Tiba-tiba saja Kali berhenti. Tangan kanannya terangkat hingga sejajar telinga lalu menurunkan satu karung kristal ke tanah.
“Shhh ... aku merasakan sesuatu”
“Hmm?”
“Tidak jauh dari sini ada sesuatu yang menggeliat. Aku rasa makhluk ini berbahaya”
“Seberapa bahaya?”
“Sangat ... sangat berbahaya,” jawab Kali lalu melirikku dengan mata yang menyipit. “Saatnya berganti tempat, Reiss”
“Tanpa kau beritahu sekalipun, aku sudah tahu.”
Aku pun berjalan mendahului Kali. Belum beberapa langkah, aku sudah bisa merasakan perasaan tidak asing ini. Biasanya aku selalu berurusan dengan Bandit atau penjahat saat berada di wilayah Kerajaan Astarte.
Namun, aroma ini, hawa ini, dan bagaimana atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Tidak salah lagi ....
Makhluk ini tidak lain dan tidak bukan adalah Tenebris.
Kuhentikan kakiku lalu menengok Kali dan memberinya kode untuk menyiapkan artefak sihir jika terjadi sesuatu. Ia pun mengangguk tanda mengerti.
Makhluk busuk yang mana dulu sempat menjadi penghancur tempat Silvie dan juga perantara dari “Orang itu”. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melawan makhluk ini.
Jika matahari di atas membuat mereka dalam keadaan tertidur, maka ketika matahari tenggelam, dan tirai malam turun. Aku ragu Kali bisa bertahan dari serangan makhluk ini karena nyatanya insting mereka akan sangat aktif selama malam masih berjaya.
Aku tidak tahu tepatnya kapan, tapi semenjak aku berada dalam keadaan koma. Aktivitas makhluk-makhluk kegelapan seperti Tenebris dan Umbras menjadi semakin liar.
Semenjak kekuatanku lenyap dan hubungan kontrakku dengan Fear lenyap. Mengalahkan Tenebris adalah hal mustahil karena mereka hanya bisa dimusnahkan oleh kekuatan Roh—namun, berbeda dengan sekarang.
Setelah mengetahui asal-usulku dan kekuatan origin yang tertidur di dalam tubuh serta ruhku. Hal itu bukan lagi sebuah kemustahilan. Karena itulah saat ini aku merasakan sesuatu yang sudah lama terlupakan.
“Aku bisa merasakannya,” gumamku sembari menyentuh d**a. “Ini memanglah takdir kita.”
Aku pun memejamkan mata untuk beberapa saat lalu melepaskan aura yang ada di dalam ruh. Walau begitu aku bisa mendengar kecemasan Kali yang tak unjung reda terus memanggil namaku.
Tenanglah. Semua sudah terkendali.
“REISSS!!—“
Sontak mataku terbuka lebar lalu kuayunkan lengan kananku ke bawah sangat lambat.
“Terbakarlah sayap imajiku ....”
Beberapa percikan cahaya abu bermunculan satu-persatu lalu berputar mengelilingi tangan kanan. Aku pun mengalirkan Mana ke dalamnya dan dalam satu kedipan mata, sebuah pedang transparan yang terbakar hebat muncul memercikkan lintasan kelabu yang samar.
“Ayo kita bermain.”
Atmosfer hutan semakin mencekam dan kegelapan yang tak merata berubah menjadi rumah bagi para makhluk kegelapan. Sebuah rintihan terdengar jelas di telinga kananku.
Aku pun mengambil langkah mundur secara refleks dan sebuah tangan seukuran kepalaku meleset. Sepertinya tangan ini berusaha mencengkeram kepalaku, tapi sayangnya gagal.
Mengambil kuda-kuda pasif, pendengaranku menjadi semakin tajam, dan samar-samar dari arah kiri terdengar bunyi gaduh yang sangat tak menyenangkan. Kami hanya membawa dua sumber penerangan yang berasal dari kristal cahaya.
Dan orang yang sedang menggunakan keduanya adalah Kali. Aku memang tak bisa menggunakannya dalam kondisi seperti ini, tapi aku masih bisa mengandalkan indra pendengar serta perasa.
Tangan kegelapan yang sebelumnya berusaha merenggut kepalaku juga sepertinya sudah berpindah. Kegaduhan yang sempat terdengar pun mengikuti kesunyian yang ada. Namun, hal ini sama sekali tidak menggangguku.
“Vorndaigt ...,” bisikku halus sembari mengangkat jari telunjuk kanan.
Semua area yang ada dalam pandanganku berubah menjadi Medan Imaji dan begitu jariku terangkat sepenuhnya. Semua medang tersebut memunculkan pedang ilusi.
Mereka semua muncul dari dalam tanah lalu meledak menyebarkan niat pedang. Seperti ribuan jarum yang meledak hebat dan melesat ke berbagai arah. Suara geraman dan sebangsanya mulai terdengar dari segala penjuru daerah di sekitarku.
“Jika kalian ingin bersembunyi, maka aku juga bisa membuat kalian keluar.”
Beberapa saat kemudian beberapa tubuh Tenebris melayang tinggi ke arahku dalam keadaan semua tubuh mereka telah tertusuk oleh pedang ilusiku.
Aku pun menegapkan tubuh kemudian meringankan tangan kanan sembari melangkah cepat mengayunkan pedang. Tujuh hingga sembilan garis lintang terlihat menyala dalam gelapnya hutan, dengan diselingi geraman serta rintihan yang sangat kuat.
Serangan konsekutif yang kulakukan berhasil melenyapkan semua Tenebris dalam sekejap mata. Aku juga bisa merasakan bahwa aura kegelapan yang menyelimuti hutan di sekitar kami sedikit demi sedikit memudar.
“Tampaknya ini memang sudah berakhir.”
Pedang imaji di tangan kananku pun lenyap menjadi kupu-kupu hitam yang kemudian lenyap ditelan kegelapan.
“Hei, bantul. Kau baik-baik saja?” tanyaku sembari memeriksa keadaan Kali.
Apa yang kutemukan adalah wajah seorang pria berumur yang sedang histeris. Aku tidak bisa terlalu jelas bagaimana cara mendeskripsikannya, tapi dengan mata melebar, berkeringat dingin, dan mulut yang menganga ... apa itu sudah jelas?
Aku pun menghampirinya kemudian menepuk pipi besar mengilatnya beberapa kali.
“Sadar ... hei, Kali! Reiss kepada Kali, apa kau yakin masih hidup? Aku jadi ragu dengan keberuntunganmu yang bisa selamat sampai sekarang,” tuturku lalu merendahkan tubuh.
“W-w-wo ... “
“Wo?”
“Whoargghhh!!! Apa-apaan tadi? Aku tidak salah, ‘kan?”
“Oh ... ternyata masih hidup? Kalau begitu cepat bangun, aku tidak yakin tempat ini seaman, dan seindah ranjang penginapan”
“Reiss!!”
“E-e-whoaa! Apa?”
“Syukurlah aku membuat kesepakatan denganmu. Jika tidak mungkin kepalaku akan diarak-arak ke dalam kota terdekat!”
“Kau terlalu melebih-lebihkan. Cepat!” ucapku lalu menepuk punggungnya kuat. “Ada cokelat hangat yang sedang mungguku di ibu kota kerajaan.”
Tiba-tiba saja Kali tertawa hebat, aku pun hanya bisa menghela napas, dan membiarkannya seperti orang gila untuk sementara waktu. Setelah ini aku akan pergi ke kedai dan meminta segelas cokelat hangat untuk diminum di tempat.
Aku jadi tidak sabar lagi. Omong-omong, sepertinya kalian cukup penasaran dengan kisahku beberapa tahun ke belakang. apa? Tentang koma juga? Tenang, biarkan aku menceritakannya dengan pelan dan terperinci agar kalian tidak penasaran lagi.
Tentu, tentu. Pasti aku akan menceritakannya dari saat serangan Dravinus di Akademi Magistra. Aku juga yakin pasti kenalanku yang telah lama berkelana sudah tiba di akademi itu.
Namun, sebelumnya tunggu Kali selesai dulu, baru setelah itu kita beralih pada ceritaku, ok?
“Hei, pria buntal. Cepatlah! Aku tidak ingin berada di tempat ini terlalu lama”
“Hahhh~ Reiss, Reiss, wahai kawanku. Apa kau tidak pernah bisa membiarkan temanmu menikmati kegembiraannya sesaat?”
“Cepat atau para wanita yang menunggumu di bar akan pergi”
“Whoaaaa!! Pasti! Tunggu sebentar, aku perlu membereskan semuanya terlebih dahulu”
“Apa pertarunganku tadi sampai sedahsyat ini, kah? Sampai-sampai membuat barang-barang bawaanmu berjatuhan?” tanyaku lalu menghela napas untuk kesekian kalinya.
Sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama karena itu kita mulai saja cerita lamaku di tempat yang mungkin tidak akan pernah kalian bayangkan sendiri.
Semua ini berawal ketika aku sadar tengah berjalan melintasi jembatan transparan dan bertemu dengan orang yang mengaku sebagai diriku di masa lalu. Benar. Sosok asli dari pemegang pedang takdir, Regalia.