Bayu memutuskan memulai dari yang ia kira paling sederhana: beras kencur. Bahannya sedikit, namanya sudah ia kenal, dan secara teori membakukannya seharusnya pekerjaan satu sore. Ia datang ke dapur Mbah Kunto membawa timbangan, gelas ukur, dan formulir kosong, lalu meminta izin untuk satu hal sederhana—menonton lelaki tua itu membuat beras kencur, sambil menimbang tiap bahan yang masuk, lalu menuliskannya jadi resep yang bisa diulang siapa pun.
Mbah Kunto setuju dengan ketenangan orang yang tahu sesuatu yang Bayu belum tahu. "Silakan timbang," katanya. "Tapi yang kamu timbang itu beras kencur hari ini, dengan kencur yang ini."
Bayu mengabaikan peringatan itu. Ia menimbang beras yang sudah disangrai, kencur yang sudah dikupas, jahe, asam, gula jawa, sedikit garam. Ia mencatat tiap gram dengan kepuasan yang sudah lama tidak ia rasakan di Tamansari—akhirnya, angka. Akhirnya, sesuatu yang bisa ia bawa pulang. Mbah Kunto menumbuk, menyaring, merebus, dan Bayu menuliskan semua: berat, volume air, lama rebusan, suhu yang ia ukur dengan termometer. Di akhir sore, ia punya selembar resep yang lengkap, presisi, bisa direplikasi di lab mana pun di dunia. Ia merasa, untuk pertama kali sejak datang, ia menang.
Dua hari kemudian ia membuat beras kencur itu sendiri, di dapur uji Wreksa Hayati, mengikuti resepnya gram demi gram, detik demi detik. Hasilnya jernih, terukur, terdokumentasi. Ia membawanya kembali ke Tamansari dengan bangga yang ia jaga agar tidak terlihat, menuang segelas untuk Mbah Kunto, segelas untuk Sekar yang kebetulan ada, dan segelas untuk Yu Tarmi yang lewat.
Mbah Kunto meminum seteguk. Ia tidak meludah, tidak meringis, hanya meletakkan gelasnya pelan, dan menatap Bayu dengan tatapan yang lebih menyakitkan daripada penolakan apa pun. "Ini bukan beras kencur saya," katanya.
"Bahannya persis sama, Mbah," kata Bayu. "Saya timbang sendiri dari tangan Mbah. Gram demi gram. Tidak ada yang saya tambah, tidak ada yang saya kurangi."
"Saya tahu kamu menimbang dengan jujur," kata Mbah Kunto. "Tapi rasanya mati."
Yu Tarmi meminum dan langsung mengangguk setuju, tanpa diplomasi. "Iya, mati. Pelanggan saya tidak akan beli ini, Nak. Hambar. Bukan hambar lidah—hambar badan. Tidak ada yang naik di sini." Ia menepuk dadanya sendiri. Bayu ingin protes bahwa "naik di dada" bukan parameter yang bisa ia ukur, tapi ia menahannya, karena bahkan Sekar—Sekar yang fasih jurnal, Sekar yang seharusnya di pihaknya—mengernyit saat mencicipi.
"Dia benar," kata Sekar pelan, hampir menyesal. "Ada yang hilang. Aku tidak tahu apa, tapi ada."
Bayu berdiri di tengah dapur dengan resepnya yang sempurna di tangan dan seluruh kampung mengatakan resepnya gagal. Sesuatu yang lebih tua dari kemarahan naik di dadanya—frustrasi seorang yang selalu benar di laboratorium dan tiba-tiba salah di tempat yang tidak punya laboratorium. "Tolong jelaskan ke saya," katanya, dan untuk pertama kali suaranya tidak sepenuhnya sopan, ada retak di sana. "Bahan sama. Takaran sama. Cara sama. Apa yang hilang? Sebutkan satu hal yang bisa saya ukur."
Mbah Kunto tidak terganggu oleh retak di suara Bayu. Ia bangkit, mengambil dua potong kencur dari tampah—dua potong yang bagi Bayu tampak identik. "Yang ini," katanya, mengangkat yang pertama, "tua. Sudah berbulan-bulan disimpan, airnya berkurang, getahnya pekat, pedasnya tajam. Yang ini," ia mengangkat yang kedua, "muda, baru dicabut, masih banyak air, manisnya lebih. Kamu menimbang dua-duanya seratus gram. Di timbanganmu sama. Di mulut orang, beda jauh." Ia meletakkan keduanya. "Hari kamu menimbang dari tangan saya, kencurnya yang mana? Tua atau muda? Kamu tidak tanya. Kamu cuma tulis seratus gram. Lalu kamu pulang, dan kamu beli kencur di pasar—kencur yang lain, umur yang lain, kebun yang lain—dan kamu timbang seratus gram juga. Angkanya sama. Isinya tidak."
Bayu terdiam. Itu masuk akal. Itu masuk akal secara ilmiah yang justru menghancurkan, karena Mbah Kunto baru saja menjelaskan, dengan bahasa dapur, persis konsep yang Sekar sebut variabilitas batch dan kadar zat aktif—bahwa berat tidak sama dengan kandungan, bahwa seratus gram bahan A bisa mengandung dua kali lipat zat aktif dibanding seratus gram bahan B yang tampak identik. Mbah Kunto tidak punya alat untuk mengukurnya. Tapi ia mengompensasinya tiap hari, dengan indera, dengan menyesuaikan—justru dengan ketidakseragaman yang Bayu coba musnahkan.
"Jadi saat Mbah meracik," kata Bayu pelan, seolah memahaminya untuk pertama kali, "Mbah tidak menyamakan beratnya. Mbah menyamakan... efeknya. Kencur tua dikurangi, kencur muda ditambah, supaya yang sampai ke badan orang tetap sama."
"Akhirnya," kata Mbah Kunto, dan untuk pertama kali ada sesuatu yang mirip senyum di wajahnya. "Yang saya jaga sama itu bukan timbangannya, Nak. Yang saya jaga sama itu yang masuk ke badan. Kamu menjaga sama yang di luar, saya menjaga sama yang di dalam. Kamu kira keseragaman itu di gram. Keseragaman itu di orangnya."
Bayu pulang malam itu dengan resepnya yang gagal terlipat di saku, dan untuk pertama kali sejak ia menerima pekerjaan ini, ia tidak yakin pekerjaannya mungkin dilakukan dengan cara yang ia bawa. Karena Mbah Kunto baru saja menunjukkan paradoks yang menusuk jantung metodenya: kalau ia membakukan beratnya, ia justru membuat kandungannya tidak baku, sebab bahannya sendiri tidak seragam. Yang harus ia bakukan bukan berapa gram—itu mudah, itu yang ia kira pekerjaannya—melainkan berapa banyak zat aktif yang sampai ke tubuh, dan itu butuh mengukur tiap batch bahan mentah, sesuatu yang mahal, lambat, dan justru yang dilakukan Mbah Kunto secara gratis dengan lidahnya setiap pagi. Ia membuka laptopnya, menghapus resep lamanya, dan menulis judul baru yang jauh lebih jujur dan jauh lebih menakutkan: bukan standardisasi takaran, melainkan standardisasi kandungan—dan ia tahu, dengan dingin, bahwa angka di judul itu baru saja membuat pekerjaannya sepuluh kali lebih sulit dan jauh lebih mahal.