Michelle menggigit bibir. Keramaian di tempat yang ditunjukkan Kai padanya ternyata lebih dari yang ia perkirakan. Mungkin karena ini pekan terakhir liburan. Banyak kumpulan kaum muda-mudi menongkrong di setiap sudut sejauh mata memandang. Ada yang main gitar sambil bernyanyi bersama, ada yang bercengkerama dengan buku-buku tebal di tangan mereka, ada juga yang pesta minum bersama. Sekilas kegiatan mereka seolah mengundang Michelle untuk meminta izin bergabung. Ya, itu kelihatan seru. Tapi setelah dipikirkan lebih jauh lagi, itu jadi terasa mengerikan.
Kai yang menangkap kegugupan Michelle menggenggam tangannya erat-erat. Ia lalu merangkulnya ke dalam pelukan singkat.
“Tidak apa, mereka hanya remaja yang sedang menikmati kebersamaan. Mereka bukan orang jahat,” ujarnya berusaha menenangka