Hujan rintik-rintik turun sejak sore hari. Marsha berdiri cukup lama di depan lemari pakaiannya, tatapannya kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh unggahan cerita di media sosial yang dilihatnya dua hari lalu—kalimat “Calon menantu idaman 😍” itu masih terngiang jelas di telinganya, terasa menusuk dan mengganggu ketenangannya.
Namun, saat Marven menghubunginya pagi tadi, pria itu bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
“Jangan lupa datang malam ini ya. Mama ulang tahun, aku sudah bilang kamu akan hadir.”
Tidak ada penjelasan, tidak ada klarifikasi mengenai wanita yang terlihat di unggahan itu, dan tidak ada pembahasan apa pun. Dan dengan kebodohannya, Marsha tetap memutuskan untuk datang—karena ia masih ingin percaya, bahwa hubungan yang telah terjalin selama tiga tahun ini tidak mungkin hanya sebuah kebohongan, dan mungkin saja semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Akhirnya, Marsha memilih mengenakan gaun berwarna biru dongker—gaun terbaik yang dimilikinya. Bukan barang yang mahal, namun terlihat indah. Ia membelinya dengan uang tabungannya sendiri beberapa waktu lalu, awalnya disiapkan untuk dikenakan saat acara wisuda nanti. Namun malam ini, ia ingin terlihat layak, setidaknya untuk satu kali saja.
Ibunya bahkan membantu menyetrika gaun itu. “Terlihat sangat cantik kok,” ujarnya sambil tersenyum lembut. “Jangan merasa minder.”
Marsha membalas senyum itu pelan. “Baiklah, Ma.” Namun sejujurnya, perasaan itu sudah ada sejak lama.
Ponselnya bergetar menampilkan panggilan masuk dari Marven.
“Halo?”
“Sudah siap?”
“Sudah.”
“Aku sudah menunggu di depan rumah.”
Marsha menarik napas panjang. “Baiklah.”
Hotel tempat diadakannya pesta ulang tahun ibu Marven terasa terlalu mewah. Lampu kristal yang besar tergantung di langit-langit, karpet merah membentang panjang, dan para tamu terlihat mengenakan pakaian yang mahal. Aroma parfum yang wangi berbaur dengan suara tawa yang terdengar halus. Marsha secara refleks menggenggam tas kecilnya lebih erat.
Begitu turun dari mobil, Marven langsung meliriknya sekilas. “Hm.”
Marsha merasa gugup. “Ada yang salah?”
Marven mengamati gaunnya sebentar. “Cukup baguslah.”
Hanya itu jawabannya. Padahal, Marsha telah menghabiskan hampir satu jam lamanya untuk bersiap-siap.
“Apakah aku terlihat buruk?”
Marven menghela napas pelan. “Bukan berarti buruk. Hanya saja…” ia mengangkat bahu, “jangan berharap terlihat luar biasa. Yang penting rapi saja.”
Lagi-lagi ada nada bicara tertentu yang membuat hati Marsha terasa semakin kecil, namun ia memilih untuk tetap diam.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang pesta, Marsha langsung merasa seperti orang asing di tempat itu. Segala sesuatunya terasa terlalu mewah. Para wanita hadir dengan gaun panjang yang anggun, mengenakan perhiasan berharga, sepatu bermerek, dan bahkan cara mereka berbicara pun terasa berbeda. Tanpa sadar, Marsha merapikan ujung gaunnya, tiba-tiba merasa seolah ia mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan suasana.
“Marven!”
Ibu Marven datang menghampiri sambil tersenyum ramah kepada para tamu di sekitarnya. Namun, begitu matanya tertuju pada Marsha, senyumnya perlahan memudar dan menjadi sangat tipis. “Oh…”
Pandangannya bergerak turun perlahan, meneliti dari atas kepala, rambut, gaun, sepatu, hingga tas yang dibawanya, lalu kembali menatap wajah Marsha. “Kamu datang juga.”
“Iya, Tante.”
Ibu Marven tersenyum tipis. “Pakaianmu terlihat bagus.”
Marsha merasa sedikit lega, namun kalimat berikutnya langsung menghantam hatinya. “Apakah ini beli saat ada diskon daring?”
Suasana menjadi hening sejenak, lalu terdengar suara tawa kecil yang terdengar menusuk. Salah satu bibi menutup mulutnya sambil terkikik, ada yang berpura-pura sibuk meminum minumannya, dan ada pula yang saling bertukar pandang.
Marsha terdiam membeku, wajahnya terasa memanas. “Oh… tidak, Tante,” jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Aku membelinya dengan harga biasa saja.”
“Benarkah?” Ibu Marven tersenyum tipis. “Kira-kira saja aku, apakah ini barang obralan?”
Tawa kecil kembali terdengar. Marsha menggenggam tasnya hingga ruas jari-jarinya terasa dingin. Ia sangat ingin menghilang dari tempat itu seketika.
“Marven!”
Seorang wanita muda mendekat. Ia terlihat sangat cantik dan anggun, mengenakan gaun berwarna putih. Marsha langsung mengenali wajahnya—wanita yang terlihat di unggahan cerita media sosial dua hari lalu.
Ibu Marven langsung tersenyum lebar. “Nah, ini dia orangnya.” Ia memegang tangan wanita itu. “Perkenalkan, ini Clarissa. Putri dari Pak Surya.”
Marsha hanya bisa terdiam. Clarissa tersenyum ramah. “Hai.”
Ibu Marven malah melanjutkan pembicaraannya. “Clarissa ini gadis yang cerdas, cantik, dididik dengan sangat baik, dan bahkan sudah membantu mengurus bisnis ayahnya.” Pandangannya melirik sekilas ke arah Marsha—hanya sesaat, namun cukup jelas bahwa ia sedang membandingkan keduanya.
Sementara itu, Marven justru terlihat nyaman mengobrol dengan wanita itu, tersenyum dan tertawa kecil, bahkan terlihat lebih hidup dibandingkan saat ia bersama Marsha belakangan ini. d**a Marsha terasa semakin sesak.
Saat tiba saatnya makan malam, puncak dari segala penghinaan pun datang. Semua orang duduk mengelilingi meja makan yang panjang. Marsha berusaha bersikap tenang dan tidak banyak bicara, hingga salah satu bibi tiba-tiba berbicara.
“Ranti…” wanita itu tertawa kecil. “Apakah kamu masih menganggap serius hubungan Marven dengan gadis ini?”
Gadis ini. Bukan menyebut namanya, bukan menyebut Marsha.
Ibu Marven tersenyum tipis, lalu dengan terus terang dan tanpa rasa malu berkata di hadapan semua orang: “Wanita sepertimu tidaklah cocok untuk mendampingi anakku.”
Suasana menjadi benar-benar hening. Jantung Marsha terasa seolah berhenti berdetak.
Ibu Marven melanjutkan ucapannya dengan nada santai. “Marven hidup di lingkungan yang luas, bergerak di dunia bisnis dan pergaulan. Wanita yang ada di sampingnya harus mampu mengikuti irama itu.” Pandangannya kembali tertuju pada gaun yang dikenakan Marsha. “Bukan hanya bermodalkan hati yang baik saja.”
Rasa sakit itu terasa sangat dalam. Tangan Marsha gemetar di bawah meja, dan matanya mulai terasa panas, namun ia masih berusaha bertahan dan berharap—setidaknya sedikit saja—ada pembelaan yang akan datang. Ia menoleh ke arah Marven.
“Ven…” suaranya terdengar sangat pelan.
Tolong… tolong katakan sesuatu. Tolong bela aku. Tolong tunjukkan bahwa aku berharga.
Namun, Marven hanya menghela napas pelan, lalu menjawab: “Mama hanya menginginkan yang terbaik untukku.”
Hancur. Benar-benar hancur.
Kalimat itu terasa seperti sebuah pukulan keras yang membuat dadanya terasa kosong. Jadi… Marven setuju dengan ucapan ibunya? Apakah ia merasa malu memiliki kekasih sepertinya? Apakah ia juga berpikir bahwa Marsha tidak pantas untuknya?
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, namun ia berusaha menahannya. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah merasa semalu ini, belum pernah merasa serendah ini.
“Aku ke kamar mandi sebentar.”
Suara Marsha terdengar pelan. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang menahan, dan tidak ada yang bertanya. Bahkan Marven pun tidak menoleh sedikit pun, ia justru terlihat asyik mengobrol dengan Clarissa sambil tertawa kecil, seolah keberadaan Marsha tidak ada artinya sama sekali.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Marsha berdiri diam menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Gaun berwarna biru dongker, rambut yang tertata rapi, dan sedikit riasan di wajahnya—ia sudah berusaha sekuat tenaga. Namun mengapa tetap tidak pernah dianggap cukup? Mengapa mencintai Marven terasa seperti ia harus terus-menerus berubah, terus-menerus membuktikan diri, dan selalu merasa dirinya kurang?
Air mata mulai menetes, satu per satu, lalu semakin banyak. Marsha segera menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isak tangisnya tidak terdengar. Tubuhnya gemetar pelan dan dadanya terasa sangat sakit. Yang paling menyakitkan bukanlah penghinaan yang dilontarkan oleh ibu Marven, bukan pula tawa dari keluarga mereka, melainkan sikap Marven—pria yang telah dicintainya selama tiga tahun, pria yang seharusnya melindunginya, justru ikut serta menghancurkan hatinya.
Beberapa menit kemudian, Marsha keluar dari kamar mandi. Namun, alih-alih kembali ke ruang pesta, ia berjalan cepat menuju area lobi. Tangannya gemetar saat memegang ponselnya—tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan, tidak ada pertanyaan “Kamu kenapa?” atau “Di mana kamu?”.
Hujan di luar turun semakin deras, namun Marsha tetap melangkah keluar. Gaunnya mulai basah terkena air hujan, sepatunya terasa dingin, dan rambutnya menjadi berantakan. Air matanya bercampur dengan butiran hujan yang membasahi wajahnya. Orang-orang di sekitarnya memandanginya dengan tatapan aneh, namun ia tidak memedulikannya—dadanya terasa terlalu sesak untuk memikirkan hal lain.
Ponselnya akhirnya bergetar, menampilkan nama Marven. Marsha menatap layar itu cukup lama, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
“Kamu ada di mana sih?” nada bicaranya terdengar kesal.
Marsha tertawa pelan, namun suaranya terdengar pecah. “Aku pulang.”
“Sha, jangan bersikap berlebihan begitu.”
Bersikap berlebihan. Kata itu lagi.
“Aku sudah lelah, Ven…” suaranya terdengar bergetar. “Rasanya sakit sekali…”
Suara di seberang sana terdiam sejenak, lalu terdengar nada bicara Marven yang dingin.
“Mama hanya berbicara apa adanya. Kamu terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu.”
Dan untuk pertama kalinya, Marsha mulai ragu—apakah hubungan ini masih layak untuk dipertahankan? Di tengah guyuran hujan malam itu, ia menangis sendirian di pinggir jalan, merasa dirinya sangat kecil, merasa tidak pantas, dan perlahan mulai merasa lelah untuk terus berjuang mempertahankan segalanya.