"Jemput apa, Bang?" tanya Aisyah.
"Rania pulang besok. Dia minta jemput di bandara. Enggak apa-apa, 'kan?"
"Iya, enggak apa-apa," jawab Aisyah seraya tersenyum.
Entah kenapa mengingat tentang Rania, membuat perasaan Aisyah tak enak. Gadis berdarah Minang itu mencoba menepis pikiran buruk tentang seorang wanita yang diakui Samuel sebagai sahabatnya.
Bukan masalah persahabatan itu yang Aisyah risaukan, melainkan perkataan Rania kala ditelepon waktu itu: tentang Rania yang kini tengah berbadan dua tanpa ada yang bertanggung jawab pada janin di perutnya itu.
***
Pukul sepuluh pagi, Samuel sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara, menjemput Rania.
Samuel meminta Aisyah untuk ikut, tetapi gadis berdarah Minang itu menolak. Kata Aisyah, hari ini ia ingin sekali untuk menemui Nadira di panti asuhan.
"Ini hari Senin, Ai. Nadira masih di sekolah," kata Samuel sambil menyisir rambutnya.
"Oh. Iya. Kira-kira pulang jam berapa, ya?"
"Mungkin habis Zuhur."
Aisyah manggut-manggut mendengar ucapan sang suami. Samuel pun kembali mengajak Aisyah untuk ikut bersamanya.
Lagi dan lagi Aisyah menolak. Entahlah, Aisyah merasa benar-benar tidak ingin untuk ikut.
"Abang, aku minta izin ke panti sekarang, ya."
"Tapikan Nadira belum pulang, Ai." Samuel membalikkan badan, menghadap sang istri.
"Enggak apa-apa. Sambil nunggu Nadira pulang, aku, kan bisa main sama anak-anak yang lain," ucap Aisyah. "Boleh, ya?" tanya Aisyah sambil menampilkan senyuman.
Lelaki bertubuh jangkung itu tersenyum dan mengangguk menyetujui keinginan Aisyah.
***
Samuel menunggu kedatangan Rania dengan perasaan yang bercampur aduk, antara senang dan gelisah.
Senang karena bisa berjumpa lagi dengan sahabatnya itu, dan gelisah mengingat keadaan Rania sekarang.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, pemberitahuan pesawat yang ditumpangi Rania sudah mendarat. Gegas Samuel tegak berdiri, menunggu Rania di kedatangan internasional.
Beberapa saat kemudian, wajah-wajah turis keluar dari pintu kedatangan internasional, sedangkan belum tampak wanita yang ditunggu Samuel.
Lelaki bertubuh jangkung itu mencoba menelepon sahabatnya itu. Namun, nomor telepon Rania tidak aktif.
"El ...."
Panggilan itu membuat Samuel seketika menoleh. El, hanya Rania yang memanggil dirinya dengan sebutan itu.
Kata Rania kala itu, 'El' untuk panggilan kesayangan.
"Terserah lo mau panggil gue apa. Sayang sekalian juga enggak apa-apa, kok." Samuel terkekeh sambil mengacak rambut Rania.
"El ...." Panggilan Rania yang kedua kali menarik Samuel dari ingatannya kala itu bersama Rania.
Samuel tersenyum, lalu lelaki bertubuh jangkung itu melambaikan tangan pada Rania.
Rania mendekat ke Samuel. Samuel memerhatikan secara saksama bagaimana Rania yang sekarang. Memang jauh berbeda.
Ya, tentu saja berbeda. Rambut Rania dulu hitam legam, dan sekarang sudah dua warna: warna hitam di bagian rambut atas dan kuning emas di bagian rambut tengah sampai ke bawah. Rambut indah itu ia biarkan tergerai.
Setelah melihat bagaimana rambut Rania, Samuel beralih ke bagian perut wanita itu. Tampak biasa, tidak seperti orang hamil 6 bulan. Mungkin karena dress yang dikenakannya agak longgar.
Ketika tepat berada di depan Samuel, Rania langsung merengkuh lelaki bertubuh jangkung itu.
"Apa kabar?" tanya Samuel sambil membalas pelukan Rania.
"Buruk, El," jawab Rania sambil merenggangkan pelukan.
Samuel kembali melihat perut wanita di hadapannya. Tetap sama, masih tampak rata.
"Sebenarnya banyak yang ingin gue tanyain ke lo. Tapi kalau sekarang, pasti lo capek," kata Samuel sambil mengambil alih koper Rania. "Gue udah siapin apartemen buat lo. Kita ke sana sekarang."
***
"Lo beneran hamil enggak, sih? Gue lihat rata aja. Jangan-jangan lo bohongin gue? Lo, kan jagonya bohong." Samuel tertawa kecil.
Di dalam lubuk hati terdalamnya, Samuel memang berharap Rania berbohong tentang kehamilan itu.
"Ngapain gue bohong," kata Rania terdengar pelan. Gadis itu meletakkan tangan kirinya di bagian perut bawah dan tangan kanan di bagian perut atas. Kini Samuel bisa melihat jelas perut yang berbentuk bulat berisi itu.
Samuel mengembuskan napas kasar sambil memegang kuat setir mobil melihat kenyataan yang dialami sahabat kecilnya itu.
***
Aisyah asyik bermain dengan anak-anak panti sembari menunggu Nadira pulang dari sekolah.
Gadis berdarah Minang itu merasa gemas sebab ulah anak-anak panti itu. Tampaknya bukan Aisyah saja yang merasa senang, anak-anak panti tempat Nadira dibesarkan itu pun demikian.
"Kamu, kok, lepas jilbab, Nduk?" tanya Bu Aminah di ambang pintu.
Aisyah menoleh ke sumber suara. Rupanya Nadira sudah pulang. Tanpa bersalaman dengan Bu Aminah, gadis itu langsung saja masuk ke rumah.
Aisyah bangkit dari duduknya, lantas menyapa Nadira.
"loh, kok, lo di sini?" tanya Nadira pada Aisyah.
"Main aja."
"Kak Samuel mana?"
"Aku ke sini sendiri, Nad," kata Aisyah sambil tersenyum.
Setelah mendengar jawaban dari Aisyah, tanpa basa-basi Nadira berlalu begitu saja.
Bu Aminah kemudian menghampiri Aisyah. "Maafkan sikap Nadira, ya, Nduk. Dia memang begitu. Kadang judes, kadang suka nangis enggak jelas," ucap Bu Aminah.
"Iya, enggak apa-apa, Bu," jawab Nadira sambil mengelus lengan tangan Bu Aminah. "Nangis enggak jelas gimana maksudnya, Bu?" tanya Aisyah kemudian.
"Iya, kayak kemarin. Pulang dari nginep rumah temannya, dia tiba-tiba nangis terus minta maaf sama Ibu. Giliran ditanya minta maaf untuk apa, dia bilang pengen minta maaf aja." Bu Aminah mengembuskan napas kasar.
"Ibu suka bingung sama sikapnya Nadira itu, Nduk. Kayak cuaca, enggak tentu kapan hujan atau panas," lanjut Bu Aminah kemudian.
"Begitu, ya, Bu?"
Aisyah berpikir, mungkin karena ucapannya kemarin pada Nadira membuat gadis SMA itu berlaku demikian pada Bu Aminah.
"Iya, Nduk. Kemarin dia udah janji sama Ibu mau istiqomah pakai kerudung. Eh, sekarang lihat, malah dibuka."
Bu Aminah bercerita banyak tentang Nadira pada Aisyah. Kesempatan itu Aisyah gunakan untuk bertanya lebih banyak lagi segala sesuatu tentang gadis SMA itu: tentang makanan favoritnya ataupun hobinya. Informasi itu bisa Aisyah gunakan untuk bisa mendekati Nadira, menjadi teman dari gadis SMA itu.
Di saat Aisyah dan Bu Aminah tengah berbincang, Nadira menghampiri dua wanita itu dengan tergesa-gesa.
"Ini siapa, sih?" Gadis yang duduk di bangku SMA itu langsung menyodorkan benda pipihnya ke Aisyah.
Aisyah mengambil telepon genggam itu, lalu memerhatikan saksama unggahan repost yang dibagikan Samuel di story instagramnya.
'Mungkin ini yang namanya Rania,' batin Aisyah kala melihat foto wanita yang tegak berdiri di samping Samuel.
"Siapa wanita itu?" tanya Nadira lagi.
"Oh, iya. Ini sahabat Abang. Dia dari luar negeri," jawab Aisyah.
"Sahabat?" tanya Nadira memastikan. Kening gadis itu tampak mengerut.
Aisyah mengangguk mengiyakan ucapan Nadira.
Nadira kemudian mengambil teleponnya dari Aisyah. Lalu, berlalu ke kamarnya.
'Kira-kira cewek cakep itu bakal jadi saingan gue juga enggak, ya, selain si Aisyah itu?' batin Rania bertanya-tanya.