Malam itu Sienna tidak langsung pulang ke apartemen nya. Ia duduk di kursi panjang di lobi bawah, menunggu Chatura yang katanya sudah keluar dari kantor sepuluh menit yang lalu, sementara di kepalanya kalimat ibu Widya terus berputar seperti kaset rusak. Kamu bisa batal pindah, kalau kamu ada rencana menikah dalam waktu dekat ini.
“Ci.” Suara Chatura membuat Sienna mendongak. Pria itu masih memakai kemeja kerja nya, lengan nya di gulung, dan di tangan nya ada dua bungkus martabak yang bau nya sudah tercium dari jarak lima meter.
“Kok martabak?”
“Ayah kamu bilang kan, kalau ke rumah bawa martabak. Ini buat latihan.” Jawab Chatura sembari duduk di sebelah Sienna. “Kenapa? Dari tadi chat kamu aneh.”
Sienna menarik napas, kemudian menceritakan semuanya. Tentang daftar mutasi, tentang cabang Singapura, tentang ibu Widya yang sudah berusaha mencoret nama nya tapi gagal, dan tentang satu-satunya jalan keluar yang di tawarkan perusahaan. Chatura mendengarkan sampai selesai tanpa memotong sekali pun. Setelah Sienna diam, pria itu justru tersenyum, senyum yang membuat Sienna ingin melempar martabak ke wajah nya.
“Kok kamu malah seneng.”
“Ya seneng dong.” Jawab Chatura. “Aku dari awal emang mau nikahin kamu, ci. Cuma aku nahan-nahan terus soalnya takut kamu kaget, kamu kan orang nya mikir panjang. Sekarang malah kantor kamu yang nyuruh.”
“Chatura, ini serius.”
“Aku juga serius.”
Sienna diam. Ia meremas plastik martabak di pangkuannya, lalu berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan. “Aku gak mau nikah cuma karena kepepet. Nanti kalau lima tahun lagi kita berantem, terus kamu inget, oh iya dulu gue nikah gara-gara dia mau di pindah ke Singapura. Aku gak mau kayak gitu.”
Chatura meletakkan bungkusan itu ke kursi, kemudian memutar badan nya menghadap Sienna sepenuhnya. “Ci, dengerin. Aku beli cincin itu sebelum kamu tau soal mutasi. Aku ngomong sama ayah kamu soal budidaya ikan sampai dua jam bukan karena aku suka ikan. Aku bawa kamu ke rumah waktu lamaran Mbak Ambar bukan karena aku butuh orang buat gendong Yuri.”
Sienna mengangkat wajah nya.
“Kalaupun kantor kamu gak nyuruh apa-apa, tahun ini aku tetep bakal ngelamar kamu. Cuma sekarang jadwal nya doang yang di majuin. Itu doang.” Lanjut Chatura.
Butuh beberapa detik sebelum Sienna akhirnya mengangguk, dan begitu ia mengangguk, Chatura langsung berdiri, menepuk-nepuk celana nya, lalu menyalakan ponsel seperti orang yang sudah tidak sabar.
“Ngapain?”
“Nelfon mama. Dia bakal lebih heboh dari kita berdua.” Jawab Chatura.
Dan memang benar. Belum sampai satu jam, grup keluarga besar Arsena sudah di penuhi pesan. Melisa mengirim dua puluh delapan pesan berturut-turut, Ema mengirim daftar gedung, Ambar mengirim stiker monyet sebanyak dua belas kali, sementara papa Chatura hanya mengirim satu kalimat, kapan om ketemu ayah nya.
Di kantor Sienna, kabar itu menyebar dengan kecepatan yang jauh lebih mengerikan. Angelo mengetahui nya pada Selasa pagi, dan pada Selasa siang, hampir seluruh lantai tiga sudah tahu.
“HAH? NIKAH?” Teriak Angelo di tengah pantry, membuat dua orang dari divisi lain menjatuhkan sendok.
“Berisik banget sih lo.”
“Ya kaget! Kemarin lo baru pacaran, sekarang nikah. Lo hamil ya?”
“Angelo.” Ucap Sienna dengan tatapan tajam.
“Ya kali aja.” Balas Angelo sambil mundur satu langkah. “Terus mutasi lo gimana?”
“Batal, kalau surat nikah nya keluar sebelum tanggal berangkat.”
“Gila.” Ucap Angelo sambil menggeleng-geleng. “Jadi lo nikah gara-gara Singapura.”
“Gua nikah gara-gara gua mau.” Jawab Sienna. “Singapura cuma yang bikin cepet.”
Renata yang sejak tadi diam di sudut pantry akhirnya bicara, dan hanya kepada Sienna, dengan suara yang jauh lebih pelan. “Sien, gua seneng banget buat lo. Tapi kalau nanti ada yang bikin lo ragu sedikit aja, sekecil apa pun, lo cerita ke gua ya. Jangan di simpen sendiri.”
“Iya, Ren. Kenapa sih, kayak mau nikahin anak sendiri.”
“Ya emang gitu rasanya.” Jawab Renata.
Tiga hari kemudian, kedua keluarga bertemu di rumah Hendra. Meja ruang tamu penuh oleh gorengan, kue kering, dan tentu saja, martabak manis serta martabak telur yang Chatura bawa dalam jumlah yang berlebihan. Hendra duduk berhadapan dengan papa Chatura, keduanya bicara pelan, seperti dua orang yang sedang membahas urusan negara.
“Jadi begini om, Sienna ada urusan kantor yang bikin waktu nya jadi mepet. Kalau boleh, kami sekeluarga mau datang melamar tiga minggu lagi.” Ucap papa Chatura.
Hendra mengangguk-angguk, sengaja lama, membuat Chatura yang duduk di sebelah Sienna berkeringat dingin walaupun kipas angin menyala tepat di atas kepalanya.
“Cepat sekali.” Ucap Hendra.
“Cepat, tapi bukan asal, om.” Jawab Chatura.
“Kamu tau kan, anak saya ini satu-satunya perempuan di rumah ini.”
“Tau om.”
“Kalau nanti dia nangis gara-gara kamu, saya cari kamu sampai ke Singapura sekalian.” Ucap Hendra, dan seisi ruangan tertawa, kecuali Chatura yang hanya bisa mengangguk berkali-kali seperti orang kena hipnotis. Sienna menahan tawa di sebelah nya, sementara Rita mencubit lengan suami nya sendiri karena di anggap keterlaluan.
Malam itu semuanya di putuskan. Lamaran akan di adakan tiga minggu lagi, hari Sabtu, di rumah Hendra, dengan tamu terbatas dari kedua belah pihak. Ema langsung menyanggupi urusan dekorasi, Ambar menyanggupi urusan katering, dan Melisa menyanggupi urusan yang paling penting menurutnya, yaitu memilih baju.
Sienna mengantar Chatura sampai ke depan pagar ketika semuanya sudah pulang. Udara malam itu dingin, sisa hujan sore masih menggenang di jalanan komplek.
“Beneran ya, tiga minggu.” Ucap Sienna.
“Beneran. Kamu jangan kabur.”
“Yang harus gak kabur tuh kamu.” Balas Sienna. Chatura tertawa, mengacak rambut gadis itu, lalu masuk ke dalam mobil.
Baru saja mobil nya keluar dari mulut gang, ponsel Chatura bergetar di dashboard. Sebuah nomor tidak di kenal muncul di layar. Chatura membiarkan nya, mengira itu telepon penawaran kartu kredit yang belakangan sering mengganggu jam kerja nya. Panggilan itu berhenti, lalu muncul lagi. Berhenti, lalu muncul lagi untuk yang ketiga kali nya.
Di lampu merah, Chatura akhirnya mengangkat.
“Halo, dengan siapa ya?”
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara mesin kendaraan di seberang sana, dan napas seseorang yang jelas sedang berusaha mengatur diri nya sendiri.
“Halo?” Ulang Chatura.
“Chatura.”
Satu kata. Hanya satu kata, dan Chatura merasa seluruh isi dada nya jatuh ke bawah. Ia mengenal suara itu. Ia mengenal cara suara itu memanggil nama nya, dengan penekanan aneh di suku kata terakhir, kebiasaan yang dulu selalu ia ledek dan sekarang justru membuat tangan nya membeku di atas setir.
Lampu berubah hijau. Kendaraan di belakang nya membunyikan klakson bertubi-tubi, tetapi Chatura tidak bergerak sama sekali.
“Ini siapa?” Tanya Chatura, walaupun ia sudah tahu jawaban nya.
“Aku Tiara.” Jawab suara itu. “Aku udah di Jakarta.”