Terpontang-panting Raya berlari keluar bus. Napasnya tak beraturan seperti dikejar setan. Ternyata bus itu berhenti di depan sebuah bangunan berwarna merah bata. Ia merasa mengenali bangunan tersebut.
Dari kaca jendela bangunan, Raya menunjuk pantulan dirinya. Sebelah tangan menutup mulut tak percaya bahwa gadis berseragam sekolah yang seolah cerminan dirinya waktu muda mengikuti gerakan Raya. Ia terbelalak menyadari itu bukan orang asing atau penguntit, melainkan dirinya sendiri. Seperti mimpi Raya kembali melihat dirinya waktu muda.
Rambut panjang dicepol. Kemeja putih kebesaran yang rapi dimasukan ke dalam rok abu. Lalu pandangannya meliar ke sekeliling. TV tabung di dalam gedung itu menampilkan berita kampanye calon presiden ke lima. Bukankah itu terjadi pada 17 tahun lalu? Hampir