“Aku akan menjauhinya, seperti apa yang dia mau. Namun, aku akan tetap berusaha mendapatkan hatinya yang selama ini belum bisa aku cairkan.“
~ Aluna Anastasya ~
“Woi! Busnya udah berhenti!! Jangan ngelamun mulu, Lun,“ kata seseorang menepuk bahu Aluna yang membuatnya menoleh ke arah suara itu.
“Adara! Lo ngagetin gue aja sih,“ kata Aluna menatap Adara tajam.
Adara hanya tersenyum ke arah Aluna yang nampak kesal karena dikageti.
“Biasa aja kali Lun, gue tahu kok kalau lo lagi mandangin kak Bryan. Sampai sekarang lo belum bisa luluhin dia? Emang susah sih deketin dia, tapi lo harus semangat ya,“ balas Adara sambil menggoda Aluna.
Aluna tidak mendengarkan perkataan Adara, yang menggodanya karena belum bisa menaklukkan hati Bryan--kakak kelasnya sekaligus cowok paling keren di sekolah. Aluna meninggalkan Adara setelah turun dari busway.
“Dih, gue malah ditinggalin, dasar Aluna,“ gerutu Adara.
Sesampainya di kelas, Aluna kembali dihampiri oleh sahabatnya, sehingga membuat mood gadis itu semakin berantakan.
“Lun, pinjemin PR Matematika lo dong. Gue belum ngerjain, maklumlah gue kan super sibuk,“ kata Bella, sahabatnya.
“Jangan dipinjemin Lun, mending gue aja yang dipinjemin. Jangan minjemin Bella, lo tahu sendiri Bella nggak sibuk sama sekali,“ kata Adara tiba-tiba.
Aluna hanya diam sambil menatap Adara dan Bella bergantian. Tatapannya cukup membuat nyali kedua sahabatnya menciut karena mereka paham betul bagaimana sifat Aluna.
“Uh ngeri banget tatapan lo, Lun. Ya udah deh Lun, gue nggak jadi pinjem PR lo. Gue nggak mau lo ngamuk sama kita, lagian gue udah ngerjain kok,” kata Adara tersenyum ke arah Aluna.
Bella juga tidak jadi meminjam PR Aluna, karena dia tahu Aluna sedang banyak pikiran, yang ada nanti Aluna bisa memutuskan persabahatan mereka.
Aluna diam saja sambil memandangi Handphone-nya yang sering mendapat SMS tak jelas. Sebenarnya, Aluna penasaran siapa yang selalu mengirimi pesan-pesan yang membuatnya tak tenang.
Gue harus selidiki siapa di balik SMS yang bikin gue nggak tenang gini, batin Aluna.
***
Jam istirahat tiba, Aluna berniat ke kantin, tapi tanpa sengaja dia melihat Bryan sedang latihan basket di lapangan sekolah, dia pun berhenti sejenak.
Kenapa susah banget buat luluhin hati kak Bryan, batin Aluna.
“Cie ngeliatin kak Bryan mulu, jadi ke kantin nggak nih?” goda Adara dan Bella yang tahu Aluna menyukai Bryan.
Saat Aluna, Adara dan Bella hendak menuju kantin, tanpa sengaja mereka melihat ada yang sedang di-bully oleh seseorang yang sangat Aluna kenal, seseorang yang selalu mem-bully adik kelas.
“Lun, tuh kak Ranty bully adik kelas lagi. Yuk, kita bantuin,” kata Adara.
“Iya Lun, kita bantuin anak itu, kasihan,” kata Bella.
Namun, Aluna tak memedulikan perkataan kedua sahabatnya itu, dia justru tetap berjalan menuju kantin. Dia tidak menolong anak yang di-bully itu.
Tanpa sadar, sikap ketidakpedulian Aluna diperhatikan oleh seseorang.
Masih aja nggak peka sama sekitarnya, padahal gue ngarep dia bisa peka sama keadaan di sekitarnya. Sifat dia yang nggak peka sama sekitarnya bikin gue ragu sama dia, batin seseorang yang memperhatikan Aluna.
Sesampainya di kantin, Aluna membeli air mineral dan langsung pergi. Dia pergi menuju ke lapangan tempat Bryan latihan basket.
“Kak Bryan, nih aku bawain minum buat Kakak,“ kata Aluna menyodorkan air mineral ke Bryan yang sedang duduk beristirahat di tepi lapangan.
Bryan berdiri melihat kedatangan Aluna, gadis yang sering menghampirinya saat sedang latihan basket.
“Gue nggak haus!” kata Bryan yang berdiri di depan Aluna.
Aluna cukup sakit mendengar perkataan pedas Bryan kepadanya. Namun, gadis itu berusaha sabar dan tersenyum menghadapi Bryan.
“Ya udah kalau gitu, semangat latihannya ya Kak,“ kata Aluna.
Saat Aluna hendak pergi meninggalkan Bryan, dia memanggil Aluna dan hal itu membuatnya tersenyum bahagia.
“Aluna tunggu--” kata Bryan.
Aluna tersenyum, menoleh ke arah Bryan yang masih berdiri.
“Iya, Kak, ada apa?” tanya Aluna.
Bryan menghampiri Aluna dan berdiri di hadapannya. Aluna merasakan jantungnya berdetak tak beraturan.
“Gue harap lo mulai jauhin gue, karena gue nggak mau deket sama cewek kayak lo!“ kata Bryan.
Aluna terkejut bukan main mendengar kata-kata Bryan, dia terdiam sejenak di hadapan Bryan. Namun, sedetik kemudian Aluna memberi Bryan tatapan tajam.
“Ok. Aku bakalan jauhin Kakak kalau itu bisa membuat Kakak bahagia,” kata Aluna.
Bryan hanya diam, lalu pergi meninggalkan Aluna yang kesal karena kata-katanya.
Aku akan menjauhinya seperti apa yang dia mau. Namun, aku akan tetap berusaha mendapatkan hatinya yang selama ini belum bisa aku cairkan, batin Aluna.
Aluna yang menjadi tontonan banyak siswa-siswi memutuskan untuk kembali ke kelasnya dengan perasaan kesal yang teramat sangat sampai-sampai hatinya sakit.
“Yang sabar ya, Lun, gue yakin kak Bryan bakalan nyesel karena yuruh lo jauhin dia,” kata Adara menenangkan Aluna.
“Iya Lun, jangan dipikirin lagi ya. Oh ya, besok kan kita bakalan studytour ke Bandung, lo ikutan, kan? Ya sekalian lupain kak Bryan buat sementara,” hibur Bella.
Aluna hanya diam. Namun, kedua sahabatnya yakin kalau Aluna pasti ikut.
Kesempatan yang bagus untuk melupakan perasaan aku yang cukup sakit mendengar kata-kata pedasnya, batin Aluna.
Tiba-tiba ada yang menghampiri Aluna saat dia melamun di kelasnya.
“Yang sabar ya Dek, Bryan pasti nyesel udah ngomong kayak gitu ke lo,” kata seseorang sambil mengelus kepala Aluna.
Aluna merasa nyaman, dia menoleh ke arah orang itu, orang yang selalu membuatnya tersenyum.
“Kak Arga tenang aja, aku baik-baik aja kok,“ kata Aluna sambil tersenyum.
Arga ikut tersenyum melihat Aluna sudah bisa tersenyum lagi. Senyuman Aluna membuat Arga tenang karena dia melihat keadaan adik kesayangannya sudah kembali ke semula.
“Ya udah, kalau gitu kak Arga balik ke kelas dulu ya Dek. Nanti pulang bareng ya, Dek,” kata Arga.
Aluna tersenyum ke arah Arga yang selalu bisa menenangkan hatinya.
“Lun, kok gue baper ya lihat kedekatan lo sama kak Arga, gue liatnya kayak perhatian dia tu over banget sama lo. Gue tahu kak Arga itu kakak loe, tapi gue lihat perhatian dia ke lo malah kayak ke pacarnya,“ kata Adara.
“Iya Ra, tapi wajar sih kak Arga perhatian banget sama Aluna, kan mereka kakak-adik,“ lanjut Bella.
Aluna terdiam sejenak, melihat kepergian Arga. Entah, apa yang dipikirkan sahabat-sahabatnya, yang jelas itu cukup membuatnya kaget.
“Udah ah, jangan dibahas lagi,” kata Aluna.
Tiba-tiba handphone Aluna bergetar tanda ada SMS masuk dan membuatnya kaget saat melihat isinya.
From : 08574721****
Sekarang lo masih bisa tersenyum, walaupun lo sudah cukup sakit mendengar kata-kata pedas orang yang lo suka. Itu belum cukup sakit, lo akan merasakan yang lebih sakit lagi.
Aluna kaget saat membaca SMS itu, Aluna menoleh ke kanan kiri mencari siapa sosok yang selalu mengirim SMS kepadanya.
Sebenarnya siapa yang selalu neror aku? Kenapa dia selalu tahu yang aku rasain, batin Aluna melirik orang-orang di sekitarnya.