"Diam!" bentak Kenzo, yang lalu membolak balikkan tubuh Inara yang ramping itu dengan mudah, ke kiri dan ke kanan, yang cukup memancing kemarahan Inara.
"Kau mau apa? Kau pikir tubuhku ini bantal?" tegur Inara, tidak suka. Ia berkali-kali menjauhkan tangan kekar Kenzo dari tubuhnya, namun selalu gagal. Tenaganya kalah jauh dari Kenzo.
"Disini rupanya," ucap Kenzo, yang lalu mengambil ponsel milik Theo dari bawah paha kiri Inara. Rupanya tanpa sadar gadis itu telah mendudukinya. Sontak raut wajah Inara merah padam.
Dengan kurang ajarnya Kenzo menyentuh dan memindahkan kakinya lalu mengambil ponsel dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk Inara.
"Cih! Dasar pria kurang ajar!" umpat Inara. Ia menatap punggung kekar Kenzo yang kini menghilang dari balik pintu kamar itu.
"Setidaknya bilang kalau mau cari ponsel, atau apalah itu alasannya, bukannya main sentuh, pakai bolak balik segala, dikiranya aku ini pisang goreng yang harus dibolak balik biar tidak gosong?" gerutu Inara. "Dasar pria m***m, jahat, super tega dan kejam. Kalau bukan karena papa aku tidak akan mau menikah dan tinggal di sini bersamamu!" Inara terus saja mengomel sembari merapikan tempat tidur.
"Kau memanggilku?" Tiba-tiba Kenzo bertanya sembari melongokkan kepalanya dari balik pintu yang terbuka setengah.
"Cih! Aku tidak melakukannya!" sinis Inara.
"Oh, kau mau aku peluk?" tanya Kenzo, yang kini melangkah masuk sembari menatap Inara tanpa berkedip, membuat gadis itu seketika bergidik ngeri.
"Tidak! Pergilah, bukankah kau sudah menemukan apa yang kau cari, Tuan kejam?" usir Inara.
"Kau kecewa karena aku menyentuhmu tanpa izin?" Kenzo terus saja bertanya sembari menyeringai.
"Sama sekali tidak, jangan ge-er!"
"Oh, ya sudah kalau begitu," ucap Kenzo yang lalu melangkah pergi, keluar dari kamar.
"Kau melupakan sesuatu, Tuan Kejam!"
Kenzo menghentikan langkahnya saat sudah di ambang pintu. Ia lalu menoleh, menatap Inara. "Apa itu?"
"Itu," jawab Inara singkat, sembari menunjuk dompet Kenzo, yang tergeletak di dekat bantal. "Jangan sampai kau kembali kesini lagi, beralasan untuk mengambilnya, padahal kau merindukanku!"
Tawa Kenzo pecah saat mendengar ucapan Inara. Ia lalu menganggukkan kepala dan melangkah mendekati Inara, sembari iseng mencubit pipi dan mengusapnya pelan, membuat Inara mendengus kesal lalu menepis tangannya dengan keras.
"Jauhkan tanganmu yang kotor itu dariku!" cegah Inara. Kenzo mencebik.
"Suatu saat kau akan memohon padaku untuk menyentuh semua bagian di tubuhmu itu, Nona lidi!" sinis Kenzo.
"Apa, lidi?" tanya Inara, tidak terima.
"Apa kau tidak sadar kalau tubuhmu itu kecil, kurus dan tinggi seperti lidi?"
"Enak saja! Jelek-jelek begini aku ini seorang model, asal kau tahu!"
Kenzo mendengus. "Terserah!" sinis nya. Ia lalu menyambar dompet dan langsung beranjak pergi meninggalkan Inara yang masih ingin protes padanya.
"Dasar ...! Awas kalau masuk lagi," desis Inara.
Setelah kepergian Kenzo, Inara termenung sendiri di depan nakas. Ia seolah lupa kalau hendak merapikan isi laci yang kini terlihat kacau itu. Perasaan rindu pada kedua orang tuanya kini tiba-tiba memenuhi hatinya, hingga tanpa sadar buliran air mata jatuh perlahan dari kedua matanya yang basah.
Inara merasa begitu rindu, apalagi kini statusnya sudah bukan lagi lajang, melainkan sudah menjadi seorang istri, meskipun hanya dalam hubungan pernikahan kontrak atau sementara dengan Kenzo, ia juga ingin pernikahan ini diketahui dan direstui oleh kedua orang tuanya. Namun ia begitu menyayangkan kenapa ia harus menikah dengan seorang penjahat, bukan orang yang ia seharusnya ia cintai.
Inara menghembuskan napasnya dengan berat, seberat beban rindu pada kedua orang tuanya, tiba-tiba ia pun teringat pada sosok sang ibu, yang sudah lama tidak ia temui. Mengingat hal itu, ia pun menatap lembaran foto di dalam laci, lalu dengan tangan gemetar mengambil salah satu dan menatapnya lama.
"Ma, bagaimana kabarmu sekarang? Apakah mama masih hidup? Tidakkah mama ingat padaku? Sepertinya sudah hampir dua tahun Nara tidak melihat mama," ucapnya pelan, sembari mengusap air matanya.
Inara terus menatap foto itu hingga akhirnya menyadari sesuatu. "Tunggu, apa sebenarnya hubungan antara mama dan pria jahat ini? Jangan-jangan ...."
Inara membuka laci dengan tidak sabar. Ia berniat mencari jika mungkin ada lagi foto yang lain atau mungkin album foto yang mungkin tersimpan di sana. Tetapi setelah lama mencari, ia tidak lagi menemukan yang ia cari. Inara mendesah kecewa. Ia begitu penasaran dengan keluarga Kenzo dan hubungan dengan ibunya.
"Siapa sebenarnya yang anak mama, aku atau pria jahat itu?" lirihnya. Jauh di sudut hatinya kini merasa begitu sedih memikirkan tentang kemungkinan jika dirinya bukan anak kandung sang ibu, yang sebenarnya sangat ia sayangi. Hanya saja ia telah kehilangan sosok ibunya itu setelah kedua orang tuanya bertengkar hebat tentang adanya dugaan orang ketiga diantara mereka.
"Jangan-jangan mama selingkuh dengan ayah Kenzo?" Inara menduga-duga. "Ini tidak lucu jika ternyata benar, karena kami adalah saudara tiri tunggal ibu!" serunya pelan. "Oh, tidak! Semoga ini tidak benar, aku tidak mau punya saudara seperti dia!"
Inara mengusap kasar wajahnya. Ia begitu sibuk memikirkan tentang semua kemungkinan buruk itu, hingga kepalanya terasa pusing. Sejenak ia merebahkan tubuhnya untuk menenangkan diri sembari mencari cara untuk mendapatkan informasi tentang semua hal yang berkaitan dengan ibunya dan Simon, ayah Kenzo.
"Sialnya ponselku dibawanya," gerutu Inara, setelah ia sudah lebih tenang. "Aku harus mencarinya, siapa tahu disembunyikan di sini."
Inara beranjak bangkit lalu mulai mencari di semua sudut kamar itu, tak terkecuali kolong tempat tidur dan dibawah kasur, hingga akhirnya kedua matanya berbinar saat menemukan benda pipih kesayangannya itu.
"Cih! Naif sekali tuan jahat itu," gumamnya. "Apa tidak ada tempat persembunyian lain yang lebih susah, wahai tuan sombong?"
Cepat Inara mengunci pintu kamar lalu mulai mengaktifkan ponselnya yang ternyata dalam kondisi mati. Ia mendecak kesal ketika gagal karena kehabisan daya. Ia pun segera berpikir keras, mencari cara untuk mendapatkan charger.
"Theo! Aku mungkin bisa minta tolong padanya," gumam Inara, yang lalu menyembunyikan lagi ponsel itu dan bergegas keluar untuk mencari sosok Theo, asisten Kenzo itu.
***
"Apa? Bagaimana mungkin?" teriak Kenzo, saat berbicara dengan Theo, di ruang kerjanya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan," jawab Theo sembari mengetikkan sesuatu pada ponselnya, mengirim beberapa pesan, lalu menghubungi seseorang dengan wajah panik.
Kenzo menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Itu tidak mungkin! Rangga tidak mungkin mati begitu saja!" ucapnya geram.
"Sabarlah, Tuan. Saya sedang menunggu konfirmasi dari orang-orang kita yang ada di lokasi," ucap Theo, mencoba menenangkan Kenzo.
"Kita kesana sekarang!" ajak Kenzo tidak sabar.
"Tunggu dulu, Tuan, kita tidak boleh gegabah. Takutnya kalau ternyata kabar ini hanyalah jebakan agar Tuan datang kesana," cegah Theo.
Kenzo mengusap kasar wajahnya, berkali-kali. Ia terlihat begitu gusar dan panik, terlebih saat ingat janjinya pada Inara untuk menjaga Rangga. Dan kini, ternyata Rangga dikabarkan telah meninggal karena kecelakaan.
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!" bentak Kenzo, saat Theo berdiri termangu menatap ponselnya, menunggu kabar dari anak buahnya.
"Bersabarlah sebentar lagi," ucap Theo. Dan benar, baru saja ia selesai bicara, ponselnya berdering, notifikasi panggilan masuk terlihat pada layarnya. Cepat ia menjawab panggilan itu dan bicara dengan wajah serius, hingga selesai dan ia menatap nanar sang tuan yang berdiri tidak sabar dihadapannya.
"Bagaimana?" tanya Kenzo.
Wajah Theo terlihat murung. "Kabar itu dipastikan benar, tuan Rangga meninggal karena kecelakaan, saat ini beliau sudah berada di rumah sakit pusat kota," jawabnya, lesu. Sontak Kenzo terduduk lemas sembari menjambak rambutnya.
"Tidak mungkin!" geramnya. "Apa orangmu itu tidak salah lihat, Theo?"
"Dia benar-benar yakin kalau Tuan Rangga meninggal," jawab Theo.
"Apa buktinya? Apa dia sudah mengirim foto? Aku tidak akan percaya selama tidak ada bukti atau aku melihat sendiri!"
Theo menghela napas panjang. Ia lalu mengirim pesan untuk anak buahnya, meminta bukti sesuai permintaan Kenzo.
Tidak lama Theo menunjukkan foto dari ponselnya ke hadapan Kenzo. "Wajahnya hancur dan tidak bisa dikenali," ucap Theo menjelaskan. "Tetapi dari pakaian, cincin dan arloji yang dikenakan, semua mengarah pada tuan Rangga."
"Apakah itu keterangan resmi dari kepolisian dan ahlinya?" tanya Kenzo yang masih belum bisa percaya.
"Saya masih menunggu balasan tentang hal itu," jawab Theo.
"Ck! Kita kesana sekarang! Aku mau memastikan sendiri kalau memang Rangga benar-benar sudah mati!" ujar Kenzo, berang.
"Baiklah, Tuan."
Keduanya pun bersiap lalu segera pergi dari ruang kerja Kenzo. Namun keduanya terkejut saat melihat wajah pucat dengan kedua mata yang merah dan basah milik Inara.
"Nona ...." ucap Kenzo dan Theo, bersamaan.
"Apa benar yang ku dengar, ayahku sudah meninggal?" tanya Inara dengan mulut bergetar dan suaranya yang tercekat.