Kau mau kerja? Kuliahmu cemana?"
Zahra menghela napas. Ia segera menghempaskan bokongnya di kursi plastik tidak jauh dari Isna. Sepertinya ia harus cerita semuanya pada Isna. Hanya teman sekamarnya inilah yang bisa menolongnya. Meski baru beberapa bulan mereka menjadi teman sekamar, namun ia tahu kalau Isna adalah orang yang baik yang bisa menolongnya.
"Hah? Kau serius, dek? Berhenti kuliah? Yang mamakmu ngirim uang 4 juta itu ke mana uangnya?" tanya Isna bingung. Pasalnya dua bulan lalu Ibunya Zahra mentransfer uang untuk Zahra melalui rekening Isna karena Zahra tidak punya rekening.
Zahra tidak menjawab, hanya memamerkan deretan giginya yang rapi. Hal itu lantas membuat Isna semakin gemas.
"Ke mana uangnya, dek?" tanya Isna setengah mengancam. Baru kali ini Zahra melihat raut menakutkan Isna yang biasanya lembut.
"Sebagian kupake untuk bayar tunggakan kuliah mbak. Tapi kan percuma, aku gak bisa ikut ujian, mbak. Mamakku ngirimnya sebulan setelah ujian selesai, mana bisa aku ikut ujian susulan lagi. Udah lewat juga waktunya," ujar Zahra membela diri.
Ia tidak ingin disalahkan oleh Isna. Entah mengapa melihat raut wajah kecewa Isna membuat hatinya terusik. Ia merasa beruntung hanya melihat raut kecewa Isna, entah apa jadinya hati Zahra jika melihat langsung reaksi orang tuanya di kampung sana.
"Lalu sisanya mana? Kenapa malah mau minjem uang sama mbak? Bukannya mbak gak mau ngasih, dek. Mbak butuh alasanmu aja."
Zahra menggaruk tengkuknya yang tertutup hijab. "Hehe, sisanya kubelikan makan mbak. Udah habis."
"Ya Allah, dek. Kau ini, memanglah!"
Brukk! Brukk! Brukk!
"Aduh mbak, aduh! Ampun mbak, sakit!" Zahra mengaduh karena pukulan Isna tidak main-main di pundaknya. Ia melirik Isna, nafas wanita bermata sipit itu memburu karena menahan kesal padanya.
"Kau ya dek! Mamakmu susah payah cari duit untuk kuliahmu, malah dihambur-hamburkan. Memang anak kurang ajar kau ya. Gak kasihan sama mamakmu?" Isna tanpa ampun mencecar Zahra yang baginya sudah kelewat batas. Ia tidak menyangka Zahra yang dikenalnya berhati lembut dan santun pada semua orang ternyata memiliki sisi buruk seperti ini.
Zahra yang mendengar omelan Isna lantas menunduk. Bahunya bergetar, tidak bisa menahan isak tangis. Topeng baik-baik sajanya kini luntur sudah di depan Isna. Selama ini ia selalu menyembunyikan masalahnya pada teman-teman kosan maupun sahabatnya di kampus. Namun hari ini ia sudah tidak kuat lagi. Ia butuh seseorang untuk menolongnya. Ia tidak ingin pikiran buruk meracuninya lagi. Ya, karena begitu tertekan dengan keadaan Zahra bahkan pernah bertekat bunuh diri di kolam renang sedalam 5 meter.
Melihat Zahra yang menangis membuat hati Isna terenyuh. Ia tidak tega melihatnya. Zahra terlihat kasihan dan rapuh. Ia paham bahwa Zahra adalah anak yang sulit bergaul, pendiam dan tidak banyak tingkah. Untuk memutuskan mencari kerja saja ia yakin adalah keputusan yang berat bagi teman sekamarnya yang tidak pernah merasakan sulitnya bekerja.
"Kenapa selama ini gak pernah cerita ke mbak, dek? Kenapa diam aja?" tanya Isna dengan lembut.
Namun justru tangisan Zahra semakin kencang mendengar pertanyaan itu. Isna pun memeluk wanita rapuh itu dengan erat.
"Aku malu, mbak. Aku gak mau merepotkan orang lain," ujar Zahra sesenggukan.
"Yaudah, nanti mbak pinjemin uang. Balikinnya kalok udah gajian aja."
Zahra mengangguk dan membisik. "Makasih, mbak."
Hari itu dihabiskan Zahra untuk membantu Isna berjualan. Pikirannya kalut mengingat ancaman sang ibu yang memintanya segera menelepon saudara mereka yang berstatus sebagai Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan itu.
Drrrtt...Drrrttt...
Getar ponsel di tas membuat Zahra segera merogoh benda cokelat itu, mencari ponselnya diantara barang-barang tidak penting yang ia bawa. Ada pesan dari sang ibu yang membuatnya menghembuskan napas kasar.
'Ra, cemana? Udah dapet kerjaan?'
'Nanti kukabari ya mak.'
Dengan kesal Zahra membalas pesan sang ibu lalu mematikan ponselnya.
"Kenapa kau dek?" tanya Isna heran dengan mata menyempit.
"Gakpapa mbak. Mamakku nyuruh aku cepat dapet kerja. Baru aja tadi pagi cari kerja, sore ini udah ditanyak dapat kerja apa belom. Kan ada-ada aja," balas Zahra kesal.
"Oalah, mamakmu dek."
Kumandang Isya terdengar, membuat dua wanita itu bergegas menutup stand minuman mereka. Gurat lelah terlihat di wajah dua wanita cantik itu. Meski begitu keduanya terlihat senang karena dagangan mereka laris manis hari ini. Malam ini mereka bersiap istirahat dan melepaskan semua lelah di tubuh.
Drrrttt...Drrrttt...Drrrttt...
Getaran ponsel terdengar di lantai. Zahra yang mengenali suara ponselnya lantas meraba-raba dari atas tempat tidur. Ia ingat tadi sedang mencarge ponselnya di lantai dekat kepalanya.
'Dara is calling...'
"Ngapain sih jam sepuluh gini nelepon orang. Gangguin aja," keluh Zahra sedikit kesal. Ia sudah tertidur tadi, terpaksa mengangkat panggilan dari kakak kandungnya itu dengan mata setengah terbuka.
"Hmm? Halo?" sapanya malas.
'Za, kata mamak kau mau berhenti kuliah, iya?'
Mata ngantuk Zahra langsung terbuka lebar mendengar pertanyaan kakaknya.
"Iya. Kenapa?" balas Zahra tidak suka. Sejujurnya ia malu pada kakaknya karena pada akhirnya ia ikut berhenti kuliah setelah selama ini ia menyusahkan sang kakak untuk membantu membayar biaya kosnya.
'Kenapa, Za? Kau mau cari kerja?'
"Gakpapa. Iya, carikanlah kerjaan. Mamak nyuruh aku nyapu jalan ikut wak Ipin," balas Zahra ketus.
'Iihh jangan mau. Nanti hutang budi sama mereka. Tau sendiri lah kau cemana orang tu.'
"Makanya, carikanlah aku kerja. Kalo besok pagi aku belom dapet kerja, mamak mau nelpon wak Ipin katanya," ujar Zahra.
'Ini ada sih, Za, kerjaan. Tapi jaga anak, kau apa mau?' suara Dara terdengar ragu.
"Gakpapa. Kerja apa aja asal cepat dapet," jawab Zahra tanpa pikir panjang.
'Ya kerjanya sekalian bersih-bersih rumah lah. Tapi kau apa bisa jaga anak?'
Zahra tampak berpikir sejenak. "Bisa aja ngurus anak, asal gak masak aja. Aku gak bisa masak."
'Yaudah, kujemput sekarang ya.'
"Hah?" Zahra terlonjak kaget. Sekarang? Jam sepuluh lebih? Ah masa bodoh, yang penting aku dapet kerja pikir Zahra.
'Kakak itu udah minta tolong aku cari kerja dari seminggu lalu. Pas kali kau cari kerja, jadi kutawarkan samamu. Kakak itu butuh orang cepat, soalnya mau pergi ke Malaysia dia. Udah kubilang kalok adekku cari kerja. Dia bilang, 'Apa mau adekmu jaga anak? Kan dia anak kuliahan!' katanya. Kubilang aja mau. Kau betulan mau kan Za? Biar ku-sms ini kakak ini,' ujar Dara panjang lebar.
Zahra mendengarkan dengan seksama. Tidak ada salahnya menerima tawaran Dara.
"Apa gakpapa jam sepuluh gini kita ke rumahnya?" tanya Zahra heran.
'Gakpapa. Udah ku-sms kakak itu. Katanya dia nunggu di rumah. Rumahnya gak besar kok, kecil. Anaknya satu, umur setahun lebih, baik kok. Suaminya ganteng loo,' ujar Dara antusias.
Zahra berdecak. "Aku cari kerja, bukan cari suami orang. Apa urusannya suaminya ganteng apa enggak. Berapa gajinya?"
'Sejuta, Za.'
Lumayan pikir Zahra. "Yaudah kalok gitu."
'Oke, kujemput ya. Bawa baju seadanya aja dulu sama peralatan mandi.'
"Ya."
Panggilan diputus Dara. Zahra segera bersiap berganti pakaian yang sopan dan memasukkan beberapa potong gamis dan kerudung panjang ke dalam tas ranselnya. Tidak lupa handuk dan juga peralatan mandi seadanya. Dengan hati berdebar ia menunggu. Ini adalah langkah pertamanya mengambil keputusan sendiri untuk masa depannya. Selama ini ia selalu mengikuti perintah dari orang tuanya. Dalam hati ia berdoa, semoga semuanya berjalan lancar.
"Mbak Isna pasti di kafe, nanti aja lah pamitnya," gumam Zahra saat melihat Isna tidak ada di kamar maupun dapur juga kamar mandi.
Hanya sekitar lima belas menit setelahnya Zahra mendapat pesan dari Dara kalau kakaknya itu sudah menunggunya di depan gerbang.
Zahra segera menyambar tas ransel dan memendar sekeliling kamar. Hatinya sedih karena harus berpisah dari teman sekamarnya tanpa persiapan seperti ini. Apalagi ia akan tinggal di tempat di mana ia akan bekerja nantinya. Terdesak oleh ancaman sang ibu membuatnya tidak bisa mengambil banyak pilihan.
"Haahhh."
Sekali lagi Zahra menghela napas sedih lalu berjalan keluar kamar. Tidak lupa ia mengunci pintu kamar dan bergegas turun. Matanya melotot ke segala arah mencari Isna di antara kerumunan orang. Saat melihat orang yang dimaksud, ia segera berjalan cepat.
"Mbak, aku pamit mau pergi kerja dulu ya. Pintu kamar kukunci, ini kunci cadangan. Nanti kukabari kalok aku udah sampe sana. Aku udah dijemput kakakku di depan. Dadah, mbak. Jangan cerita ke siapa-siapa ya."
Zahra berucap cepat di telinga Isna yang bahkan tidak tahu kehadiran Zahra di belakangnya. Tidak memberi kesempatan Isna bicara sedikitpun. Ia bahkan langsung berlalu dari sana setelah meletakkan kunci kamar cadangan. Menulikan telinga dari panggilan Isna di belakangnya dan hanya menoleh sekilas sambil melambaikan tangan. Bibirnya tersenyum, menyembunyikan kesedihan yang bercokol di hati.
Sepanjang jalan Dara bercerita apa saja kira-kira pekerjaan Zahra nantinya dalam mengurus anak dan membersihkan rumah. Berbagai saran ia beri pada adiknya. Bagaimana mudahnya pekerjaan baby sitter di mana kedua orang tuanya sama-sama pekerja yang tidak akan mengawasi langsung pekerjaan kita.
Sedangkan Zahra mendengarkan dengan seksama. Ini pengalaman pertamanya bekerja dan berinteraksi dengan orang baru sendirian. Jadi ia hanya akan mengikuti saran yang disampaikan Dara. Selain tidak memiliki tempat untuk mengadu, hanya Dara lah tempatnya bisa bercerita karena kakaknya itu sudah berpengalaman dalam berbagai pekerjaan. Dimulai dari kasir di Carefour, pramusaji di rumah makan, pekerja di swalayan, tukang masak dan cuci piring, jualan jajanan, tukang setrika di laundry, admin di toko elektronik serta baby sitter dan pembantu rumah tangga yang saat ini tengah ia lakoni.
Selain itu, meski Zahra tidak terlalu menyukai Dara namun sebenarnya hanya Dara lah yang mengerti jalan pikiran Zahra. Bagaimanapun buruknya hubungan mereka, keduanya tetaplah saudara kandung yang selama ini selalu bersama.
Rumah mungil berukuran 6 x 12 meter dengan pagar putih terlihat sepi. Ada dua mobil di depan rumah di luar pagar. Karena sempitnya bagian depan rumah, jadi tidak ada tempat untuk mobil si pemilik rumah. Garasi depan sudah dipenuhi jemuran yang penuh pakaian belum diangkat.
Zahra dan Dara memarkirkan motor tidak jauh dari pintu gerbang. Tanpa sungkan Dara langsung membuka gerbang dan merangsek masuk. Ia mengetuk pintu luar jaring-jaring hitam. Dibelakangnya Zahra mengekor seperti anak itik.
Derap langkah terdengar dari dalam rumah. Laki-laki berusia awal 30-an membuka pintu dengan senyum ramah.
"Masuk-masuk, Ra. Ma, Dara udah dateng ini sama adeknya!" seru laki-laki itu memanggil istrinya.
"Eh udah dateng kelen. Duduk...duduk," ujar wanita bertubuh gemuk yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Wanita muda itu hanya mengenakan daster, menggendong bocah laki-laki imut yang juga gemuk untuk anak seusianya. Wajah wanita itu luar biasa ramah, senyum tidak henti bertengger di bibirnya yang tipis.
"Ini adekmu, Ra? Siapa namanya?"
"Zahra, bu," jawab Zahra gugup.
"Oh Zahra. Saya Sumi, dan ini suami saya Fahri. Kenzi, salim dulu sama kakak. Ini kak Zahra yang jagain Kenzi nanti," ujar wanita bernama Sumi memperkenalkan diri.
Bocah bernama Kenzi itu mendekat malu-malu pada Zahra dan mengulurkan tangannya. Dengan takzim ia mencium punggung tangan Zahra.
Zahra yang baru pertama kali melihat anak kecil di kota yang berlaku sedemikian sopan memandang takjub. Pasti didikan orang tuanya bagus pikirnya.
"Kak Zahra bener mau kerja di sini?" tanya Sumi.
Zahra mengangguk. "Iya, bu."
"Nanti kerjanya jaga Kenzi, kasih makan dia, mandikan dia, sama bantu-bantu berberes rumah. Kak Zahra bisa masak?"
Zahra menggeleng. "Gak bisa, bu. Cuma bisa masak mie instant sama telor dadar aja."
"Alah, nanti kalok diajari bisa dia itu, kak," ujar Dara menimpali.
"Iya, nanti kakak ajari masak untuk si Kenzi aja nyo. Kalok makan kakak sama abang seringnya di kantor. Ada juga katering kita untuk makan malam yang nanti diambil abang setiap sore," jelas Sumi.
Kenapa ibu ini menyebutkan dirinya kakak dan abang? pikir Zahra.
"Untuk gajinya sejuta," ujar Sumi tersenyum tipis.
Zahra mengangguk. Ia tidak keberatan karena kata Dara gaji sejuta untuk pekerjaan ini dengan kondisi rumah yang mungil sudah termasuk besar.
"Jam kerjanya gimana ya, bu?" tanya Zahra.
"Maksudnya?" tanya Sumi bingung.
"Iya, saya kerja dari jam berapa sampai jam berapa?"
Sumi dan suaminya saling berpandangan dengan raut bingung. "Nanti Kak Zahra bangun pagi, setelah shalat Subuh bersih-bersihkan rumah. Abis itu ngurus Kenzi. Kakak sama abang pulang kerja jam 5 sore. Kalok kami udah pulang, Kak Zahra ngurus rumah lagi sampe selesai. Sebelum tidur buang sampah, gitu aja. Sabtu Minggu kak Zahra gak usah ngurus Kenzi karena kakak gak kerja, abang cuma kerja setengah hari. Jadi kak Zahra cuma ngurus rumah aja," jelas Sumi. Nada suaranya terdengar ragu saat menjelaskan.
Zahra menggangguk-angguk. "Berarti Senin sampe Jumat saya ngurus Kenzi dari pagi sampe jam 5, lalu Sabtu Minggu full urus rumah ya?"
"Iya."
Meski terdengar ragu, namun karena kebutuhan mencari pekerja untuk anaknya, Sumi hanya mengiyakan saja. Padahal dalam hatinya ia masih tidak mengerti mengapa calon pekerjanya itu mempertanyakan tentang jam kerja. Bukannya jam kerja pembantu rumah tangga itu 24 jam? Pikirnya bingung.
"Yaudah kak, aku pamit dulu ya kak kalok gitu," ujar Dara tiba-tiba.
"Oh iya. Makasih ya, Ra," sahut Sumi.
"Kalok gak bisa kerja si Zahra, pecat aja kak gakpapa," cetus Dara. Zahra yang mendengarnya memandang takjub. Apa memang begini cara membuat kesepakatan? Pikirnya heran.
"Oh iya, tenang aja. Kalok gak cocok kakak pulangkan nanti dia pake grab," sahut Sumi sambil tertawa.
Tinggallah Zahra di rumah itu. Kamar untuknya sudah disediakan, bahkan handuk juga sudah disediakan pemilik rumah. Malam ini ia ingin istirahat, namun ia ragu akan bisa tidur nyenyak. Pasalnya, ia adalah orang yang sukar tidur di tempat baru.
Tidak lupa ia mengirim pesan pada Isna, mengabarkan ia baik-baik saja dan bekerja sebagai baby sitter. Ia tidak mengatakan jika sebenarnya ia adalah pembantu sekaligus pengasuh anak. Sejujurnya ia malu dengan pekerjaan ini. Apalagi ia adalah anak kuliahan, apa kata orang-orang nanti jika tahu pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga?
Bersambung...