"Mas Elang jadikan temanin aku tempatnya tante Imelda? Ini fitting terakhir buat baju wisuda aku mas? Sudah dua kali kita ngecancel janji fitting" tanya Sabina saat melihat Elang yang sedang memeriksa rekam medik pasien di meja kerja nya.
"Jadi kok Sab, tapi mas visite dulu ya...!! Cuma sejaman kok, boleh?" tanya Elang lembut sambil menatap Sabina yang berdiri didekat pintu ruangan nya.
"Ya ngak papa mas, aku juga mau dampingi dr. Umar buat visite juga. Lagian janjiannya sore kok. " jawab Sabina sumbringah.
Ini sudah ke tiga kalinya mereka janjian berangkat. Dua kali janjian pertama terpaksa batal.
Pertama batal karena Marissa kesulitan waktu mengurus berkas perpindahannya ke kampus. Jadi Elang bergegas ke kampus Marissa hingga terpaksa Sabina menelpon tante Imelda untuk membatalkan janji.
Dan batal kedua tiga hari yang lalu. Saat mereka akan berangkat Marissa menelpon dan bilang dia lagi di cafe tapi dompetnya hilang. Lagi lagi terpaksa Sabina membatalkan kembali janjiannya dengan tante Imelda.
Sebenarnya Sabina sudah berusaha untuk tidak berburuk sangka, tapi tetap saja rasanya kesal sekaligus malu pada tante Imelda karena designer sekelas tante Imelda di cancel berkali kali.
Untung saja dengan alasan sibuk di rumah sakit tante Imelda mengerti.
***
"Kan benar saja... Lagi lagi di cancel." Sabina mengumpat di dalam hati dengan nada kesal
"bagaimana ini, Tidak mungkin lagi rasanya membatal lagi kali ini. Rasanya malu banget sama tante Imelda. Walaupun dia sahabat mama tetap saja membatalkan janji berkali-kali seakan akan tidak menghargainya." ucap Sabina sambil memijit kening nya yang mendadak berdenyut sakit.
"aku pergi sendiri saja" putus Sabina akhir nya.
Sabina berjalan keluar dari lobby utama, mencari taxi untuk pergi ke butik Tante Imelda.
Saat menunggu taxi online yang dia pesan tiba tiba sebuah mobil maybach hitam berhenti tepat di depannya. Saat kaca sampingnya turun terlihat Garuda duduk dibalik kemudi.
"Baru pulang Bi? Kenapa nggak bareng Elang" tanya nya pada Sabina.
Sabina tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya, satu satu nya orang selain keluarga yang memanggilnya nya Bi, di saat orang lain memanggil nya Sab.
"Mas Elang lagi ke tempat Marissa kak Ruda, katanya dia jatuh di kamar mandi, " jawab Sabina sambil berjalan ke arah mobil Kak Garuda.
"Kalau gitu bareng aja yuk. Kebetulan kakak juga nggak lagi sibuk" tawarnya.
"nggak usah kak, aku mau ke butik dlu. Fitting buat baju wisuda. Udah janjian sama tante Imelda " jawab Sabina.
"Nggak papa biar kakak antar sekalian," tawarnya lagi dengan nada yang sedikit memaksa.
"Tapi aku udah pesan taxi online kak. Tuh mobilnya juga udah sampai" tunjuk sabina pada mobil brio merah yang baru saja datang.
Garuda turun dari mobil dan berjalan mendekati mobil pesanan Sabina. Entah apa yang dia bicarakan, tak lama dia dia mengeluarkan 2 lembar ratusan ribu dan menyerahkannya pada driver tersebut. Dan mobil itu pun berlalu.
"Udah di cancel, ayo masuk" katanya sambil masuk kembali ke balik kemudi.
Mau tak mau Sabina pun akhirnya ikut masuk ke mobil mewah keluaran Jerman tersebut.
"Kenapa sih Kak maksa amat mau ngantar aku?" tanya Sabina sambil cemberut.
"Ini udah sore Bi, habis ini mau ke butik dulu selesai nya habis maghrib, udah gelap. Bahaya cewek jalan sendiri malam malam"
"Aku ini calon kakak iparmu Bi, kalian udah tunangan, sebentar lagi juga bakal nikah. otomatis kamu itu adik aku juga sekarang, kalau Elang lagi nggak bisa ngantar kamu, kamu bisa minta tolong sama kakak kan " terangnya.
Sabina ngangguk dan tersenyum. Hp Sabina tiba tiba berdering dan di layar lihat jika Elang yang memanggilnya.
"Mas Elang nelpon, aku angkat dlu ya Kak, " ucap Sabina pada Garuda yang fokus menyetir. Garuda menjawab dengan anggukan kepala.
"Hallo mas, assalamualaikum" sapa Sabina lirih.
"Waalaikumsalam Sab, kamu jadi ke tempat tante Imelda?" tanya Elang langsung.
"Jadi mas" jawab Sabina pendek
"Maaf ya Sab, mas nggak bisa ngantar kamu, Marissa jatuh di kamar mandi, dia sendirian di rumah, mbak yg bantu bantu di rumahnya lagi ke pasar. Kamu jadi pake taxi?" tanya mas Elang dengan suara sedikit khawatir.
"Nggak mas waktu lagi nungguin taxi aku ketemu Kak Garuda, ini aku lagi di mobil nya sekarang" jawab Sabina sambil memandang sosok duplikat Elang yang duduk di sisi kanannya.
"Alhamdulillah kalau kamu sama Garuda, mas cemas kalau kamu jalan sendiri pakai taxi. Ya udah nanti mas telfon lagi nanti ya, assalamualaikum" tutup nya tanpa menunggu Sabina menjawab salam tersebut.
"Waalaikumsalam" Sabina tetap menjawab salam walaupun dia tau Elang tak lagi bisa mendengar jawaban nya.
Pikiran Sabina melayang kemana mana, pikiran sesat yang dihembuskan setan berlahan masuk ke dalam hati nya.
"Sebenarnya apa hubungan mas Elang dengan Marissa. Apa benar merdeka cuma teman?"
"Kenapa saat Marissa dalam masalah mas Elang bersedia meninggalkan apapun untuk berlari kearahnya."
"Bi... Sabina... Bi..." teguran Samudera membuyarkan lamunan Sabina.
"Eh Kak Garuda, maaf aku lagi nggak fokus, Kenapa Kak?" tanya Sabina sambil nyengir malu malu.
"Kakak tanya kamu kenapa, kok bengong aja habis nelpon sayangnya? " goda Garuda sambil tersenyum tipis.
"Aku cuma lagi mikir aja Kak apa benar status Marissa cuma sahabat di hatinya mas Elang." ucap Sabina lirih.
"Kok kamu mikir gitu?" tanya Garuda sambil sedikit memutar mata nya menatap Sabina yang duduk dengan kepala tertunduk di sisi kirinya.
Sabina memandang Garuda dengan ekspresi tak terbaca.
"bagaimana pun kak Garuda adalah orang lain, lebih baik aku membicarakan ini dengan mas Elang, kerisauan hati ini biar aku bicarakan dengan orang yang bersangkutan" ucap Sabina di dalam hati nya.
Sabina mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menghindari tatapan intens dari kembaran sang tunangan.
Melihat Sabina yang terdiam tanpa kata, Garuda juga diam, dia terlihat mengerti dan tidak memaksa Sabina bercerita.
Garuda juga sepertinya paham kalau dia tidak bisa masuk terlalu jauh kedalam hubungan Sabina dan saudara kembarnya.
***
"Maaf ya tan. Udah dua kali Aku membatalkan janji fitting sama tante. aku benar benar sibuk di rumah sakit dan persiapan wisudaku" ucap Sabina sambil cipika cipiki sama tante Imelda.
"Nggak papa Sab tante ngerti kok kesibukan kamu" ujar tante Imelda dengan ramah
"Ayo masuk baju kamu udah di siapin sama nurul di dalam. Ayo masuk sekalian nak Elang" sapa tante imelda pada Garuda yang berdiri tepat di belakang Sabina.
"Ini bukan mas Elang tante, tapi Kak Garuda kembarannya mas Elang, mas Elang nya sibuk banget maka nya Kak Garuda nawarin buat ngantar aku kesini" terang Sabina ambil tersenyum memperkenalkan sosok di belakangnya.
"Oala tante pikiran nak Elang... Habis mirip banget." katanya tante Imelda sambil tertawa.
"Beda dikit tante, Kak Garuda punya tahi lalat kecil dibawah mata kirinya" kata Sabina sambil menunjuk mata kiri Garuda.
Tante imelda yang mendengar itu langsung mendekati Garuda dan melihat tahi lalat kecil dibawah mata kirinya.
"benar... ada tahi lalat nya, bikin tambah ganteng, udah punya kekasih belum nak Garuda, Tante ada anak gadis, mau Tante kenalin?" ucap Tante Imelda dengan nada menggoda.
"Saya belum ingin menikah tante, lagi menikmati kesendirian sebelum terjerat ikatan pernikahan" jawab Garuda sambil tersenyum.
***
"Makasih ya kak udah ngantar Aku pulang, beneran nggak mau mampir dulu? Mama pasti senang kalau kakak mampir, sekalian makan malam" Tawar Sabina sesampai nya mereka di depan rumah.
"Nggak usah Bi makasih , salam aja ya buat mama sama papa kamu. Kakak di suruh makan di rumah ama mama." tolak kak Garuda dengan lembut.
"Ya Udah sekali lagi makasih ya kak. " Ucap Sabina sambil menutup pintu mobil Garuda.
"Sama sama. Udah masuk saja, kakak balik ya" pamit Garuda. Sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sabina.
"Assalamualaikum" ucap Sabina saat masuk ke rumah yang pintu nya telah terbuka lebar.
"Waalaikumsalam" suara yang sangat Sabina rindukan menjawab dari dalam rumah.
***