Sejenak Samuel terdiam, mencoba mencerna kembali ucapan Datuk Zainal barusan. "Apa aja. Yang penting halal." Samuel menyudahi makannya. Lalu menegak segelas air putih hingga tandas.
"Ya, sudah kalau itu mau kamu." Datuk Zainal pasrah dengan keputusan anaknya itu.
Saat Aisyah ingin meraih gelas berisi air di depannya, Samuel lebih dulu mengambil gelas itu. Lalu segelas air putih tadi sudah berpindah tempat ke rongga perut Samuel.
"Ai, tambah," pinta Samuel lagi.
"Haus banget, ya?" tanya Aisyah sambil mengernyitkan dahi. Dilihatnya kening sang suami sudah dipenuhi butir-butir keringat.
"Waktu kecil dulu kalau kamu sedang cemas, pasti banyak minum. Kamu cemasin apa, Nak?" tanya Maryam sambil tersenyum tipis.
"Panas aja, Bun," jawab Samuel setelah menegak kembali setengah gelas air putih. Lalu lelaki bertubuh jakung itu pun beranjak dari duduk, berlalu ke luar.
***
Tinggal satu rantang lagi yang belum diantar. Rencananya, Aisyah dan Samuel akan mengantarkan rantang ke rumah terakhir setelah Salat Ashar.
Sepasang pengantin baru itu pun singgah ke surau. Tepat saat mereka sampai di surau itu, tampak beberapa orang masuk dan keluar dari surau dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya lelaki bertubuh jakung itu pada Aisyah.
"Entahlah," jawab wanita yang kini memakai gamis dan kerudung warna pastel itu.
Aisyah dan Samuel pun turun dari mobil. Lelaki bertubuh jakung itu sempat bertanya pada seorang bapak yang dari wajahnya bisa dilihat oleh Samuel sedang tidak baik-baik saja.
"I--itu, Pak Safri pingsan. Saya permisi mau cari kayu putih." Gegas bapak itu berlalu.
Aisyah terhenyak mendengar ucapan bapak tadi. "Pakcik Safri?"
"Kenapa, Ai?" tanya Samuel.
Tanpa menjawab tanya sang suami, Aisyah buru-buru masuk ke surau. Samuel pun ikut menyusul. Orang-orang sudah mengerumbungi Pak Safri.
Aisyah meminta pada orang-orang yang mengerumbungi Pak Safri untuk menghindar, agar Pak Safri leluasa mendapatkan udara sejuk. Orang-orang itu pun manut dengan ucapan Aisyah.
Beberapa saat bapak yang berbicara dengan Samuel tadi datang membawa minyak kayu putih. Lalu memberikan pada orang yang tengah memangku kepala Pak Safri, dan orang itu megoleskan minyak kayu putih di bagian pelipis, leher, dan memberikan bau-bauan minyak kayu putih di dekat hidung Pak Safri. Namun, nihil tak ada respons dari lelaki yang tengah pingsan itu.
Samuel pun kemudian mendekat pada Pak Safri. Lalu lelaki bertubuh jakung itu menggoyangkan tubuh Pak Safri, memanggil lelaki yang tengah pingsan itu cukup keras, dan memberikan rangsangan cubitan, tetap saja tak ada tanggapan.
Samuel pun meminta agar Pak Safri dibawa ke rumah sakit terdekat. "Tolong bantu angkat ke mobil, Bapak-bapak."
Gegas bapak-bapak itu mengangkat tubuh Pak Safri ke mobil yang dibawa Samuel tadi.
***
Aisyah tak bisa diam. Sedari tadi ia mundar-mandir tak karuan. Jelas sekali gurat khawatir dari gadis itu saat tengah menunggu Pak Safri ditangani Dokter.
"Ai, kamu, kok panik banget?" tanya Samuel pada sang istri.
"Ya, panik aja, Abang," jawab gadis itu sambil menghempaskan bokongnya di kursi.
'Mungkin Pak Safri ayah dari Amar, itu sebabnya Aisyah sepanik ini?' pikir Samuel.
Sesaat seorang bapak datang dengan tergesa-gesa menghampiri Aisyah sambil memberikan telepon jadul pada gadis berparas ayu itu.
"Tolong telepon Amar, Aisyah. Dari tadi kami mencoba menghidupkan Hp Pakcik Safri, tapi indak bisa. Siapa tahu kamu bisa menghidupkan Hp ini."
"Indak payah, Pakcik. Pakai Hp Aisyah sajo. No Bang Amar ado samo Aisyah." Gadis Minang itu mengeluarkan telepon genggam dari tas selempangnya. Lalu mencari nomor Amar, menelepon lelaki itu di seberang sana.
Samuel memperhatikan Aisyah dengan Saksama. Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki bertubuh jakung itu kini.
Tangan Aisyah bergetar saat mendekatkan benda pipih itu di telinganya. Darah Aisyah seakan berhenti mengaliri jantungnya saat suara bariton di seberang sana menyambut panggilannya. Meski raganya bersama Samuel, tetapi hatinya belum juga bisa melepaskan nama Amar nan bertahta gagah di dalam sana.
"Waalaikumussalam, Bang Amar." Bongkahan besar dalam d**a Aisyah membuat dadanya sesak, suara gadis itu pun terdengar berat. "Pakcik Safri masuk rumah sakit." Setetes bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Mintak Amar untuk pulang, Aisyah," kata bapak tadi.
Aisyah mengangguk, mengiyakan ucapan bapak itu.
"Sekarang bagaimana keadaan bapak, Aisyah?" tanya Amar di seberang sana.
"Sedang ditangani Dokter. Apa, Abang, bisa pulang menemui Pakcik?"
Aisyah bisa mendengar helaan napas berat Amar di seberang sana. Suara lelaki yang Aisyah cintai itu kini terdengar berat. "Iya, Abang pulang sekarang, Ai. Terus kabari keadaan Bapak, ya?"
Setelah Aisyah mengiyakan ucapan Amar, sambungan telepon itu terputus. Gadis berdarah Minang itu menghapus jejak air di pipinya seraya menoleh ke kiri.
"Abang," lirih Aisyah kala pandangannya bertemu dengan sang suami. Samuel menatap Aisyah dengan tatapan yang tak bisa Aisyah terka maksudnya. Lalu lelaki bertubuh jakung itu tegak berdiri, beranjak pergi tanpa sepatah kata pun pada sang istri.
"Abang, mau ke mana?" tanya Aisyah sambil melangkah mendekat ke Samuel.
Lelaki bertubuh jakung itu berhenti, lalu berbalik badan menghadap sang istri. "Mau beli minum. Tunggu di sini," kata Samuel dengan raut wajah datar.
***
Sepuluh menit berselang, Samuel datang membawa sebotol mineral. Lelaki bertubuh jakung itu kemudian menghempaskan bokongnya di kursi, duduk di samping Aisyah.
"Minum dulu, Ai." Samuel menyodorkan air mineral ke sang istri.
"Terima kasih, Abang," kata Aisyah sambil menerima air mineral itu. "Maaf, Abang," lirih Aisyah kemudian.
Meski pelan, tetapi lelaki bertubuh jakung itu bisa mendengar kata maaf yang diucapkan Aisyah. Samuel pura-pura tidak dengar, ia menyibukkan diri menekuri ponselnya. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba minta maaf, begitu pikir Samuel.
"Aisyah minta maaf, Abang." Kini suara Aisyah terdengar jelas.
"Maaf untuk apa?" tanya Samuel tanpa menoleh ke Aisyah. Lelaki bertubuh jakung itu masih memusatkan perhatian ke benda pipihnya. "Lebaran masih lama, Ai," kata Samuel kemudian.
"Emang harus nunggu lebaran minta maaf?"
"Ya ... nggak juga, sih." Kali ini Samuel menatap Aisyah. "Lagian kamu aneh, Ai. Masa tiba-tiba minta maaf."
Aisyah tersenyum tipis merespons ucapan sang suami. Lalu gadis Minang itu membuka tutup botol, meminum air yang Samuel berikan tadi.
"Keluarga Pak Safri?" tanya Dokter sesaat keluar dari ruangan pemeriksaan.
Aisyah, Samuel, dan beberapa orang bapak-bapak mengiyakan ucapan Dokter itu. Dokter menjelaskan bahwa Pak Safri mengalami serangan jantung.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ... pasien tak bisa tertolong."
***
Bendera hitam berkibar pelan diembus angin. Rumah semi permanen milik Pak Safri sudah dipenuhi orang-orang datang melayat.
"Baru kemarin Pak Safri betegur sapa dengan saya, sekarang dia sudah tiada."
"Iya, kemarin saya diberi tiga buah singkong sama Pakcik Safri, masih utuh belum saya olah."
"Semoga beliau husnul khatimah."
Begitulah percakapan ibu-ibu tentang Pak Safri. Kematian memang tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan dalam keadaan apa akan dipanggil sang Kuasa. Hanya saja yang perlu dilakukan sebagai seorang hamba yang papa ialah ada baiknya mempersiapkan bekal menghadap-Nya kelak.
Mayat Pak Safri belum dimandikan, menunggu Amar-- anak semata wayang almarhum Pak Safri-- sampai ke rumah, begitu kesepakatan orang-orang.
Banyak di antara para pelayat menangisi kepergian Pak Safri, ia orang baik. Salah satu pelayat yang menangisi pulangnya ayah dari Amar itu ialah Aisyah.
Kenangan yang baik yang ditinggalkan oleh orang baik, tentu saja akan terasa menyakitkan. Aisyah teringat kala ia kecil dulu lupa membawa uang jajan saat bermain. Semua teman-temannya membeli es celup --es persegi panjang yang dicelup di saus cokelat --sementara Aisyah kecil tidak. Lalu Pak Safri memotong sebelah es celup Amar untuk Aisyah. Pak Safri juga pernah mengantarkan Aisyah pulang ke rumah saat ia tersesat jalan setelah puas bermain di kampung tetangga.
Ada banyak kebaikan Pak Safri yang tak mampu Aisyah sebutkan. Sebab itulah Aisyah memanggil Pak Safri sebutan Pakcik --sebutan untuk adik laki-laki dari ayah atau ibu-- padahal keluarga Pak Safri dan Aisyah tidaklah punya hubungan kekerabatan. Namun, bukan itu alasan terbesar Aisyah begitu merasa bersedih hati ditinggalkan ayah dari Amar itu, tetapi sebab tak mampu memenuhi kehendak hati Pak Safri, menikah dengan putranya.
Sejak Pak Safri mengatakan terang-terangan keinginannya menjodohkan Aisyah dengan Amar, semenjak itu pulalah kedekatan Aisyah dan Amar bermula.
Ingatan Aisyah sirna tentang Pak Safri kala orang yang ditunggu kepulangannya sudah tiba, Amar.
Orang-orang menatap Amar dengan tatapan sendu. Sedari turun dari mobil, air muka Amar sudah keruh. Amar langsung melangkah masuk ke dalam rumah, lalu lelaki itu langsung terduduk kala berhadapan dengan tubuh kaku ayahnya.
'Jangan pergi. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan di desa ini. Kamu tetap harus menjadi diri sendiri, Amar, tanpa perlu membuktikan pada orang lain, kamu bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Lagi pula sendiri di rumah itu indak lamak, Amar.' Ucapan Pak Safri saat itu kala melarang sang anak untuk merantau, kembali terngiang di benak Amar.