Murtiwati membuat daftar dengan cara yang sama ia membuat segala sesuatu: bertanggal, berurut, tak meninggalkan kolom kosong. Di atas meja bengkelnya ia bentangkan kertas besar, dan ia menulis di puncaknya satu pertanyaan: siapa yang punya akses ke kunci induk dari ketiga tempat yang dibobol?
Ia mulai dari arsip vendor. Beberapa malam sebelumnya ia telah masuk ke kantor vendor itu — bukan dengan membongkar, karena ia tak pernah membongkar, melainkan dengan akses yang ia ragukan haknya: ia masih punya kartu akses lama dari masa ia menyubkontrak untuk mereka, kartu yang seharusnya dikembalikan tapi tak pernah diminta kembali. Ia masuk lewat pintu samping, menemukan lemari arsip kunci induk, dan di sana ia melihat apa yang ia takutkan. Beberapa amplop kunci induk — termasuk yang ia rakit sendiri — masih ada, tapi pada beberapa amplop, segel kertasnya pernah dibuka dan ditempel ulang dengan rapi, terlalu rapi, oleh tangan yang ingin menyembunyikan bahwa ia pernah membuka. Dan pada satu amplop, di bawah loupe, ia menemukan jejak yang ia kenal: bekas impresi pada kunci induk itu sendiri, goresan halus dari kunci yang dipakai untuk mencetak kunci kosong lain. Seseorang telah duduk di arsip ini, dengan tenang, dan menyalin kunci-kunci induk kota.
Kembali di bengkel, ia memetakan siapa yang punya akses ke arsip itu. Bukan banyak orang. Pegawai vendor, beberapa orang. Pemilik vendor. Dan — ia menahan napas saat menuliskannya — sejumlah kecil mitra terpercaya yang punya kartu akses lama, dirinya termasuk. Lingkaran itu kecil. Murtiwati menyempitkannya dengan logika akses yang dingin: siapa di lingkaran kecil ini yang juga punya pengetahuan teknik impresi tingkat tinggi, yang juga tahu masa lalunya di bank, yang juga punya alasan dan kesempatan untuk menyamar sebagai dirinya?
Ia mencoret nama-nama satu per satu, seperti membuang pin yang tak naik ke ketinggian yang pas. Pegawai biasa tak punya keahlian impresi. Pemilik vendor terlalu sibuk dan terlalu kasar tangannya. Tapi ada satu nama yang tersisa, satu sosok yang justru tak pernah dicurigai siapa pun karena reputasinya bersih tak bercacat — seseorang yang dipercaya seluruh kota memegang kunci-kunci penting, yang dititipi akses oleh banyak orang justru karena ia tampak paling tak mungkin menyalahgunakannya. Seseorang yang berdiri di posisi persis seperti Murtiwati dulu di bank: orang dalam yang dipercaya, yang justru karena kepercayaan itu bisa membuka apa saja tanpa pernah dicurigai.
Dan saat Murtiwati menatap nama itu di kertasnya, seluruh strategi penjebak terbuka di depannya seperti pintu yang akhirnya menyerah. Penjebak ini tidak pernah benar-benar mencuri barang. Barang hanya pengalih. Yang ia curi adalah kepercayaan. Ia memetakan siapa yang dititipi kunci oleh seluruh kota — siapa yang dipercaya memegang akses karena reputasinya — lalu satu per satu ia menggantikan posisi mereka, menyalin kunci mereka, dan mengarahkan setiap kecurigaan ke orang lain yang reputasinya bisa diragukan. Kota ini berjalan di atas kepercayaan: orang menitipkan kunci pada vendor, vendor mempercayai ahli kunci, ahli kunci mencatat semuanya. Penjebak membaca seluruh jaringan kepercayaan itu seperti membaca hierarki kunci induk, dan menemukan titik paling rapuhnya: bahwa kepercayaan, sekali dipinjam, bisa dipakai untuk membuka segalanya — termasuk untuk menutup pintu di belakang seseorang yang dijadikan kambing hitam.
Murtiwati hampir menuliskan nama itu di baris kesimpulan. Pulpennya menyentuh kertas. Untuk pertama kali sejak surat tanpa nama itu datang, ia merasa di ambang membaca seluruh pintu sampai ke ujung.
Lalu telepon bengkelnya berdering.
Iptu Raharja. Suaranya berbeda dari biasa, lebih kaku, dan di belakangnya terdengar suara orang dan langkah kaki. "Bu Murti. Saya minta Ibu tetap di bengkel. Jangan ke mana-mana."
"Ada apa, Iptu?"
"Kami sedang dalam perjalanan ke sana. Dengan surat perintah." Jeda. "Bukan untuk minta keterangan. Penggeledahan. Bengkel Ibu."
Murtiwati menatap kertas di depannya, daftar pemegang kunci, nama yang nyaris ia tulis. Lalu ia menatap bengkelnya — rak-rak silinder berlabel, mesin duplikat, laci besi tempat ketujuh buku lognya tersimpan, seluruh hidupnya yang ia susun begitu rapi sehingga tak ada yang bisa menuduhnya tanpa bukti. Dan dengan kejernihan yang membuatnya mual, ia mengerti mengapa penjebak menyuruhnya membuka pintu yang bukan haknya, mengapa surat itu datang sekarang, mengapa segala sesuatu menanjak ke titik ini dengan ritme yang terlalu sempurna untuk kebetulan.
Ia sedang dibuat keluar. Diumpan untuk menyelidiki, untuk masuk ke arsip vendor, untuk meninggalkan jejak akses yang tak berhak — sementara di waktu yang sama, di bengkelnya yang ia tinggalkan untuk menyelidiki, sesuatu telah ditanam.
"Iptu," katanya, dan suaranya tenang dengan ketenangan orang yang sudah melihat dasar jurang. "Apa pun yang akan Bapak temukan di bengkel saya, saya minta satu hal. Catat persis di mana letaknya. Foto. Bertanggal. Karena saya akan butuh tahu di mana benda yang bukan milik saya itu diletakkan oleh tangan yang bukan tangan saya."
Di seberang, hening sejenak. "Kenapa Ibu yakin akan ada sesuatu di sana?"
"Karena," kata Murtiwati, menatap nama yang nyaris ia tulis di kertas, "saya baru saja hampir tahu siapa. Dan orang yang menyusun ini tidak akan membiarkan saya menulis nama itu tanpa menutup pintunya lebih dulu. Dia selalu lebih cepat satu kunci dari saya. Selalu."
Ia meletakkan telepon. Di luar, samar, terdengar mobil mendekat. Ia menatap bengkelnya untuk apa yang ia tahu mungkin terakhir kali sebagai orang bebas, dan ia melipat kertas daftar pemegang kunci itu, menyimpannya rapat di saku, jauh dari rak-rak yang sebentar lagi akan dibuka oleh tangan yang membawa surat perintah. Satu nama. Ia hampir punya satu nama. Dan kota yang dibangun di atas kepercayaan ini sebentar lagi akan menemukan, di bengkel perempuan yang paling menjaga kepercayaan, bukti bahwa kepercayaan itu palsu.