Eriska terpaku ditempatnya, ada sesuatu yang menarik pada diri laki-laki muda di depannya. Entah apa yang jelas ia juga melihat kemurungan di kedalaman sinar mata itu. Lelaki yang ganteng namun tampak begitu dingin. Tapi entah mengapa tiba-tiba timbul rasa suka perempuan itu kepada dewa. Eriska menarik nafas panjang.
"Deska."
"Ya?"
"Kamu enggak suka turun seperti teman mu?"
Deska tersenyum getir.
"Kalau kau ingin turun, silahkan. Kebetulan aku sedang ingin menikmati kesendirian ku, atau kau ingin menemani ku?" tanya Deska.
"Bagaimana jika kutemani kau disini?"
"Aku enggak keberatan, kalau begitu mari kita nikmati masakan ini. Biarlah yang lain nanti kalau sudah datang."
Eriska tersenyum.
"Kebetulan aku memang sedang lagi lapar."
Mereka kemudian menikmati porsi makanan, sesuai dengan apa yang mereka pesan. Deska sendiri tampak menikmati setengah-setengah. Ia lebih sering mengedari ruangan. Namun pandangannya hanya tertuju pada orang-orang muda yang sedang berjingkrak mengikuti puasnya musik rock.
"Kau nampaknya kurang bernafsu." desis Eriska.
Deska tersenyum getir.
"Kau tinggal dimana Eriska?"
"Sebuah flat, sebuah apartemen di Sultan Iskandar. Terdiri dari beberapa ruang, aku menempatinya bersama enam gadis yang lain, seprofesi. Namun mereka tidak sama daerah operasinya, aku lebih menyukai disko bar ini untuk tempat mangkal ku. Sementara yang lain ada di hotel atau tempat hiburan yang lain, yang jelas di flat itu, masing-masing ruang mempunyai pintu masuk dan keluar sendiri. Ada sebuah aula cukup besar, dimana diruang itu tersedia meja bilyard, ruang bar dan ruang rendesvous, kepada setiap lelaki yang datang bebas bermain ditempat itu. Tapi kami telah sepakat untuk tidak menggunakan tempat tersebut sebagai ruang pertemuan. Itu kamu gunakan untuk kami sendiri. Kecuali tamu-tamu pribadi." tuturnya sejelas mungkin.
"Maksudmu dengan tamu-tamu pribadi?"
"Pacar, kekasih, sahabat, suami atau anggota keluarga lainnya. Kami tidak menggunakan tempat itu sebagai area bisnis."
"Apakah itu bisa menjamin?"
"Tentu saja tidak, selalu saja ada orang yang dibawa mereka pulang. Namun tentu saja sebatas pada hubungan yanng tidak memancing keributan dan kesan yang buruk. Kami akan membiarkan, bahkan kami telah mengambil pula keputusan. Bila ada tamu bisnis yang terpaksa dibawa pulang, harus terus masuk ruang pribadi. Tidak boleh keluar, sehingga bisa memancing keributan. Mereka mau apa di kamar masing-masing, itu hak mereka. Tak ada yang mengganggu."
"Apakah rumah itu legal?" tanya Deska terus terang.
"Rumah itu tidak legal, itu rumah penginapan pribadi. Jadi tidak punya izin operasi. Akan tetapi sudah terlanjur banyak orang-orang kaya yang berhubungan dengan kami secara diam-diam. Sehingga mereka terikat, hanya saja memang sesekali kami mendapatkan pembinaan untuk tetap tidak memasukkan tamu ke dalam rumah."
"Kamu pernah membawa tamu mu?"
"Tidak! Kau percaya atau tidak itu adalah hak mu, tapi aku memang benci membawa tamuku masuk ke kamar pribadiku. Banyak hotel, losmen dan penginapan lainnya. Mengapa melakukan perbuatan m***m di kamar pribadi, biar saja mereka. Aku tetap bertahan pada prinsip, kamar ku adalah ketenangan ku."
"Bagaimana teman-temanmu?"
"Ada di antaranya yang cocok dengan prinsip ku, dan melakukan hal yang sama denganku. Hanya membawa masuk anggota keluarga atau sahabat, atau suami. Selain itu, mereka tidak pernah membawa masuk lelaki lain. Tetapi ada juga yang tetap nekad."
"Jadi ada di antara kalian yang bersuami?"
"Ya..."
"Suaminya cemburu?"
"Bagaimana akan cemburu, kalau seluruh kebutuhan hidupnya ditunjang oleh istrinya. Dia hanya nebeng hidup disuatu kota, mengawasi anak-anak. Sesekali istrinya pulang dengan membawa uang banyak. Atau mereka bisa datang kapan saja bersama anaknya...."
"Kau setuju dengan kehidupan macam itu?"
"Tidak..."
"Mengapa?"
"Kalau kita memang mau berkeluarga, ya, harus melepaskan profesi itu sampai tuntas. Harus sanggup menjadi istri dan ibu dari anak-anak. Suami harus berperan sebagai penunjang ekonomi utama, kita hanya membantu dengan mengembangkan usaha kecil-kecilan. Bagiku keluarga adalah impian dan kebahagiaan."
"Kau ingin berkeluarga?"
"Tentu saja, tapi angan-angan ku itu sering kandas ditengah jalan. Pupus oleh kenyataan yang selalu saja menyakitkan."
"Kenapa kau sampai terjun dalam dunia mu?"
"Ceritanya panjang, oh ya, boleh kutahu siapa sebenarnya engkau. Maksudku kau tinggal dimana?" tanya Eriska.
"Aku mengontrak sebuah apartemen kecil dan murah. Aku hidup sendiri, dan tampaknya memang akan hidup sendiri selagi belum ku temukan perempuan yang menggetarkan hati ku."
"Boleh aku minta alamat mu?"
"Boleh, untuk apa?"
"Banyak yang ingin ku ketahui bahwa tentang engkau."
Deska tersenyum, ia mengambil sebuah kartu nama dan memberikan kepada Eriska. Perempuan cantik itu menerima dengan senang hati.
"Terimakasih, boleh aku main ketempat mu?"
"Boleh, tak ada yang melarang. Tapi maklum tempatnya agak berantakan."
"Kau tinggal bersama, Deska?"
"Dua anak laki-laki, mereka adik angkat ku."
"Adik angkat mu? Mungkin kau dapat menjelaskannya sedikit, agar aku dapat memperoleh gambaran tentang dua anak laki-laki yang bersama mu?"
"Kau curiga mereka anakku?"
"Tidak, hanya saja aku memang tak ingin ada kesalahpahaman jika suatu kali aku berkunjung ke tempat mu. Mudah-mudahan kau cukup jujur mengatakannya, ku akui selama ini jarang kutemukan laki-laki seperti engkau. Aku memang baru mengenalmu, tapi aku tak dapat membohongi hatiku kalau aku menyukai dirimu!"
Deska tersenyum getir.
"Sepanjang hidupku aku belum pernah berkencan dengan perempuan. Percaya atau tidak, itu terserah kamu. Tapi harus ku akui aku telah mengecewakan beberapa orang gadis, mereka mencintai ku tapi tak ada sedikitpun perasaan itu tumbuh di hatiku. Aku tak pernah memberikan janji-janji kepada mereka. Aku juga tak pernah mengunjungi mereka, akhirnya harapan mereka kandas di tengah jalan."
"Baiklah, aku percaya kepadamu tentang hal itu." desis Eriska.
"Sudah ku katakan, aku tak menuntut mu agar mempercayai kata-kataku. Tapi setiap apa yang ku ucapkan adalah sebuah kenyataan, aku tinggal sendiri. Dan pada kenyataannya aku memang hidup dalam kesendirian. Tak pernah ku ketahui siapa saudara ku, apakah aku punya saudara atau tidak, siapa ibuku, apakah aku masih punya ibu atau tidak. Dan siapa sebetulnya ayahku, tak pernah ku ketahui itu."
"Kau?"
Wajah Deska murung, matanya berkaca-kaca.
"Aku besar disebuah panti asuhan, tanpa pernah ku ketahui siapa yang membawaku ke tempat itu. Karena aku di tinggalkan disitu oleh perempuan yang melahirkan diriku. Mungkin benar kata orang, aku ini anak haram. Anak yang tak pernah di akui keberadaan ku, menyakitkan bukan? Itulah sebabnya aku enggan mengenal perempuan."
"Ah?!"
"Tatkala aku merasa hidup ini terlalu sepi, kutemukan dua anak malang yang mengalami nasib hampir serupa. Mereka juga tidak memiliki siapa-siapa, tak betah hidup di panti asuhan. Menyemir dan menjual koran, aku bayangkan, betapa memilukan kehidupan semacam itu. Aku tak tega, mereka kusuruh tinggal bersamaku dan pelan-pelan ku sadarkan kembali tentang pentingnya sekolah. Aku menanggung seluruh kegiatannya, dari uang kerja mereka ku suruh menabung untuk keperluan mereka sendiri. Kini mereka tinggal bersamaku, sebagai adik angkat ku." kata Deska sambil menarik napas panjang. Kegetiran itu menusuk perasaannya, nyeri itu menggigit hatinya.
Eriska menatap kagum dengan laki-laki di depannya.
"Lantas kau membenci perempuan?"
"Tidak."
"Tapi kau enggan mengenal perempuan?"
Deska menarik nafas panjang, kegetiran itu memang telah membuatnya jauh dari makhluk cantik itu. Tapi salah siapa? Entah mengapa ia memang belum begitu tertarik dengan perempuan, mungkin suatu kali nanti ia sangat membutuhkan. Deska menarik nafas pilu, hatinya seperti tercabik-cabik oleh sesuatu yang tak terlihat. Begitu menyakitkan. Namun ia tak mengerti benda semacam apa yang menyayat nya, begitu sakit. Hanya itu yang ia rasakan dalam menikmati kehidupan yang fana.
"Deska."
"Iya."
"Kau dengar pertanyaan ku tadi."
Deska tersenyum getir.
"Mungkin memang belum saatnya aku mengenal perempuan. Oh iya, Eriska. Siapa teman mu itu? Apakah ia tinggal bersama mu?"
"Kenapa?"
"Kalian tampak begitu dekat."
"Nasib yang sama membuat kami seperti saudara. Ia tinggal disebuah apartemen, sendiri. Namanya Susan, gadis yang baik sebenarnya. Tapi nasib selalu buruk singgah didalam hari-harinya. Berapa kali jatuh cinta tapi kandas ditengah jalan."
"Kenapa kau tidak sewa sebuah apartemen sendiri saja? Lebih bebas buatmu toh?" kata Deska tersenyum mengerti. Betapa perempuan semacam itu, memang jarang menemukan kebahagiaan. Tentu yang mereka temukan adalah kepalsuan, nafsu dan kemaksiatan.
"Aku sedang berusaha untuk itu."
"Kau akan lebih leluasa bergerak dan mengatur keuangan mu."
"Tapi aku akan hidup sendiri."
"Bayang-bayang masa lalu?"
"Iya!"
"Mungkin kau bisa ceritakan masa lalumu padaku. Kita dapat mengikat persahabatan, toh?" Deska menawarkan sebatang rokok pada Eriska. Gadis itu menerimanya, dan menerima api dari geretan yang dihidupkan oleh Deska. Mengisap rokok itu kuat-kuat dan menghempaskan nya seperti ingin menghempaskan kegetiran hidup.
"Lain kali, Deska."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Kita bicara yang lain, oke? Apa saja dapat kita ceritakan, setidaknya yang membuat aku melupakan masa lalu yang menyakitkan itu. Kau tentu mengerti maksudku, bukan?"
"Kau tidak bekerja?"
Eriska tersenyum getir, ia hempaskan asap rokok itu kuat-kuat.
"Hari-hari ku telah sarat dengan pekerjaan yang memuakkan itu. Kini ku temukan lawan bicara yang menyenangkan, ku temukan teman yang mengerti tentang kehidupan yang sebenarnya menyakitkan ini. Apa salahnya malam ini kita gunakan untuk berbincang, bukan?"
"Aku suka dengan kejujuran mu, Riska. Mungkin masih ada hari buat kita bertemu?" kata Deska serius ia menatap mata Eriska yang bening dalam-dalam. Gadis itu merasakan suatu getaran yang aneh, yang selama ini belum pernah ia rasakan. Mata Deska begitu melelapkan, tapi toh ia menangkap kesedihan itu di kedalaman sana. Kesedihan yang tak pernah ia mengerti, rasanya suatu kali nanti ia ingin menyibaknya.
"Aku akan kerumah mu besok." desis Eriska.
"Hei, benarkah?"
"Ya, jam berapa kau pulang kerja?"
"Jam empat!".
"Bagaimana dengan kuliah mu?"
"Sudah tak ada mata kuliah yang akan ku selesaikan. Tinggal menunggu ujian negara, hanya itu. Ya, kadang-kadang saja aku ke kampus untuk absen dan melihat pengumuman. Tapi memang satu Minggu lagi aku sudah harus menempuh ujian."
"Kau tidak belajar?"
"Itu bisa ku lakukan di kantorku, bukan? Pekerjaan ku setiap hari juga sudah merupakan belajar yang baik, toh? Hanya saja aku terpaksa mengambil cuti pekerjaan ku kalau aku mengikuti ujian akhir. Tapi pimpinan mengerti benar, ia tahu apa yang ku tempuh Minggu depan. Lisensi perizinan itu telah aku dapatkan."
"Jadi aku tak mengganggu bila besok datang ke rumahmu?"
" Datanglah, mungkin kita dapat berbincang yang lain!"
***