Jam menunjukkan pukul 10:05 WIB, lonceng sudah di bunyikan sekitar 5 menit yang lalu, dan kini Reygan, Qila bersama Qila teman-temannya yang lain sedang berada di kantin untuk mengisi perut yang berkoar-koar minta di isi ketika berada di dalam kelas tadi.
"Kasihanilah kami yang jomblo ini yaallah," rengek Galen saat melihat Reygan yang tengah melap sudut bibir Qila dengan ibu jarinya.
Mendengar rengekan itu, kini mata mereka tertuju pada Galen.
"Rey! Tolong ya tolong, kasihanilah gue yang jomblo ini. Jadi, keuwwuan lo sama Qila di kurangin dulu ya? Lama-lama gue gak bisa lanjut makan kalau liat kalian uwu-uwuan mulu di depan gue," ujar Galen panjang kali lebar yang di balas mereka dengan tatapan datar.
"Sirik aja jomblo," cibir Fajrin yang di balas dengan tatapan permusuhan oleh Galen.
"Iya gue sirik. Kenapa, you mau marah?" tanyanya menantang.
Fajrin memutar bola matanya malas," Tau dah, cape ngomong sama lo,"
"Idih emang tenaga lo berkurang berapa kalori kalau ngomong sama gue? Gitu amat lo sama gue, tegaa," kata Galen mendramatiskan ekspresinya.
"Udah diem, malu di liatin orang," tegur Reygan pada keduanya.
"Ah elah, ngapain malu sih? Cuman sebatas ngobrol biasa ini, belum jungkir balik," sahut Galen yang membuat Reygan gemas pengen jedorin kepala sahabatnya itu.
"Cape ngomong sama lo," kata Reygan dengan ekspresi datar.
"Kalori lo juga terkuras ngobrol sama gue? astaga bagus ini mah, jadinya kan badan lo sehat. Oke deh, mulai sekarang gue putusin buat ngajak kalian ngobrol sesering mungkin, jadi tanpa olahraga kalori kalian udah terbakar kalau ngobrol sama gue," kata Galen panjang lebar di hadiahi tatap datar oleh mereka yang berada satu meja dengan Galen.
"Gemas deh, pengen jedorin kepala lo ke tembok," ujar Nevan membuka suara.
"Entah apa yang dulu mak lo liat sewaktu lo masih dalam perutnya," ujar Fajrin geleng-geleng kepala.
Galen menatap para sahabatnya dengan datar," Emang gue kenapa?"
"Kelebihan," kompak mereka bertiga.
***
Kini Reygan dan Qila tengah jalan pulang, dengan menaiki motor sport Reygan, keheningan melanda, tapi beberapa saat kemudian sama-sama Qila bergumam," Lapar."
Ucapan Qila memang hanya samar-samar terdengar di telinga cowok itu, akibat laju motor yang di atas rata-rata dan angin yang kencang," Hah apa sayang? Kamu bilang apa?" tanyanya setengah teriak.
"Aku lapar," cicit Qila menjawab. Mengeratkan pelukannya pada pingga Reygan dan menyandarkan kepalanya pada punggung cowok itu.
"Hah? Apanya yang mau di lempar sih yang?" tanya Reygan bingung, ga nyambung.
"Siapa yang di tampar? AKU BILANG AKU LAPAR," sahut Qila bingung.
Karna tak mendengarnya, Reygan menghentikan laju motornya di tepi jalanan yang dapat di lihat terdapat banyak pedagang kaki lima.
Menyadari motor berhenti, sontak membuat Qila menegakkan cara duduknya. Reygan melepaskan helm yang melekat di kepalanya, lalu turun dari motor setelah Qila tadi turun duluan, kemudian di tatapannya gadis itu.
Belum sempat Reygan membuka suaranya Qila terlebih dahulu menyelanya," Kenapa berenti?" tanyanya dengan muka lemas.
"Aku gak tau kamu ngomong apa tadi. Jadi, mendingan aku berenti dulu," jawahnya," Kenapa hm?"tanya Reygan merapikan rambut sang gadis.
Qila lalu berucap," Laper," cicitnya pelan dengan kepala menunduk.
Cup
Reygan memberi kecupan pada kening Qila lalu memegang kedua pipi Qila dan sedikit mendongakkannya agar bisa ia tatap, tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang sangat ramai.
"Liat aku coba," pinta Reygan dengan lembut, Qila pun langsung menurut balik menatap cowok itu.
"Mau makan apa?" tanya Reygan.
Sebelum menjawab Qila menatap sekelilingnya yang banyak pedagang kaki lima, dengan berbagai macam makanan di jualnya.
"Mau apa?" ulang Reygan sekali lagi.
"Makan sate," ujar Qila menatap penjual sat* yang ada di seberang ia berdiri.
"Yaudah ayo kesana, aku ngikut aja sama maunya kamu," ucap Reygan lalu merangkul bahu samg kekasih menuju penjual kaki lima itu.
Sesampainya pada penjual sate itu, Reygan langsung berucap," Mas, sate ayamnya sepuluh tusuk ya," kata Reygan yang di balas jempol oleh sang penjual sat*, dan berkata," Tunggu sebentar."
Kemudian keduanya mengambil duduk di kursi panjang yang kosong.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya sate pesanan Reygan dan Qila sudah siap di santap.

"Mau di suapin," kata Qila yang riwayat manjanya kembali keluar.
Reygan pun mengambil setusuk sate dan menyuapi Qila.
"Enak?" tanyanya ketika setusuk sate yang ia suapkan pada Qila habis, dan dengan mantap Qila mengangguk.
"Buka mulut," perintah Qila pada Reygan, dan cowok itu pun menurut.
"Enak," ujar Reygan sambil mengunyah.
Dan begitulah seterusnya keduanya makan dengan saling menyuapi, enghiraukan orang-orang yang menatap mereka dengan pandangan yang berbeda-beda.
Dari ada yang iri dan ada pula yang menganggap terlalu alay, tapi mereka benar-benar menghiraukannya dan tetap lanjut memakan sate dengan khidmat dan romantis.
Tapi, adegan itu buyar seketika, sebab tiga curut si pengganggu datang yang tak lain dan tak bukan adalah Nevan, Fajrin dan Galen.
"Wih enak yaa? pamer kemesraan depan umum sore-sore gini," suara Galen menginterupsi dan duduk di depan kedua sepasang kekasih itu, di ikuti Fajrin dan Nevan yang duduk di sampingnya.
"Dunia serasa milik berdua yang lain cuman apa atuh," kata Fajrin ikut nimbrung, Reygan memutar dua bola matanya malas dengan celutukan dan kedatangan mereka, mengganggu saja.
"Kapan waktu gue sama Qila bisa tenang tanpa kalian?" ucap Reygan frustasi.
"Mau tenang?" tanya Galen.
Lalu ketiganya langsung saling memandang dan tertawa misterius seolah tau isi otak masing-masing.
"Masuk ke semak-semak sono, hahaa," ujar Nevan, Galen, dan Fajrin kompak.