Hari ini adalah hari terakhir ku di Bromo, Baskara mengajak aku, Abra dan Adri mengunjungi kafe dengan pemandangan yang hijau sambil ngobrol dan menikmati secangkir kopi.
Aku belum menceritakan kejadian semalam kepada Baskara, kalaupun aku menceritakan kepadanya pasti dia akan menertawakan ku.apakah aku baik-baik saja dengan nada meledek.
"Hari ini ada yang berbeda denganmu, Ra? Seperti orang sedang jatuh cinta? Siapa orangnya yang sudah menerobos masuk kedalam hatimu, Ra?" tanya Baskara sambil melihat Abra dari kaca, seutas senyum terlihat di wajah Baskara.
Aku hanya memberi senyum simpul saja dan langsung mengalihkan pertanyaan. "Ohy, Bas. Besok keretaku jalan jam 17.45 WIB, kira-kira kamu bisa anter aku ke stasiun nggak?"
"Jam 17.45 WIB, ya?"
"Iya, apa kamu bisa, Bas? Kalau kamu tidak bisa mengantarkan aku, apa kamu punya teman yang bisa mengantarkan ku ke Malang?"
"Kenapa nggak naik pesawat aja, Ra?" tanya Adri.
"Nggak, Adri. Soalnya sudah beli tiket kereta api pulang pergi"
"Nanti aku coba cariin. Maaf ya, Ra. Soalnya besok Nisa ke sini dan aku harus menjemputnya, kalau tidak.. Kamu tahu sendiri kan," ucapnya sambil terkekeh.
"Jadi, Nisa kesini. Sayang banget aku tidak bisa ketemu dengannya. Padahal, aku kangen banget," kataku sedih.
"Ra, kamu minta anterin Abra aja ke stasiun. Iya, kan Abra," usul Adri sambil menyikut lengan Abra.
"Benar, Ra. Kamu minta anter Abra aja, kalau soal mobil di rumah masih ada tapi supirnya yang tidak ada. Kalau Abra mau nanti malam bisa ikut aku ambil mobil ke rumah. Gimana, Abra?"
"Aku sih, tidak keberatan," jawab Abra.
"Gimana, Ra?" tanya Baskara.
"Iya," jawabku singkat.
Sehabis dari kafe, kami melanjutkan ke toko oleh-oleh. Banyak yang aku beli mulai dari makanan, souvernir, dan lain-lainya. Sampai-sampai aku tidak sadar kalau barang belanjaan ku mencapai 5 kantong. Perempuan kalau sudah jiwa berbelanjanya keluar, pasti khilaf. Hehe...
Saat aku asyik berbelanja di temani oleh Baskara, Abra memilih mencari objek untuk dia foto. Tiba-tiba Baskara menanyakan tentang Abra.
"Jadi, menurut kamu Abra orangnya seperti apa, Ra?"
Aku sedikit bingung untuk menjawabnya, Baskara sebenarnya sedang bertanya atau ada maksud terselubung. "Baik, memangnya ada apa dengan Abra, Bas?" aku pura-pura bertanya kepada Baskara.
"Kamu ini, Ra. Tidak usah menyembunyikan sesuatu dari aku, kamu nggak pandai berbohong, Ra"
Akupun akhirnya menceritakan kepada Baskara apa yang terjadi antara aku dan Abra.
"Aku senang akhirnya kamu bisa membuka hatimu lagi untuk laki-laki. Doaku untukmu agar hubungan kalian langgeng dan selalu bahagia," ucapnya dengan tulus.
Dari kejauhan, ku lihat Abra menatapku tajam. Apa dia salah paham dengan pelukkanku dan Baskara
Drrttt...ddrrrttt...
[Kenapa Baskara memelukmu]
From : Abra
Aku masih bingung kenapa dia menanyakan itu, apa dia cemburu aku berpelukan dengan Baskara, bukankah dia sudah tahu kalau aku dan Baskara hanya berteman saja. Apa karena itu, dia menatap tajam kepadaku.
[Kamu cemburu ???]
From : Dira
Aku bisa melihatnya dia sedang membuka pesanku tapi kenapa tidak dia balas. Apa dia marah karena aku berkata seperti itu, biarkan saja.
Sesampainya di hotel aku dan Adri masuk ke dalam sedangkan Abra ikut Baskara mengambil mobil di rumahnya. Namun, saat aku akan meninggalkan mereka, tatapannya begitu dingin. Dia pun, berlalu begitu saja tanpa senyum. Kalau memang dia marah, ya sudahlah.
Kulihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul delapan malam tapi mengapa Abra belum memberi kabar kepadaku. Apa dia masih marah, apa dia sangat pencemburu. Ku ambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada Abra
[Kamu kenapa hari ini menyebalkan sekali, dengan Baskara kamu cemburu. Bukankah, sudah aku jelaskan hubunganku dengan Baskara sekedar teman dan aku sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Tatapan kamu tadi sangat dingin, kalau kamu masih cuek lebih baik besok kamu tidak usah mengantarkan aku ke stasiun. Aku sudah meminta tolong ke resepsionis untuk meminta mobil hotel mengantarkan aku]
From : Dira
1 menit
2 menit
5 menit
Pesan w******p ku tidak dibalasnya, padahal Abra sudah membacanya. Aku kesel di buatnya, ku lempar kasar ponselku ke tempat tidur.
Flashback
Dalam perjalanan ke rumah Baskara untuk mengambil mobil, aku coba bertanya kepadanya mengapa dia tiba-tiba memeluk Dira dengan hati-hati. "Bas, boleh aku tanya?"
"Boleh, tanya apa?"
"Tadi saat kamu dan Dira berbelanja oleh-oleh, aku lihat kamu dan Dira berpelukan. Apa ada berita baik sehingga kalian berpelukan"
"Hmm, apa Dira belum cerita sama kamu?"
"Cerita soal apa?"
"Aku sudah tahu kalau kamu dan Dira menjalin hubungan. Tadi aku berpelukan dengan Dira sebagai ucapan selamat atas hubungan kalian, aku senang dan bahagia kalau Dira bisa membuka hatinya lagi"
"Hanya itu saja?"
Baskara bingung dengan pertanyaan Abra? Dalam hatinya Baskara bergumam, apakah mereka sedang berantem. "Iya, hanya itu. Aku harap kamu jangan pernah mengecewakan dan menyakiti Dira, aku percaya kamu bisa membuat Dira bahagia karena terlihat jelas dia sangat bahagia berada di dekatmu, Abra. Dira sudah aku anggap sebagai adikku sendiri".
Aku terdiam saat Baskara menjelaskan panjang lebar. Aku merasa bersalah karena aku cemburu membuat dia sedih terlebih lagi aku cuek terhadapnya. Baskara menyadarkan aku dari lamunanku.
"Abra, yuk turun sudah sampai"
"Iya"
Flashback off
Abra, kamu benar-benar menyebalkan teriakku pelan sambil ku acak-acak rambutku. Daripada aku memikirkan dia lebih baik aku tidur, namun suara ketuk pintu kamarku berbunyi.
Tok..tok..tokkk...
Dengan malas aku bangun dan membuka pintu, Abra berdiri di depan pintu kamar dan meminta ijin untuk masuk kedalam. Lalu, aku mempersilahkan Abra masuk ke dalam kamar.
"Mau apa?" tanyaku kesal.
"Bukannya tadi kamu bilang, tidak mau aku mengantar kamu ke stasiun. Hmm.."
"Iya, terus kenapa?"
"Aku tanya ke resepsionis kamu belum memesan mobil dari hotel. Kamu sengaja buat aku marah"
"Kamu nggak sadar ya, hari ini kamu menyebalkan banget, kamu cemburu dengan Baskara yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Kamu cemburu karena Baskara memelukku, tatapan dingin kamu dan telah mengabaikan aku. Daripada besok kamu mengantar aku tapi kamu tetap cuek lebih baik tidak perlu ka...."
Ucapan Dira terhenti saat tiba-tiba Abra mencium bibirnya dengan lembut, Abra menarik pinggang Dira agar lebih dekat dengannya dan menekan tengkuk Dira untuk memperdalam ciumannya.
Dira membalas ciuman Abra dan membuka mulutnya memberi ruang untuk Abra dan mengalungkan lengannya ke leher Abra. Dira kian terhanyut sampai melepaskan ciuman mereka dan Abra menempelkan kening mereka dan menatap mata Dira
"Maafkan aku, karena aku hari ini begitu menyebalkan dan telah mengabaikan mu"
Aku menatapnya dan mencari kebohongan dari kedua matanya, namun tidak ada. Aku tahu kalau Abra tulus mengatakan itu. "Janji, jangan pernah mengabaikan ku seperti tadi siang. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu,"
"Iya, aku janji," ucapnya dan sedetik kemudian Abra kembali menciumku.