Rabu siang, teknisi datang — AC hidup lagi, ruang tamu sejuk, napas Ratu lega. Invoice lunas dari tabungan darurat tipis; dompet tidak panic, tapi tidak santai. Cicilan mobil sudah lunas minggu lalu; gaji baru masuk Senin — Ratu transfer tabungan kecil ke rekening darurat. Payday ritual: napas, prioritaskan, lanjut.
Kantor Rabu lebih normal — Ratu fokus footnote, email klien bersih. Nindy professional-cold; Faris singgah: 'Lo stabil.' Desy: `Two weeks to venue. Lo breathe?` Ratu: `Breathing.` Desy: `Good.`
Pulang sore, rumah sejuk — kontras dengan Selasa panas. Ratu mandi, ganti kaos, duduk di sofa ruang tamu dengan catatan kecil dan secangkir teh.
Ponsel bergetar — video call Nek Miftah. Ratu angkat. Raja di dapur, bisa dengar.
'Cantikku,' sapa Nek Miftah — wajah tua cerah, background rumah saudara di Bandung. 'AC sudah hidup? Nenek dapat chat teknisi lunas.'
'Sudah Nek. Sejuk. Makasih Nek yang rekomendasi.'
'Bagus.' Nenek tatap layar — mata tajam via pixel. 'RSVP lo sudah ke Bunda?'
'Iya Nek. Hadir. Sebagai adik.'
'Good framing.' Nek Miftah nod. 'Nenek juga datang — seat jauh, mata dekat. Lo nggak sendirian.'
Ratu air mata controlled — ujung mata, tidak jatuh. 'Nek… gue masih…' stop. 'Gue akan OK.'
'Honest dulu, OK belakangan.' Nenek lembut. 'Undangan bukan akhir dunia. Nikah Bian bukan akhir lo. Adik boleh sedih — adik juga boleh kuat.'
'Iya Nek.'
'Lo masih ingat kenapa block?' tanya Nek — direct tapi tidak menghakimi.
'Boundary.' Ratu jawab cepat. 'Vault. Bian ghosting. Raisa. Gue nggak mau jadi…' suara tipis, '…bukan adik di chat, tapi hope di hati.'
'Bagus.' Nek Miftah tersenyum. 'Blokir bukan dendam. Blokir itu melindungi framing. Datang undangan bukan berarti buka blokir. Kamu paham?'
'Paham Nek.'
'Nenek tahu lo masih sakit.' Nek Miftah lembut — tidak pity, fact. 'Sakit boleh. Tapi lo nggak datang untuk confirm sakit. Lo datang untuk tutup chapter dengan dignity. Bukan tutup hope — hope lo yang tutup, dengan framing adik.'
Ratu swallow. 'Iya Nek.'
'Raja?' Nek Miftah tilt kamera. Raja melangkah masuk frame — wave awkward, rambut masih basah post-mandi. 'Jaga dia.'
'Iya Nek.' Raja jawab — echo Jumat.
'Bukan jaga drama. Bukan jaga cinta paksa.' Nenek tegas pelan. 'Jaga makan. Tidur. Nangis soft. Antar kalau perlu — sebagai teman rumah, bukan sebagai yang claim.'
Raja nod. 'Understood Nek.'
'Tidak perlu announcement romance.' Nek Miftah lihat Raja, lalu Ratu. 'Rumah Belanda bukan soap opera. Dua orang dewasa. Boundary. Respect.'
'Respect,' ulang Ratu.
'Ratu — lo promise nenek: lo akan OK di venue. Bukan OK pura-pura. OK dengan framing adik.'
Ratu tatap kamera. Satu detik. 'Gue promise Nek. Gue akan OK.'
'Good.' Nenek smile tipis. 'Gaun? Desy?'
'Desy offer bantuan. Sabtu maybe.'
'Pinjam OK. Nabung OK. Yang penting lo nyaman — bukan compete sama pengantin.' Nenek pause. 'Bian akan lihat lo. Raisa juga. Lo senyum adik — bukan senyum sakit. Kalau sakit, bathroom break. Lo hafal?'
'Hafal Nek.'
Call lanjut — cuaca Bandung, kesehatan Nek, teknisi AC, cerita tetangga. Tidak Bian detail. Tidak Raisa detail. Block still block — tidak perlu diucapkan; Nek tahu. Sebelum putus, Nek bisik: 'Nenek bangga lo honest. Datang atau tidak — lo sudah choose dengan kepala.'
Putus. Ruang tamu hening sejuk.
Raja: 'Lo OK?' Ratu: 'Promise OK. Execution later.' Raja: 'Fair.'
'Nek bilang jaga — bukan claim.' Ratu pelan. 'Lo dengar?'
'I heard.' Raja duduk di ujung sofa — jarak aman. 'Gue standby kalau lo butuh. Bukan sebagai date. Safety.'
Ratu lihat — surprise controlled. 'Belum venue. Tapi… noted.'
'Noted,' echo Raja.
Malam, Ratu chat Desy: `Nek call. Promise OK. Gaun Sabtu?` Desy: `Sabtu. Mall. Vault.` Ratu: `Vault.` Desy: `Adik mode ON.` Ratu: `Adik mode ON.`
Raja chat Yasa singkat: `Nek said jaga not claim.` Yasa: `Smart nenek.` Raja: `Lo irrelevant.` Yasa: `Always relevant bro.` Raja tidak balas — stare ceiling kamar tamu, AC sejuk, pikiran tidak.
Ratu di kamar — catatan kecil: *Nek: OK promise. Raja: standby safety. cicilan done. AC fixed. block still.*
Tidur lebih nyenyak — bukan karena happy, karena punya instruksi: jaga, bukan claim; adik, bukan hope; promise OK, execution later.
Kamis pagi — seminggu sebelum venue. Ratu di kantor, Desy review dress code email dari Bunda: formal, no white full — navy approved. Faris lewat: 'Lo butuh cuti Sabtu?' Ratu: 'Sudah submit.' Faris: 'Good. Lo professional — di kantor dan di luar.' Ratu grateful — tanpa drama, tanpa tanya Bian.
Sore Kamis, Ratu transfer sisa tabungan ke rekening darurat — dompet tipis tapi tidak panic. Cicilan done; gaun rental affordable; heels pinjam. Prioritas: survive venue, exit clean. Raja pulang jam tujuh — AC sejuk, dapur normal. 'Nek call?' tanya Raja. 'Iya. Lo standby noted.' 'Noted.' Formal. Aman. Dua kata — cukup.
Malam Kamis, Ratu practice smile di cermin kamar — lima detik hold. Almost cry — Nek voice di kepala: *OK dengan framing adik.* Breath. Lanjut. Undangan di laci tidak dibuka. QR tidak di-scan. Block still block. Promise OK — execution Sabtu.