Hujan baru saja berhenti ketika Jraka turun dari truk logging, dan tanah masih mengisap setiap langkah seolah enggan melepas siapa pun yang berani masuk. Ia berjongkok di tepi jalan tanah merah, menyalakan senter ke arah lumpur, dan membaca apa yang ditinggalkan oleh orang yang hilang itu seperti orang lain membaca kalimat.
Sepatu bot ukuran besar. Langkah tak rata, kaki kanan menyeret. Tiga jejak, lalu menghilang ke arah rawa gambut di mana pohon-pohon tumbang menumpuk seperti tulang raksasa.
"Namanya Tarmin," kata mandor kamp, lelaki gempal bernama Pak Selir yang berdiri di belakangnya dengan napas bau tembakau. "Operator chainsaw. Tadi sore dia pamit kencing, terus nggak balik. Anak-anak udah cari sampai batas blok dua belas, nggak ketemu."
Jraka tidak menjawab. Ia menyentuh tepi jejak dengan ujung jari, merasakan betapa basahnya, dan menghitung dalam hati. Lumpur seperti ini menutup diri pelan-pelan. Jejak ini belum tiga jam. Masih ada waktu, kalau Tarmin masih bisa berjalan.
"Berapa orang yang udah lewat sini sejak dia hilang?" tanya Jraka.
"Lima, enam."
Jraka menutup mata sebentar. Enam pasang sepatu menginjak jejak yang seharusnya ia baca. Orang-orang yang ingin menolong selalu menghancurkan apa yang bisa menolong. Ia bangkit, menyandang ranselnya, dan menatap rawa yang menelan cahaya senter hanya beberapa meter di depan.
"Saya masuk sendiri," katanya. "Kalian di sini. Kalau saya teriak dua kali pendek, kalian datang. Kalau satu kali panjang, kalian jangan datang."
Pak Selir mengernyit. "Kenapa jangan?"
"Karena artinya sudah terlambat dan saya nggak mau kalian lihat."
Delapan tahun jadi ranger pelacak, lalu masuk tim SAR hutan, telah mengajari Jraka bahwa hutan tidak jahat. Hutan hanya tidak peduli. Ia melangkah masuk ke gambut, kakinya tenggelam sampai betis, dan dunia berubah jadi bau—tanah asam, gas dari bawah, dan di bawah semua itu, samar, sesuatu yang membuat tengkuknya menegang tanpa ia tahu kenapa. Sesuatu yang manis dan salah.
Di masa lalu, Jraka akan mengabaikan firasat seperti itu. Firasat tidak menyelamatkan orang; pembacaan medan yang menyelamatkan. Tapi malam ini firasat dan pembacaan menunjuk ke arah yang sama, dan ia mengikuti keduanya, melompat dari satu akar tumbang ke akar berikutnya, membaca patahan ranting setinggi pinggang yang tidak mungkin dibuat babi atau rusa.
Sesuatu yang tinggi telah lewat sini. Sesuatu yang berjalan tegak.
Ia menemukan senter Tarmin pertama, masih menyala redup, tenggelam separuh di lumpur. Lalu ia menemukan helm proyek, retak. Lalu, di balik tumpukan kayu gelondongan yang dibiarkan membusuk oleh penebang yang tak pernah kembali mengangkutnya, ia menemukan Tarmin.
Jraka berhenti. Ia sudah melihat mayat. Ia pernah mengangkat orang yang tenggelam tiga hari, pernah membawa turun pendaki yang jatuh dari tebing. Ia pikir tidak ada lagi yang bisa membuatnya berhenti seperti ini.
Tarmin terbaring miring. Dari pinggang ke bawah, tubuhnya masih utuh, masih memakai celana kerja dan satu sepatu bot. Dari pinggang ke atas, ada yang telah memakannya. Bukan dikoyak sembarangan seperti kerja buaya atau beruang madu. Tulang rusuknya terbuka rapi ke samping, dan dagingnya hilang dengan cara yang—Jraka memaksa dirinya berpikir jernih—dengan cara yang metodis. Seperti seseorang yang tahu di mana otot melekat.
Ia menyorot tanah di sekitar mayat. Dan di lumpur basah, sejelas tanda tangan, ada jejak.
Bukan cakar beruang. Bukan kaki babi. Telapak panjang dengan lima jari, bantalan tebal di belakang, dan di ujung tiap jari, lubang dalam tempat sesuatu yang lebih keras dari kuku menancap. Telapak itu sebesar dua telapak tangan Jraka. Dan yang membuat perutnya naik bukan ukurannya.
Yang membuat perutnya naik adalah bahwa jejak itu berjalan dengan dua kaki. Tumit, telapak, jari, dorong ke depan. Pola langkah manusia. Pola langkah yang ia baca setiap hari. Hanya saja kaki yang membuatnya bukan kaki manusia.
Jraka berlutut di lumpur, jantungnya memukul rusuk, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun ia tidak tahu apa yang sedang ia lacak. Ia memotret jejak dengan ponsel, tangannya bergetar sedikit, lalu memarahi tangannya sendiri sampai berhenti. Bekerja. Pikirkan saja apa yang nyata. Mayat ini nyata. Jejak ini nyata. Yang membuatnya, apa pun itu, punya berat, punya kaki, punya pola—dan apa pun yang punya pola bisa dilacak, dan apa pun yang bisa dilacak adalah binatang, bukan hantu.
Ia berdiri, mengangkat tangan ke mulut, dan menarik napas untuk meniupkan satu seruan panjang—tanda bahwa sudah terlambat.
Lalu ia membeku.
Kabut di antara pepohonan telah bergerak. Bukan ditiup angin; tidak ada angin. Bergerak karena ada sesuatu yang besar melewatinya, jauh di luar jangkauan senter, dan Jraka mendengar napas yang bukan napasnya—dalam, basah, bergetar di dada yang lebih besar dari dada mana pun. Bau manis-salah itu kembali, lebih kuat, dan kali ini ia tahu apa baunya.
Bau yang sama dengan luka terbuka di tubuh Tarmin.
Jraka menurunkan tangannya. Ia tidak meniup peluit. Ia mundur, perlahan, satu langkah, menjaga senter tetap rendah, dan di kegelapan di hadapannya sepasang mata menangkap cahaya dan memantulkannya kembali—hijau pucat, setinggi dadanya, terlalu tinggi untuk apa pun yang berlutut, terlalu rendah untuk apa pun yang berdiri seperti manusia.
Di belakangnya, jauh di tepi rawa, ia mendengar suara orang-orang kamp memanggil namanya. Dan Jraka menyadari, dengan kejernihan dingin yang aneh, bahwa peluit panjang yang nyaris ia tiup tadi bukan untuk Tarmin.
Mata hijau itu berkedip, sekali, lalu hilang—bukan lari, melainkan menarik diri, seperti sesuatu yang memutuskan bahwa malam ini ia sudah kenyang. Jraka berdiri sendirian di gambut bersama satu mayat dan satu jejak yang mustahil, dan untuk waktu yang lama ia tidak bergerak, hanya mendengarkan hutan menutup kembali di sekelilingnya seolah tak ada apa-apa yang pernah terjadi.