Tempat biasa itu adalah sebuah kedai kopi kecil di daerah Blok M, satu-satunya cabang yang masih bertahan dari tiga cabang yang dulu sering mereka datangi. Cat dinding nya sudah berganti, kursi kayu nya sudah di ganti besi, tetapi meja di pojok dekat jendela itu masih ada di tempat yang sama.
Chatura datang lima belas menit lebih awal. Ia sudah menyiapkan banyak hal di kepalanya, urutan kalimat, pertanyaan, bahkan nada bicara. Di dalam mobil tadi ia sempat mengulang nya keras-keras, sendirian, seperti orang gila. Kenapa kamu pergi. Kenapa gak ada satu pun kabar. Kamu tau gak apa yang gue lewatin selama empat tahun. Kalimat-kalimat itu ia susun bertahun-tahun, dan ia yakin, ia akan mengucapkan nya dengan tenang. Semuanya buyar begitu pintu kaca terbuka dan seorang perempuan bertubuh kecil dengan rambut sebahu masuk sambil melipat payung.
Tiara terlihat lebih kurus. Kulit nya lebih pucat, dan ada garis halus di sudut mata nya yang dulu tidak ada. Tetapi cara nya berjalan, cara nya meletakkan tas di kursi sebelum duduk, cara nya menyapu poni ke samping dengan jari kelingking, semua nya persis seperti empat tahun yang lalu.
“Hai.” Ucap Tiara.
“Hai.” Balas Chatura.
Mereka duduk berhadapan tanpa bicara selama hampir satu menit penuh. Pramusaji datang, mencatat pesanan, lalu pergi lagi, dan keheningan itu kembali seperti tidak pernah terganggu.
“Kamu gemukan.” Ucap Tiara akhirnya.
“Kamu kurusan.” Balas Chatura.
Tiara tertawa kecil, tawa yang langsung berhenti di tengah jalan. Ia menggenggam gelas nya sendiri dengan kedua tangan, menunduk, kemudian mulai bicara.
“Aku gak akan minta maaf dulu. Aku mau cerita dulu, nanti kalau kamu masih mau, baru aku minta maaf.”
Chatura tidak menjawab, hanya mengangguk sekali.
Cerita itu keluar berantakan, melompat-lompat, kadang mundur, kadang berhenti karena Tiara harus menarik napas. Ayah nya terjerat kasus di kantor lama, uang yang bukan milik nya, jumlah nya besar. Dua hari sebelum Sabtu yang mereka rencanakan, rumah mereka di datangi orang-orang yang tidak Tiara kenal. Malam itu juga keluarganya di bawa ke Semarang, ke rumah saudara ayah nya, dengan syarat yang di ucapkan berkali-kali di dalam mobil, jangan hubungi siapa pun.
“Ponsel aku di ambil malam itu juga.” Ucap Tiara. “Bukan cuma aku, adik ku juga. Mama bilang, kalau ada satu orang aja yang tau kita di mana, papa bisa lebih parah.”
“Setahun kemudian aku kabur, aku ke Bandung, aku ke kosan kamu yang lama. Yang ada di sana anak-anak baru, mereka gak tau kamu siapa.” Lanjut Tiara. “Aku ke kantor kamu yang dulu, kata satpam nya kamu udah resign. Aku gak punya nomor siapa-siapa yang aku hapal, Chatura. Satu pun enggak.”
Tiara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya, sebuah buku tulis bersampul cokelat yang sudah lecek di bagian sudut nya, kemudian meletakkan benda itu di atas meja.
“Ini apa?”
“Jangan di buka sekarang. Nanti aja, atau gak usah sekalian.” Ucap Tiara. “Dua tahun pertama aku nulis di situ. Tiap kali aku pengen ngabarin kamu, aku nulis. Soalnya cuma itu yang bisa aku lakuin.”
Chatura menatap buku itu tanpa menyentuh nya sedikit pun.
Chatura menyandarkan punggung nya. Ia ingin marah, ia sudah menyiapkan marah itu sejak semalam, tetapi yang keluar dari mulut nya justru pertanyaan yang paling bodoh.
“Kamu makan gak selama di sana?”
Tiara mendongak, matanya sudah merah, dan ia tertawa sambil menangis. “Ya makan lah, apaan sih.”
“Ya aku nanya.”
Setelah itu mereka bicara lebih mudah. Tiara bercerita bahwa ayah nya keluar tiga tahun kemudian, bahwa mereka sempat pindah ke Surabaya, bahwa Tiara akhir nya bekerja di sebuah perusahaan konsultan yang tiga bulan lalu memindahkan nya ke kantor pusat di Jakarta. Ia bercerita bahwa selama tiga bulan itu ia beberapa kali melihat nama Chatura di kolom komentar, di daftar teman yang di sarankan, di foto orang lain, dan tidak pernah berani menekan apa pun.
“Kenapa akhir nya nelfon?” Tanya Chatura.
Tiara diam sebentar. “Karena aku liat kamu di undangan.”
Chatura mengangkat wajah nya.
“Ema, kakak kamu, dia posting foto keluarga waktu lamaran kakak kamu yang satu nya. Kamu ada di situ, sama perempuan.” Ucap Tiara pelan. “Aku liat foto itu udah puluhan kali. Terus aku sadar, kalau aku gak nelfon sekarang, aku gak akan pernah punya kesempatan buat ngomong. Itu doang. Aku gak minta apa-apa, Chatura.”
“Aku mau lamaran tiga minggu lagi.” Ucap Chatura.
“Aku tau.”
“Kok tau?”
“Kakak kamu posting nya di semua tempat.” Jawab Tiara, dan untuk sesaat, keduanya sama-sama tertawa. Tawa yang canggung, terlalu keras untuk lelucon sekecil itu, seperti dua orang yang sedang berusaha menutupi sesuatu yang jauh lebih besar.
Mereka keluar dari kedai itu hampir pukul sebelas malam. Hujan sudah berhenti, aspal masih basah, dan Tiara berdiri di trotoar menunggu taksi daring yang sudah ia pesan sepuluh menit yang lalu.
“Makasih ya udah mau denger.” Ucap Tiara.
“Iya.”
“Chatura.”
“Hm.”
“Kamu bahagia kan sekarang?”
Chatura membuka mulut nya, dan tidak ada suara yang keluar. Jawaban nya seharusnya mudah. Jawaban nya harusnya iya, satu kata, cepat, tanpa perlu berpikir. Tetapi malam itu, di trotoar yang basah, di depan perempuan yang selama empat tahun ia cari, Chatura butuh waktu tiga detik untuk menjawab, dan tiga detik itu terlalu lama.
“Iya.” Jawab nya akhirnya.
Tiara tersenyum, mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil.
Buku tulis bersampul cokelat itu ikut terbawa, tergeletak begitu saja di kursi penumpang, dan Chatura tidak berani melirik nya sekali pun.
Di perjalanan pulang, ponsel Chatura menyala. Ada tujuh pesan dari Sienna, di kirim sejak pukul delapan.
kamu di mana?
aku udah kirim daftar tamu ke Mbak Ema ya
chatura?
yaudah kalau lagi sibuk, jangan lupa makan
Chatura berhenti di pinggir jalan. Ia menatap layar itu, mengetik dengan jempol yang terasa berat, kemudian mengirim satu kalimat yang membuat nya merasa jauh lebih kotor dari yang ia bayangkan.
Maaf ci, tadi lembur, baru kelar. Kepala aku pusing banget, aku langsung tidur ya.
Balasan Sienna datang dalam hitungan detik.
iyaa, istirahat. jangan sakit, tiga minggu lagi loh. i love u
Chatura mematikan layar ponsel nya, menyandarkan kepala ke sandaran kursi, dan untuk waktu yang cukup lama, ia hanya diam di dalam mobil yang mesin nya sudah mati, di pinggir jalan yang tidak ia kenali nama nya.