Ratna sedang menumbuk padi ketika utusan itu datang.
Suara lesung yang ia ayunkan berhenti di udara. Di ujung jalan tanah Desa Walangan, dua ekor kuda menderap, mengangkat debu kemarau yang tinggi. Penunggangnya mengenakan kain berlapis warna nila tua—warna abdi dalem istana Wilwa. Ratna belum pernah melihat warna itu sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika ia masih kanak-kanak dan diangkut keluar dari tembok keraton dengan pedati tertutup.
"Itu orang ibu kota," bisik Nyai Tirta, perempuan tua yang merawatnya sejak kecil. Tangan keriput Nyai mencengkeram lengan Ratna. "Masuk ke dalam, Nduk. Cepat."
Tetapi Ratna tidak masuk. Ia berdiri tegak, menyeka tangan yang berlumur dedak ke kain panjangnya yang lusuh. Sepuluh tahun di desa telah mengajarinya satu hal: lari hanya membuat pemburu makin yakin kau mangsa.
Kedua penunggang berhenti di depan pagar bambu. Yang lebih tua turun, lututnya bergetar oleh perjalanan jauh. Ia menatap Ratna lama, lalu wajahnya berubah—seakan melihat hantu.
"Gusti Putri Ratnaswari," katanya, dan ia bersimpuh di tanah.
Nyai Tirta menahan napas. Nama itu—nama lengkap yang sudah bertahun-tahun tidak diucapkan siapa pun. Di desa, Ratna hanyalah "anak Nyai Tirta yang pandai membaca", gadis aneh yang tahu aksara dan bisa menghitung pajak lebih cepat dari juru tulis kademangan.
"Bangun," kata Ratna pelan. Suaranya tenang, tetapi jantungnya berdebar seperti genderang perang. "Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan nama itu?"
Utusan tua itu mengangkat kepala. "Hamba Tumenggung Wirangga, dahulu abdi setia Sri Baginda Prabu Hayam Linggar." Ia menelan ludah. "Gusti Putri... Sang Prabu telah mangkat. Tujuh hari yang lalu. Asma beliau memburuk di malam purnama, dan sebelum fajar, beliau wafat."
Angin kemarau berdesir di sela daun pisang. Ratna merasa tanah seakan miring di bawah kakinya.
Ayahnya. Raja Wilwa. Lelaki yang ia ingat samar-samar—wangi cendana, suara berat, sebuah tangan besar yang pernah mengelus kepalanya sebelum semuanya berubah menjadi pengasingan. Lelaki yang tidak pernah sekali pun mengirim kabar selama sepuluh tahun.
"Lalu apa urusanmu denganku?" tanya Ratna, menjaga suaranya tetap rata. "Aku putri yang disingkirkan. Putri seorang selir yang mati. Istana sudah melupakanku."
Tumenggung Wirangga menggeleng. Keringat dan debu bercampur di dahinya. "Justru itu, Gusti. Sang Prabu mangkat tanpa menunjuk pewaris. Putra mahkota, Pangeran Jayanagara, gugur tahun lalu dalam pemberontakan di pesisir utara. Tidak ada putra lain yang sah. Para bangsawan kini berebut takhta seperti anjing berebut tulang." Ia menunduk lagi. "Wilwa di ambang perang saudara, Gusti. Dan di antara semua keturunan Sang Prabu yang masih hidup... Gusti Putri adalah yang darahnya paling murni."
Nyai Tirta melangkah maju, suaranya tajam. "Kalau begitu pulanglah dan katakan pada para bangsawan itu, Ratna sudah mati. Dia tidak punya kepentingan dengan takhta berlumur racun kalian!"
Tetapi Wirangga tidak beranjak. Ia merogoh balik kainnya dan mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus sutra kuning—warna yang hanya boleh disentuh keluarga raja. Ia membukanya perlahan.
Sebuah keris kecil. Bilahnya berpamor seperti aliran sungai, gagangnya dari gading yang menguning oleh usia. Ratna mengenalinya seketika, walau ia tak tahu dari mana ingatan itu datang. Keris Naga Sasra—pusaka pribadi raja, yang menurut hukum lama hanya boleh diwariskan kepada darah yang ditunjuk untuk meneruskan dinasti.
"Sebelum mangkat, Sang Prabu menitipkan ini," kata Wirangga, suaranya nyaris berbisik. "Beliau menyebut nama Gusti Putri. Hanya nama Gusti. Tidak ada saksi lain selain hamba dan Resi Patala, penasihat agung."
Dunia di sekeliling Ratna terasa menyempit. Ia menatap keris itu, lalu menatap mata tua sang tumenggung. Di desa ini, ia belajar membaca manusia seperti membaca tanda-tanda hujan. Lelaki ini tidak berbohong. Tetapi kebenaran, ia juga tahu, sering kali jauh lebih berbahaya daripada dusta.
"Kalau aku tinggal di sini," kata Ratna akhirnya, suaranya rendah, "apa yang terjadi pada Wilwa?"
Wirangga mengangkat wajahnya. "Perang, Gusti. Adipati Krendrawira dari barat sudah mengumpulkan pasukan. Patih Suryaning di ibu kota memegang segel kerajaan dan mengaku berhak menentukan raja. Antara dua singa itu, rakyat yang akan terinjak. Desa-desa seperti ini akan dibakar. Sawah akan jadi medan tempur."
Ratna memejamkan mata. Ia memikirkan anak-anak yang ia ajari membaca di bawah pohon beringin. Memikirkan Nyai Tirta yang sudah terlalu tua untuk mengungsi. Memikirkan tanah ini—satu-satunya rumah yang pernah benar-benar menjadi miliknya.
Lalu ia membuka mata, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ada sesuatu yang dingin dan tajam menyala di dalamnya. Sesuatu yang ia warisi dari ayahnya, mungkin. Sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Nyai," katanya tanpa menoleh. "Siapkan kainku yang paling layak."
Nyai Tirta tersedak napasnya sendiri. "Nduk—"
"Aku tidak akan membiarkan mereka membakar Walangan." Ratna meraih keris itu dari tangan Wirangga. Gading itu terasa dingin dan akrab di telapaknya. "Kalau takhta itu memang darahku, maka aku akan duduk di atasnya. Bukan untuk mahkota. Tapi untuk memastikan tidak ada yang lebih buruk yang menaikinya."
Tumenggung Wirangga menunduk dalam-dalam, dahinya menyentuh tanah. "Daulat, Gusti Putri."
Malam itu, untuk terakhir kalinya, Ratna tidur di gubuk tanah berdinding bambu. Esok harinya, pedati tertutup kembali datang menjemputnya—sama seperti sepuluh tahun lalu, tetapi kali ini menuju arah sebaliknya.
Menuju keraton. Menuju sarang ular.