Bintang tidak mendengar jawaban dari sang istri setelahnya. Keheningan menyergap keduanya meskipun aura permusuhan yang mereka keluarkan benar-benar mengerikan. Satu-satunya alasan Bintang bersedia menikah adalah karena adiknya. Sebelum pernikahan antara Bintang dan Cinta terjadi, sudah ada kesepakatan yang diketahui di antara keduanya. Sebenarnya, Bintang juga tidak pernah menginginkan perpisahan dalam pernikahannya meskipun untuk saat ini tidak ada cinta di antara keduanya. Mereka membutuhkan proses untuk sampai tahap itu.
Tapi setidaknya jika hubungan baik itu tercipta, maka akan lebih mudah untuk dijalani. Sayang sekali Cinta tak memberikan sela untuk itu. Dia yang menerima perjodohan ini tapi dia juga yang menjadikan Bintang seorang musuh.
“Itikad baik seperti apa yang kamu maksud?” Cinta membuka mulutnya untuk menjawab. “Apa salah satunya adalah bersedia melayanimu seperti seorang istri pada umumnya? Cih!” Cinta kini berdecak sinis dan mencemooh ke arah Bintang. “Aku tidak akan sudi melakukannya.”
“Kalau begitu baiklah! Jika kamu menginginkan perceraian dan itu akan membuatmu bahagia, maka saya tidak akan pernah memberikannya. Kamu, akan terikat kuat pada pernikahan ini dan terjebak di dalamnya sampai kita mati. Sekeras apa pun kamu ingin melakukannya, maka saya akan menolaknya dengan sama kuatnya.”
Cinta dipenuhi amarah. Itu terlihat dalam tatapan yang diberikan kepada sang suami. Di dalam pikirannya mencerna banyak hal tentang bagaimana dirinya pada akhirnya keluar dari kondisi buruk seperti ini. Kakeknya, dia harus segera meminta kakeknya untuk menyerahkan semuanya kepadanya agar bisa segera terlepas dari Bintang. Tapi pikiran itu segera dipatahkan oleh Bintang seketika.
“Dan ingatlah satu hal. Kakekmu akan tetap berada di pihak saya. Beliau akan mendengarkan apa yang saya katakan. Jadi, tetaplah hidup dalam tempurung.” Setelah berbicara dengan Cinta, Bintang berlalu dari hadapan istrinya. Membersihkan tubuhnya dan ingin segera beristirahat. Seharian bekerja sudah membuat lelah. Lalu dia memiliki istri yang luar biasa menjengkelkan. Maka tentu saja itu menambah beban pikirannya.
Sedangkan Cinta mengepalkan tangannya kuat. Apa yang dikatakan oleh Bintang tentu saja merujuk pada kesediaan lelaki itu untuk menyakitinya. Bukankah mudah saja sebenarnya untuk berdamai dengan keadaan memilukan ini? Dia hanya perlu berbuat baik kepada Bintang maka semua yang diinginkannya akan didapatkan. Sayangnya Cinta bersumpah tidak akan melakukan hal itu. Berdamai dengan Bintang hanya akan membuatnya diinjak-injak oleh lelaki itu. Pikiran buruk itu selalu muncul begitu saja di dalam kepalanya.
Jangankan Bintang yang adalah orang asing bagi dirinya. Galih – ayahnya, yang seumur hidupnya dia bersama dengan lelaki itu saja bisa dengan mudahnya menghancurkan kepercayaannya. Cinta sudah tidak lagi percaya dengan roman picisan Bernama cinta. Orang tuanya dulu menikah juga dilandasi cinta. Tapi setelah bertahun-tahun pernikahan, mereka justru akan berpisah. Maka dia berjanji pada dirinya sendiri jika dia tak akan melibatkan perasaan cinta dalam hidupnya. Itu adalah janji yang harus ditepati agar dia tidak semakin hancur dalam kehidupannya.
Di dalam kamar mandi, Bintang berdiri di depan cermin dengan perasaan yang kalut luar biasa. Bagaimana bisa dia mendapatkan istri yang tidak bisa diatur sama sekali. Cinta adalah perempuan yang keras kepala, sedangkan dirinya bukan laki-laki yang suka basa-basi. Keduanya seolah memang bukan tercipta untuk satu sama lain. Bintang tidak bermaksud untuk bersikap keras, tapi jika dia tidak melakukan itu, maka sudah bisa dipastikan dirinya yang akan diinjak-injak oleh istrinya sendiri. Mereka memiliki pikiran yang sama dengan melindungi egonya masing-masing.
“Semua bisa dikendalikan dengan baik?” beberapa hari setelahnya, Bintang dan Langit sedang menikmati makan siang di sebuah restoran. Bee sebenarnya juga akan ikut andil, sayangnya ada pertemuan yang akan dilakukan sehingga dia harus alpa untuk berkumpul siang ini. Embun datang tak lama setelahnya dan duduk di samping sang suami.
Ketika Bintang melihat dua orang tuanya yang begitu harmonis ketika usia pernikahan mereka sudah mencapai puluhan tahun, itu membuat Bintang iri. Dulu keinginannya juga bisa seperti mereka. Sayangnya itu akan sulit dirasakan.
“Semua baik-baik saja, Pap.”
“Kenapa tidak mengajak Cinta ikut serta?” Embun terlihat sedikit aneh. Mereka sedang makan siang bersama dengan keluarga saat ini, seharusnya ketika mereka sudah memiliki menantu, istri putranya itu ikut andil di dalamnya.
“Aku lupa kasih tahu dia. Masih belum terbiasa kalau sudah punya istri.” Untuk menyembunyikan prahara rumah tangganya, tentu saja dia harus bisa bersilat lidah. Meskipun sekarang dia menjadi pembohong ulung di depan orang tuanya, tapi dia akan tetap berlakon seperti itu. Bintang akan mendapatkan masalah ketika pada akhirnya ayahnya mengetahui kebohongannya. Berdoa saja semua itu tak akan terungkap dalam waktu yang cepat.
“Jangan dibiasakan meninggalkan istri. Nggak baik.”
“Iya, Mam.”
Mereka makan dengan obrolan yang terbangun di dalamnya. Jika orang melihat bagaimana harmonisnya keluar Antariksa, maka akan banyak orang yang iri dengan itu. Mereka terlihat selalu bahagia. Ya, karena memang mereka sangat pandai menyembunyikan masalah. Entah kenapa, Bintang mengalami hal serupa seperti orang tuanya. Jika dulu Embun dan Langit bisa mengatasinya, entah itu berlaku dengan Bintang atau tidak.
Pertanyaan yang sama juga diajukan oleh Nova – ibu Cinta. Cinta sedang mengunjungi ibunya dan melihat kondisi wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Orang tua pasti akan mengecek bagaimana kehidupan anak-anak mereka setelah mereka menikah. Itu adalah bentuk kepedulian yang mereka berikan.
Menolak membahas tentang pernikahannya, Cinta memastikan ibunya sudah mengurus perceraian bersama dengan sang ayah.
“Mama akan mengurus.” Cinta tidak ingin ibunya hidup dalam kungkungan dari seorang suami yang sudah mengkhianatinya. Bagaimanapun, ibunya harus bahagia meskipun tanpa suami.
“Mama berencana menikah lagi?” ada sedikit tawa yang ibu Cinta keluarkan.
“Mama sudah tidak peduli lagi dengan hal-hal semacam itu. Mama sudah terlalu tua untuk menikah lagi. Toh Mama sekarang sudah lega karena kamu sudah menikah dan Mama sudah memiliki menantu. Kamu sudah memiliki seseorang yang akan menjagamu. Itu sudah lebih dari cukup untuk Mama. Akan lebih baik lagi kalau kalian segera memiliki anak.”
Inilah yang akan selalu dipikirkan oleh orang tua. Pernikahan anak mereka yang dianggap bahagia, lalu mendorong mereka untuk memiliki anak, itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi orang tua.
Cinta jadi mengingat segala hal yang diungkapkan oleh Bintang kepadanya. Lelaki itu yang tidak akan melepaskannya hanya untuk ‘menyiksanya’. Apakah begitu sikap dari seorang laki-laki yang dieluh-eluhkan oleh keluarganya selama ini?
“Bagaimana kalau pada akhirnya aku tidak bahagia dengan pernikahanku, Ma?”
Mendengar pertanyaan putrinya, membuat Nova menatap putrinya dengan lekat. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Cinta juga sangat mendukung.
“Kamu sudah mengambil keputusan untuk menikah. Jadi buatlah pernikahanmu itu pernikahan yang bahagia. Kamu suka seperti Mama yang hidup menjanda? Apa pun yang terjadi, kamu harus mempertahankan rumah tanggamu, Cinta.” Nova sepertinya terlihat benci dengan kata perpisahan. Terbukti perempuan itu kukuh agar Cinta bertahan.
“Tapi, Cinta lakukan untuk menyelamatkan milik Kakek, Ma.” Cinta jadi tak habis pikir kenapa ibunya seolah tak peduli kalau dirinya tak merasa bahagia karena yang penting adalah dia bisa mempertahankan rumah tangganya.
“Kamu harus bisa mempertahankan keduanya. Karena ketika kamu kalah pada salah satunya, maka kamu akan ditertawakan oleh papa dan istri muda papamu.”
***