Sambungan telepon tak kunjung dijawab. Beberapa kali dicoba, namun nomor yang dituju seolah tanpa pemilik.
Duk ... duk ... duk ...
Cara satu-satunya adalah menggedor pintu apartemen itu.
"Key!!! Buka pintu, Key!!!"
Wanita muda itu tak peduli jika akan diseret sekuriti, karena karirnya lebih terancam daripada itu.
Di dalam apartemen, seseorang terkesiap seolah ditarik paksa dari alam mimpinya. Ia melompat dari ranjang, terhuyung melangkah menuju pintu.
Ia adalah Keyra Alexandria Carlos. Wanita muda berusia 22 tahun yang menolak menjadi wanita dewasa. Kadang, tingkah kekanakannya masih melekat. Meskipun menggemaskan, namun Keyra memiliki sisi menyebalkan jika ketenangam diusik.
"Lo tidur apa pingsan, sih? Ditelpon berkali-kali nggak diangkat."
Keyra mendapat omelan begitu berhasil membuka pintu apartemen dan mempersilakan si penggedor pintu masuk ke dalam.
Keyra, menguap letih karena belum tuntas menikmati lelapnya. Wajah blasterannya masih tampak manis walau kondisinya sedang awur-awuran efek dibangunkan paksa. Dia memang keturunan campuran antara Amerika dan asli pribumi. Ayahnya bule, pebisnis asal Amerika, sedangkan ibunya asli warga Yogyakarta.
"Cepat, Key!"
Keyra menggerutu kesal mendengar teriakan orang yang telah mengganggu tidur cantiknya, bahkan kini memintanya bergegas.
Dengan kesal, Keyra masuk ke dalam kamar mandi, membasuh muka dan menggosok gigi secepat yang ia mampu. Ritual mandi cantik tak berlaku karena diburu seperti ini. Mandi Keyra membutuhkan waktu yang cukup lama walau hanya untuk sekedar mengusap sabun di tubuhnya.
Tanpa berhias ataupun memikirkan bagaimana rambutnya yang kusut lupa disisir, Keyra berjalan lesu keluar dari apartemennya mengikuti langkah seseorang yang dengan kurang ajarnya telah menggedor pintunya di pagi buta.
Setengah nyawanya seolah melayang ketika mendengar gedoran itu. Ia pikir sedang terjadi bencana.
"Bangunin gue kalau udah sampai," ujar Keyra dengan santainya saat sudah masuk ke mobil.
Dia langsung merebahkan kursi penumpang dan terlelap kembali. Sungguh matanya tak bisa diajak kompromi saat ini. Seseorang yang tak lain adalah sahabatnya hanya mendengus melihat kelakuan Keyra.
Tanpa berniat mengganggu perjalanan Keyra menuju alam mimpi, sahabatnya pun lantas melajukan mobil dalam diam. Mungkin juga kasihan pada Keyra yang harus terpaksa bangun dengan kondisi seperti penggrebekan. Tapi hal itu sudah biasa terjadi dan Keyra tak pernah bisa menghindarinya.
Namanya Jennifer Pricila, seorang desainer muda yang berdikari di Jakarta. Akrab dikenal dengan nama Jenny. Namun Keyra memiliki panggilan kesayangan untuk sahabatnya itu, yaitu Jejen.
Jenny selalu menjadikan Keyra sebagai model untuk setiap desain yang dikeluarkannya. Keyra bukanlah murni seorang model, namun tubuhnya yang proposional menggelitik Jenny untuk memanfaatkan kelebihan sahabatnya itu.
Keyra tak pernah masalah selama Jenny yang meminta, pasti dia akan selalu membantu. Bagi Keyra, Jenny bukan sekedar sahabat atau teman rusuh, namun juga sebagai saudari yang selalu ada untuknya di saat dia membutuhkan sandaran.
Dan inilah kisah tak jelas Keyra dan rombongannya.
~o0o~