Senin pagi datang tanpa ampun. Ratu Ananda Sahara sudah duduk di meja magangnya lima belas menit sebelum jam delapan, kopi sachet hangat di tangan, mata masih agak berat setelah malam Minggu yang aneh — listrik padam, teh di meja makan, ketukan pintu yang tidak pernah jadi pintu terbuka. Di catatan ponsel masih ada satu baris: *rumah malam — agak manusia.* Ia tidak menghapusnya. Terlalu jujur untuk dihapus, terlalu dekat untuk dibagikan.
Briefing pagi belum selesai, Faris sudah meletakkan map tebal di depan Ratu. Sampulnya berbau kertas baru dan stres klien. 'Ini pidana pencemaran nama baik plus dugaan pengancaman. Klien kita digoyang di media. Pak Raja minta ringkasan fakta, pasal, dan risiko banding sebelum jam delapan malam. Lo andalan. Desy bantu lampiran. Nindy urus jadwal meeting.'
Ratu mengangguk. Kerja adalah tempat paling aman di hidupnya akhir-akhir ini — lebih aman daripada chat Bunda yang sesekali menyelip nama Bian, lebih aman daripada Lorong rumah Belanda yang berbagi sabun batang dengan Raja. 'Baik, Mas. Saya kerjakan.'
Siang berlalu dengan highlight kuning, sticky note menempel di monitor, dan kopi ketiga yang Desy paksa. Croissant sisa traktiran kemarin muncul di meja Ratu tanpa permintaan. 'Makan. Otak lo bukan mesin,' desak Desy, matanya menatap Ratu dengan waspada sahabat. 'Lo semalam tidur jam berapa? Muka lo kayak habis nonton horor tanpa ending.'
'Jam… cukup,' jawab Ratu evasif. Ia menggigit croissant, rasa mentega manis sedikit mengusap lelah.
Nindy lewat meja mereka lebih sering dari biasa. Sekali bawa map kosong yang seolah butuh tanda tangan mendadak. Sekali lagi dengan alasan jadwal rapat yang sudah ada di kalender bersama. Matanya menyipit tiap Raja keluar dari ruangannya dan berhenti sebentar di meja Ratu — bukan lama, cukup untuk Nindy menangkap momen dan menyimpannya di memori yang suka dijual murah ke staf lain.
'Satu kalimat di halaman empat itu ambigu,' kata Raja tanpa basa-basi, berdiri di samping kursi Ratu, menunjuk paragraf yang sudah ia highlight sendiri. 'Lo rapikan. Jangan kasih lawan celah. Kalau media baca, mereka akan putar jadi pengakuan.'
'Baik, Pak.' Ratu tidak senyum. Profesional. Ia mengetik ulang kalimat itu sampai tajam seperti pisau kertas.
Setelah Raja pergi, Nindy berdiri di samping printer dengan senyum yang terlalu rapi. 'Tumben dibantu langsung sama Ketua,' ujar Nindy pelan, cukup terdengar oleh Desy yang duduk di seberang. 'Dulu Pak Bun juga gitu di awal. Dekat banget. Hati-hati ya, Mbak — mulut kantor cepat.'
Desy angkat kepala dari laptop. 'Nindy. Kerja. Jangan arsip gosip. Printer itu bukan podium.'
Nindy mengepalkan bibir tipis, pergi dengan langkah yang sengaja terdengar.
Ratu menekan pulpen sampai jari pegal. Tidak membalas. Membalas = amunisi untuk koridor.
Sore Faris singgah lagi, kali ini dengan wajah lega. Ia baca draft Ratu versi ketiga sambil berdiri, lalu mengetuk meja dengan jari telunjuk. 'Bagus banget, Ratu. Hafalan lo nyolong waktu orang. Pasal delapan puluh tujuh lo rangkai rapi — lawan nggak bisa main emosi doang. Saya sampaikan ke Pak Raja sebelum lembur.'
'Terima kasih, Mas.' Ratu merasa dadanya hangat — pujian kerja selalu lebih aman daripada pujian yang tidak ia minta.
Malam jam tujuh lebih, lantai divisi sepi. Satpam di lobby sudah ganti shift. AC gedung terasa terlalu dingin untuk perut yang cuma diisi croissant dan kopi. Lampu ruang Raja masih nyala. Pintu terbuka — pelajaran kunci pintu kemarin masih hidup di kepala Ratu; ia tidak akan mengulang kesalahan itu di ruangan bos.
'Masuk,' kata Raja dari dalam. 'Lo baca keras bagian risiko. Gue dengar celahnya.'
Ratu berdiri di depan meja, map terbuka, suara stabil meski lelah. Ia baca paragraf demi paragraf tentang kemungkinan banding, celah bukti digital, dan risiko publikasi ulang. Raja menyela dua kali — bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengasah. 'Potong kalimat itu. Terlalu defensif.' 'Tambah footnote soal timeline.'
Sekali, hanya sekali, ia bilang: 'Clean.' Satu kata. Pelit. Tapi Ratu merasa seperti dapat skor di ujian yang tidak ia daftar sendiri.
Nindy sempat muncul di ambang pintu membawa nampan teh hangat untuk bos. Ia melihat Ratu berdiri di depan meja Raja, map terbuka, lampu meja menerangi wajah keduanya. Nindy tersenyum kaku — senyum staf yang tahu posisi tapi tidak suka posisinya — lalu pergi sebelum sempat dipanggil masuk. Teh ditaruh di meja Raja tanpa dipesan; Raja tidak minum. Cangkir itu dingin sampai Ratu selesai.
Jam delapan lewat sepuluh, draft final Ratu rapikan. Map tebal, label jelas, sticky note merah di halaman yang rawan. 'Saya pulang, Pak. Motor.'
'Hujan tipis,' kata Raja, melirik jendela. Jakarta malam berkilau basah. 'Lo tetap nolak tumpangan — hafal. Jas hujan nenek. Jangan demam. Besok Faris puji lo di grup pimpinan. Gue… setuju. Bukan karena serumah. Karena kerja lo.'
Ratu menelan. Pujian itu terasa aneh di dada — hangat dan berbahaya sekaligus, seperti kompor yang nyala tapi kaca pelindung belum dipasang. 'Terima kasih. Saya kerjakan karena tugas, bukan karena… cicilan atau atap.'
'Hafal,' kata Raja singkat. 'Gue juga nggak beli pujian dengan cat mobil. Pulang.'
Di lobby satpam masih ada, mengangguk formal. Ratu pakai helm, jas hujan tebal milik Nek Miftah — yang Raja pinjamkan tanpa drama minggu lalu — dan tidak menunggu Fortuner hitam di parkiran. Mesin matic hidup. Gerimis mengetuk plastik jas. Napas lega keluar perlahan.
Chat Desy masuk di lampu merah: `Lembur selesai?` Ratu: `Selesai. Nindy nyengir racun. Faris puji.` Desy: `Lo jago. Abaikan racun. Tidur. Jangan buka berkas lagi.` Ratu: `Hafal.`
Di rumah Belanda, lampu ruang tamu menyala. Raja belum sampai — rapat sisa atau macet, Ratu tidak tanya. Ia mandi cepat, makan mie instan di dapur, lalu — bodoh atau rajin, ia belum putus — buka berkas lagi di kamar karena otak belum mati. Satu paragraf footnote. Satu kalimat footnote. Lampu meja kecil.
Ketukan pelan di pintu kamar. Ketuk. Bukan buka. Bukan gagang diputar.
'Gue taruh print out koreksi di depan pintu,' suara Raja dari luar, sedikit lelah. 'Jangan baca sekarang kalau mata lo mau mogok. Selamat malam.'
'Selamat malam,' sahut Ratu dari dalam. Ia tunggu langkah menjauh, baru buka celah pintu: map tipis di lantai, plus selembar kertas berisi tiga koreksi tulisan tangan — bukan bunga, bukan rayuan. Koreksi pasal. Catatan profesional. Ratu duduk di tepi tempat tidur, baca sekali, lalu tersenyum kecil ke kayu pintu yang sudah tertutup lagi.
Ia mematikan lampu sebelum senyum itu berubah jadi sesuatu yang tidak ingin ia namai malam Senin.