Bab 1 — Hari yang Terlalu Panjang
Seharian itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Lia berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang sepi, menahan napas setiap kali langkahnya terasa goyah. Sejak pagi, kakinya sudah membawanya ke banyak tempat—kos sempit di gang sempit, kontrakan yang katanya murah tapi nyatanya tidak ramah dompet, sampai papan pengumuman kusam yang isinya sudah tidak relevan. Semua jawaban sama saja, hanya berbeda nada.
“Sudah terisi.” “Kurang cocok.” “Harganya segitu, kalau mau silakan.”
Tas ransel di punggungnya terasa semakin berat, padahal isinya hanya pakaian sederhana dan beberapa barang penting. Bukan barang-barang itu yang menekan, melainkan pikiran. Uang di dompetnya tidak banyak, dan malam sebentar lagi datang.
Langkah Lia terhenti di depan sebuah rumah kecil yang terlihat tenang. Tidak besar, tidak mencolok, tapi rapi. Pagar kayunya rendah, catnya sedikit pudar, tapi terawat. Di halaman depan, deretan tanaman hijau tumbuh berjajar. Ada cabai, ada tomat, dan beberapa tanaman lain yang terlihat sehat.
Entah kenapa, Lia berhenti di sana.
Ia menelan ludah. Kepalanya terasa ringan, pandangannya mulai kabur. Udara terasa berat di dadanya. Ia mencoba duduk, mencoba bertahan, tapi tubuhnya tidak mau diajak bekerja sama.
Langit memudar. Suara di sekitarnya menghilang.
Dan Lia jatuh.
—
Rey sedang menyiram tanaman ketika menyadari ada sesuatu yang aneh di depan rumahnya.
Seseorang tergeletak di dekat pagar.
Ia mematikan keran, meletakkan selang dengan rapi, lalu berdiri beberapa detik. Rumah itu jarang didatangi orang. Jalan di depannya juga bukan jalan ramai. Pemandangan seperti ini bukan hal biasa.
Rey melangkah mendekat. Perempuan itu tampak kelelahan, wajahnya pucat, napasnya pendek. Tasnya tergeletak di samping, setengah terbuka.
Ia berjongkok, memastikan perempuan itu masih bernapas dengan baik. Setelah yakin, Rey mengangkat tubuh itu dengan hati-hati. Tidak ada keraguan di gerakannya, seolah ia sudah memutuskan sejak awal apa yang harus dilakukan.
Pintu rumah dibuka, lalu ditutup kembali dengan pelan.
Rey membaringkan perempuan itu di sofa kecil di ruang tengah. Ia mengambil kain bersih, membasahinya, lalu meletakkannya di dahi perempuan itu. Setelah itu, ia duduk di kursi seberang, menunggu dalam diam.
Rumah kembali sunyi.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu bergerak. Kelopak matanya berkedip pelan sebelum terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit yang asing, lalu langsung duduk setengah terkejut.
“Eh—” suaranya serak.
“Tenang.”
Satu kata. Datar. Tapi cukup membuatnya berhenti bergerak.
Lia menatap lelaki di depannya. Tinggi, wajahnya tenang, ekspresinya sulit ditebak. Bukan wajah yang mengintimidasi, tapi juga tidak ramah.
“Ini di mana?” tanya Lia pelan.
“Rumah saya.”
Jawabannya singkat. Rey mengambil segelas air dan meletakkannya di meja kecil.
“Minum dulu.”
Lia ragu sesaat, lalu menuruti. Tenggorokannya terasa lega setelah beberapa teguk.
“Aku pingsan, ya?” tanyanya, mencoba mengingat.
“Iya.”
Lia menghela napas. “Maaf. Aku nggak bermaksud… merepotkan.”
“Kamu terlalu capek,” kata Rey. “Seharian di luar?”
“Iya. Cari tempat tinggal.”
Rey terdiam. Ia memperhatikan Lia sebentar, lalu berkata, “Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sini.”
Lia menatapnya, kaget. “Serius?”
“Iya.”
“Gratis?” tanyanya ragu.
“Iya.”
Lia bingung harus bereaksi bagaimana. Ia menunggu kelanjutan kalimat itu, dan benar saja.
“Tapi kamu yang urus rumah,” lanjut Rey. “Masak, bersih-bersih. Yang biasa.”
Hening menyelimuti ruangan.
“Aku nggak punya banyak uang,” kata Lia jujur.
“Tidak perlu,” jawab Rey.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya, Lia mengangguk kecil. “Aku terima.”
Rey mengangguk satu kali, seolah kesepakatan itu sudah cukup.
—
Malam turun tanpa terasa.
Lia duduk di kamar kecil yang kini jadi tempatnya. Ranjang sederhana, lemari kayu, meja kecil di dekat jendela. Tidak ada hiasan, tapi bersih dan nyaman. Terlalu rapi untuk rumah yang baru saja ia masuki.
Ia keluar kamar dan melihat Rey di dapur.
“Kamu lapar?” tanya Rey.
“Iya, sedikit.”
“Ada bahan. Masak saja.”
Lia tertawa kecil. “Aku masaknya sederhana.”
“Tidak apa-apa.”
Lia mulai memasak dengan hati-hati, meski tetap ada suara wajan yang terlalu keras dan sendok yang jatuh. Rey tidak menegur, hanya memperhatikan dari kejauhan.
Mereka makan bersama di meja kecil. Tidak banyak bicara, tapi suasananya tidak canggung.
“Enak,” kata Rey singkat.
Lia tersenyum lebar.
Malam itu, rumah kecil itu tidak lagi terasa kosong. Untuk pertama kalinya setelah hari yang panjang dan melelahkan, Lia merasa sedikit aman.
Dan Rey, yang sudah lama terbiasa sendiri, tidak menyadari bahwa hari itu menjadi awal dari perubahan kecil dalam hidupnya.
Bab 2 — Aturan yang Tidak Tertulis
Pagi datang dengan pelan, menyusup lewat celah jendela kamar kecil itu. Lia terbangun dengan perasaan asing, seolah ia sedang berada di tempat yang bukan miliknya, tapi juga tidak sepenuhnya membuatnya ingin pergi. Ia menatap langit-langit beberapa detik, mencoba mengingat di mana dirinya.
Rumah kecil. Sofa. Lelaki pendiam.
Rey.
Nama itu muncul di pikirannya pelan-pelan. Lia duduk, merapikan rambutnya yang sempat kusut semalaman, lalu bangkit. Kakinya masih sedikit pegal, tapi tidak sampai membuatnya mengeluh. Ia membuka pintu kamar perlahan, takut menimbulkan suara berlebihan.
Rumah itu sunyi.
Tidak ada suara televisi, tidak ada radio, bahkan tidak ada bunyi kipas angin. Lia melangkah ke ruang tengah. Sofa tempat ia dibaringkan semalam sudah rapi, bantalnya tertata seperti semula. Dapur tampak bersih, meja makan kosong.
Ia melongok ke luar lewat pintu depan yang sedikit terbuka. Di halaman, Rey sudah ada di sana. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang, tangannya sibuk merapikan tanaman. Gerakannya tenang, seperti seseorang yang tidak pernah terburu-buru oleh apa pun.
Lia berdiri beberapa langkah dari pintu, memperhatikannya. Ada sesuatu yang terasa menenangkan dari pemandangan itu. Rumah kecil, tanaman hijau, pagi yang tenang.
“Kamu sudah bangun,” kata Rey tanpa menoleh.
Lia tersentak kecil. “Iya. Aku kira kamu belum sadar.”
Rey berdiri, menepuk tanah dari tangannya. “Kamu masih capek?”
“Lumayan, tapi sudah mendingan.”
Rey mengangguk. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Ia kembali fokus ke tanamannya.
Lia merasa sedikit canggung. Ia berdiri, tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya, ia berkata, “Aku mau mulai beres-beres.”
“Mulai dari dapur,” jawab Rey singkat.
Lia mengangguk, lalu masuk kembali ke dalam rumah. Ia membuka lemari dapur, menata ulang piring yang sebenarnya sudah rapi. Tangannya bergerak otomatis, mungkin karena terbiasa melakukan hal-hal kecil seperti ini. Meski rumah itu tidak berantakan, Lia tetap menemukan cara untuk membuat dirinya merasa berguna.
Beberapa menit kemudian, Rey masuk.
“Ada beberapa aturan,” katanya.
Lia langsung berhenti bergerak. “Aturan?”
“Tidak banyak,” lanjut Rey. “Saya tidak suka suara keras pagi-pagi. Pintu ditutup pelan. Barang dikembalikan ke tempatnya.”
“Oke,” jawab Lia cepat.
“Kalau mau keluar, bilang.”
“Iya.”
“Dan… jangan sentuh laci kamar saya.”
Lia mengangguk lagi. Kali ini lebih pelan. “Aku nggak berniat.”
Rey tidak menanggapi, hanya mengangguk kecil. Ia mengambil gelas, menuang air, lalu duduk di kursi dekat jendela. Matahari pagi menyentuh sebagian wajahnya, membuat garis wajahnya terlihat lebih lembut.
Lia mencuri pandang. Lelaki ini tidak banyak bicara, tapi tidak membuatnya merasa diabaikan. Justru sebaliknya, kehadirannya terasa jelas meski tanpa kata-kata.
“Aku akan masak,” kata Lia setelah beberapa saat.
“Pagi ini?”
“Iya. Sekadar nasi dan telur.”
“Silakan.”
Lia mulai bekerja. Ia menyalakan kompor, memecahkan telur dengan hati-hati. Kali ini tidak ada suara wajan jatuh atau sendok terlempar. Ia belajar cepat.
Ketika makanan tersaji, Rey mendekat dan duduk. Mereka makan dalam diam, tapi tidak terasa canggung seperti semalam. Heningnya berbeda. Lebih ringan.
“Kamu bisa tinggal di sini berapa lama?” tanya Lia tiba-tiba.
Rey berhenti mengunyah. “Selama kamu perlu.”
Lia menatapnya, sedikit terkejut. “Aku nggak mau merepotkan.”
“Kamu tidak.”
Jawaban itu singkat, tapi membuat d**a Lia menghangat sedikit.
Setelah sarapan, Lia membersihkan meja dan mencuci piring. Rey kembali ke halaman. Kali ini Lia ikut keluar, berdiri di sampingnya.
“Tanamannya rapi,” kata Lia.
Rey mengangguk. “Saya suka melihat sesuatu tumbuh dengan teratur.”
“Semua ini kamu tanam sendiri?”
“Iya.”
Lia jongkok, memperhatikan daun-daun kecil yang hijau segar. “Aku nggak pernah nanam apa pun sebelumnya.”
Rey meliriknya sebentar. “Kalau mau belajar, bisa.”
Mata Lia sedikit berbinar. “Boleh?”
“Boleh.”
Hari itu berlalu tanpa kejadian besar. Lia membersihkan rumah, Rey mengurus kebunnya. Mereka tidak banyak berbicara, tapi keberadaan satu sama lain terasa nyata. Ada jarak, tapi tidak dingin.
Menjelang sore, Lia duduk di ruang tengah, menulis sesuatu di buku catatannya. Rey lewat, melirik sekilas.
“Kamu menulis?”
“Cuma catatan kecil. Supaya nggak lupa.”
Rey tidak bertanya lebih jauh.
Malam datang lagi. Kali ini, Lia tidak merasa asing. Rumah kecil itu mulai terasa sedikit lebih ramah. Ia menutup jendela, mematikan lampu dapur, lalu kembali ke kamarnya.
Sebelum tidur, Lia berhenti sejenak. Ia menyadari sesuatu yang sederhana tapi penting.
Hari ini, tidak ada yang mengusirnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, itu sudah lebih dari cukup.