Pukul tujuh lewat lima puluh dua, mesin absen sidik jari di lobi Cabang Rawa Belong mengeluarkan bunyi yang sama seperti sepuluh tahun terakhir: cuit pendek, lalu lampu hijau yang berkedip ragu-ragu, seakan ikut malas memastikan siapa yang barusan menempelkan jari.
Wisnu Aryasatya berdiri di depan mesin itu sambil memegang jempol Pak Sukarman di tangannya. Bukan kiasan. Jempol Pak Sukarman yang asli, hangat dan agak berkeringat, ditempelkan ke kaca pemindai oleh Wisnu karena pemiliknya masih terjebak di angkot, tiga kilometer jauhnya, dan menelepon dengan suara setengah panik. Mesin berbunyi hijau. Pak Sukarman, secara administratif, telah tiba di kantor pukul 07.53. Secara fisik, ia sedang berdiri di pinggir jalan menawar ojek.
"Sudah," kata Wisnu ke telepon, menjepit gawai itu di antara bahu dan pipi. "Jam segini. Santai. Tapi besok bawa jempolmu sendiri, aku capek jadi panitia absen."
Di belakangnya, Hesti dari bagian penagihan sudah mengantre, tangan terjulur memberikan kartu identitas suaminya. "Wisnu, sekalian. Mas-ku sakit. Demam."
"Suamimu kerja di sini sejak kapan?"
"Ya enggak. Tapi kan kamu bisa bikin laporannya seolah dia tamu yang datang. Biar ada catatannya. Biar nanti kalau ditanya kenapa aku telat, aku bilang nganterin tamu."
Wisnu memandang Hesti cukup lama, lalu mengangguk pelan, karena logika rusak semacam itu adalah bahasa ibu di gedung dua lantai berkarpet kusam ini. Di Rawa Belong, kebenaran bukan soal apa yang terjadi, melainkan soal apa yang tercatat. Dan yang mencatat, sebagian besar, adalah dia.
Gedung itu sendiri tampak seperti sedang menua dengan terhormat tapi tanpa biaya perawatan. AC sentral di lantai satu mengeluarkan suara yang oleh anak-anak baru sering disangka truk pengangkut pasir lewat. Dispenser air di pojok pantry punya stiker tulisan tangan "GALON HABIS, SABAR" yang sudah pudar, dan entah kenapa galon itu memang selalu habis, seolah ada makhluk yang meminumnya diam-diam setiap malam. Di dinding dekat tangga, tergantung papan target tahunan. Angka di papan itu ditulis dengan spidol biru yang warnanya kini abu-abu. Targetnya: dua koma satu miliar. Realisasi: kosong. Bukan nol yang ditulis. Memang dikosongkan, karena menulis nol terasa terlalu jujur.
Wisnu menaiki tangga dengan langkah yang sudah dihitung. Ia tahu persis: kalau ia naik terlalu cepat, ia akan tiba di mejanya sebelum kopi Bu Tum dari kantin sampai, dan duduk tanpa kopi adalah dosa. Kalau terlalu lambat, ia akan berpapasan dengan Pak Daliman, kepala cabang, yang punya kebiasaan menahan siapa pun di tangga untuk bercerita tentang ikan cupang peliharaannya. Maka Wisnu menaiki tangga dalam kecepatan yang ia sebut, dalam hati, kecepatan aman.
Di lantai dua, dunianya terbentang. Sepuluh meja, hanya enam yang benar-benar dipakai. Komputer-komputer tabung yang sudah seharusnya masuk museum tapi terlalu merepotkan untuk dibuang. Di sudut, ada ruangan kecil bertuliskan "SERVER & IT", yang isinya satu rak penuh kabel dan Reza, anak IT, yang pada pukul delapan pagi sudah setengah tertidur dengan kepala bersandar di tumpukan dus tinta printer.
Wisnu duduk. Ia menyalakan komputer, lalu, dengan keahlian yang ia bangga-banggakan diam-diam, membuka tiga dokumen sekaligus: satu spreadsheet penagihan yang sudah lama selesai, satu surat yang sudah dikirim minggu lalu, dan satu email kosong dengan subjek "Re: Tindak Lanjut" tanpa penerima. Ketiganya dibiarkan terbuka. Inilah seninya. Siapa pun yang lewat di belakang punggungnya akan melihat layar penuh kerja: angka, surat, email. Padahal tidak ada satu pun yang sedang dikerjakan. Wisnu menyebutnya tata panggung. Terlihat sibuk adalah pekerjaan yang jauh lebih melelahkan daripada benar-benar bekerja, dan ia sudah menguasainya sampai ke tingkat yang membuatnya, sejujurnya, lelah secara filosofis.
Kopi datang. Bu Tum, perempuan paruh baya pemilik kantin di belakang gedung, meletakkan gelas plastik berisi kopi tubruk di meja Wisnu tanpa diminta. "Yang kemarin belum dibayar, Nu. Sama kemarinnya lagi."
"Catat dulu, Bu. Akhir bulan."
"Akhir bulan kapan? Akhir bulan yang mana? Bumi sudah lewat banyak akhir bulan."
"Akhir bulan yang penuh berkah," kata Wisnu, dan Bu Tum mendengus sambil pergi, karena bahkan ia tahu melawan Wisnu soal utang adalah membuang tenaga.
Pukul sembilan, terdengar pengumuman lisan dari Pak Daliman: rapat pagi di ruang tengah. Tidak ada agenda. Tidak pernah ada agenda. Rapat di Rawa Belong bukan alat untuk memutuskan sesuatu; ia adalah ritual. Tempat tujuh orang dewasa duduk melingkar, minum kopi gratis kantor, dan membicarakan hal-hal yang tidak akan ditindaklanjuti oleh siapa pun. Wisnu masuk paling akhir, memilih kursi paling dekat pintu, posisi strategis seorang veteran: dekat jalan keluar.
Pak Daliman membuka rapat dengan menanyakan kabar cupangnya kepada semua orang, lalu beralih membahas atap bocor di gudang, lalu entah bagaimana sampai ke topik harga cabai. Yanto, si tukang gosip dari bagian gudang, menyumbang informasi bahwa katanya manajer cabang Bekasi selingkuh dengan sekretaris cabang Depok, padahal Rawa Belong tidak punya urusan apa pun dengan Bekasi maupun Depok. Bu Sari, senior penjualan yang umurnya lima puluh empat dan amarahnya selalu siap, memprotes bahwa kopinya kurang manis. Reza, yang entah kapan masuk ke ruangan, sudah tertidur lagi di pojok.
Di tengah semua itu, Wisnu memainkan peran yang paling ia kuasai: hadir tanpa terlibat. Ia mengangguk pada saat yang tepat, tertawa dua detik setelah Yanto melempar lelucon, dan ketika Pak Daliman bertanya, "Bagaimana menurutmu, Wisnu?", ia menjawab dengan kalimat yang selama bertahun-tahun terbukti sakti: "Saya rasa kita perlu mengevaluasi dulu, Pak." Kalimat itu tidak berarti apa-apa, tapi terdengar bijak, dan yang paling penting, mengakhiri pertanyaan tanpa membebani dirinya pekerjaan apa pun.
Pukul sebelas, jam sibuk yang sebenarnya tiba. Telepon mulai berdering, satu klien lama menanyakan pengiriman yang tertunda. Saat itulah Wisnu melakukan apa yang membuatnya legenda kecil di kantor ini: ia menghilang. Bukan kabur dramatis. Ia hanya berdiri, mengambil map kosong, menyelipkannya di ketiak dengan wajah penuh urusan penting, lalu berjalan ke arah toilet lantai bawah, tempat ada jendela kecil yang menghadap pohon mangga, dan ia berdiri di sana selama dua puluh menit, memandang mangga yang tidak akan pernah matang, sampai badai telepon reda dan diangkat orang lain.
Ketika ia kembali, Hesti sudah menyelesaikan telepon itu, Bu Sari sudah memarahi seseorang, dan dunia kecil di lantai dua kembali ke keseimbangannya yang nyaman dan lamban. Wisnu duduk, menyeruput kopi yang sudah dingin, dan merasa puas dengan cara yang ia tidak pernah akui kepada siapa pun: bahwa kantor karatan yang dilupakan pusat ini, dengan segala kemalasan dan absen palsunya, adalah satu-satunya tempat di dunia yang membuatnya merasa, anehnya, di rumah.
Ia tidak tahu bahwa di server pusat, ratusan kilometer jauhnya, seseorang baru saja menekan tombol kirim pada email yang tidak seharusnya pernah sampai ke kantor ini.