Aku sudah kembali ke sini, apakah aku bisa melihat seseorang yang selama beberapa hari ini sangat aku rindukan? Kamu yang selalu ingin aku miliki, tapi entah kenapa begitu sulit kudapatkan?
~ Alana Anatasya ~
Kenapa dia ada di sini? Ini menarik..., batin murid baru itu.
Murid baru itu menatap ke arah Alana yang juga menatapnya. Dia tersenyum penuh arti kepada Alana.
Alana diam, menatap murid baru itu seperti pernah melihatnya sebelumnya. Namun, dia tak mengingat di mana dia melihat murid baru itu, akibat amnesia yang dialaminya. Murid itu memperkenalkan diri, sambil terus melihat kearah Alana, yang masih diam.
“Perkenalkan nama saya Amanda Syahira, saya murid pindahan dari Bandung.”
Murid-murid cowok di kelas itu langsung tersenyum. Bahkan beberapa ada yang berusaha menggoda Amanda yang memang cantik dan menarik. Namun, berbeda dengan Alana masih penasaran, kenapa dia merasa mengenal Amanda?
Kenapa aku kayak pernah ketemu sama Manda, tapi ketemu di mana? batin Aluna sambil memerhatikan Manda yang tersenyum penuh arti kepadanya.
Guru mempersilakan Manda duduk di bangku kosong di sebelah Alana, karena memang hanya itu tempat duduk yang masih kosong. Manda tersenyum ke arah guru sambil mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih, Bu.”
Ternyata lo masih hidup Alana? Gue kira lo udah meninggal karena bunuh diri? Berarti mayat yang ditemukan di tepi sungai kemarin bukan mayat lo. Ini semakin menarik, karena lo masih hidup, gue gak akan buat hidup lo tenang Alana, batin Manda menatap Alana yang masih terdiam.
Manda tersenyum ke arah teman-teman cowok yang mulai mendekatinya untuk berkenalan. Namun, sesekali diam-diam dia memperhatikan Alana yang sedang mengobrol dengan Adara dan Bella.
Mereka bertiga tampak menikmati obrolan mereka tentang pelajaran.
“Lun, lo yakin nggak nanti nilai ulangan matematikanya bagus? Lo kan paling suka sama matematika,” kata Adara, mengingat minggu lalu mereka ada ulangan matematika dadakan.
Alana tersenyum ke arah Adara yang tampak penasaran dengan jawabannya. Bella yang mendengar Adara menanyakan soal nilai Alana, langsung ikut berbicara menjawab pertanyaan Adara.
“Ra, lo ngeraguin Aluna? Dia itu selalu dapat nilai bagus di pelajaran matematika. Jahat banget sih lo!“ kata Bella sambil memandang Adara yang justru malah tersenyum ke arahnya.
“Bukan gue nggak yakin, tapi karena gue besok mau nyontek Aluna kalau nilai dia bagus, gue harap Aluna ngijinin,“ kata Adara tersenyum ke arah Alana dan Bella.
“Kalau itu sih, gue juga ikutan, Ra. Boleh ya, Lun? Please… “ kata Bella sambil memohon.
Alana hanya tersenyum, lalu mengangguk, membuat Adara dan Bella tersenyum bahagia. Bel istirahat berbunyi, ketiganya pun menuju ke kantin. Manda yang melihat Alana juga Bella dan Adara ke kantin, mengikuti mereka sambil terus memperhatikan Alana.
Kenapa mereka manggil Alana itu Lun, atau jangan-jangan Alana sengaja mengganti namanya? Biar identitas sebenarnya tidak diketahui oleh orang-orang? batin Manda yang berada tak jauh dari Aluna.
Manda sengaja duduk di bangku yang sama dengan Alana, Adara dan Bella. Setelah duduk, dia mulai memperkenalkan dirinya dengan tujuan agar mereka akrab satu sama lain. Dia berharap bisa mengetahui siapa cewek yang menurutnya Alana itu? Kenapa mereka tidak memanggilnya Alana?
“Hai, gue boleh duduk bareng kalian di sini, kan?” tanya Manda setelah duduk di samping Bella dan duduk berhadapan dengan Alana.
“Boleh, kenalin nama gue Bella, yang di depan gue itu Adara dan sebelahnya, Aluna,“ kata Bella menunjuk Adara dan Alana untuk memperkenalkannya kepada Manda.
Manda terdiam sejenak melihat ke arah Alana. Manda bingung kenapa dia dipanggil Aluna, bukan Alana, tapi dia berusaha bersikap biasa. Dia berusaha mengakraban diri dengan teman-teman barunya karena ingin mengetahui informasi tentang Aluna yang dia yakini adalah Alana.
Gue mau pastiin kalau lo itu Alana, bukan Aluna. Gue yakin, kalau lo itu Alana. Lo sekarang lagi nyamar aja, dan coba menghindar dari gue karena kejadian di Bandung, batin Manda sembari memperhatikan Aluna yang hanya diam.
Alana tahu, sedari tadi Manda selalu memperhatikannya. Namun, dia berusaha bersikap biasa, sampai akhirnya dia meminta ijin untuk ke toilet.
“Aku ke toilet dulu ya,“ pamit Alana kepada ketiganya.
Manda yang melihat adanya kesempatan, langsung pergi mengikuti gadis itu untuk mengetahui apakah itu Alana atau bukan. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengejar Alana yang sedang berjalan menuju ke toilet.
“Guys, kayaknya gue juga butuh ke toilet,“ Manda meninggalkan Bella dan Adara yang masih asyik menunggu pesanannya.
Alana sampai di toilet, lalu masuk. Dia mencuci tangan, tapi sekarang pikirannya dipenuhi oleh Manda yang rasanya dia kenal.
Sebenarnya, siapa Manda? Kenapa aku kayak pernah lihat dia, ya? Kenapa juga dia dari tadi ngelihatin aku terus, batin Aluna sambil berkaca pada cermin yang ada di toilet.
Saat Alana masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Manda sudah ada di belakangnya. Alana kaget melihat Manda yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya.
“Aluna? Nama lo Aluna, kan? Kenapa gue nggak yakin lo Aluna, ya? Gue nggak akan semudah itu lo tipu, Lan. Gue yakin banget lo itu Alana, bukan Aluna!“ kata Manda sambil mencengkram salah satu bahu Alana.
Alana kaget mendapat perlakuan kasar dari Manda. Dia berusaha melawan perkataan Manda yang terkesan menyudutkannya. “Kamu nggak lihat name tag aku? Namaku Aluna Anastasya, bukan Alana, mungkin kamu salah orang!” kata Aluna melepas cengkeraman tangan Manda di bahunya.
Alana yang masih shock dengan perlakuan kasar Manda langsung keluar dari toilet untuk menghindar darinya. Namun, tepat saat Alana berasa di pintu keluar, Manda menarik tangan kanan Alana dengan kasar.
“Tunggu! Gue belum selesai ngomong!” Manda menarik dengan kasar tangan Alana. Kondisi di toilet saat itu cukup sepi.
Jujur, Alana sedikit takut dengan perlakuan Manda yang sedari tadi terus menekannya. Namun, dia berusaha terus melawan Manda agar tidak terus dikasari olehnya.
“Lo Alana, bukan Aluna! Gue yakin itu. Jawab! Lo itu Alana, ‘kan?“ Manda terus mendorong bahu Alana, membuat gadis itu goyah dan hampir terjatuh.
“Gue yakin lo pasti Alana! Ayo ngaku!” Manda terus mendorong Alana, tapi Alana melawan. Dia menahan tangan Manda dan menatapnya tajam, membuat Manda terkejut dengan perlawanan dari Alana.
“Kurang ajar banget lo, berani ngelawan gue sekarang!” Manda sedikit membentak Alana dan mencoba menamparnya.
Namun, tiba-tiba ada yang menahan tangan Manda. Manda kaget ketika menatap seseorang berusaha menyelamatkan Alana dari tamparannya.
“Jangan pernah coba menyentuh dan menyakitinya....”
***
Di sisi lain, Aluna yang berada di Bandung terus kepikiran dengan saudari kembarnya yang ada di Jakarta. Dia khawatir kareana tahu bahwa saudara angkat saudari kembarnya juga ada di Jakarta. Dia takut kalau gadis itu mengetahui Alana ada di Jakarta dan akan menyakiti Alana lagi seperti saat di Bandung.
“Aku tidak akan tinggal diam, gak akan kubiarkan orang yang selama ini menyakiti kak Alana hidup tenang. Apalagi dia sekarang berada di kota yang sama dengan kak Alana. Kalau sampai dia tahu bahwa kak Alana masih hidup dan ada di Jakarta, pasti dia bakalan nyakitin kak Alana terus sampai dia puas,” kata Aluna sambil memikirkan nasib Alana.
Aluna sudah mempunyai rencana untuk melindungi kakaknya agar tidak diganggu lagi oleh Amanda, yang adalah saudara angkat Alana.
“Aku akan pastikan kalau kak Alana aman di sana. Aku janji bakal lindungi kak Alana sampai kapan pun, karena Aluna sayang kakak.”
Aluna mengetikkan sesuatu di handphone-nya, kemudian dia tersenyum penuh arti karena mendapat informasi yang dia inginkan.
Aluna berbaring di ranjangnya dan terus tersenyum karena suasana hatinya sedang senang. Dia memasukkan barang-barang yang dia punya ke dalam tas ranselnya. Dia sudah mempunyai rencana yang matang. Dia yakin semua rencananya akan berjalan dengan sempurna, dan tak ada satu orang pun yang tahu.
“Aku yakin semua rencanaku akan berjalan dengan baik, sekalipun resikonya cukup besar. Semuanya aku lakukan demi orang-orang yang kusayangi,“ kata Aluna.
Aluna sudah siap dengan semua perlengkapannya untuk melaksanakan rencananya kali ini. Aluna sudah meminta ijin kepada Wijaya, sang pemilik rumah untuk pergi ke Jakarta, dan ternyata pria itu mendukung semua rencananya. Wijaya juga berjanji akan membantu Aluna dalam melaksanakan rencananya, terutama jika ada hal tak terduga terjadi.
“Semuanya sudah siap, tinggal berangkat. Om Wijaya emang the best, beliau ikut mendukung rencanaku. Beliau memang selalu menjadi pahlawan aku, disaat aku butuh bantuan sejak aku kecil, bahkan sampai aku pindah ke Jakarta.” Aluna mengingat bahwa Wijaya selalu membantunya sedari dia tinggal di Jakarta.
Aluna masuk ke dalam mobil yang sudah berada di depan rumah Wijaya. Supir yang diperintahkan Wijaya juga sudah stand by, siap untuk mengantarkan Aluna ke tempat tujuan.
Aluna pergi ke sebuah tempat yang sudah disiapkan oleh Wijaya sebagai tempat tinggalnya. Dia sangat senang, saat sudah sampai di tempat itu dengan selamat. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, gadis itu sampai di sebuah apartemen mewah, yang sudah disiapkan khusus untuknya oleh Wijaya. Wijaya yakin tempat itu aman untuk tempat tinggal Aluna sekarang.
“Akhirnya … aku kembali. Walaupun, aku di sini untuk melaksanakan rencanaku melindungi kak Alana,“ kata Aluna tersenyum bahagia.
“Jakarta, I am back!“ Aluna tersenyum bahagia karena sudah kembali ke Jakarta.
Aluna berdiri di balkon apartemen yang sekarang menjadi tempat tinggal barunya, karena tak mungkin baginya kembali ke rumahnya yang lama. Hal itu hanya akan membuat rencananya gagal total.
“Aku sudah kembali, apakah aku bisa melihat seseorang yang selama beberapa hari ini aku sangat rindukan. Kamu yang selalu ingin aku miliki, tapi entah kenapa sulit sekali kudapatkan.“ Aluna menatap langit sambil membayangkan seseorang yang ada di dalam hatinya sejak lama.