“Uahhh... rupanya sudah pagi?”
Setelah aku menyelesaikan misi itu, para penduduk Desa Kirius memberiku cukup banyak persediaan makanan yang mungkin saja dapat bertahan hingga bulan depan.
Untungnya semua itu bisa aku bawa dengan cukup mudah. Ini bukan sebuah paksaan, tetapi aku memang sangat menginginkannya, dan selain itu juga akan disayangkan sekali jika harus meninggalkan semua hadiah ini begitu saja, bukan?
Mereka mungkin tidak memiliki keuangan yang baik, jadi sebagai kompensasinya mereka memberiku persediaan makanan ini. Lagi pula aku juga sudah membantu mereka dengan misi penumpasan serigala hutan ditambah poin plus dari Tenebris.
Oh! Aku lupa, saat ini kami sudah kembali ke rumah. Rumah kami terletak di bagian terluar Kerajaan Ronove. Bisa dibilang aku lebih memilih memiliki rumah sendiri daripada harus mendengarkan teriakan misterius pada jam dua pagi.
Menginap atau menyewa kamar di dalam kota memang terdengar keren, tetapi tunggu hingga kalian mendengar suara rintihan, tangisan putus asa, atau juga teriakan tidak jelas dari penyewa di kamar sebelah.
Hahhh... benar-benar pengalaman yang tidak menyenangkan. Berkat itu juga aku harus mencari alternatif lain. Itulah mengapa aku memutuskan untuk membeli rumah di luar kota.
Jangan bahas berapa harganya. Kalian hanya perlu mengerti kalau harga di luar kota itu lebih “bersahabat” dan pas sekali dengan kantung miskinku. Yah, meski istilah ada harga ada barang sangat jelas sekali bisa aku katakan pada rumah ini.
Tidak terlalu mewah atau tidak juga terlalu di bawah standar. Sedanglah. Namun, hampir semua interior serta komponen intinya berasal dari kayu.
Fear juga sepertinya masih tertidur pulas setelah pertarungan malam kemarin. Tertidur pulas dengan posisi tengkurap, aku bisa melihat air liurnya menetes meski aku sudah memperingatinya berulang kali.
Jika kami berada di rumah, maka Fear akan membiarkan tubuh fisiknya beristirahat seperti ini. Namun, apabila kami sedang berada dalam misi yang panjang, ia akan menggantinya dengan tubuh roh lalu mengistirahatkannya di dalam lenganku.
Biasanya ia suka berada di dalam pedang, tetapi mengingat betapa hematnya aku dalam memilih pedang. Terkadang Fear merasa jengkel dan akhirnya lebih memilih untuk berada di dalam lenganku.
Mau bagaimana lagi, aku harus menghemat sebisa mungkin. Menjadi pekerja lepas itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku memerlukan dedikasi yang tinggi dan juga kondisi hati yang baik untuk melakukannya.
Namun, akhir-akhir ini aku merasa ada yang menguntitku. Meski aku tidak terlalu peduli dengan hal seperti ini, tetapi jika sudah sampai pada masalah sensitif, urusannya beda lagi.
Kesampingkan dulu hal itu, saat ini aku perlu pergi ke kamar mandi. Setelah itu memasak sarapan pagi untuk dua orang. Entah mengapa majikan yang seharusnya mendapatkan pelayanan lebih karena telah melakukan kontrak dengan roh malah berakhir menjadi seperti seorang pelayan.
Hahhh... terkadang hidup itu memang tidak adil.
▼▼▼
“Fear, cepat. Kita akan ketinggalan paket hemat jika tidak segera pergi,” ucapku sambil merapikan dasi pita di leher kerah kemejaku.
Aku tidak menyangka gadis kecil ini akan langsung menghabiskan sarapannya hanya dengan satu kali lahap. Sebenarnya itu mulut apa alat penyedot debu?
“Uuu... tunggu aku, Kuro!”
“Kamu sendiri, kan, yang minta penambahan jatah. Kalau kita tidak kebagian jangan menyalahkanku, ok”
“Huhuuu~ Kuro~....”
Ia pun langsung melesat cepat ke samping kiriku.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi perasaanku tidak enak sejak kami memutuskan ingin pergi ke toko permen itu. Ini mirip seperti alarm peringatan, apa jangan-jangan akan terjadi sesuatu di tempat itu?
Aku pun segera mengenyahkan pemikiran itu dan menggantinya dengan angan-angan positif. Sayangnya harapan itu langsung sirna ketika aku membuka pintu depan dan melihat seorang perempuan bertudung abu.
Posturnya semampai dengan dua aset semampai yang dapat memikat perhatian para serigala jantan. Selain itu ia menggunakan pakaian yang sangat elegan seperti kalangan bangsawan.
Aku tidak tahu model pakaian apa yang ia pakai saat ini, tetapi jika aku lihat sekilas. Itu adalah kemeja yang memiliki bawahan gaun lalu bagian sampingnya dilingkari oleh mantel ungu pasi.
Sepertinya karena aku sempat menyinggung penguntit, ternyata penguntit itulah yang datang langsung ke depan pintu rumahku.
“Kenapa kamu ada di sini, Aresya?” tanyaku dengan alis yang berkedut-kedut.
Ya. Wanita elegan nan cantik ini bernama Aresya, lengkapnya adalah Aresya Nierfera, Ia juga menjabat sebagai seorang petinggi di salah satu akademi bergengsi di Kerajaan Ronove ini.
“Mengapa seorang kepala sekolah jauh-jauh datang ke tempat pelosok ini sendirian, huh? Apa kamu tidak jera dengan penolakanku?”
“Fufufu. Bagaimana aku bisa menyerah setelah melihat potensi yang ada di dalam dirimu, Kuro?” tanyanya balik sambil melepas tudung.
Kalian pasti akan paham setelah melihat ini. Apa yang menjadikannya mematikan bukanlah sekedar bagaimana bentuk tubuhnya yang sangat sarat akan kejahatan. Umm... sangat penuh dengan unsur kejahatan, tidak salah lagi.
Rambut abu indah panjangnya tersibak begitu tudungnya terbuka. Bersamaan dengan sebuah bando bunga berkelopak enam yang secara tidak langsung memancarkan aura ketenangan yang alami. Aku yakin setiap laki-laki atau perempuan yang berada di dekatnya pasti akan merasa nyaman.
Selain itu matanya yang cantik dan bersinar bias juga menciptakan nuansa yang misterius sekaligus manis seperti madu dalam mahkota bunga.
Mungkin sekilas aku bisa saja tergoda olehnya, tetapi ilusi manis itu bisa aku hindari berkat tekad kuatku. Dan tentunya aku kembali disadarkan oleh kenyataan pahit yang mengerikan bahwa penguntit itu sebenarnya adalah seorang wanita sekaliber Aresya.
Memasuki wilayah absolut yang diciptakan olehnya bisa-bisa aku kehabisan napas karena dibebani oleh pekerjaan yang tidak akan ada habisnya.
“Aku datang karena ingin bertemu denganmu,” ucapnya sambil menyimpuhkan kedua tangan. “Hmm? Ada apa dengan penampilan itu, Fear?”
“Umm... nenek? Kenapa nenek ada di sini?” tanya Fear balik polos.
“Nenek?”
Aku merasa ada aura mengerikan yang keluar dari Aresya.
Hal inilah yang membuatku mempertimbangkan kembali hubunganku dengannya. Memiliki kemampuan untuk melihat wujud sesungguhnya dari roh menjadikan dirinya dapat melihat sosok Fear secara langsung.
Mengetahui bahwa wanita berbahaya ini dapat melihat Fear bahkan sebelum hubungan kami seperti seorang teman atau kerabat dekat. Aku merasa ada sesuatu yang aneh darinya. Aku tidak tahu apa itu, tetapi perasaan yang tidak asing ini selalu membuat hatiku berdenyut sakit.
“Awas saja, Fear. Aku akan memberimu hukuman suci,” tuturnya dengan senyum sejuta makna.
“Hiii!! Kuro, tolong aku!” jeritnya lalu bersembunyi di belakangku.
Aku pun menghela napas. “Bisakah kita menyelesaikan ini dengan damai?”
“Tidak artinya tidak, Kuro. Mengerti?” pungkasnya memastikan sambil menyentuh hidungku dengan jari telunjuk kanan.
“Lagi pula mengapa kamu sebebas itu di sini, menguntit?”
Aresya mendecakkan lidahnya beberapa kali. “Bukan penguntit, tetapi seorang P-E-N-G-G-E-M-A-R... dengan kata lain aku adalah penggemar beratmu,” jawabnya dengan nada genit.
“Pilih... mau aku pukul dengan pedang kayu atau jidatmu merah karena sentilanku?” saranku kesal.
Ekspresinya pun langsung merenggut seperti seorang gadis kecil yang merajuk. Woi! Sadarlah dengan umurmu sendiri! Itulah suara batin yang ingin aku teriakan kepadanya.
Namun, di sisi lain aku bisa mendengar tawa Fear yang puas. Apakah ia sama sekali tidak menaruh empati kepada Aresya atau memang inilah yang diinginkan olehnya? Hahh... aku memang tidak mengerti jalan pikiran perempuan.
“Aku tidak bisa berlama-lama. Kalau begitu aku pergi dulu—Uwahhh!!”
Tiba-tiba saja lenganku ditarik oleh Aresya.
“Apa kamu tega meninggalkan perempuan secantik diriku sendirian?” tanyanya sambil menunjukkan ekspresi sedih.
Aku bisa melihat aktingmu dengan sangat jelas, wanita penguntit.
“Masa bodo,” tandasku dingin sambil melepaskan tarikannya.
“Tunggu... aku juga ikut....”
Tidak lama setelah itu kami pergi menuju ke dalam kerajaan. Sebagaimana janjiku saat itu, kali ini aku akan membeli persediaan permen lebih banyak dari pada biasanya. Tidak terlalu banyak juga, hanya membeli dua ekstra permen.
Toko yang selalu menjual manisan berada di sebelah barat kerajaan. Di sana merupakan bagian kota yang penuh dengan kedai-kedai toko manisan. Baik makanan penutup seperti berbagai jenis kue dan puding. Atau makanan jalanan seperti permen dan manisan alami yang terbuat dari tanaman herbal.
Aku juga ingat jika hari ini sedang ada potongan harga jika membeli delapan atau lebih produk manisan karena itulah aku harus cepat. Jika aku telat, maka semua produk manisan itu mungkin saja akan ludes dalam hitungan jam.
Di sepanjang perjalanan penuh adrenalin itu, aku dan Aresya saling berbincang-bincang kecil. Topik pembicaraannya juga tidak terlalu jauh dari penawaran sebelumnya.
“Kamu yakin tidak tertarik menjadi salah satu instruktur di Akademi Magistra?” tanyanya serius.
“Aku tampan, ‘kan?”
“Yup. Kamu sangat tampan, Kuro—Eiii! Kenapa kamu mengganti topik pembicaraannya begitu saja?” tanyanya balik kesal.
“Ya, itu karena aku memang tidak tertarik untuk mengajar di sana sama seperti aku mengalihkan pembicaraan tadi,” jawabku lalu mempercepat lariku.
Sementara aku berlari cepat mengejar waktu, Aresya dengan santainya terbang di sampingku seakan-akan beban dalam hidupnya sama sekali tidak berarti.
“Setelah melewati persimpangan ini kita akan segera sampai di tempat tujuan. Persiapkan dirimu, Fear!” seruku lalu melepaskan batas kecepatan dan melompat tinggi ke langit.
“Ay! Ay! Kuro!... Wuihhhh~”
Begitu aku tiba di persimpangan, kami pun terbang tinggi. Aku juga sudah memperkirakan tepat pendaratanku dengan cermat.
“Bersiaplah, kita akan masuk melalui gerbang barat, dan langsung menuju toko manisan.”
Setelah menembus langit-langit hutan, kami pun terjun bebas di udara, dan pada saat itu juga aku menggunakan sihir angin untuk meringankan tubuhku. Mendarat sempurna tanpa merusak apa pun, penjaga yang melihatku pun tidak terkejut sama sekali. Itu karena mereka sudah terbiasa dengan tingkah lakuku selama ini.
Benar-benar praktis, bukan? Namun, apa yang membuatku sedikit jengkel adalah sosok Aresya yang masih mengikuti dengan senyum riangnya.
Sebenarnya ada apa dengan wanita ini? Padahal aku sudah menolak tawarannya, tetapi ia masih mengikutiku hingga saat ini. Benar-benar wanita... ah, tidak. Biar aku koreksi sedikit... benar-benar penguntit yang keras kepala.
Beberapa saat kemudian kami tiba di toko itu dan cukup beruntung karena masih tersisa beberapa manisan. Terutama permen favorit Fear.
Setelah itu kami mencari tempat istirahat terdekat dan menemukan sebuah meja bundar berpayung yang kosong. Kami pun memutuskan untuk mengisi tempat itu sambil menunggu Fear menghabiskan permennya.
“Ahh... benar-benar hari yang cerah, bukan?” tanya Aresya dengan senyum manis sambil menyisir rambutnya perlahan ke belakang.
Aku pun menutup mata beberapa saat lalu membayangkan masa laluku.
“Hari yang cerah. Pas sekali digunakan untuk menikmati waktu senggang dengan bermalas-malasan,” jawabku sambil menutup mulut yang menguap lebar dengan telapak tangan. “Apa kamu yakin bersantai di sini, Aresya?”
“Hmm? Aku ‘kurang’ mengerti dengan perkataanmu,” jawabnya dengan ekspresi “Aku tidak mendengarnya sama sekali” seperti itulah kurang lebih.
“Kamu ingin meyakinkanku untuk menjadi instruktur di sana, tetapi tingkah lakumu sendiri tidak mencerminkan wibawa seorang kepala sekolah. Bagaimana aku bisa yakin akan baik-baik saja jika seandainya menerima tawaran itu?” tanyaku dengan nada sarkas.
“Hehehehe... itu mudah. Kamu hanya perlu mengikuti arahanku saja,” jawabnya enteng sambil memasang wajah “Tehee” tanpa rasa bersalah.
Aku pun langsung menepuk jidatku sendiri. Isi kepalanya masih normal, kan? Aku tidak bertemu dengan wanita jadi-jadian yang mengaku sebagai kepala sekolah, kan?
Meskipun penampilannya rupawan dan sangat menarik lengkap beserta aset yang memukau. Jika otaknya tidak beres, maka aku juga tidak sudi menerima tawarannya. Apalagi ketika itu berkaitan dengan prospek masa depanku. Bisa-bisa aku hancur karena menerima ajakkan orang aneh yang memiliki impian gila.
“Kamu serius?” tanyaku tidak percaya.
Namun, ia hanya tertawa singkat sambil menggoyangkan jari telunjuknya.
“Aku hanya bercanda, tapi aku serius ingin mengundangmu masuk ke dalam Akademi Magistra. Bukan karena aku penggemarmu melainkan murni karena kemampuan dan juga keahlianmu. Aku tidak sembarang mengundang seseorang, lhoo. Pastinya melalui pengecekan yang ketat dan memiliki kredibilitas dalam bidangnya,” jelasnya lalu menyantap buah anggur yang ada di meja.
Selain membeli permen untuk Fear, Aresya juga menyumbangkan sejumlah makanan lainnya untuk kami makan. Salah satu di antaranya adalah buah anggur.
“Ehmm. Sepertinya memang benar”
“Apakah itu artinya kamu menerima tawaranku, Kuro?” tanya Aresya senang.
“Tunggu dulu, masih ada lanjutannya.” Aku pun berpangku dagu dengan mengistirahatkan kedua sikutku ke atas meja. “Sepertinya memang benar, kamu ini adalah penguntit profesional,” tuturku dengan ekspresi serius.
“Hei! Bukan begitu juga, Kuro!!” balasnya sambil mengembungkan pipi.
“Ahahahaha! Ini benar-benar yang terbaik.”
Aku tidak menyangka reaksinya akan semeriah itu. Mempermainkannya seperti ini memang sangat menyenangkan, apalagi jika orang itu adalah seorang wanita yang memiliki sifat aneh seperti Aresya.
“Aku marah, lho”
“Aku tidak keberatan, malah itu lebih baik, jadi aku tidak akan diikuti lagi olehmu”
“Hahhh. Itu namanya bukan menguntit, tetapi mengamati,” ketusnya dengan ekspresi kesal.
“Tentu saja aku mengetahui itu. Sayangnya yang menjadi kekhawatiranku adalah... mengapa orang dengan latar belakang sepertimu memilihku. Padahal aku tidak pernah mengambil misi besar atau membuat prestasi luar biasa bahkan hingga melakukan sesuatu yang mendapatkan pujian banyak orang pun tidak pernah. Apa kamu bisa menjawab pertanyaan ini?” tanyaku sambil mengangkat alis sebelah.
“Itu memang benar, tetapi... “
“Tetapi?”
Untuk beberapa saat kedua matanya itu benar-benar tertuju padaku. Tatapan itu dan juga sinarnya membuatku merasa deja vu, apakah aku pernah bertemu dengan Aresya sebelumnya?
Jika aku mengingatnya kembali, selama aku menjalani hidupku yang naik-turun ini. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya selain di Kerajaan Ronove ini.
Pertama kali aku bertemu dengannya adalah dua bulan yang lalu setelah menjalankan misi darurat penyelamatan seorang pedagang. Saat itu sosoknya berdiri di samping gerbang pintu utara kerajaan.
Tersembunyi dalam balutan mantel ungu dan juga tudung yang menutupi wajahnya. Namun, aku ingat kata pertama yang ia ucapkan ketika kami berdua saling berpapasan. Reiss... satu kata itulah yang langsung berhasil mencuri perhatianku.
Pada saat itu juga aku melihat ekspresinya yang kaget sekaligus... sedih? Aku juga tidak mengerti, mengapa ada orang asing yang melihatku dengan kedua mata berkacanya, padahal itu adalah pertemuan pertama kami.
Saking anehnya, hingga saat ini ekspresinya masih membekas dengan sangat jelas di dalam ingatanku.
“Ada alasan khusus mengapa aku menginginkanmu....”