"A–Arven... ahhh—!" suaranya pecah, nyaris menjadi teriakan.
Tubuhnya bergetar, desahannya terputus-putus, "Hah... hah... hah..."
Ia mendesah panjang, nyaris meraung, sambil mencengkram pegangan erat-erat.
"Ar! Emphh..." keluhnya, bibirnya terbuka dengan suara yang bergetar panas.
•
•
•
Lyara masih terpaku di tempat. Kata-kata lirih Arven tadi seolah menggema di telinganya.
Novi menelan ludah, lalu berbisik pelan. "Ly, lo denger gak? Omongan Arven creepy banget sumpah."
Celin juga mengangguk cepat. "Iya, sumpah gue merinding. Kayaknya dia bukan si Arven yang biasanya, deh. Iya kan?"
Lyara spontan mendengus, menutupi rasa gugupnya yang tiba-tiba mencengkram dadanya. "Apaan sih? Dia cuma sok-sokan doang tau gak sih. Udahlah, pokoknya gue sama sekali gak takut sama tuh anak, tolong kalian berdua camkan itu."
Namun, dibalik ucapannya, jantungnya berdegup tak karuan.
Arven selesai memasukkan semua bukunya ke dalam tas, lalu menentengnya dengan tenang. Ia tidak menatap mereka lagi, hanya melewati begitu saja dengan langkah yang sangat begitu tegas dan teratur.
Suasana kelas mendadak seperti berubah suhu.
Novi buru-buru berbisik lagi. "Astaga, Ly. Ini sih lebih serem daripada sekedar marah-marah."
Celin memeluk lengannya sendiri. "Iya, kayak ada sisi gelap yang dia simpen gak sih? Gue gak berani deh kalo lo ngajak ngerjain dia lagi."
Lyara berdiri terpaku. Matanya mengikuti punggung Arven yang sudah menjauh, semakin lama semakin kecil hingga akhirnya menghilang di ujung koridor.
"Kenapa gue malah jadi kepikiran gini, sih?" gumamnya dalam hati.
Lyara menggigit bibir bawahnya, mencoba mengenyahkan perasaan aneh yang mendadak tumbuh dalam dirinya. Namun semakin ia mencoba melupakan, justru sorot mata itu semakin jelas terbayang.
*****
Mobil putih itu akhirnya berhenti di halaman rumah megah bergaya modern, Lyara masuk ke dalam dengan langkah malas. Suasana rumah sepi, seperti biasanya orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dan begitu sampai di kamar, Lyara langsung menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidurnya yang empuk. Ia menyalakan lampu meja, lalu meraih ponsel. Timeline media sosialnya penuh dengan postingan teman-teman kampus. Ia scroll sebentar, tertawa kecil, tapi kemudian tiba-tiba berhenti.
Matanya kosong.
Bayangan wajah Arven mendadak muncul begitu saja. Sorot mata dinginnya, gerakan tangannya saat memungut buku satu per satu, hingga kalimat yang terucap lirih itu...
"Jangan uji kesabaran gua. Kalo lo gak mau tau akibatnya!"
Lyara menggeliat gelisah di kasurnya, spontan ia menendang bantal. "Argh, kenapa sih gue kepikiran terus sama cowok cupu itu?!"
Ia duduk sembari menyugar rambutnya dengan jari. Nafasnya berat, seperti menahan sesuatu.
"Apa jangan-jangan dia mau balas dendam sama gue?"
Pikirannya berantakan. Ia menutup wajah dengan bantal, berteriak kecil, lalu tergelak sendiri.
"Hah! Gila. Gue Lyara Quinn, queen kampus, masa kepikiran nerd berkacamata kayak dia? Sumpah demi apapun gue sama sekali gak takut dengan ancaman payahnya itu!"
Lyra kembali merebahkan dirinya dengan kasar di atas tempat tidur, ia menggeliat lagi, tubuhnya panas dingin seperti ada bara yang tak bisa ia padamkan. "Sialan! Besok kalo gue ketemu dia lagi, gue bakal buktiin kalo gue sama sekali gak takut sama cowok cupu kayak dia!"
Dengan cepat ia meraih ponselnya, membuka grup chat kecil dengan Novi dan Celin. Jari-jarinya mengetik cepat.
Lyara: Babe, gue suntuk banget. Malam ini kita clubbing yuk.
Novi: Otw! Gue juga lagi bete sumpah.
Celin: Gue ikut, tapi jangan di tempat yang kemarin, please. Security-nya galak.
Lyara menyeringai puas. "Perfect."
*****
Beberapa jam kemudian, Lyara sudah terjebak dalam hiruk pikuk dunia malam yang begitu kontras dengan sunyinya rumah.
Di dalam club itu, musik EDM tidak sekadar terdengar, musiknya menghantam d**a seperti gelombang kejut. Bass yang berat membuat gelas-gelas di meja bergetar, bahkan lantai dansa seakan berdenyut mengikuti iramanya.
Lampu strobo berwarna biru dan ungu silih berganti menyapu ruangan, menyilaukan mata, membuat wajah-wajah orang hanya tampak setengah detik sebelum kembali tertelan gelap. Lantai kaca di bawahnya memantulkan cahaya neon hijau yang bergerak seirama dengan musik, membuat siapa pun yang menari seakan melayang dalam ruang tanpa gravitasi.
Aroma alkohol pekat bercampur dengan parfum mahal yang menusuk hidung. Sesekali asap tipis mesin kabut menyembur dari sudut ruangan, mengaburkan pandangan dan memberi ilusi bahwa semua orang sedang menari di dalam awan berwarna ungu.
Di bar, botol-botol minuman ditata rapi dengan label berkilau diterangi lampu LED putih, sementara bartender dengan gerakan cepat memutar shaker, menyalakan api di atas gelas, lalu menyajikannya dengan senyum tipis.
Di sudut-sudut lounge, sofa beludru merah gelap penuh dengan pasangan yang saling merapatkan tubuh, berbicara terlalu dekat karena suara musik yang memekakkan telinga. Tawa keras, ciuman singkat, dan suara es batu beradu dalam gelas menambah lapisan riuh yang tidak pernah berhenti.
Lantai dansa sendiri penuh sesak. Keringat menempel di kulit, gesekan tubuh menjadi hal biasa, dan kilauan keringat di bawah sorotan lampu justru terlihat seperti permata di atas kulit yang berkilau.
Lyara berada tepat di tengah pusaran itu. Rambut panjangnya yang bergelombang ikut berayun setiap kali ia memutar kepala, dress hitam ketatnya memantulkan cahaya neon, membuatnya tampak seperti pusat gravitasi yang menarik tatapan dan bibir merahnya tersenyum lebar.
"Woohooo!" Novi bersorak sambil mengangkat tangannya. Celin tertawa, ia ikut menari sambil menggoyangkan rambutnya.
Lyara terlihat seperti queen yang tak tergoyahkan. Ia terlihat penuh percaya diri, liar dan bebas. Ia bergerak mengikuti dentuman bass. Ia menenggak habis minumannya, menutup mata sejenak, lalu membuka kembali dengan tawa bebas. Jelas, ia sangat begitu menikmati suasana malam ini.
Namun, di antara keramaian itu, Novi tiba-tiba berhenti.
Matanya membelalak, tubuhnya kaku. Ia mengucek matanya berkali-kali, seolah takut salah lihat. Tapi tidak mungkin ia salah. Sosok itu jelas, bahkan di tengah lampu strobo yang berkedip cepat.
Seorang cowok yang tengah duduk santai di bar, satu tangan memegang gelas whiskey setengah isi, tangan lain memainkan korek api yang sesekali menyala lalu padam. Rambutnya agak berantakan dengan kaos hitam polos dan jaket kulit. Namun yang paling mencolok adalah dia yang tetap memakai kacamata yang tidak pernah ia lepas.
Novi tercekat. "Astaga..." gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh musik.
"Kenapa diem?" Celin mendorong bahunya, masih terhuyung-huyung mengikuti irama.
Novi menarik lengan Lyara dengan panik. "Ly... lo liat bar gak? Liat ke bar!"
Lyara yang sedang tertawa puas, seketika kesal karena lengannya ditarik-tarik paksa oleh Novi. "Apaan sih, Nov!"
"Serius! Liat sekarang!"
Lyara memutar kepalanya dengan malas, matanya menyapu ke arah bar. Saat pandangan itu bertemu dengan sosok yang Novi maksud, senyum Lyara langsung lenyap.
Jantungnya berhenti sepersekian detik.
Di sana ada Arven.
Si kutu buku cupu yang selalu ia bully. Tapi bukan versi yang ia kenal.
Sosok itu duduk di bar dengan aura yang sama sekali berbeda. Dingin. Menyala. Bahunya rileks, tapi ada ketegangan halus di rahangnya. Setiap kali ia menyesap whiskey dari gelas kristal itu, gerakannya lambat, penuh perhitungan, seolah waktu tunduk padanya.
Tatapan matanya menyapu ruangan sebentar dan dalam sekejap bertemu dengan mata Lyara.
Deg!
Tubuh Lyara seolah tersengat listrik. Nafasnya tercekat, tangannya mencengkeram gelas kosongnya erat-erat.
Celin yang kini juga melihat ikut melongo. "Gila... itu beneran Arven? Nerd cupu itu?!"
Novi menelan ludah, wajahnya pucat bercampur kagum. "Ly... lo masih berani bilang dia cupu? Karena yang gue liat sekarang..." Ia menggeleng, suaranya bergetar, "Dia lebih keliatan kayak suhu tau." imbuhnya takut-takut.
Arven tidak tersenyum, tidak juga menunduk. Ia hanya menatap lurus ke arah Lyara dengan tatapan yang sama sekali tak terbaca, tapi anehnya membuat darah Lyara mengalir lebih cepat.
Bersambung...