Author POV
Pagi ini gadis yang bernama Lovale Princess Arkana datang lebih awal, tidak seperti biasanya yang selalu masuk dengan diiringi tatapan kesal dosen dikelasnya. Levi memandang sahabat cantiknya dengan tatapan bingung, apa ada masalah dikepala gadis ini?
" Tumben datang pagi " sindir Levi sambil menyerahkan tugasnya untuk disalin sebagian oleh Lovale
" Gue mau minta tolong sama lu, urgent banget Lev serius. " imbuh Lovale meletakkan tasnya ke kursi disebelah pria tampan itu.
" Palingan juga nyalin tugas kaya biasanya " sahut Bombom dari belakang
" Diem lu Bom, gue kutuk jadi kutu tau rasa lu " jawab Lovale galak sambil menyalin tugas Levi.
" Kenapa?" tanya Levi yang mulai memperhatikan tingkah gelisah dari sahabat sejak kecilnya itu.
" Lu bayangin! Pagi-pagi gue baru mau sarapan, eh bokap nyokap gue malah bilang kita 2 bulan lagi mau pindah ke Sydney . Auto gak mood gue Lev " jelas Lovale.
Levi mengernyitkan dahinya lantaran bingung, membuat Lovale berdecak kesal.
" Ih! Kalau bingung tuh nanya, gak usah sok-sokan males buka mulut. Jadi, gue juga disuruh ikut pindah kesana. Ya gue gak mau lah Lev, masa kita pisah? Kita kan udah bareng dari orok, 20 tahun loh. Pokonya gue gak mau pisah! Gak rela gue, gak akan terima, gak boleh terjadi " lanjut Lovale cepat. Tangannya tetap bergerak menyalin tugas sang sahabat dengan cepat seperti laju bibirnya saat bercerita.
Levi menggelengkan kepala gemas, namun ia menahan diri untuk tidak mengungkapkan kegemasannya pada Lovale. Gadis itu pasti akan heboh dan meledeknya.
" Jadi?" tanya Levi memastikan keadaan, Lovale kelihatan memiliki rencana agar tidak pindah ke Sydney.
" Tolongin gue dong Levi sayang " ungkap Lovale dengan cengiran tanpa dosa.
Gawat. Levi membaca tanda-tanda ia akan diterpa masalah yang merepotkan.
" Dosen 3 menit lagi masuk kelas, tugas lu masih setengah lagi belum selesai kan? Sini, gue tulisin sisanya biar cepet " tawar Levi. Tanpa babibu, Lovale langsung menyerahkan tugasnya.
" Lu jangan pura-pura gak denger, gue minta tolong nih " Lovale mencebikkan bibirnya kesal sembari menyenderkan kepalanya di bahu Levi.
" Apa?"
" Ayo nikah Lev " ajak Lovale. Levi menggertakkan giginya, menahan sudut bibirnya yang hampir terangkat membentuk senyuman. s**l, tangannya sedikit sulit menulis karena diiringi debaran jantungnya yang menggila.
" APAAAAAAA???!!!" sahut teman-teman sekelas mereka beramai-ramai.
" Ih kalian nguping! Gak boleh begitu ya anak-anakku sayang " seloroh Lovale.
" njir kita jadi anaknya mereka berdua "
" sudah saya dugong sejak awal masuk kelas, mereka berdua memang ada tanda-tanda "
" memang mereka bareng terus kan?"
" wah kondangan nih "
" makan enak gratis " lontar beberapa teman sekelas mereka.
" Diam, Pak Budi udah masuk " potong Levi dengan wajah datar.
*****
Kelas Pak Budi baru saja selesai, Lovale membalikkan tubuhnya ke belakang dimana Bombom dan Lena, sahabatnya duduk.
" Eh, tadi Pak Budi liatin gue mulu" papar Lovale pada sahabat ghibahnya.
" Mungkin bingung liat lu tumben gak telat beb " Bombom terkekeh melihat wajah Lovale yang kesal padanya.
" Jangan cemberut sayang, nanti cantiknya berkurang loh " Davin muncul tiba-tiba dihadapan mereka. Pria ini memang sering menghampiri kursi Lovale, kelihatannya ia menyukai gadis ini.
" Gue bawain lu ikat rambut baru, kemarin gue lihat di Raspberry store ada barang baru nih " ucap Davin sambil mengeluarkan kantung kecil berwarna pink yang berisi beberapa ikat rambut imut, kesukaan Lovale.
Levi mengambil kantung imut tersebut dari tangan Davin lalu mengeluarkan ikatan rambut milik Lovale yang biasa dititipkan padanya dari saku Hoodie dan langsung mengikat rambut milik Lovale. Orang-orang yang masih ada dikelas saling lirik, sudah terbiasa melihat interaksi pasangan sahabat itu. Lain dengan Davin yang refleks menyeringai, ia tau. Levi sangat tidak menyukainya yang berusaha mendekati Lovale.
" cantik banget " puji Davin mengarahkan tangannya untuk mengelus puncak kepala Lovale yang seketika ditepis oleh Levi.
" Soal ajakan nikah lu tadi, ayo kita bicarain " ajak Levi dengan menarik tangan Lovale pergi.
Davin mengiringi langkah pasangan itu dengan tatapan dalam, ia mengeratkan genggaman tangannya dengan kesal.
*****
Levi membawa Lovale ke asrama miliknya, membuat gadis itu berdecak kagum. Bagaimana tidak? Asrama universitas mereka adalah yang termewah diseluruh kota ini. Bentuknya seperti Condominium, tidak terlihat seperti asrama pada umumnya.
" Gak usah lebay, padahal lu sering kesini " tutur Levi menyerahkan segelas air dingin pada Lovale.
" Bagus banget tau lev, pengen banget gue tinggal ditempat beginian " jawab Lovale dengan cengiran khas miliknya.
" Bentar lagi kan lu tinggal disini " balas Levi singkat penuh makna.
" hah?" Lovale bingung.
" Ayo pulang, gue anterin. Sekalian gue juga mau bicara ke Mami dan Papi " ajak Levi.
*****
Saat mereka tiba dirumah Lovale, gadis itu tampak tertidur lelap. Levi merapihkan poni yang menutupi wajah gadis cantik itu dengan lembut.
" Kenapa gue gak pernah bisa nolak keinginan lu sih, Val?" gumam Levi.
Levi menggendong gadis itu ala bridal style sampai ke kamarnya di lantai 2. Setelah selesai merapihkan gaya tidur Lovale, ia turun ke ruang tamu di lantai 1 untuk menemui orang tua Lovale.
" Apa kabar Mi, Pi? " sapa Levi.
" Baru juga ketemu kemarin Lev, gaya amat jadi orang pake nanya kabar segala " kekeh Revan, Papi Lovale.
" Ah, iya juga ya Pi. Levi kemarin sore kan kesini juga " sambung Reina, Mami Lovale sambil tertawa. Levi tersenyum, memandang pasangan paruh baya yang tak pernah berubah. Tetap receh menertawai hal sepele, kunci awet muda katanya.
" Levi kesini mau bicara sama Mami Papi, soal kepindahan kalian 2 bulan lagi ke Sydney. Jadi, Lovale harus ikut kah ?" tanya Levi to the point.
" Iya, nak. Kamu kan tau sendiri gimana manjanya Vale, seberapa malasnya dia, belum lagi sifatnya yang gak bisa mandiri. Aduh, mami gak bisa bayangin kalau dia tinggal sendiri disini. " keluh Reina dengan ekspresi khawatir.
" Ada Levi disini, Mi. " jawab Levi lembut. Berusaha memohon untuk gadis cantik itu agar tetap tinggal didekatnya.
" Memangnya kalian bisa 24 jam barengan terus? Vale ditinggal beberapa jam sendirian aja, kamu udah tau kan hasilnya?" tegas Revan yang mengingatkan Levi tentang Lovale yang sempat ia tinggal selama beberapa jam dirumahnya sendirian tanpa pengawasan siapapun dan berakhir barang-barang didapur pecah. Dan Lovale berdalih bahwa ia hanya membuka lemari Kitchen set lalu tiba-tiba semua piring menggelinding jatuh.
" Levi bakal nikahin Lovale mi, pi " ungkap Lebih yakin. Ia tau pernikahan bukan sesuatu yang bisa dilakukan begitu saja, tapi ia yakin dengan hatinya.
" Jangan bercanda, Levi " protes Reina kesal. Ia fikir Levi hanya bercanda agar pasangan sahabat itu tidak dipisahkan.
" Levi gak bercanda sama sekali, Mi. Levi mau Lovale tinggal disisi Levi selamanya, bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai seseorang yang bakal jalanin hidup bareng sampai tua. Seseorang yang akan Levi jaga dengan segenap kemampuan Levi. Mungkin terkesan berlebihan, tapi Levi sayang Lovale lebih dari diri Levi sendiri. Lovale is my life. Selamanya, akan tetap begitu. Lovale segalanya buat Levi mi, Levi ngerasa gak ada gunanya hidup kalau gak ada Lovale disekitar Levi. Lovale itu nafasnya Levi, hidup Levi, jantungnya Levi. " jelas Levi dengan dentuman jantung yang semakin cepat. Ia meraba dadanya perlahan, berharap jantungnya akan sedikit lebih tenang.
Reina dan Raven terdiam, memandang satu sama lain. Mereka tau anak mereka dan Levi memang bersama sejak kecil. Melakukan hal apapun selalu bersama, sama sekali tidak pernah berpisah. Karena kemana pun Lovale pergi, Levi selalu ikut. Kemana pun Levi pergi, ia akan membawa Lovale. Mereka ragu, perasaan Levi untuk Lovale adalah cinta atau hanya perasaan terbiasa.
" Levi cinta Lovale, bukan cuma karena gak rela Lovale pergi. Tapi, Levi memang mau milikin Lovale seutuhnya. Biar Lovale gak direbut orang lain lagi " lanjut Levi, teringat mengenai Davin dan pria-pria lain yang selalu berusaha mendekati gadisnya.
" Vale gak tau kamu cinta dia ya?" ledek Revan. Levi hanya terkekeh singkat menanggapi ledekan Revan, memang benar adanya bahwa sahabatnya itu tidak tau Levi mencintainya. Gadis itu tidak akan tau, kecuali Levi yang memberitahu. Sungguh manusia yang sangat tidak peka.
" Jadi, kamu serius mau nikahin Lovale? Biar bisa jagain dia 24 jam dan milikin dia seutuhnya? " desak Reina, ia ingin memastikan lagi.
" Iya mi, sore ini keluarga Levi bakal balik ke Jakarta. Nanti malem Levi mau lamar Lovale dan kalau Lovale terima, besok pagi jam 10:00 kita sekeluarga bakal lamar secara resmi. "
" Ya udah, kalau memang kamu yakin dengan keputusan kamu. Mami dan Papi cuma bisa berdoa, kalian yang ngejalanin " putus Revan. Kini ia yakin, gadis kecilnya sudah bertemu pria yang tepat.
" Iya pi, kalau gitu Levi pulang dulu " pamit Levi.
*****
Dering dari ponsel yang diletakkan Levi dinakas samping kasur membuat Lovale terbangun dari tidur nyenyaknya, namun nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ia masih berguling-guling berusaha untuk mengumpulkan kesadaran. Konyol sekali, gadis satu ini.
Tangannya berusaha meraba ke asal suara yang mengganggu tidurnya,
" Udah bangun, Val?" sapa Levi dari seberang sana.
" Belum, ini gue masih tidur Levi sayang" desis Lovale kesal.
" Bangun, gue bentar lagi otw jemput lu. Buruan siap-siap, kita dinner " pinta Levi lembut.
" Males Lev, ngantuk banget "
" Bangun sekarang, atau gue yang bantu lu siap-siap?" bisik Levi gemas.
" Iya, iya! Gue siap-siap nih " jawab Lovale dengan ketus. Levi menyebalkan, ganggu tidur orang.
*****
" Val, turun! Levi udah sampe nih, nungguin kamu. " teriak Reina kencang dari anak tangga paling bawah.
" Iya mamiiiii, ini Lovela turun " jawab Lovale sembari menuruni tangga.
" Duh, anak papi cantik banget " puji Revan dengan mata berbinar. Pria paruh baya itu melirik ke arah Levi, calon menantunya yang memandangi Lovale tanpa berkedip. Ia terkekeh pelan. Biasa, anak muda mabuk asmara.
" Terima kasih pujiannya ya pi, aku tau aku cantik " canda gadis itu.
" Kami pergi dulu ya mi, pi, " pamit Lovela sembari melayangkan ciuman dipipi orang tuanya.
~ Cerita ini murni hasil pemikiran saya, sebagian cerita diambil berdasarkan kisah nyata dan ditambahi bumbu-bumbu agar lebih dramatis.
Untuk kesamaan nama, tokoh, latar, dan kesamaan lainnya itu murni tanpa unsur kesengajaan. Semoga suka ya^^
Jangan lupa tinggalkan jejak jika suka cerita ini, Terima kasih.
Salam manis, Moonroses.