Chatura datang ke rumah Hendra pada hari Minggu sore, tanpa memberi kabar kepada Sienna sama sekali.
Ia berdiri di depan pagar itu selama hampir lima menit, memegang dua bungkus martabak, satu manis dan satu telur, sebelum akhirnya menekan bel. Yang membuka pintu adalah Hendra sendiri, memakai kaos oblong dan sarung, dengan wajah yang langsung berubah begitu melihat siapa yang berdiri di luar.
“Assalamualaikum om.”
Hendra tidak menjawab salam itu selama beberapa detik yang terasa seperti setahun.
“Waalaikumsalam.” Jawab nya akhirnya. “Sienna gak ada.”
“Saya tau om. Saya emang gak nyari Sienna.” Ucap Chatura. “Saya mau ketemu om.”
Mereka duduk di teras, bukan di ruang tamu, dan Chatura mengerti persis apa arti nya. Rita membawakan dua gelas teh, meletakkan nya tanpa bicara, lalu masuk lagi ke dalam.
“Kamu mau apa?” Tanya Hendra.
“Saya mau minta izin buat deketin anak om lagi. Dari nol.” Jawab Chatura.
Hendra tertawa pendek, tawa tanpa senyum. “Kamu tau gak, dua tahun yang lalu saya bilang apa sama istri saya waktu kamu keluar dari rumah ini?”
“Enggak om.”
“Saya bilang, untung ketahuan sekarang.” Ucap Hendra. “Kalau ketahuan nya nanti, pas anak saya udah punya anak, saya gak tau saya harus ngapain.”
Chatura menunduk. Ia sudah menyiapkan diri untuk kalimat semacam itu, tetapi tetap saja rasanya seperti di tampar.
“Kenapa sekarang? Kenapa gak dua tahun lalu, kenapa gak setahun lalu?” Tanya Hendra.
“Karena dua tahun lalu saya belum pantes, om.” Jawab Chatura. “Dua tahun lalu saya cuma panik. Kalau waktu itu Sienna balik ke saya, saya bakal seneng, tapi saya belum berubah apa-apa. Saya cuma bakal jadi orang yang sama, yang takut ngomong.”
“Terus sekarang udah berubah?”
“Saya gak berani bilang udah berubah om. Saya cuma bisa bilang, sekarang kalau ada yang salah, saya ngomong hari itu juga. Sama siapa pun.” Ucap Chatura. “Kalau om suruh saya pulang sekarang, saya pulang. Tapi saya bakal balik lagi minggu depan.”
Hendra menyeruput teh nya, memandangi halaman rumah nya sendiri cukup lama.
“Lampu ruang tengah saya mati lagi.” Ucap beliau tiba-tiba.
“Hah?”
“Kamu tinggi kan.” Ucap Hendra sambil bangkit dari kursi nya.
Sore itu Chatura mengganti lampu ruang tengah rumah Hendra, sama seperti pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah itu, dan tidak ada satu pun dari kedua laki-laki itu yang berkata bahwa mereka sedang mengulang sesuatu.
Sienna baru tahu dua hari kemudian, dari ibu nya sendiri, lewat telepon.
“Dia dateng, ma? Ngapain?”
“Ganti lampu.” Jawab Rita santai.
“Ma.”
“Ya kamu tanya sendiri sama orang nya.” Ucap Rita. “Tapi mama mau bilang satu hal. Dua tahun lalu mama bilang ke kamu, orang baik itu banyak, yang jujur yang sedikit. Mama masih pegang itu. Cuma sekarang mama tambahin satu, orang yang mau balik buat benerin yang dia rusakin sendiri, itu lebih sedikit lagi.”
Setelah itu, banyak hal terjadi pelan-pelan.
Chatura tidak pernah tiba-tiba muncul di kantor Sienna. Ia hanya mulai ada di tempat-tempat yang wajar. Di kereta pagi. Di acara ulang tahun anak Ema. Di kondangan Angelo yang menikah pada bulan Juni. Di warung sate yang sekarang sudah pindah ke seberang jalan, ketika Renata dan Aksara mengajak mereka berempat makan bersama, yang jelas sekali sudah di atur sejak awal.
“Ini setting-an ya.” Ucap Sienna di meja itu.
“Setting-an banget.” Jawab Renata tanpa merasa bersalah.
Perlahan mereka mulai bicara lagi, tanpa buru-buru. Chatura menceritakan semuanya tanpa di minta, termasuk hal-hal yang tidak perlu. Kalau ada nomor asing menelepon nya, ia bilang. Kalau ada rekan kerja perempuan yang mengajak makan siang tim, ia bilang. Awal nya Sienna merasa itu berlebihan, hampir mengganggu, sampai suatu malam Sienna sadar bahwa ia sudah tidak pernah lagi memeriksa ponsel siapa pun.
Pada bulan September, sebuah amplop sampai ke rumah Chatura. Pengirim nya dari Surabaya.
Isinya undangan pernikahan Tiara, dan sepucuk surat pendek yang di tulis tangan.
Chatura, aku nikah bulan depan. Kamu gak perlu dateng, jauh. Aku cuma mau kamu tau, biar bagian ini beneran selesai, bukan ngambang kayak dulu. Aku minta maaf sekali lagi buat semuanya. Kalau kamu masih nyari dia, kejar. Kalau dia udah gak mau, hormatin. Jangan jadi orang yang bikin orang lain nunggu.
Chatura membaca surat itu dua kali, lalu melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan. Ia memotret surat itu, mengirim nya ke Sienna, tanpa penjelasan panjang.
Balasan datang setengah jam kemudian.
kenapa kamu kirim ini ke aku?
Chatura mengetik pelan.
Karena dua tahun lalu kamu tau nya dari orang lain. Sekarang aku mau kamu tau dari aku.
Sienna tidak membalas malam itu. Tetapi keesokan pagi nya, di kereta, gadis itu berdiri lebih dekat dari biasanya, cukup dekat sehingga lengan mereka bersentuhan setiap kali gerbong berguncang, dan tidak satu pun dari mereka menggeser badan.
Pada hari Sabtu di akhir bulan November, Chatura mengajak Sienna ke kafe taman tempat mereka bertemu untuk kedua kali nya dulu. Tempat itu sudah di renovasi, kursinya di ganti, tetapi meja yang menghadap ke arah kedua tower itu masih ada.
“Aku bawa sesuatu.” Ucap Chatura.
“Kalau ini cincin, aku pulang.”
“Bukan.” Jawab Chatura, lalu meletakkan sebuah ponsel lama di atas meja. Ponsel yang sudah tidak ia pakai bertahun-tahun.
“Apa ini?”
“Buka aplikasi catatan nya.”
Sienna mengambil benda itu, menyalakan nya, dan membuka aplikasi yang di maksud. Ada ratusan catatan di sana, berurutan, dari dua tahun yang lalu sampai bulan lalu. Hari ini Yuri udah bisa jalan. Aku berhenti ngerokok, udah dua bulan. Mbak Ambar hamil. Papa kamu masih suka posting ikan lele.
Sienna membaca nya satu per satu, dan pada catatan yang keseratus sekian, tangan nya mulai gemetar.
“Aku gak pernah kirim satu pun.” Ucap Chatura. “Bukan karena aku sok kuat. Karena kata orang yang lebih pinter dari aku, aku harus benerin diri aku dulu sebelum ngasih apa-apa ke kamu.”
Sienna meletakkan ponsel itu, mengusap wajah nya dengan kedua tangan, kemudian tertawa sambil menangis.
“Kamu tuh ya, susah banget di bencinya.”
“Berarti boleh?” Tanya Chatura.
“Boleh apa?”
“Boleh aku mulai lagi. Pelan-pelan.” Ucap Chatura. “Kali ini aku janji satu hal doang, dan cuma satu, biar aku gak bohong lagi. Kalau ada apa-apa, kamu yang pertama tau. Selalu.”
Sienna menatap pria itu lama sekali, di kafe taman yang sama, di kota yang sama, dengan dua gedung yang berdiri bersebelahan di kejauhan seperti dulu.
“Satu janji itu aja?” Tanya Sienna.
“Satu itu aja. Sisanya aku buktiin, bukan aku janjiin.” Jawab Chatura.
Dan Sienna, dengan seluruh dua tahun yang ada di punggung nya, mengangguk.