Hari itu hujan turun cukup deras, membuat darah yang berceceran di seluruh penjuru medan pertempuran itu meluber, membentuk sebuah danau merah yang kelam. Di tengah medan keputusasaan itu, seorang gadis tengah mengayunkan pedang tipisnya dengan begitu lincah, tak peduli dengan sebuah goresan merah nan lebar yang menghiasi punggungnya. Saat itu yang selalu terbesit dalam pikiran gadis berarmor itu hanya, bagaimana caranya agar dapat membawa kemenangan pada negeri tercintanya.
TING ...!
Bunyi nyaring dari logam yang bertabrakan menggema begitu keras, ketika pedang silver milik gadis berambut hitam itu menghempas pedang milik lawannya. Rambut hitam nan panjang milik gadis itu menari dengan indah, ketika ia bergerak lincah menghindari serangan prajurit dari negeri lawan. Ketika ia melihat sebuah celah dari lawannya, pedang silver tipis itu dengan elok menebas bagian tubuh lawan, membuat kelopak merah merkah di antara tarian kematian itu. Begitu tarian itu berakhir, bersama perginya sebuah nyawa.
Gadis itu menghempaskan pedangnya ke samping, untuk membersihkan noda darah yang menempel di pedang kesayangannya. Ketika ia hendak menghampiri mangsanya yang selanjutnya, tiba-tiba saja seorang prajurit yang mengenakan armor yang serupa dengan miliknya datang menghampirinya, dengan air muka yang mengerikan. Wajahnya begitu pucat, penuh dengan ketakutan.
Begitu prajurit itu tiba di hadapan gadis itu, dengan segera ia—prajurit—berlutut di hadapan gadis itu, “Nona Ksatria ... Yang Mulia Raja sudah ...,”
Belum selesai prajurit itu berkata, tiba-tiba saja terdengar suara terompet yang sangat keras. Gadis itu sangat mengenali suara terompet itu, tidak salah lagi itu adalah milik musuh, yaitu negeri Venderlyn. Tak lama setelah suara terompet yang memekakan telinga itu, seorang komandan dari negeri musuh meneriakkan sesuatu yang sangat tidak dapat ia percaya. Hal yang membuat usahanya di medan keputusasaan itu hancur berkeping-keping.
“Bagaimana bisa ...,” ucapnya lirih, sementara tubuh mungilnya meluruh bersama teriakan-teriakan kemenangan dari prajurit musuh.
“RAJA NEGERI HORNBURK SUDAH MATI! HIDUP NEGERI VENDERLYN!”
***
Sudah tiga hari berjalan setelah hari kekalahan yang penuh dengan kepedihan itu. selama itu, sudah puluhan prajurit negeri Hornburk mati di bawah penyiksaan yang kejam. Ingin rasanya gadis yang sebelumnya bergelar sebagai ksatria suci negeri Hornburk itu untuk meraih tangan anak buahnya, dan melindungi mereka di balik punggung mungilnya. Tetapi ia tidak sanggup melakukan apa pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap tumpukan mayat teman-temannya yang semakin tinggi, hari demi hari.
“Kenapa aku masih hidup?” tanyanya lirih, kepada dirinya sendiri.
“Kapan aku mati?” tanyanya kembali, sembari menatap kosong langit-langit sel kecil tempat dirinya menghabiskan malam beberapa hari ini.
“Ha-ha-ha!” tiba-tiba saja terdengar sebuah tawa yang menggelegar tepat di samping sel penjara gadis itu. Karena merasa terganggu, gadis itu melemparkan sebuah lirikan singkat dengan mata biru langitnya. Ia dapat melihat seorang prajurit tengah menatapnya penuh hina.
“Kenapa? Kau ingin segera mati?” tanya prajurit berwajah congkak itu sembari mengumbar seringai yang menjijikkan, “tenang saja! Sebentar lagi kau akan mendapatkan bagian!” lanjutnya, sedangkan tangan kanan prajurit itu meraih rambut hitam gadis itu, kemudian menariknya dengan keras hingga kepala gadis itu terbentur dengan jeruji besi sel penjara.
“Aaa ...!” pekik gadis itu, ketika merasakan nyeri di kepalanya. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, air matanya hampir saja bergulir, jika saja ia tidak mengingat kebenciannya kepada negeri yang sudah menghancurkan hidupnya. Dengan berani, ia mengangkat tubuh mungilnya, walaupun kedua kakinya kepayahan untuk menyanggah tubuh penuh luka itu.
Gadis itu menatap tajam prajurit yang sudah menghinanya tadi. Seketika, seperti aliran listrik bulu roma prajurit itu berdiri tanpa diperintah, bersama rasa takut yang sudah menjalar di sekujur tubuh prajurit itu.
“A-apa maksud tatapan itu, pendosa!?” tanya prajurit itu dengan suara gemetarannya.
Mendengar suara yang penuh dengan rasa takut itu, membuat gadis itu mengembangkan seringainya, “Pendosa? Aku?” ucapnya lirih, lalu tanpa diduga, tiba-tiba saja lengan kurus gadis itu keluar melewati jeruji besi sel, dan meraih kepala prajurit tadi, “BUKANNYA KAU YANG PENDOSA!? BAGAIMANA BISA KAU MENYAKITI SEORANG GADIS?!” teriaknya dengan lantang, sembari mengulangi kejadian yang baru saja terjadi padanya. Dengan keras, ia menarik kepala prajurit itu ke arahnya, hingga terdengar suara benturan yang keras, akibat tabrakan antara kepala prajurit itu dengan jeruji besi sel penjara.
Untuk sesaat, gadis itu merasa lega setelah membalas perlakuan prajurit tadi. Tetapi, tak lama setelah itu, prajurit tadi membawa dua prajurit lain bersamanya, dan berniat membawa gadis itu menuju ruang penyiksaan.
“Lepaskan aku! Cepat lepaskan aku pria tidak tahu diri!” teriak gadis itu bersamaan dengan tubuh mungilnya yang meronta meminta untuk dilepaskan.
Seakan tuli, kedua prajurit itu hanya terdiam sembari menyeret gadis itu menuju ruang penyiksaan yang berada tidak jauh dari selnya. Sementara prajurit yang sebelumnya sudah menghinanya, hanya menatapnya penuh arti, dengan wajah yang dihiasi senyum kemenangan.
“Kau kira ... kau kira aku akan diam saja diperlakukan seperti ini?!” seru gadis berambut hitam itu, kemudian ia menarik tangan kanannya dengan keras, dari cengkraman salah satu prajurit biadab itu, dilanjutkan dengan sebuah tendangan keras, di ulu hati prajurit yang masih sibuk memegangi tangan kiri gadis itu.
Begitu terbebas dari mereka, gadis itu berlari secepat kedua kaki mungilnya dapat melangkah, keluar dari gedung gelap tempat selnya berada. Begitu ia menginjakkan kakinya keluar dari gedung itu, sinar matahari yang hangat langsung menghujani tubuhnya, seakan-akan tengah memeluknya dengan hangat. Saat itu, gadis itu merasa ia benar-benar bisa pergi dari tempat itu, ia bisa selamat dari maut, dan menyelamatkan teman-temannya.
Sayangnya semua itu hanya angan. Tak lama setelah ia keluar dari gedung tadi, seorang prajurit datang dengan sebuah panah di tangannya siap membidik kaki gadis itu.
Gadis itu menatap horor ke arah panah itu. Ia tahu betul anak panah itu akan mengenai dirinya. Dengan keadaannya yang terluka parah, ia ragu jika tubuhnya sanggup menghindar dari anak panah itu.
Sembari terus berlari, gadis itu terus memikirkan bagaimana cara agar dirinya dapat menghindar dari anak panah itu. Karena terlalu fokus dengan pikirannya, gadis itu tidak memerhatikan langkahnya dan terjatuh. Ia hanya dapat tercekat, dan merutuki dirinya sendiri, bagaimana dirinya bisa seceroboh itu di saat seperti ini?
Dari posisinya saat ini, gadis itu dapat melihat senyuman kemenangan yang menghiasi wajah prajurit yang tengah membidiknya. Senyuman itu terlihat begitu mengerikan dan haus dengan darah, hingga membuat gadis itu bergidik ngeri melihatnya.
“Ini adalah akhir untukmu gadis bodoh!” setelah mengucapkan hal itu, prajurit itu melepaskan anak panah itu, tepat ke arah gadis yang tengah terduduk tak berdaya itu. Saat itu, gadis itu sudah pasrah dengan nasibnya yang malang.
Dengan perlahan gadis itu menutup kedua matanya, menunggu sensasi dari mata anak panah yang akan segera menghujam tubuhnya. Tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara benturan antara logam yang tidak asing di telinganya.
Ketika gadis itu membuka matanya, ia melihat sosok pria berambut pirang nan gagah dengan sebilah pedang di tangan kanannya tengah berdiri membentengi tubuhnya. Sedangkan anak panah yang seharusnya mengenai tubuhnya sudah terbelah menjadi dua, akibat tebasan kuat dari pedang pria asing di hadapannya.
“Berani-beraninya kalian menyakiti calon ibu dari negeri ini!” seru pria berambut pirang itu dengan lantang kepada para prajurit tadi.
Seketika para prajurit itu membatu. Mereka tak sanggup mengatakan sepatah kata apa pun. Tetapi, bukan hanya mereka yang terdiam dan tak sanggup mengeluarkan sepatah apa pun. Gadis berambut hitam itu pun hanya dapat mengerjapkan matanya beberapa kali begitu mendengar ucapan pria di hadapannya.
Pria berambut pirang itu tersenyum kecil melihat gadis yang masih terduduk lemah itu, kemudian ia berlutut di hadapan gadis itu, dan meraih dagu lancip indah miliknya, “Evelyn, mulai sekarang, kau akan menjadi pendamping hidupku, Raja Xavier, pemimpin dari negeri Venderlyn.”