Tanggal dua puluh delapan datang lebih cepat dari yang siapa pun harapkan. Rapat kolaborasi antara dua perusahaan itu di adakan di sebuah hotel di kawasan Kuningan, di mulai pukul sembilan pagi, dan menurut jadwal, akan selesai menjelang sore. Sienna datang membawa tiga map, satu laptop, dan kepala yang penuh oleh angka.
Pagi itu Chatura sempat menelepon nya pukul enam, ketika Sienna sedang menyetrika kemeja.
“Ci, nanti kita ketemu di sana ya. Aku berangkat duluan, ada briefing.”
“Iya. Eh, nanti malem jadi ke rumah mama kamu?”
“Jadi.” Jawab Chatura. “Ci.”
“Hm?”
“Gak jadi. Nanti aja aku ngomong nya.”
“Apaan sih, bikin penasaran.”
“Nanti, ya. Beneran.” Ucap Chatura, dan Sienna menutup telepon itu sambil tertawa, sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah percakapan terakhir mereka sebagai dua orang yang saling percaya sepenuhnya.
“Mbak Sienna, itu ruang nya di lantai tiga.” Ucap Larissa yang sudah menunggu di lobi.
“Makasih ya. Kamu ikut masuk?”
“Boleh mbak?” Tanya Larissa dengan mata berbinar, dan Sienna hanya bisa mengangguk sambil menahan senyum. Anak itu memang begitu, dan entah kenapa hari ini Sienna merasa Larissa lebih menyenangkan daripada biasanya.
Rapat berjalan panjang dan melelahkan. Chatura duduk di seberang meja, di sisi perusahaan nya sendiri, dan sepanjang rapat mereka berdua bersikap seprofesional mungkin. Hanya sekali Chatura melirik, dan ketika Sienna balas melirik, pria itu buru-buru menunduk ke arah berkas nya.
Sesi pertama selesai pukul dua belas. Semua orang berhamburan menuju ruang makan di lantai dasar, sementara Sienna memilih tetap tinggal untuk merapikan catatan nya. Larissa duduk di sebelahnya, memainkan ponsel, kemudian tiba-tiba tertawa kecil.
“Mbak, lucu deh.”
“Apa nya?”
“Ini, aku tadi foto ruang rapat buat dokumentasi, terus ke foto Mas Chatura lagi jalan sama siapa gitu di taman belakang. Kayak nya sih klien, tapi mereka pegangan tangan. Aneh gak sih.” Ucap Larissa dengan polos, sambil menyodorkan layar ponsel nya kepada Sienna.
Foto itu di ambil dari jendela koridor lantai tiga, agak jauh, agak buram. Tetapi Sienna tidak butuh foto yang jelas untuk mengenali punggung orang yang tiga minggu lalu menyematkan cincin di jari nya.
“Boleh aku liat lagi?” Tanya Sienna, suara nya datar.
Larissa menyerahkan ponsel nya tanpa curiga. Sienna memperbesar gambar itu. Seorang perempuan bertubuh kecil, rambut sebahu, memakai kemeja putih. Tangan Chatura menggenggam tangan perempuan itu, bukan menarik, bukan melepas, hanya menggenggam.
“Mbak?”
“Gak apa-apa. Kamu makan duluan ya, aku nyusul.” Ucap Sienna sambil mengembalikan ponsel itu.
Begitu Larissa keluar, Sienna berdiri. Kaki nya membawa nya sendiri, melewati koridor, menuruni tangga darurat, sampai ke pintu kaca yang menghubungkan lobi dengan taman belakang hotel. Ia berhenti di balik tiang, dan dari sana, ia bisa melihat keduanya duduk di bangku besi di bawah pohon ketapang.
Ia tidak berniat menguping. Angin siang itu saja yang kebetulan berpihak pada nya.
“Aku gak minta kamu ninggalin dia.” Ucap perempuan itu. “Aku cuma mau kamu jujur sama aku, satu kali aja.”
“Aku udah tunangan, Ra.”
“Aku tau. Aku nanya nya bukan itu.”
Chatura diam lama sekali. Sienna berdiri di balik tiang, kedua tangan nya mendingin, dan di kepalanya ada satu suara yang menyuruh nya pergi, jangan dengarkan, pulang saja, tapi kaki nya tidak mau bergerak.
“Aku butuh waktu.” Ucap Chatura akhirnya. “Aku belum bisa milih.”
Kalimat itu jatuh ke telinga Sienna seperti gelas yang di lempar ke lantai keramik.
Aku belum bisa milih.
Sienna mundur satu langkah, menabrak pot tanaman di belakang nya, dan suara nya cukup keras untuk membuat kedua orang di bangku itu menoleh. Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, mereka bertiga hanya saling menatap, terpisah kaca dan jarak sepuluh meter.
Chatura berdiri. Wajah nya berubah pucat.
“Ci-”
Sienna berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam gedung. Ia tidak berlari, karena ia tidak mau ada orang kantor yang melihat nya berlari. Ia melewati lobi, melewati resepsionis yang menyapa, melewati Angelo yang memanggil nama nya dari arah lift, dan terus berjalan sampai masuk ke dalam toilet di ujung koridor.
Di sana, dengan pintu terkunci, Sienna akhirnya berhenti.
Ia tidak menangis. Anehnya, ia justru merasa sangat tenang, tenang yang salah, tenang yang menakutkan. Kepalanya bekerja seperti biasa nya bekerja saat memeriksa laporan keuangan, mengumpulkan potongan-potongan yang selama ini tidak masuk akal, lalu menyusun nya satu per satu sampai semuanya cocok.
Kemeja biru muda yang katanya tertinggal di laundry.
Lembur yang tidak pernah ada di grup kantor.
Sabtu siang, di hari lamaran nya sendiri, ketika Chatura menghilang hampir dua puluh menit dan kembali dengan es teh yang bahkan tidak ia minum.
Dua puluh menit. Sienna menutup mulut nya dengan telapak tangan.
Ponsel di tangan nya bergetar tanpa henti. Chatura menelepon delapan kali, mengirim entah berapa pesan yang semuanya ia biarkan tidak terbaca. Yang Sienna buka justru percakapan yang lain, percakapan dengan ibu Widya, dan ia mengetik dengan tangan yang sama sekali tidak gemetar.
Bu, maaf mengganggu di jam istirahat. Soal penempatan Singapura, apakah tawaran nya masih berlaku?
Balasan datang lima menit kemudian.
Masih, Sienna. Deadline konfirmasi tanggal 5. Kenapa? Bukannya kamu mau menikah?
Sienna menatap layar itu lama. Di jari manis tangan kiri nya, cincin itu masih ada, memantulkan lampu toilet yang putih dan dingin.
Ia mengetik balasan nya dengan sangat pelan, satu huruf demi satu huruf, seperti orang yang sedang menandatangani sesuatu yang tidak bisa di batalkan.
Rencana nya berubah, bu. Saya siap berangkat.
Pintu toilet di ketuk dua kali.
“Neng? Lo di dalem?” Suara Angelo terdengar dari luar. “Gue liat lo jalan cepet banget tadi. Kenapa?”
Sienna menarik napas, memastikan suara nya keluar senormal mungkin. “Gak apa-apa, mbak. Kebanyakan kopi.”
“Yaudah, gue tungguin di luar.”
“Gak usah.”
“Gue tungguin.” Ucap Angelo, dan pria itu benar-benar berdiri di depan pintu toilet selama sepuluh menit berikutnya tanpa bertanya apa-apa lagi.
Setelah mengirim pesan itu, Sienna mencuci muka nya, memperbaiki riasan seadanya, lalu keluar dari toilet dan kembali ke ruang rapat lantai tiga tepat pukul satu siang. Ia duduk di kursi yang sama, membuka laptop nya, dan memimpin sesi kedua sampai selesai dengan suara yang jelas dan angka yang tidak satu pun meleset.
Chatura duduk di seberang meja sepanjang sesi itu, dan tidak sekali pun Sienna menatap wajah nya.