Pagi yang begitu cerah, terlihat murid-murid SMA Sultan Jaya yang hampir semua sudah sampai di sekolah.
Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing yang tak berfaedah, memanfaatkan waktu sebelum jam masuk. Namun, atensi beberapa dari mereka teralihkan oleh kedatangan motor sport berwarna hitam.
Terlihat sepasang kekasih turun dari motor tersebut, si cowok yang melepaskan helmnya terlebih dahulu dan menaruhnya di motor lalu kemudian melepaskan helm k kekasihnya. Karna, rambut si gadis yang agak berantakan langsung saja sang cowok merapikan rambutnya.
Membuat kaum hawa yang melihatnya berteriak histeris kemudian menggigit ujung kukunya, ingin juga di perlakukan seperti itu.
Namun, tampaknya raut muka si cewek seperti orang yang tengah merajuk. Terlihat jelas dari sikapnya yang biasanya bergandengan bareng si cowok, tapi kali ini pergi begitu saja.
"Mau kemana?" tanya Reygan sambil mencekal pergelangan tangan Qila yang sontak membuatnya berbalik menatap cowok itu.
"Ya mau ke kelas lah, emang mau kemana lagi, ga mungkin juga aku ke pasar," jawabnya dengan nada sewot.
Reygan menghela nasaf pelan lalu kembali menatap Qila. "Yaudah ayok, bareng aku," ajaknya yang sudah berpindah menggenggam tangan gadisnya.
"Emang aku ngajakin kamu? Enggak! Aku mau jalan sendiri, idih gak usah pegang-pegang, aku lagi ngambek sama kamu. Jadi kita musuhan dulu," ucap Qila lalu memalingkan mukanya dari Reygan.
Yang mana membuat Reygan terkekeh mendengarnya. " Ngambek ko ngasi tau?"
Mendengar itu Qila langsung mentap Reygan sinis. " Aku bukan tipe cewek yang kode-kodean, soalnya sembilan puluh sembilan persen cowok gak ada yang peka."
"Kecuali aku," balas Reygan cepat lalu terkekeh kembali.
"Kamu nyebelin, aku gak suka! Udah ih, jangan dekat-dekat," usir Qila, melepaskan genggaman tangan Reygan pada tangannya, lalu berjalan secepat meninggalkan cowok itu dan menuju kelasnya XII MIPA 3.
Reygan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah gadisnya yang seperti anak TK nyasar di SMA, lalu ia pun sedikit berlari mengejar gadis itu.
Sesampainya ia di samping Qila tanpa aba-aba ia langsung membopong gadis itu layaknya karung beras, menghiraukan jeritan-jeritan heboh dan pandangan beberapa siswa-siswi yang menatap kearahnya, yang kebanyakan cewek.
Ia biasa-biasa saja karna sudah terbiasa, tetap berjalan pada tujuannya yang tak hanya dari mereka yang ia hiraukan, pun dengan Qila yang meronta-ronta di gendongannya.
Nevan, Galen dan Fajrin yang memang sudah sedari tadi melihat sepasang kekasih itu pun langsung menyusul Reygan dan Qila, mengekor di belakang dua sejoli itu.
"Turunin, kita lagi musuhan!" ronta Qila minta di turunkan sambil memukul-mukul punggung tegap Reygan.
Tetapi, Reygan tak hiraukan masih terus lanjut berjalan di koordinat lalu menaiki tangga menuju kelas Qila yang ada di lantai empat, lantai paling atas karna sekolah SMA Sultan Jaya terdiri dari empat lantai dan memiliki sepuluh bangunan lainnya.
Sesampainya di dalam kelas XII MIPA 3, ia langsung masuk begitu saja, mendudukan Qila di samping Iva yang sudah duduk dengan manis.
Beberapa penghuni kelas itu menatap sebentar dengan kedatangannya dan Qila, pun beberapa bersorak menggoda lalu setelahnya kembali keaktifitas semula.
Reygan mendudukkan Qila di samping sahabat gadis itu, Iva.
Di tatapnya Qila yang malah memalingkan wajahnya mentap kearah lain," Tatap aku," pinta Reygan memegang dagu Qila dan mengarahkan wajah tersebut untuk menatapnya.
"Gak mau, kamu ngeselin!" ucap Qila yang enggan menatap Reygan balik.
"Masa cuman karna ga naik sepeda ke sekolah kamu ngambekin aku?" ujar Reygan lembut.
"Ya iyalah, siapa suruh kamu gak mau naik sepeda, malah ke sekolah pake motor. Aku tuh maunya naik sepeda bukan motor!!"
"Kan sama-sama di bonceng juga," sahut Reygan lembut. "Y—ya udah kapan-kapan baru kita naik sepeda ke sekolah, tapi maafin aku ya?"
"Ga semudah itu ferguso,"
"Terus aku harus apa sayang, hm?"
"Ga tau, pikir aja sendiri," jawab Qila acuh
"Maafin yaa, hm?" ujar Reygan mengecup kening gadis itu.
Cup
"Aduh, mata gue ternodai yaallah," celutuk Galen dengan histeris.
"Hilih so-soan ternodai, padahal kerjaannya nonton yang ngga-ngga, " cibir Fajrin pada Galen, menjitak kepala cowok itu membuatnya meringis sakit.
"Udahan ngambeknya," kata Reygan mengelus rambut Qila dengan lembut.
"Nggak! Sebelum kamu beliin aku..."
"Apa sayang?" tanya Reygan mentap Qila yang nampak berfikir. "Entar aja deh aku kasi tau, aku pikirin dulu," jawabnya.
"Jadi udah gak ngambek lagi nih?"tanya Reygan menaikkan alisnya.
"Belum, entar aja di maafinnya kalau yang aku minta udah dibeliin. Ya udah sana, bentar lagi masuk," usir Qila pada Reygan.
Reygan menggukan kepala lalu berucap," Belajar yang benar, jangan kebanyakan ngobrol dan ngekhayal, supaya anak-anak kita nanti punya bunda yang cerdas," ujar Reygan mengusap rambut gadisnya, lalu memberi kecupan lagi pada kening gadis itu.
Mengacuhkan orang lain yang memperlihatkan inter
Cup
"Aku ke kelas dulu, jam istirahat aku langsung kesini lagi."
Ia keluar kelas di ikuti oleh ketiga sahabatnya yang tak lain dan tak bukan Nevan, Galen dan Fajrin.
Tapi, sebelum itu Galen berucap dulu. "Belajar yang benar binknya Reygan," ucapnya pada Qila, membuat Qila langsung tertawa.
"Aduh jangan manis-manis gitu neng, A'a gak kuat, bisa-bisa nikung teman kalau di senyumin gini. Tapi boong, " lanjut Galen lalu tertawa.
"Woi Ga, lama benar lo ngerdusnys, awas dapat tampolan dari Reygan," peringat Fajrin yang memilih menunggu Galen, namun beda dengan Reygan dan Nevan yang tetap berjalan begitu saja tampa memperdulikan kedua temannya itu.
Dan panggilan dari Fajrin sontak membuat Galen berbalik badan lalu menyengir. "Maaf om aku khilaf."
"Pala lo om, apaan khilaf-khilaf, khilaf matamu yang ada. Lo khilafnya tiap hari bukan kali ini doang," cibir Fajrin sinis lalu menghampiri Galen, merangkulnya laki-laki itu lalu berjalan keluar dari kelas XI Mipa 3.
Iva yang memang sedari tadi berada di samping Qila hanya diam saja sedari tadi dengan keberadaan Reygan dan teman-temannya.
Tapi, setelah keempat laki-laki itu keluar dari kelasnya, ia bercelutuk." Kayanya Galen udah gak bisa waras lagi deh," katanya dengan muka miris.
Qila terkekeh pelan mendengarnya.
***
Terdengar bunyi lonceng sekolah SMA Sultan Jaya, membuat murid-murid kelas XII MIPA 1 langsung berteriak serempak, kecuali Reygan, Nevan.
"ALHAMDUDILLAH," teriak mereka serempak dan yang paling heboh berteriak adalah Galen dan Fajrin. Tak takut walau masih ada guru di dalam yang sedang mengemas barang-barang yang tadi di bawanya. Seperti buku, labtop dan lainnya.
"Heboh amat lo," ucap Nevan mencibir kearah Galen.
"Perut gue udah keroncongan, dah-dah yok keluar kita," ajaknya kemudian merangkul Fajrin dan Nevan untuk berlalu keluar kelas.
Beda lagi dengan Reygan yang hanya berjalan sendiri, mengekor di belakang ketiganya, memang ia tak biasa seperti ketiganya sebab mereka bertiga pasti akan ngeri duluan.
Mereka tak akan kalem bila sudah soal istirahat dan mengisi perut, mereka seperti orang yang belum di kasi makan tujuh hari tujuh malam sangking laparnya.
Reygan terus berjalan untuk menunju kelas XII MIPA 3 yang sudah ada gadisnya disana sedang menunggu kedatangannya.
Sesampainya di dalam kelas ia pun menghampiri Qila yang tak menyadari kedatangannya, karna sedang ngobrol asik dengan Iva.
"Sayang," panggilnya membuat Qila maupun Iva langsung menoleh. "Eh—kirain siapa," ucap Qila tersenyum.
Reygan menarik tangan Qila untuk ia genggam, lalu mengajak gadis itu. "Ayo ke kantin!"
"Ayo Va, ke kantin," ajaknya pada Iva yang langsung di angguki oleh gadis itu.
Kemudian mereka berjalan beriringan kekanting dengan Reygan dan Qila paling depan lalu ke empat lainnya berjalan di belakang mengekori.
Dan mereka di hebohkan oleh tingkah Galen, Fajrin yang menggoda Iva di belakang yang membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa siswa-siswi di sepanjang jalan kekantin.
"Mau makan apa?" tanya Reygan pada Qila yang sudah duduk dengan manis. " Mau makan nasi goreng?"
"Mau bakso aja, boleh?" tanya Qila balik bertanya.
"Nasi goreng aja, ga usah bakso. Tunggu di sini aku pesenin dulu," putus Reygan yang malah dia sendiri yang memilih.
"Terus kenapa nanya sih," cibir Qila sedikit kesal. " Sekalian pesenin Iva yaa," kata Qila sebelum Reygan pergi memesan makanan.
"Kamu mau apa Va?" tanya Qila.
"Samain aja sama kamu," sahutnya lalu Reygan meninggalkan meja itu.
***
"Sayang!"
"Sayang!" panggil Reygan yang tak ada jawaban dari sang empu.
Reygan kemudian membuka pintu kamar Qila dan yang memperlihatkan gadis itu sedang tengkurap dengan buku tebal yang sedang ia baca, sepertinya itu adalah sebuah novel.
"Ayo makan dulu, baca bukunya nanti aja."
"Tunggu-tunggu dikit lagi ini, nanggung," sahutnya yang masih fokus membaca.
"Selesai makan baru di lanjut lagi, nanti maag kamu kambuh kalau lambat makan," kata Reygan mendudukkan dirinya di tepi kasur gadis itu.
"Satu lembar lagii,"
"Bangun atau aku cium, mau?"
"Mauuu."
- to be continued -