Suara musik dari lantai bawah terdengar samar-samar sampai ke kamar Chatura, tertahan oleh pintu kayu yang sengaja mereka tutup rapat supaya Yuri tidak terbangun. Sienna duduk bersandar di sisi ranjang, kaki nya di lipat ke samping, sementara Chatura duduk di lantai, punggung nya menempel di dinding, matanya sesekali melirik keponakan nya yang tidur dengan mulut sedikit terbuka.
“Kamu gak turun? Kan kakak kamu yang di lamar.” Ucap Sienna pelan.
“Nanti, nunggu prosesi nya jalan dulu. Dari kemarin aku gak tidur ngurusin dekor, sekarang malah ngantuk pas hari H.” Jawab Chatura sembari mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan.
Sienna mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar itu. Ada rak buku yang isinya campur aduk, buku kuliah, novel, sampai album foto keluarga yang sampul nya sudah mengelupas. Ada juga sebuah gitar akustik yang berdiri di pojok, senar nya berdebu, jelas sudah lama tidak di sentuh.
“Kamu bisa main gitar?” Tanya Sienna.
“Bisa dikit, dulu banget. Sekarang mah jari nya udah kaku.” Jawab Chatura. “Kenapa? Mau di mainin?”
“Enggak, ntar Yuri bangun terus aku yang di marahin Mbak Ema.” Balas Sienna, Chatura tertawa tertahan, menutup mulut nya sendiri dengan punggung tangan.
Ponsel Chatura bergetar di atas nakas. Nama Ema muncul di sana, di susul dengan tulisan yang huruf nya kapital semua, memerintahkan mereka berdua turun sekarang juga karena prosesi akan segera di mulai. Chatura bangkit, merapikan kemeja nya, kemudian menoleh ke arah Sienna yang sedang berusaha mengangkat Yuri sepelan mungkin. Bayi itu menggeliat, mata nya terbuka sebentar, lalu kembali terpejam di bahu Sienna.
“Pinter banget sih kamu megang bayi.” Ucap Chatura.
“Sepupu ku banyak, dari kecil aku jadi babysitter gratisan.” Jawab Sienna sembari berjalan keluar kamar lebih dulu.
Lantai bawah sudah penuh. Kursi-kursi tamu tersusun rapi menghadap satu set sofa yang di hias bunga putih dan hijau, di sana Ambar sudah duduk, wajah nya tegang tetapi senyum nya tidak bisa di sembunyikan. Ari duduk di seberang nya, seragam nya di ganti dengan jas hitam, tangan nya sesekali menggosok lutut sendiri karena gugup. Sienna berdiri di deretan belakang, di samping Chatura, menggoyangkan badan nya pelan supaya Yuri tetap tenang.
Prosesi berjalan lebih cepat dari yang Sienna kira. Perwakilan keluarga Ari bicara, di sambut perwakilan keluarga Ambar, lalu seserahan di angkat satu per satu ke depan. Ketika kotak beludru kecil itu di buka dan Ari menyematkan cincin ke jari Ambar, seluruh ruangan bertepuk tangan, beberapa ibu-ibu bahkan menangis. Sienna ikut terharu, entah kenapa, padahal ia baru mengenal Ambar hari itu juga.
“Kok kamu yang mewek.” Bisik Chatura.
“Bawaan bayi.” Jawab Sienna asal, Chatura tertawa, lalu mengambil Yuri dari gendongan Sienna karena tangan gadis itu sudah mulai kesemutan.
Selesai prosesi, semua orang berhamburan. Ema yang tadi duduk manis di depan tiba-tiba sudah berdiri di samping Sienna, menarik lengan gadis itu untuk ikut ke ruang makan. Di sana Melisa sudah menunggu, bersama seorang pria berkumis tipis dengan batik cokelat, yang wajah nya begitu mirip dengan Chatura sampai Sienna langsung tahu siapa beliau tanpa perlu di beritahu.
“Pa, ini Sienna, yang aku ceritain.” Ucap Chatura.
“Sienna om.” Ucap Sienna sembari mencium punggung tangan papa Chatura.
“Kerja di mana, nak?” Tanya beliau.
“Di Sudirman om, bagian keuangan.”
“Wah, satu jalur sama abang nya ini. Bagus, berarti kalau pulang bisa bareng, hemat.” Ucap papa Chatura dengan wajah datar, membuat Melisa langsung mencubit lengan suami nya sendiri.
“Papa tuh ya, baru kenal udah suruh pulang bareng.” Tegur Melisa.
“Ya kan hemat.” Balas beliau, dan seisi meja tertawa.
Belum selesai Sienna menghilangkan panas di wajah nya, dua orang pria masuk dari arah pintu depan. Yang satu memakai kemeja putih dengan lengan di gulung sampai siku, yang satu lagi memakai kaos hitam dan wajah nya kusut seperti orang yang tidak tidur tiga hari. Chatura langsung bangkit menyambut mereka.
“Anjir, telat.” Ucap Chatura.
“Macet, ja. Salahin Raja, dia yang lama.” Jawab pria berkemeja putih itu, kemudian pandangannya jatuh ke arah Sienna. “Nah, ini?”
“Sienna. Ci, ini Aksara sama Raja, temen aku dari SMA.” Ucap Chatura.
“Halo mas.” Sienna menyalami keduanya.
“Jadi ini yang lo bilang calon istri?” Tanya Aksara, sengaja keras, sampai Ambar yang duduk di ujung meja ikut menoleh.
“Woy.” Desis Chatura.
“Calon istri?” Ulang Sienna, alis nya terangkat.
“Ngaco dia, jangan di dengerin.” Jawab Chatura buru-buru, telinga nya memerah. Aksara tertawa puas, sementara Raja hanya tersenyum tipis, lalu duduk di kursi paling ujung dan menatap piring nya sendiri tanpa selera. Sienna sempat melirik pria itu sekilas, ada sesuatu yang jelas sedang mengganggu pikiran nya, tetapi Sienna tahu diri untuk tidak bertanya.
Ambar sempat menarik Sienna ke sudut ruangan sebentar, masih dengan gaun lamaran nya yang berat, kemudian menggenggam tangan gadis itu.
“Makasih ya udah dateng.” Ucap Ambar. “Adik gue tuh dari kemarin ngomongin lo mulu, sampai gue pusing.”
“Ih, mbak, jangan gitu.”
“Serius. Dua puluh sembilan tahun gue kenal dia, baru kali ini dia repot ngurusin orang selain diri nya sendiri.” Ucap Ambar, kemudian ia berlalu sebelum Sienna sempat menjawab apa-apa.
Makan siang keluarga itu berlangsung ramai. Enggar bercerita soal jalanan Bandung yang macet, Ema memotong ceritanya setiap dua kalimat, Ambar sibuk memotret cincin nya sendiri dari berbagai sudut, dan Melisa tidak berhenti menambahkan lauk ke piring Sienna sampai gadis itu menyerah.
“Tante, udah tante, kenyang banget.”
“Belum, kamu tuh kurus. Nanti kalau abang ini nikah sama kamu, mama malu di bilang gak ngasih makan menantu.” Ucap Melisa santai, dan lagi-lagi Sienna hanya bisa menunduk.
Menjelang sore, keluarga besar berkumpul di halaman untuk foto bersama. Sienna berdiri agak jauh, berniat memegangi tas dan ponsel milik Ema, tetapi Ema langsung menariknya masuk ke dalam barisan.
“Loh, mbak, aku kan bukan keluarga.”
“Belum.” Jawab Ema pendek, dan fotografer sudah keburu menghitung mundur.
Setelah beberapa kali jepretan, langit yang sejak tadi mendung mulai menjatuhkan titik-titik air. Tamu-tamu bergegas berpamitan, para pramusaji cepat-cepat mengangkat gelas dan piring dari meja panjang, sementara terpal dekorasi di tarik untuk melindungi bunga. Aksara dan Raja pamit lebih dulu, tidak lupa Aksara menepuk bahu Chatura sambil berbisik sesuatu yang membuat sahabat nya itu mendorong bahu nya kasar.
Sienna masuk ke dalam rumah, mencari tas selempang miliknya yang tadi ia tinggal di kursi dekat tangga. Dari jendela, ia bisa melihat hujan yang turun semakin rapat, membasahi jalanan komplek yang mulai sepi.
“Yah, hujan.” Gumam Sienna pada diri nya sendiri, sembari melirik jam di pergelangan tangan nya. Kalau begini, kereta terakhir akan penuh sesak, dan ia sudah membayangkan betapa panjang perjalanan pulang nya nanti.