Hati Zahra terasa diiris sembilu mengingat kenangannya saat pertama berkenalan dengan pria yang ternyata adik majikannya. Ia mengenang saat dilamar dengan cara romantis sampai-sampai tidak bisa melupakan momen indah itu.
Sementara itu Zidan tampak gelisah setelah bertemu dengan Zahra. Apa yang harus ia katakan pada Zahra, kenapa tidak datang lagi sesuai yang dijanjikan. Memang pada dasarnya Zidan adalah seorang playboy. Tidak bisa setia dengan satu wanita.
“Zidan, kamu ada apa pagi-pagi datang ke rumah Mbak, bukannya langsung ke rumah sakit?” Pertanyaan itu Anita yang tiba-tiba membuat Zidan sedikit terkejut dari pikirannya tentang Zahra.
“Ah, iya. Kami memang mau ke rumah sakit, tapi mampir sebentar kemari, minta sarapan tambahan.” Zidan tertawa begitu juga Arga dan Anita lalu sejenak melihat ke arah pintu dapur. Ia tahu pasti Zahra sedang menangis di sana.
“Sarapan tambahan? Ada-ada saja kamu.” Semuanya pun tertawa.
“Mbak, minta gula dong, kopinya masih kurang manis.” Arga masih sedikit melirik ke Arah dapur.
“Ada di dapur, aku panggil Zahra, ya!”
“Tidak usah, biar aku ambil sendiri.” Zidan kemudian bangkit dari duduknya dan menuju dapur.
Benar saja Zidan melihat Zahra menangis sejadi-jadinya tanpa suara sambil duduk meringkuk di lantai dapur.
Zidan mengusap wajahnya sebelum mendekati Zahra, ia juga merasa sangat bersalah sudah meninggalkan Zahra begitu saja. Perlahan Zidan menghampiri Zahra dan duduk di sampingnya.
“Aku tahu kamu kecewa denganku. Maafkan aku yang memberi harapan yang tidak jelas padamu,” ucap Zidan pelan.
Zahra menghapus air matanya. “Bicarakan nanti, aku sedang bekerja.” Zahra kemudian bangkit lalu mengambilkan gula untuknya. Zidan pun bangkit dan melihat Zahra begitu dalam.
“Zahra, maafkan aku. Aku punya alasan dan nanti aku jelaskan semuanya,” ucap Zidan pelan dan hanya mereka berdua yang mendengar.
“Gulanya mana, Sayang.” Risa tiba-tiba masuk ke dapur.
Zahra menunduk saat Risa melihatnya dengan tatapan sedikit aneh karena Zidan berdiri begitu dekat dengan Zahra. ” Maaf mbak, kalau kurang manis. Saya takut nanti kemanisan, jadi saya kasih sedikit gula.” Zahra sedikit melihat Risa.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti, saya memang tidak begitu suka terlalu manis, sebenarnya sudah pas, tapi sedikit lagi gulanya. ” Risa tersenyum lalu mengambil gula dari tangan Zidan. Zidan pun langsung keluar dari dapur dengan segudang pertanyaan. Mengapa Zahra bekerja di rumah Kakaknya?
Zahra kembali menangis setelah tahu Zidan mempunyai kekasih. Bagaimana tidak bertambah sakit, statusnya dengannya saja tidak jelas dan orang yang dicintainya bertahun-tahun justru memiliki wanita lain.
Zahra secepat kilat membereskan pekerjaannya, setelah itu ia ke kamarnya. Di kamar ia menangis sambil melihat foto dirinya dan Zidan saat lamaran lalu ia melihat jari manisnya yang masih ada cincin pertunangan.
“Mas Lio. Kamu tega, kamu jahat.” Zahra memeluk foto tersebut dan masih menangis.
“Aku harus minta penjelasan tentang statusku. Kalau Memang harus berakhir, akan aku kembalikan cincin ini. Aku bisa memulai hidup baru.” Zahra kemudian menghapus air matanya, kemudian menyimpan fotonya di laci.
Sementara itu Arga dan istri serta adik dan kekasihnya masih sarapan bersama. Merasa sudah kenyang Arga pun pamit untuk berangkat ke kantor.
“Sudah, Ma. Aku mau siap-siap ke kantor dulu!” ucap Arga.
Arga mencium kening sang istri kemudian berangkat ke kantor dan tak lama Zidan serta tunangannya juga berangkat ke rumah sakit karena mereka berdua seorang dokter.
Sesampainya di kantor Arga langsung memimpin rapat dan membahas proyek barunya. Arga adalah pemilik dan CEO sebuah perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi. Ia juga memiliki beberapa hotel dan restoran serta tempat Resort yang tersebar di Indonesia ia juga bekerja sama dengan perusahaan lain untuk lebih mengembangkan mega bisnisnya. Di usia empat puluh tahun ia sudah sukses dan bisa mengembangkan bisnis milik Almarhum papanya dan semua juga campur tangan sang istri.
“Baiklah, rapat sampai disini dan terima kasih atas kerjasamanya.” Arga mengakhiri rapat dengan lega. Semua staf segera kembali ke tempatnya masing-masing termasuk dirinya.
“Rere, mana laporan yang aku minta?” tanya Arga pada Sekretarisnya saat sampai di ruangannya.
“Ini pak.” Rere meletakkan map di meja Arga.
“Pak, urusan pekerjaan yang ini kan, sudah selesai. Saya boleh ambil cuti ?” tanya Rere sedikit takut menyampaikan niatnya untuk meminta libur.
Mata Arga melihat Rere tajam lalu melihat map-nya kembali dan menutupnya. Ia menggeser map tersebut ke arah Rere. Memang Rere sudah lama meminta cuti, Namun, ia selalu melarangnya karena proyek yang ia tangani belum selesai.
“Butuh cuti berapa hari?” tanya Arga datar.
“Seminggu, Pak! Saya mau menikah,” jelas Rere.
“Cukup satu minggu?” Arga bangkit lalu mengambil jasnya.
“Cukup, Pak!”
“Ya sudah, aku beri waktu 10 hari, katakan saja pada bagian HRD. Kamu juga butuh honeymoon, kan.” Arga sedikit menggoda Rere
“Isss ... Serius, pak?” tanya Rere tidak percaya bosnya itu memberikan waktu cuti lebih lama.
“Iya, ditunggu undangannya! Oh iya, aku pulang, kalau ada yang mencariku, suruh besok saja.”
“Baik, pak! Oh iya, Pak, kenapa akhir-akhir ini Bapak sering pulang cepat?”
“Istriku sedang sakit.” Arga tersenyum lalu berlalu dari hadapan sekretaris cantiknya itu.
“Wajarlah, istri Bapak sudah tua,” batin Rere sambil mengikuti langkah bosnya keluar ruangan.
Sesampainya di rumah Arga mencari keberadaan istrinya, rupanya sang istri sedang duduk santai di teras samping rumah dekat kolam renang.
“Hai, Sayang.” Arga mencium kening Anita.
“Papa, Papa sudah pulang?” Anita heran kenapa tiba-tiba suaminya pulang lebih awal.
“Kangen sama kamu!” Arga tersenyum lalu duduk di samping sang istri dan memeluknya.
Anita tersenyum sambil membalas pelukan suaminya. Ia begitu beruntung memiliki suami yang sangat setia dan tidak pernah berpikir untuk mencari wanita lain yang lebih muda darinya. Justru semakin lama suaminya semakin mencintainya.
“Pa, nanti kalau Mama meninggal, Papa boleh menikah lagi.” Anita melihat sang suami yang tatapan berubah menjadi sedikit geram.
“Mama bicara apa, hm!” Arga benar-benar tidak menyukai pembahasan yang tidak penting baginya.
“Menikah dengan yang lebih muda ya, siapa tahu nanti Papa bisa punya anak dan mengurus Papa lebih baik.” Anita tersenyum dan mengusap lembut pipi Arga.
“Mama, cukup! Papa tidak mau lagi membahas ini, kita akan menua bersama, kita akan sama-sama di panti jompo. Papa tidak mengharapkan anak, yang Papa harapkan hanya kamu, Sayang.” Arga tidak suka Anita terus membahas kematian dirinya.
Sementara Arga hanya berharap terus bersama Anita sesuai janjinya dulu. Anita bicara seperti itu karena ia merasa bersalah tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Anita di vonis mandul dipernikahan pertamanya hingga bertemu Arga yang menerima dirinya apa adanya. Saat itu Arga berusia dua puluh delapan tahun dan Anita tiga puluh delapan tahun dan mereka memutuskan untuk menikah setelah kenal dua tahun. Walau keluarga Arga menentang hubungan mereka, mereka tetap menikah dan awet sampai saat ini.
“Iya, Pa.” Anita tersenyum tipis lalu memeluk suaminya kembali.
Arga diam seribu bahasa, sudah puluhan kali ia mendengar Anita membahas pernikahan dan kematian. Arga bosan dengan ucapan tersebut. Arga kemudian berbaring di pangkuan Anita seperti biasa. Tidak dipungkiri hati mereka sama-sama kesepian tanpa hadirnya buah hati. Arga juga bingung jika Anita pergi lebih dulu atau sebaliknya. Bagaimana dengan Anita jika dirinya meninggal lebih dulu, siapa yang menjaga istrinya? Mana mungkin ia membebani istrinya yang sudah tidak muda lagi dengan banyak bisnis-bisnisnya atau bagaimana jika Anita lebih dulu? Bagaimana ia akan menjalani hari tanpa orang yang sangat ia cintai.
Anita juga bingung, siapa yang akan mengurus suaminya jika ia tiada dan bagaimana dengan pencapaian suaminya selama ini. Entahlah Anita berharap kelak jika ia tiada, suaminya menikah lagi dan mempunyai keturunan.