Aku pun berjalan keluar, menyentak sedikit pedang kayu kemudian mendongak kecil.
“Tampaknya aku masih memiliki waktu.” Saat ini langit masih terlihat cerah, tetapi arah matahari sedikit condong ke barat, “Bagaimana, Fear? Apa kamu siap untuk melakukan sedikit olahraga?”
Perlahan-lahan sosok Fear pun muncul dalam balutan butir cahaya. Rambut merah marun panjangnya berantakan, sementara gaun one piece putihnya terlihat transparan.
Ketika ia masih menyeka matanya yang lelah, aku pun menyentil jidatnya agar kembali pada kenyataan.
“Ouhh! Kuroo… aku tau, jadi jangan nyentil kepalaku kayak gitu juga. Uuuuu,” tuturnya sambil merengut.
“Kerjaan kamu itu kalau bukan makan yak tidur, terus saja berulang-ulang. Nanti jatah permennya aku kurangi.”
Saat itu juga ia langsung panik dan langsung mencengkeram kerah kemejaku lalu menggoyang-goyangkannya.
“E-ehhhh?!! Hueeee! B-baiklah aku tidak akan melakukannya lagi, jadi jangan ambil jatah permennya,” tuturnya panik dengan mata yang melebar dan ingus bercucuran.
“B-baiklah, aku mengerti. Jauhkan ingus itu dari bajuku!”
Aku pun mendorong Fear secepat mungkin lalu mengambil napas karena terkena serangan panik juga, siapa yang akan menyangka jika ia menyerangku dengan ingusnya itu.
“Jadi gimana? Kamu siapkan?” tanyaku sambil membersihkan ingus Fear, “Ughh, sisa ingusnya masih ada”
Fear mengangguk cepat seperti hanya itulah yang bisa dilakukannya untuk menjamin jatah permennya agar tidak berkurang. Padahal tadi itu aku hanya bercanda, tetapi akhirnya senjata makan tuan juga… hahhh.
“Aku bercanda, ok. Sebaiknya kita memeriksa beberapa hal dulu, aku perlu memastikan perkataan orang itu benar,” tuturku lalu melepaskan sihir angin kecil di sekitarku. “Sekarang sudah lebih baik”
“Memastikan?”
Aku pun melirik Fear dengan memberinya isyarat kecil “Pergi ke arah sana dan periksa keadaannya”. Untungnya roh gadis kecil ini mengerti maksudku dan tidak lama setelah itu sosoknya kembali menghilang sambil memberikan hormat siap.
“Baiklah, sekarang apa yang akan aku lakukan. Mungkin aku akan berkeliling sambil menanyakan beberapa hal kepada para penduduk,” gumamku sambil melihat ke sekitar.
Sejauh ini tidak ada hal yang mencurigakan. Semua orang tampaknya bekerja seperti biasa dan anak-anak bermain dengan gembira, meski di beberapa tempat aku melihat ada yang sedang melakukan patroli.
Setelah aku bertanya pada beberapa orang, penjelasan kesatria itu kurang lebih sama seperti apa yang mereka ceritakan. Jadi inti permasalahannya adalah entitas makhluk beraura hitam ini.
Ini hanya sebatas dugaan saja, tetapi mungkin ia berusaha mencoba untuk memperluas daerah kekuasaannya. Jika memang hutan merupakan tempat yang tepat untuk istana, maka desa ini adalah bahan stok makanan yang mungkin dibutuhkan olehnya untuk kelangsungan hidup.
Spekulasi liar ini muncul karena gerak-gerik serigala hutan yang sama sekali tidak memakan mangsanya di tempat, melainkan mereka hanya membuatnya mati kemudian membawa ayam-ayam itu ke dalam hutan.
Bisa juga sebuah persembahan atau mereka sedang memberi makanan untuk anak-anaknya? Itu tidak mungkin.
Menurut informasi yang telah aku dapatkan dan juga kesaksian dari beberapa orang yang selamat. Mereka melihat sesuatu yang serupa, yaitu sesosok makhluk beraura hitam dengan tubuh besar yang menyeramkan.
Dengan menggabungkan cerita kesatria serta kesaksian ini, maka semuanya semakin menjadi jelas, dan juga dugaanku sebelumnya bisa saja tepat.
“Mengapa ada makhluk yang bisa berafiliasi dengan Tenebris di dalam Pelindungan Arkeos?”
▼▼▼
Angin mulai berhembus dengan lembut membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Langit pun menggelap bersamaan dengan matahari yang mulai tidur.
Setelah semua persiapan selesai, aku juga meminta para penduduk untuk menyalakan api obor di sekeliling peternakan mereka yang sebelumnya sudah mereka pasang.
Penerangan di desa ini bisa aku bilang sangat buruk, mungkin akibat dari serangan terus-menerus itu mereka tidak bisa fokus untuk membangun ulang sistem pertahanan.
Selama beberapa hari ke belakang atau lebih tepatnya enam hari ini pikiran mereka terkikis dan hanya fokus untuk mempertahankan keselamatan diri serta keluarga. Aku bisa memaklumi hal itu karena keselamatan keluarga memanglah yang paling penting.
Namun, jika kita membicarakan serangan ini, maka hal selanjutnya yang mereka perlu perhatikan adalah persediaan makanan, dan juga tempat berlindung. Ini adalah dua hal yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup. Apalagi di tengah-tengah suasana mencekam seperti ini, penjagaan harus lebih diperketat.
Dari kejauhan sana aku bisa melihat Fear yang terbang dengan wajah khawatir.
“Fear, apa yang terjadi?”
“Mereka adalah Tenebris! Untung saja aku bisa melarikan diri…. hueeee!!! Tadi itu sangat menyeramkan sekali!” jawabnya tergesa-gesa sambil memelukku.
Aku pun mengelus rambutnya lalu memandangi sekitarku.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja, kok. Kalau begitu kamu bisa pergi istirahat dan satu lagi… mohon bantuannya, Fear,” tuturku sambil menatap kedua mata bundarnya.
Fear mengangguk mantap kali ini, sinar pada matanya pun ikut menyala. “Umm. Aku akan berjuang.”
Tidak lama kemudian ia kembali lenyap menjadi butiran cahaya yang masuk ke dalam lengan kananku.
Roh penguat, inilah eksistensi Fear sebagai entitas yang spesial. Keberadaannya saja sudah cukup menjadi bom sihir berkekuatan besar yang setiap saat akan meledak hebat jika aku menginginkannya.
Dalam buku yang menjelaskan tentang keberadaan para roh sebagai penguat Mana, sosok Fear bisa aku katakan berada dalam kategori yang sangat berbeda, dan bahkan tidak termasuk ke dalam kumpulan roh pada biasanya.
Aku tahu, aku bisa merasakannya sedang tertidur di dalam tubuhku. Walaupun dalam tanda kutip aku memintanya untuk bersiaga.
“Oii!! Bocah ingusan, rupanya kau ada di sini, huh?”
Mendengar nada sombongnya yang menjengkelkan itu, aku pun menoleh dengan alis yang berkedut.
“Aku kira kau sudah tidur selamanya, ternyata masih sehat, toh…,” ucapku sarkas.
“Bhuahahaha! Memang sialan.”
Tawanya terdengar keras sampai-sampai aku ingin meninju wajahnya karena kesal.
“Jangan tinggalkan aku seorang, nanti mau dibawa ke mana harga diriku ini, huh?” tanyanya sambil menyisir rambut ke belakang dengan jari-jemari.
“Makan saja harga diri itu dengan tanganmu sendiri. Apa yang kau lakukan di sini, kondisimu?” tanyaku lalu memandangnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. “Sepertinya aku tidak perlu bertanya”
“Meski begini, aku juga seorang mantan kesatria kerajaan,” sahutnya lalu membusungkan d**a.
“Mantan… eh?”
“Dasar kurang ajar. Apa kau meremehkanku?”
“Kelihatannya?”
Ia pun menghela napas lalu menatapku dengan mata sungguh-sungguh.
“Apa yang kau rencanakan dengan semua obor itu?”
Mengapa orang ini baru mempertanyakannya sekarang?
“Memangnya kau makhluk malam yang bisa melihat dari kegelapan?” tanyaku balik.
“Bukan itu, k*****t. Aku tahu makhluk hutan seperti serigala sangat takut dengan api, tetapi hanya dengan ini saja tidak akan menghentikan pergerakan makhluk besar itu,” tuturnya lalu berbalik menghadap ke arah salah satu obor dekat pagar kandang ayam.
Ternyata meski penampilannya menyedihkan, otaknya masih cair juga.
“Penanda”
“Penanda? Apa maksudmu?”
“Obor itu telah aku beri sedikit trik untuk berjaga-jaga,” jawabku sambil berjalan pelan menuju gerbang utama desa.
Pria tua ini mulai mengikuti dari belakang dengan wajah bertanya-tanya atau mungkin tepatnya sedang mencari maksud dari perkataanku.
“Kau tahu seberapa lincah makhluk hutan itu. Jika mereka menyentuh atau berusaha melewati obor-obor yang telah diimbuhi oleh trik sihir milikku ini, mereka akan segera berlari sambil mengejar ekornya sendiri,” jelasku singkat.
“Maksudmu sebagai penangkal? Jadi pekerjaan utama milikmu adalah seorang penyihir dan bukan seorang kesatria?”
“Bagian itu aku serahkan pada imajinasimu saja. Lihat tamu kita sebentar lagi akan datang.”
Kesatria sialan ini langsung berbalik dengan dahi yang mengerut, sementara itu aku mengambil napas sambil mengeluarkan pedang kayu. Pedang ini bukanlah sembarang pedang kayu biasa, melainkan senjata khusus yang terbuat dari dahan kayu yang Fear berikan.
Aku telah menguji ketangguhan dan kekuatannya sendiri selama bertahun-tahun. Sehingga aku yakin mengalahkan serigala hutan bukanlah sesuatu yang sulit bagiku, tetapi sekarang ada dua pilihan yang harus aku putuskan sesegera mungkin.
Pertama apakah aku akan membuat makhluk-makhluk pemangsa daging ayam ini pingsan atau langsung aku eksekusi di tempat. Sebenarnya kedua pilihan itu tidak buruk, hanya saja jika membunuhnya akan langsung meninggalkan darah yang bisa membawa malapetaka baru.
Mengingat makhluk besar beraura hitam itu, mungkin dengan darah para serigala yang telah tumbang akan menarik perhatian baru dari kalangan mereka. Aku hanya bisa berharap hal itu tidak terjadi karena jika terjadi, maka kemungkinan besar desa ini akan dilanda oleh kekacauan yang lebih besar.
Namun, seandainya aku membiarkannya begitu saja. Ada kemungkinan mereka akan memanggil bala bantuan, tetapi keuntungan yang bisa aku dapatkan akan menjadi lebih.
Membuat setiap serigala tidak sadarkan diri itu membutuhkan kerja keras. Ketika mereka tidak sadarkan diri, aku bisa membantu para penduduk untuk membunuh mereka di satu titik untuk menghindari penyebaran bau amis darah.
Selain itu ini adalah tempat peternakan ayam, aku takut makhluk mungil yang bisa bertelur ini mengalami stres, dan akhirnya mati karena hal itu. Namun, tunggu sebentar… apakah ayam bisa stres?
Lupakan hal itu, kita ganti topik menjadi bahasan serigala lagi.
“Umm… mungkin membuat mereka tidak sadarkan diri adalah pilihan yang terbaik,” gumamku pelan sambil memegang dagu dengan satu tangan.
“Apa yang kau gumamkan, huh?”
“Menurutmu seberapa sulit untuk melumpuhkan kawanan serigala ini?”
Raut wajahnya pun membeku beberapa saat sebelum akhirnya terbatuk karena kaget.
“Apa kau gila?! Atau otakmu memang dari awal tidak waras?”
“Anggap saja aku begitu. Setidaknya biarkan para penduduk ini mendapatkan setengah dari mereka untuk dijual ke kota,” jawabku acuh sambil memiringkan kepala dengan satu mata terbuka.
“Rupanya aku tidak salah menyebutmu bocah ingusan. Aku kira pikiranmu datang ke tempat ini hanya untuk memeras desa malang, tetapi usulanmu itu boleh juga. Aku ikut dengan ide gilamu itu, bocah!”
“Sekali lagi kau menyebutku bocah ingusan, siap-siap saja hidungmu bengkak,” rutukku kesal.
Dengan membuat para penduduk ikut serta dalam pemotongan, pemilahan, serta pencacahan daging. Setidaknya keuangan desa ini akan sedikit membaik karena hasil penjualan kulit, tulang, dan daging serigala.
Fasilitas peternakan dan juga rumah-rumah yang sebelumnya sempat aku lihat rusak juga bisa ikut menjadi lebih baik.
Walaupun seperti ini, aku juga masih memiliki hati yang baik dalam tanda kutip… hehehe.
“Aku tidak bisa menjamin hal itu akan berjalan sempurna, tetapi aku akan mengusahakannya. Jadi jangan mati sebelum kau bisa membuktikannya kepadaku, Nak”
“Kau kira sedang berbicara dengan siapa, pria tua?”
“Memang kau siapa? Orang penting? Bangsawan?”
Aku menggeleng pelan sambil menggoyangkan telapak tangan kananku ke kiri dan kanan. “Bukan keduanya”
“Lalu?”
“Hanya pengangguran yang sedang mencari nafkah, tidak lebih, kok,” sahutku sambil terkekeh-kekeh.
“b******k. Dasar bocah sialan!” sahutnya dengan tawa terbahak-bahak.
Aku bisa merasakannya. Ada pergerakan mencurigakan dari arah hutan, apakah mereka sudah datang? Sebaiknya aku segera bersiap untuk menyambut kedatangan mereka.
“Kau bisa merasakannya, bukan? Mereka sudah datang,” ucapnya lalu mengeluarkan pedang perak dari sarung di pinggang kirinya. “Hei… jangan katakan, apa kau akan menggunakan pedang kayu itu?”
“Seperti itulah? Keberatan?”
“Hahh. Sepertinya bukan hanya otakmu saja yang tidak waras, tetapi akalmu juga tampaknya sudah rusak,” tuturnya lalu menghela napas.
“Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Percayalah, pedang kayu ini adalah yang terbaik,” sahutku dengan seringai kecil. “Ohh. Satu lagi… “
“Huh? Kau masih memerlukan sesuatu?”
“Sebelum mereka datang, aku akan menyambut mereka di sana dengan caraku sendiri.”
Setelah itu aku merendahkan tubuh kemudian menekan tumit kaki kuat-kuat sambil mengimbuhinya dengan Mana. Begitu aku mendongak kecil, seketika itu juga aku pun langsung menerjang ke arah hutan dengan kecepatan angin.
Meski samar, tetapi aku juga bisa mendengar suara kaget dari pria tua. Namun, aku menghiraukannya dan terus berlari sekencang mungkin.
Jarak pandangku semakin menyempit. Beberapa saat kemudian aku mendapati empat ekor serigala hutan yang tampaknya sedang berlari ke arahku.
Aku pun menerjangnya lurus sambil menghantam mereka dengan pedang kayu hingga terpental tinggi. Alhasil dalam satu gerakan itu, aku berhasil melumpuhkan mereka tanpa memberikan luka yang terlalu fatal.
“Aura ini….”
Apakah ini aura yang mereka ceritakan sebelumnya? Begitu kental dan pekat, seperti darah segar.
Selain itu arahnya berasal dari dalam hutan. Kalau begitu aku harus masuk lebih dalam untuk mengatasi akar dari semua permasalahan ini. Aku juga penasaran dengan sosok yang para penduduk Desa Kirius ceritakan kepadaku.
Mata merah menyala, tinggi besar seperti raksasa, berbulu dan memiliki empat lengan bercakar tajam. Mungkinkah ini spesies beruang baru yang telah terkontaminasi oleh aura milik Tenebris?
Namun, sebelumnya Fear juga mengatakan kalau di hutan ini ada kehadiran Tenebris. Besar kemungkinan ada dua masalah yang muncul dan tidak hanya seekor makhluk hutan yang terkontaminasi, melainkan dalang dari peristiwa ini juga ikut terlibat secara langsung.
“Tenebris… aku akan memburumu dengan pedang ini,” ucapku sambil mengeratkan genggaman pada gagang pedang.
Setelah itu aku melanjutkan pencarianku sembari mempertajam indra perasa serta penglihatan. Tidak akan aku biarkan kalian berbuat seenaknya, apalagi sampai melibatkan desa sederhana, dan tenteram itu.