Innovel Writing Contest——The Next BIG Name
TENTARA LANGIT ZUKHO EPISODE 1
Pemuda itu tampaknya tengah digelayuti perkara yang sulit. Berkali-kali dilemparnya bebatuan kecil, berusaha mencapai bagian tengah kolam. Genangan air yang ditumbuhi tanaman teratai dan dihuni ratusan ikan koi itu kini menjadi tempatnya menepi sejenak. Bukan melarikan diri, tetapi menjernihkan pikiran sebelum menghadap sang guru.
Pikiran kalut disertai keraguan hati yang tengah dirasakan bermula dari bola merah yang ia dapatkan. Beberapa hari yang lalu, sebagai ujian akhir naik level tingkat selanjutnya, sang guru mengundi tugas bagi setiap muridnya. Bola merah adalah yang paling dikhawatirkan bagi semua murid.
“Kelima muridku, hari ini aku akan mengundi ujian apa yang harus kalian selesaikan untuk naik ke tingkat tujuh. Kalian akan diakui oleh tentara langit jika sudah berada di tingkat tujuh. Kesempatan untuk menjadi tentara langit pun terbuka lebar untuk kalian,” ujar sang guru.
Kelima muridnya berdiri mengelilingi pria berjenggot putih itu. Sedangkan ratusan murid lainnya tampak takjub terhadap para senior yang sebentar lagi akan berada di tingkat tujuh. Satu di antaranya masih berusia sangat muda. Si bungsu itu kerap kali mendapat predikat anak emas. Ia begitu menonjol dibandingkan dengan kakak seperguruannya.
Zukho—pemuda yang kerap digadang-gadang sebagai anak emas itu sungguh misterius. Tidak ada yang tahu latar belakangnya. Apakah dia putra dari manusia biasa, atau justru anak hasil hubungan manusia dengan penghuni khayangan.
Lima belas tahun yang lalu, sang guru tiba-tiba membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun ke Perguruan Kaki Tentara Langit. Kala itu, pria sepuluh ribu tahun itu baru saja kembali dari perjalanan. Beberapa orang menyebut ia baru kembali dari bumi, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa perjalanan yang dilakukannya bukan ke bumi, melainkan ke alam baka.
Pria kecil berkulit seputih salju itu sukses membuat siapa pun terkesima ketika melihatnya. Ia memiliki aroma khas yang keluar dari tubuhnya saat berkeringat. Harum bagaikan mawar kelopak besar. Selain itu, Zukho memiliki kecerdasan yang luar biasa, mengalahkan kakak seperguruan yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun menimba ilmu. Zukho kecil sudah berada di tingkat lima saat usianya memasuki remaja—lima belas tahun, dan sekarang di usia dua puluh tahun dia akan naik ke tingkat tujuh.
“Aku akan melemparkan lima bola kristal ke udara. Setiap bola memiliki warna yang berbeda dan masing-masing dari kalian hanya boleh mengambil satu bola.”
Sang guru kembali menjelaskan peraturan dalam pengundian tersebut. Ada pun tugas yang diberikan nantinya adalah berbeda. Sesuai dengan warna bola yang didapat.
“Bola berwarna putih. Siapa pun yang mendapatkan bola ini, maka dia harus pergi ke kerajaan Yuja Alexis. Tugas bagi pemilik bola ini adalah mendapatkan Diamond Star yang dimiliki Yuja Alexis tanpa membunuhnya,” terang sang guru sembari menunjukkan bola kristal putih.
Baru-baru ini, penduduk di sekitaran Sungai Silver diresahkan oleh kehadiran Yuja tersebut. Ikan-ikan di sungai itu berubah menjadi sangat ganas, hingga mampu merobek jaring para penangkap ikan. Alhasil, penduduk yang sebagian besar merupakan nelayan, kehilangan sumber penghasilan. Mereka menjadi sangat miskin dan anak-anak mereka kelaparan. Sebagai calon tentara langit, tugas mereka adalah menghukum Yuja yang mengganggu ketentraman manusia bumi.
“Bola kristal hijau. Jangan terkecoh dengan mulut manis Yuja Ariel dan pelayannya. Para pujangga belakangan dilaporkan menghilang saat melintasi gua Yuja Ariel. Bebaskan para pujangga dan berikan hukuman pada Yuja Ariel, selain itu ambil Diamond Star dan bawa ke sini.”
Kelima murid senior itu terkekeh. Agaknya berita mengenai betapa genitnya para pelayan Yuja Ariel sudah lama menjadi perbincangan di perguruan yang terletak di pulau mengapung itu. Bukan mengapung di atas air, melainkan mengapung di langit. Bahkan, puncak gunung di pulau tersebut menembus hingga khayangan. Tak jarang, para penghuni khayangan singgah untuk sekadar memanjakan mata dengan keindahan pulau tersebut.
“Bola kristal kuning. Sebagai calon tentara langit, tugas kalian tidak hanya menghukum para Yuja yang berbuat onar, tetapi juga melindungi Yuja baik yang tertindas.”
Yuja Agave, seratus tahun yang lalu memutuskan untuk berbakti kepada Kaisar langit. Akan tetapi, salah satu mata-mata langit melaporkan, bahwa saat ini ia tengah diperbudak oleh Yuja yang lebih kuat. Ia dipaksa melayani dan tidak diizinkan untuk melakukan perbuatan baik. Oleh sebab itu, sang guru memberikan tugas kepada siapa pun yang mendapatkan bola kristal kuning untuk menolong Yuja Agave dan mendapatkan Diamond star yang mungkin dimiliki oleh salah satu Yuja itu.
“Bola kristal berwarna biru. Ribuan tahun yang lalu salah seorang tentara langit dihukum di bawah tanah. Aku dengar, setelah menyelesaikan hukuman, ia justru menjadi Yuja. Tangkap! Jika terpaksa ... bunuhlah! Lalu, bawa Diamond Star.”
Suana yang awalnya tidak begitu tegang, sekonyong-konyong berubah. Kendati sang guru tidak menyebutkan namanya, tetapi semua murid telah mengetahui siapa yang dimaksud.
Seorang tentara langit yang terobsesi menjadi jenderal. Ia menerobos alam baka untuk menghapus catatan dosa masa lalu. Di mana seorang yang mencalonkan diri sebagai jenderal. Ia tidak boleh membunuh semasa hidupnya, sehingga tidak ada karma buruk yang ditanggung. Diketahui, ia pernah dilahirkan sebagai seorang bangsawan. Akan tetapi, kesalahan fatal telah diperbuat.
Sebagai seorang putra bangsawan, ia merupakan anak bungsu yang culas. Ia cemburu kepada sang kakak yang lebih disayangi ayahnya. Perlakuan pilih kasih sang ayah agaknya membuatnya begitu membenci kakaknya.
Savaric, nama pria ambisius itu. Ia murka ketika mengetahui bahwa diam-diam ayahnya telah mengatur kakaknya sebagai pewaris keluarga dan berniat untuk menyingkirkannya. Tak terima hendak diperlakukan tidak adil, Savaric pun berniat melakukan hal jahat. Ia membunuh sang kakak sebelum akhirnya ia meninggal saat tengah berburu.
“Bola kristal merah. Siapa pun yang mendapatkan bola ini ...,” ujar sang guru terjeda.
Apa yang lebih buruk dibandingkan berhadapan dengan Savaric?
“Guru?” tanya murid pertama yang khawatir. Tampaknya pria itu tahu ada hal besar yang hendak disampaikan gurunya.
“Katakanlah, Guru! Murid siap dengan semua tugas yang Guru titahkan,” ujar murid keempat menimpali.
Ga In—murid keempat yang merupakan satu-satunya perempuan dari kelima murid senior. Kendati usianya lebih dari setengah abad, tetapi kecantikannya setara dengan Dewi Bulan. Pada dasarnya, semua yang tinggal di pulau apung dianugerahi awet muda dan panjang umur. Mereka adalah manusia-manusia setengah dewa.
Menghela napas. “Alam baka dan temui Yuja Meng Po pemangsa arwah yang tidak bisa reinkarnasi!”
“Selanjutnya apa, Guru?” tanya kelima muridnya hampir bersamaan.
“Selanjutnya? Jika berhasil selamat setelah bertemu untuk pertama kali dengannya, barulah aku beri tahu selanjutnya.”
Untuk pergi ke alam baka, bukankah orang tersebut harus mati? Selain sang guru, tidak ada satu pun penghuni pulau apung pernah ke alam baka. Ya, mereka tetap manusia yang bisa sakit, lalu mati.
Yuja Meng Po yang sang guru maksud adalah Yuja yang telah ribuan tahun berada di tanah gesang sebelum pintu gerbang alam baka. Ia terkenal kejam. Makanannya adalah para arwah dengan karma buruk yang menolak untuk dilahirkan kembali. Ada yang mengatakan, bahwa Savaric—sebelum diangkat menjadi tentara langit, seharusnya menjadi santapan Yuja Meng Po tersebut. Akan tetapi, takdir berkata lain.
Savaric menemukan kelemahan Yuja Meng Po. Ia berhasil membunuh Yuja tersebut. Atas keberanian dan ketangguhannya, ia diangkat menjadi tentara langit.
Sepeninggalnya Yuja Meng Po yang pertama, sang adiklah yang kemudian menjaga tempat tersebut untuk menggantikan sang kakak. Tidak ada yang tahu apakah adik Yuja Meng Po pertama itu sekejam kakaknya. Akan tetapi, hingga saat ini, masih ada laporan arwah hilang sebelum mencapai gerbang alam baka. Besar kemungkinan, Yuja Meng Po yang kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama, atau bahkan lebih kejam.
Sang guru mulai mengambil ancang-ancang untuk melempar bola kristal. Sedangkan kelima muridnya mengikat erat kain penutup mata masing-masing. Sesuai dengan peraturan pengundian, agar tidak dapat melihat warna bola kristal tersebut, mereka diwajibkan untuk menggunakan penutup mata.
Mengandalkan indra lain selain pengelihatan, insting berburu tampaknya mulai diperlukan dalam hal ini.
“Ambil bola kalian!” seru sang guru setelah melempar bola-bola kristal itu hingga membentur langit-langit aula yang tingginya lebih dari 80 kaki.
Sementara para senior berterbangan mengejar dan menangkap bola kristal. Murid lain bersorak memberi semangat. Kelimanya tampaknya memiliki penggemar masing-masing. Kebanyakan dari mereka mengidolakan Ga In. Selain kungfu yang hebat, tentunya sebab parasnya yang cantik. Apa lagi, murid Perguruan Kaki Tentara Langit memang didominasi oleh laki-laki. Antara murid laki-laki dan perempuan memiliki perbandingan 2 dari seratus murid adalah perempuan.
Tentara langit bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Tidak seharusnya perempuan berkeinginan menjadi tentara langit. Hak istimewa yang diperoleh Ga In adalah karena dia merupakan reinkarnasi seorang pria suci di masa lampau. Kendati dilahirkan kembali sebagai seorang perempuan, pun tidak menyurutkan keinginannya untuk berdiri pada barisan penentang kemungkaran dan ketidakadilan.
“Lapor, Guru! Aku Erion—murid pertama telah berhasil mendapatkan bola kristal hijau dan siap menjalankan tugas!”
Para murid yang tidak mengikuti undian tertawa terbahak-bahak mengetahui salah satu senior mereka mendapatkan bola kristal hijau. Itu berarti ia akan pergi ke gua sarang Yuja Ariel untuk membebaskan para pujangga. Tentunya yang menggelikan ialah membayangkan Erion menahan hawa nafsu tehadap godaan para Yuja di tempat tersebut.
“Lapor, Guru! Aku Leon—murid ketiga. Aku mendapatkan bola kristal putih dan siap untuk bertugas!”
Yuja penguasa gunung merapi yang memutuskan untuk bertobat itu mendapatkan bola kristal putih. Akan terjadi reuni tentunya dengan sesama siluman. Rumor beredar, bahwa Yuja Agave di sungai Silver adalah mantan kekasihnya. Kendati ia tidak pernah mengakui hal tersebut, tetapi lebih banyak yang percaya gosip daripada sanggahan.
“Lapor, Guru! Aku Aron—murid kedua, siap menjalankan tugas!” serunya sembari memperlihatkan bola kristal berwarna kuning di telapak tangannya.
Pria pendiam yang piawai menggunakan jurus-jurus pedang itu tampak puas dengan tugas yang diemban. Menolong sesama sudah biasa dia lakukan semenjak kecil. Hidup sebagai seorang pangeran tidak lantas membuat dirinya bersikap sombong. Ia kerap berinteraksi dengan rakyatnya.
Kebaikannya rupanya tak cukup membuka mata calon putra mahkota lainnya. Konspirasi k**i mengutus pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawanya. Sadar dia tidak akan selamat, yang dilakukannya adalah menunggu di atas ranjang sembari berdoa. Alih-alih berdoa mohon keselamatan dirinya sendiri. Aron justru mendoakan agar ayahnya panjang umur, sehingga dapat melindungi rakyat dan mengampuni pembunuh sang pangeran.
Sang guru yang saat itu tengah melakukan perjalanan alam bawah sadar pun tersentuh. Pangeran dinyatakan selamat dari rencana pembunuhan, tetapi negeri digemparkan oleh berita hilangnya sang pangeran. Aron memutuskan untuk tidak pernah kembali ke dunia dan memilih tinggal di pulau apung sebagai murid Perguruan Kaki Tentara Langit.
“Lapor, Guru!”
Murid keempat dan kelima mendarat secara bersamaan. Keduanya telah menggenggam bola kristal masing-masing. Semua penasaran siapa di antara mereka yang memperoleh bola kristal merah. Meskipun mendapatkan bola kristal biru dan berhadapan dengan Savaric juga bukan merupakan perkara mudah.
“Baiklah, tunjukkan padaku bola kristal yang kalian genggam!” titah sang guru.
Perlahan-lahan, keduanya membuka genggaman secara bersamaan. Ga In menghela napas lega. Di telapak tangannya bertengger bola kristal berwarna biru. Itu berarti satu bola kristal yang tersisa adalah bola kristal merah. Zukho—murid kelima lah yang akan pergi ke alam baka untuk bertemu dengan Yuja Meng Po.
Sudah tiga hari sejak pengundian itu. Kakak seperguruannya sudah bersiap-siap untuk pergi ke dunia manusia. Sedangkan ia masih berdiri di tepi kolam. Memikirkan bagaimana caranya untuk sampai ke alam baka tanpa meninggal dunia terlebih dahulu.
“Zukho! Kalau kamu melempar batu terlalu kuat, kamu akan menyakiti ikan di sana.”
Kedatangan salah satu kakak seperguruannya, membuyarkan lamunan. Ga In, selain saudara perguruan lainnya. Gadis itu adalah yang paling dekat dengannya. Keduanya memiliki kedekatan semenjak sang guru membawa Zukho ke tempat tersebut.
“Ga In, apa kamu akan pergi hari ini seperti yang lainnya?”
Raut wajah tak rela tampak jelas menghiasi perangai pemuda itu. Tidak masalah jika yang lain akan pergi hari ini, asal bukan wanita yang kini di hadapannya. Ia berpikir hari-hari akan terasa sepi dan membosankan tanpa kehadiran Ga In. Terlebih lagi, kemungkinan bertemu kembali tentu tidak dalam waktu dekat.
Sang guru melarang muridnya untuk kembali sebelum menyelesaikan tugas. Berhadapan dengan Savaric. Jika Yuja Meng Po yang pertama berusia ribuan tahun mati di tangan Savaric, apalagi Ga In yang hanya manusia setengah dewa calon tentara langit.
“Ga In,” panggil pemuda di hadapannya, tetapi tampaknya ragu untuk melanjutkan.
“Hem,” jawab Ga In hanya dengan berdehem.
Pemuda dua puluh tahun itu melangkah lebih dekat. Diraihnya kedua tangan wanita yang berdiri hanya satu jengkal di hadapannya. Mereka saling tatap, melihat bayangan wajah masing-masing pada pantulan bola mata lawan bicara.
“Ga In ...,” ujarnya terjeda. “Sebelum kamu pergi, aku ingin mengatakan sesuatu. Ga In ... aku, sebenarnya aku. Sudah sejak lama ....”
“Jangan katakan apa pun!” pinta Ga In berseru.
“Apa?!”
“Jangan katakan apa pun saat ini. Katakanlah saat aku kembali nanti. Aku anggap itu sebagai hadiah.”
Seolah tahu apa yang hendak adik seperguruannya katakan. Wanita bermata sipit itu menolak untuk mendengar. Ia bahkan meminta Zukho untuk menunggu usai dia kembali dari tugasnya.
Menuruti permintaan sang kakak seperguruan. Zukho mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya.
“Baiklah, berjanjilah untuk kembali. Ingatlah, ada hati di sini yang ingin didengar,” ungkap pemuda itu diakhiri dengan senyum manis di bibir tipisnya.
“Adik!”
Teriakkan Erion membuat keduanya kocar-kacir. Keduanya yang masih berpegangan segera menghempaskan tangan masing-masing.
“Erion ... ada apa?” tanya Zukho.
“Bukan kamu, tapi Ga In. Ga In, guru panggil kamu. Pergilah!”
Menjawab dengan anggukkan kepala, gadis itu beranjak meninggalkan kedua saudara seperguruannya, demi memenuhi panggilan sang guru. Saat berada cukup jauh dari mereka, ia tersenyum seorang diri. Hal yang ditahannya sejak tadi. Perasaan berbunga-bunga tatkala seorang pemuda paling tampan di alam semesta hampir saja menyatakan cinta kepadanya.
‘Tunggu aku, Zukho! Tunggu sampai aku kembali dan katakanlah hal yang sangat ingin kudengar itu,’ ungkapnya membatin.
Ga In pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadap adik seperguruannya itu. Bunga-bunga cinta tumbuh liar di dalam hati dan tak mampu dia kendalikan. Namun, keinginan untuk menjadi tentara langit, membuatnya dilema setengah mati. Tentara langit tidak boleh menikah. Tentara langit sama dengan dewa khayangan yang harus meninggalkan keinginan duniawi.
Ga In menatap punggung sang guru yang kini berada di hadapannya. Sesaat setelah memasuki ruangan berlantai kaca dengan para peri kecil berterbangan di dalamnya.
“Guru, murid memberi hormat!”
Pria tua itu masih memunggungi muridnya. Membuat sang murid bertanya-tanya apa gerangan yang hendak disampaikan oleh pria sepuluh ribu tahun tersebut. Menunggu beberapa saat, akhirnya rentetan kalimat itu memecah keheningan antara mereka berdua.
“Tentara langit tidak boleh menyimpan perasaan cinta di dalam hatinya. Ingatlah, Ga In. Ambisimu bukan hanya menjadi tentara langit, tetapi seorang jendral yang memimpin 100.000 tentara langit timur.”
“Guru—“ ujarnya terpotong saat sang guru mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat untuk diam.
Pria yang paling dihormati di Perguruan Kaki Tentara Langit itu tampaknya telah mengetahui perkara di tepi kolam. Saat di mana Zukho hampir saja mengutarakan rasa cinta kepada kakak seperguruannya. Benar yang dikatakan oleh orang-orang, bahwa pohon di tempat itu memiliki mata dan serangga yang bersembunyi dapat berbicara.
Selama lima belas tahun Ga In menyembunyikan perasaan cintanya terhadap adik seperguruannya itu. Akhirnya, hari ini sang guru mengetahuinya. Ia malu, merasa gagal karena terpesona dengan paras tampan dan kecerdasan pria muda itu. Sebelum kedatangan Zukho, ia adalah murid kesayangan sang guru. Usianya belum seratus tahun, tetapi ilmunya jauh di atas kakak seperguruannya.
Tidak ada perasaan iri ketika seluruh penjuru pulau mengapung beralih mengelu-elukan Zukho dibandingkan dirinya. Bahkan, ia sendiri berada di pihak orang-orang yang mengagumi pria seputih salju itu. Meskipun tidak dengan terang-terangan. Akan tetapi, perhatiannya terhadap adik seperguruannya terkadang berlebihan.
Hal itulah yang kemudian diartikan oleh Zukho sebagai hal yang tak biasa antara laki-laki dan perempuan.
“Berhadapan dengan Savaric bukan hal yang mudah, tetapi itu jauh lebih beruntung dibandingkan pergi ke alam baka untuk menemui Yuja Meng Po,” ungkap sang guru yang langsung dipahami oleh Ga In.
PRANG!
“Itu sebabnya guru mengubah bola kristal merah menjadi biru?” ujar Ga In sembari melempar bola kristal merah ke lantai, hingga benda tersebut hancur berkeping-keping.
Mengetahui Ga In mendapatkan bola kristal merah saat pengundian. Sang guru menggunakan sihirnya untuk mengubah warna bola tersebut. Hal yang sama juga dilakukan pada bola yang didapatkan oleh Zukho. Bola kristal pemuda itu menjadi merah karena ulah sang guru.
Tiga hari berlalu setelah pengundian, sihir itu menghilang. Kedua bola kristal itu kembali pada warna aslinya. Berbeda dengan Ga In yang masih menyimpan bola kristal yang didapatnya. Zukho justru sudah melempar benda tersebut ke dasar kolam karena kesal.
“Orang-orang berpikir Guru sangat menyayangi Zukho. Ternyata tidak. Guru bahkan sangat tidak menginginkan bocah itu, hingga merencanakan ini semua dengan menyuruhnya melakukan hal paling mustahil. Mengirimnya ke alam baka sama halnya dengan menyuruhnya untuk mati. Mengapa begitu k**i kepada murid sendiri, ha?!”
Gadis itu tampaknya tak mampu mengendalikan emosinya. Ia begitu kesal mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh sang guru meskipun itu demi dirinya. Ia mulai berpikir, bahwa kehadiran Zukho hanya untuk mengalihkan opini banyak orang yang sebelumnya menganggap Ga In adalah anak emas. Hal itu tampaknya berhasil mengecoh. Zukho begitu menonjol. Orang-orang benar-benar telah terkesima.
“Ga In, Zukho adalah satu-satunya lawan terbesarmu di kemudian hari.”
Murid terbaik sebelum kedatangan Zukho itu hingga saat ini masih menjadi pusat perhatian sang guru. Bukan tanpa alasan pria sepuluh ribu tahun itu melakukan hal demikian.
Delapan ratus tahun yang lalu. Pria suci mengorbankan dirinya demi menyelamatkan saudara laki-lakinya. Manusia yang meskipun berkali-kali reinkarnasi, tetapi tidak pernah melakukan karma buruk. Tidak pernah menentang takdir dan taat pada kerajaan langit. Keinginan terbesarnya adalah menjadi tentara langit. Menghukum yang salah dan melindungi yang lemah. Berbakti pada kerajaan langit untuk menumpas Yuja pengacau.
Dua bersaudara itu akhirnya gugur sebagai calon tentara langit. Pria suci wafat, sementara sang adik mengundurkan diri. Kendati keduanya merupakan murid terbaik. Akan tetapi, semenjak sang kakak meninggal dunia, sang adik kehilangan semangat hidup, hingga mengubur dalam-dalam keinginannya untuk menjadi tentara langit.
Ia kembali ke kampung halaman. Bersemedi selama seribu tahun. Dalam perjalanannya di alam bawah sadar, ia menemukan pulau mengapung tanpa penghuni. Sejak saat itu, didirikanlah sebuah perguruan bernama Perguruan Kaki Tentara Langit. Orang maupun Yuja yang menuntut ilmu di perguruan tersebut menjadi setengah dewa dan berpotensi untuk mencalonkan diri sebagai tentara langit.
Seribu tahun menunggu. Ia mendengar kabar bahwa pria suci telah reinkarnasi. Lahir dari rahim dewi khayangan yang berhubungan dengan manusia biasa. Akan tetapi, pada kehidupan baru, pria suci dilahirkan sebagai seorang wanita—Ga In.
“Guru, aku mohon. Lihatlah aku sebagai muridmu—Ga In, bukan sebagai pria suci. Maafkan aku karena telah melupakan siapa diriku pada kehidupan sebelumnya. Zukho, tolong ampuni dia, Guru!”
Gadis itu berlutut memohon kepada sang guru. Berharap dapat mengubah keputusan pria tua itu agar adik seperguruannya tidak harus pergi ke alam baka. Ia berjanji akan menghapus perasaan cintanya terhadap Zukho, asal sang guru juga berjanji untuk mengampuni mereka.
Percaya kepada orang yang jatuh cinta adalah keputusan yang bodoh. Tampaknya, pria sepuluh ribu tahun itu tidak ingin mengambil risiko besar di kemudian hari. Sekalipun keduanya tidak disatukan oleh cinta, tetapi mereka tetap akan bertemu sebagai rival. Saat keduanya tengah berhasil menjadi tentara lagit. Menjadi jendral merupakan keinginan yang sama antara Ga In dan Zukho.
Sang guru berpikir, bocah laki-laki itu akan lebih sulit disingkirkan di kemudian hari. Pada saat ini, usianya baru dua puluh tahun, tetapi sudah berada di tingkat yang sama dengan Ga In yang telah lebih dari setengah abad menuntut ilmu darinya.
“Pergilah dan temui Savaric! Jangan pikirkan bagaimana aku akan mengambil sikap terhadap adik seperguruanmu,” ungkap sang guru memerintahkan muridnya untuk pergi menjalankan tugas seperti tiga saudara seperguruan lainnya.
“Guru, aku mohon pertimbangkanlah kembali, murid bersedia membunuh Savaric, tolong tarik kembali perintah Guru terhadap adik seperguruan, Murid mohon, Guru!”
Tanpa sepatah kata pun, sang guru beranjak, meninggalkan muridnya yang masih berlutut. Ia tidak menghentikan langkah meski berkali-kali dipanggil. Reinkarnasi pria suci itu hampir saja meluruhkan air mata. Sekeras apa pun memohon, tampaknya sang guru telah membatu.
“Kakak, apa yang terjadi?” tanya seorang gadis yang juga murid di Perguruan Kaki Tentara Langit. Akan tetapi, gadis itu lebih mirip sebagai seorang pelayan daripada saudara seperguruan. “Kakak, wajahmu tampak lelah, matamu merah seperti orang yang baru saja menangis,” ungkapnya sembari mengikuti langkah Ga In yang berjalan cepat.
“Aku tidak apa-apa. Cepat siapkan barang-barangku, aku akan pergi hari ini,” pintanya pada gadis yang masih terus mengiringi langkahnya hingga paviliun tempatnya tinggal selama lebih dari setengah abad terakhir.
To be continued