Mobil hitam milik Handaru akhirnya memasuki halaman panti asuhan saat langit mulai berubah jingga.
Baru beberapa jam yang lalu dia mendarat di Bali setelah menyelesaikan perjalanan bisnisnya di Bandung. Bahkan koper masih tersimpan di bagasi karena dia memilih langsung menyusul Izora.
Surya segera turun lebih dulu. Kedua tangannya penuh membawa beberapa kantong berisi mainan yang dibeli Handaru saat di perjalanan tadi.
Sudah menjadi kebiasaan pria itu. Setiap selesai bepergian, dia selalu membawa oleh-oleh untuk putri kecilnya. Dan kini Izora sedang berada di panti asuhan, sudah pasti anak-anak lain juga akan kebagian.
Sementara itu, di halaman panti, Izora sedang asyik bermain kejar-kejaran bersama teman-teman sebayanya. Tawa mereka memenuhi halaman kecil itu. Karena Bunda Panti sedang sakit, Ariana mengambil alih dapur dan sedang menyiapkan makan malam untuk semua penghuni panti.
"Paparu!" Suara nyaring Izora langsung memecah suasana.
Gadis kecil itu menghentikan permainannya, lalu berlari sekencang mungkin menghampiri Handaru.
"Pelan-pelan, Sayang!" seru Handaru.
Namun, terlambat.
Tubuh mungil itu sudah lebih dulu menabrak dadanya.
Untung saja refleks Handaru masih cukup baik untuk menangkap Izora sebelum mereka sama-sama terjatuh.
"Kangen banget sama Paparu!" ujar Izora sambil memeluk leher ayahnya erat-erat.
Handaru tersenyum. Rasa lelah setelah perjalanan panjang seolah menguap begitu saja. "Paparu juga kangen sama Putri Keripik."
"Coba lihat! Aku nggak nangis loh ditinggal Paparu tiga hari."
"Hebat banget anak cantiknya Paparu." Handaru menghadiahi kedua pipi chubby Izora dengan ciuman.
Kedua mata bulat gadis kecil itu semakin berbinar. "Terus aku makan sayur, gosok gigi sebelum tidur, dan nggak kebangun gara-gara mimpi buruk."
"Good job, Sayang," puji Handaru lagi. "Terus di sekolah gimana? Lancar?"
Seketika binar di wajah Izora meredup.
Handaru tidak memperpanjang pertanyaan itu. Dia langsung membawa putrinya masuk ke dalam panti.
"Tante Ariana ada di mana?" tanya Handaru begitu mereka sampai di ruang tamu.
Dengan malas, Izora menunjuk ke arah dapur. "Lagi masak makan malam," terangnya.
"Paparu beliin banyak mainan buat Izora dan teman-teman panti," bisik Handaru. "Mau apa enggak?"
"Mau dong!" Senyum yang sempat menghilang itu pun kembali. Izora langsung meminta diturunkan. "Dibawa sama Om Surya, ya?"
Handaru mengangguk.
Namun sebelum kaki mungil itu menyentuh lantai, dia lebih dulu menahan kerah pakaian putrinya hingga tubuh Izora sedikit terangkat.
"Ih, Pap! Lepasin!" omel Izora. "Kayak kambing guling aja aku diangkat-angkat seenaknya."
"Lagian Paparu belum selesai bicara, kamu udah mau kabur aja."
Izora membenarkan kemeja yang dipakainya, lalu mendongakkan wajah. "Panggilin Buna?" tebaknya.
Handaru menjawab dengan sebuah anggukan.
Tanpa menunggu lagi, Izora langsung berlari ke arah dapur untuk memanggil Ariana.
Beberapa menit kemudian, Izora berlari kencang ke luar panti, melewati papanya yang sedang berada di ruang tamu.
"Sayang, jangan lari-larian. Nanti jatuh, jidat kamu jenong," tegur Handaru.
"Enggak, Pap!" Meski sudah berada di luar, Izora tetap mendengar dan menjawab.
Tak lama kemudian, Ariana pun keluar dengan wajah yang sedikit lelah. Dia baru saja selesai memasak dan menata makanan.
Begitu Ariana duduk, Handaru langsung menyodorkan selembar tisu.
"Terima kasih," ujar Ariana. Lalu membersihkan keringat yang masih tersisa di keningnya. "Udah lama sampainya?"
"Belum. Baru beberapa menit yang lalu."
"Bunda lagi periksa ke dokter. Jadi nggak bisa nemuin kamu," jelas Ariana.
Handaru mengangguk paham.
Namun belum sempat berbicara lagi, terdengar suara anak-anak panti yang dipimpin Izora masuk ke dalam sambil membawa kantong mainan masing-masing.
Refleks pria itu mengelus d**a.
Tak disangka, putrinya di mana pun berada selalu menjadi ketua geng.
"Buna, aku dapat mainan baru!" Izora mengangkat kotak kecil di tangannya tinggi-tinggi.
Anak-anak yang lain pun ikut menirukan tingkah gadis kecil yang energinya seolah tak pernah habis itu. Mereka ramai-ramai bercerita kalau senang mendapat mainan baru.
Beberapa pengurus panti menyapa Handaru, lalu pamit membawa anak-anak untuk mandi sebelum makan malam.
Hanya Izora yang masih tertinggal di ruang keluarga. Kini dia sudah duduk di atas pangkuan Ariana.
"Nanti Buna pulangnya bareng aku sama Paparu, kan?"
"Enggak dong, Cantik. Kan Tante bawa mobil sendiri," jelas Ariana. Tangannya mengusap keringat di pelipis Izora.
Kening Izora langsung mengernyit. "Kok Tante?" protesnya. "Tadi di sekolah udah manggil Buna."
Ariana tidak berani menatap ke arah Handaru. Dia yakin pria itu pasti akan menggoda habis-habisan.
Lewat video call saja sudah berani membahas soal panggilan itu.
Apalagi sekarang mereka bertemu langsung.
Bisa-bisa Handaru semakin ngelunjak.
"Yuk, ke dalam. Makan malam dulu," ajak Ariana saat suasana mulai canggung.
Handaru berdiri lebih dulu, lalu mengambil tubuh putrinya dari pangkuan Ariana.
"Kenapa diambil sih, Pap?" protes Izora.
"Kasihan Buna berat gendong kamu," jawabnya. "Nggak lihat apa wajahnya merah banget gara-gara kelelahan."
Tuh, kan. Kalau nggak menyindir Ariana, sepertinya memang ada yang kurang.
Tak mau menanggapi, wanita itu pun memilih masuk lebih dulu untuk menyiapkan makanan bagi kedua tamu spesial panti.
"Memangnya kalau lelah itu mukanya jadi merah?" tanya Izora setelah duduk di meja makan.
Handaru yang sudah lebih dulu duduk langsung mengangguk. "Coba tanyakan sama Buna," titahnya.
Melihat wajah Ariana yang berubah masam, Izora lantas mendengkus kesal ke arah papanya.
"Kenapa gitu?" Handaru bergidik ngeri ditatap oleh dua wanita beda usia dengan aura labrak yang sama kuatnya.
Keduanya sama-sama memutar bola mata. Tak sopan jika berdebat di panti, jadi untuk sementara mereka memilih menyimpan kekesalannya masing-masing.
Makan malam pun berjalan tanpa banyak obrolan. Mereka makan seolah dikejar waktu.
Begitu pula Izora yang biasanya paling berisik, mendadak menjadi diam.
Hingga akhirnya semua makanan di piring mereka habis. Ariana kemudian membereskan alat makan dan membawanya ke dapur untuk dicuci.
"Bunda baru saja mengirim pesan. Beliau masih harus menunggu hasil laboratorium, jadi pulangnya agak malam," ujar Ariana sambil menyusul ke ruang tamu. "Masih mau nunggu?"
Handaru melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu menggeleng pelan. "Aku masih ada pekerjaan, jadi harus segera pulang."
Ariana pun bergegas mengambil tas yang tadi diletakkannya di ruang kerja Bunda Panti. Kebetulan dia juga harus segera pulang karena besok pagi mau ketemu klien yang akan menyewa kedai untuk acara ulang tahun.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga keluar dari panti secara bersamaan.
Sebenarnya Handaru masih ingin bertemu Bunda Panti untuk membicarakan sesuatu. Namun karena waktunya tidak memungkinkan, dia memutuskan menyerahkan urusan itu kepada Surya.
Saat Ariana hendak membuka pintu mobilnya, langkahnya mendadak terhenti.
Handaru sudah lebih dulu duduk di balik kemudi mobil miliknya. Pria itu bahkan menyalakan mesin mobil dengan santainya.
Pintu pengemudi masih terbuka. "Handaru!" panggil Ariana dengan nada geram.
"Ayo masuk. Aku yang akan nyetir," balas Handaru dengan wajah datar.
Ariana langsung berkacak pinggang. "Aku bisa nyetir sendiri."
"Tapi Izora nggak mau Buna-nya pulang sendirian dalam keadaan kelelahan." Handaru menoleh ke arah kursi belakang. "Iya, kan, Putri Keripik?"
"Iyups, Raja Keripik," jawab si centil. "Buruan masuk, Buna keripik. Kita antar Buna pulang."
Wah, akhirnya Ariana masuk ke dalam keluarga keripik.
Dia tak bisa memaksa lagi kalau ayah dan anak keras kepala itu sudah kompak bersatu.
Lantas, dia pun mengitari mobil, lalu duduk di kursi penumpang.
Izora yang belum memakai sabuk pengaman langsung memeluk Ariana dari belakang. "Bun, kata Miss Raya tadi kan Buna mau jadi ibunya aku."
Handaru langsung menatap keduanya. "Benarkah?"
"Iya, Pap. Miss Raya yang bilang tadi." Izora mencium pipi Ariana. "Senang nggak, Bun, jadi Ratu Keripik?"
Jebakan macam apa lagi ini?
Empat tahun menghilang dari Bali.
Baru beberapa bulan kembali, dia sudah harus berhadapan dengan Handaru... dan mini Handaru.