Suasana di ruang kerja yang sangat luas dan mewah itu terasa mencekam. Suara ketikan keyboard yang cepat dan tegas terdengar bersahutan dengan detak jam dinding yang besar.
Damian Wijaya duduk di balik meja kerjanya yang megah. Wajahnya tampan namun datar tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menatap layar komputer, seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya. Pria berusia 28 tahun ini adalah penguasa tunggal di perusahaan raksasa Wijaya Group. Kekayaannya tak terhitung, tapi hatinya bagaikan batu es yang tak pernah bisa dilelehkan.
Knock... knock... knock...
Pintu terbuka, masuklah seorang pria paruh baya yang merupakan ayah dari Damian, Tuan Wijaya.
"Damian, ayah sudah bicara dengan keluarga Aryana. Pernikahan kalian akan dilaksanakan minggu depan," ucap Tuan Wijaya dengan nada tegas.
Damian menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan dingin.
"Ayah, aku sudah bilang. Aku tidak butuh istri. Ini hanya soal bisnis, kan? Mengapa harus sampai menikah?" suara Damian berat dan datar.
"Karena ini syarat dari mereka, Damian. Mereka mau membantu kita menyelamatkan cabang perusahaan di luar negeri, asalkan kamu menikahi putri tunggal mereka, Aryana. Dia gadis yang baik, meskipun mungkin sedikit... manja," jelas ayahnya.
Damian mendengus kasar. "Manja? Aku tidak punya waktu untuk mengurus anak kecil."
Namun keputusan sudah bulat. Demi perusahaan, Damian mau tidak mau harus menerima.
Di sisi lain, di sebuah kamar tidur yang penuh dengan warna pink dan boneka-boneka lucu, Aryana Putri sedang mengacak-acak bantalnya dengan kesal.
"Tidak mau! Aryana tidak mau menikah! Aryana belum mau punya suami! Apalagi sama om-om yang galak dan dingin itu!" rengek Aryana sambil memukul-mukul kasur dengan tangan mungilnya.
Wajahnya sangat cantik, dengan mata bulat besar dan bibir yang selalu memble saat sedang marah atau mengeluh. Aryana adalah putri tunggal yang hidup dalam kemewahan, selalu dituruti semua keinginannya, dan tidak pernah tahu apa itu susah.
"Sayang, ini demi kebaikan kedua keluarga ya. Damian itu tampan dan kaya lho. Nanti kamu pasti bahagia," bujuk ibunya lembut.
"Aryana tidak mau! Dia itu seram! Mukanya kaku kayak patung!" cecar Aryana, tapi akhirnya ia menurut juga karena tidak bisa melawan keputusan orang tua.
Hari pernikahan tiba. Semuanya berjalan megah dan mewah. Namun, di balik senyuman para tamu, ada dua hati yang saling membenci situasi ini.
Saat sumpah pernikahan diucapkan, Damian tidak pernah menatap mata Aryana. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tak tersentuh. Sementara Aryana hanya menunduk, matanya berkaca-kaca merasa seperti barang dagangan.
Malam pertama, mereka tiba di sebuah apartemen super mewah yang menjadi tempat tinggal baru mereka. Suasana hening dan canggung.
"Dengar, Aryana," Damian berbicara pertama kali setelah mereka masuk. Suaranya dingin menusuk tulang. "Aku menikahimu hanya karena tuntutan bisnis. Jangan berharap aku bisa menjadi suami yang romantis atau penyayang. Kita tinggal di tempat yang sama, tapi hidup masing-masing. Jangan ganggu aku kalau tidak ada urusan penting."
Aryana menelan ludah. Matanya langsung berkaca-kaca. Bibirnya memble sedangkan tangannya memegang ujung gaun pengantinnya.
"K-Kamu jahat..." lirihnya pelan, tapi cukup terdengar oleh Damian.
Damian hanya melirik sekilas, lalu berbalik pergi ke kamar utama, meninggalkan Aryana sendirian di ruang tamu yang luas dan sepi.