"Tak akan. aku tak akan pernah melepaskannya. Dia milikku, jalangku , b***k sexku. Dan aku tak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."
"Apapun yang terjadi tuan?" Tanya Rose bertanya lagi.
"Ya apapun yang terjadi. Aku berjanji." Jawab Javier tegas
"Baiklah tuan saya akan menyuruh anak buah saya mengantarkannya kemari." Rose tersenyum evil karena berhasil menyingkirkan dan mendorong Jessica kedalam penjara kejam Javier.
"Tidak, antar dia ke mansionku dan aku sudah mentransfer uangmu."
"Terimakasih tuan Kennard."
"Segera kirimkan dia." Javier berjalan pergi meninggalkan ruangan itu diikuti keempat pengawalnya.
"Ya tuan. Sekali lagi terima kasih," ucap Rose sambil membungkuk hormat.
Jessica pov.
Aku membuka mataku perlahan. Menatap langit kamar yang terasa asing dimataku. Kuedarkan pandangan ke penjuru kamar.
Ini dimana? Ini bukan kamarku? Kamar ini dengan nuansa coklat dan putih yang begitu kental.
Ah. Aku teringat akan aksi kaburku dari pertemuan di club malam tadi. Bibi Rose ingin menikahkan aku dengan ketua kang. Pria tua beristri dua yang terlihat menjijikan dimataku. Semenjak appa dan omma ku meninggal bibi Rose berubah. Dia mulai memaksakan kehendaknya kepadaku. Dia juga mulai menguasai rumah dan perusahaan. Aku bisa bertahan jika dia ingin menguasai rumah dan perusahaan, tapi jika dia hendak menikahkan aku dengan ketua kang maka aku tak sudi. Lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan pria tua itu.
Jullian, Jullian
Aku teringat dengan pria pujaan hatiku. Tunangan sekaligus calon suamiku. Seharusnya seminggu lagi kami menikah tapi ketika dia bersama kedua orangtuaku melakukan perjalanan bisnis dengan pesawat pribadi keluarga Alexander. Dia mengalami kecelakaan. Jasad appa dan ommaku telah ditemukan namun Jullian menghilang. Dan setelah lama mencari, Jullian dinyatakan telah meninggal. Namun aku percaya dan yakin jika dia masih hidup. Dia berjanji tak akan meninggalkanku sendiri. Aku yakin dan akan terus menunggunya karena aku mencintainya.
Tiba-tiba seseorang memasuki kamar ini. Aku dengan sigap menarik selimut dan menutupi tubuhku. Mengingat pakaianku yang sudah sangat berantakan. Seorang pria tampan dengan tatapan mata yang tajam. Dia terlihat asing di mataku tapi entah mengapa aku seperti pernah melihatnya.
"Kau sudah bangun." Suaranya terdengar dingin dengan tatapan mata yang begitu intens dan terlihat menyeramkan dimataku.
"Kau..."
Aku ingat, dia pria yang kulihat di club tadi. Pria dingin yang sangat menyebalkan karena dia aku tertangkap, tapi tunggu, Mengapa dia disini?
"Mengapa kau disini?" Tanyaku tak suka. Aku membencinya karena dia sama sekali tak mau membantuku bersembunyi tadi. Ku lihat dia tersenyum miring. Begitu menyeramkan. Bahkan kini aku mulai khawatir dan takut.
"Ini rumahku dan aku bebas kemana pun yang aku inginkan." Dia berjalan semakin dekat kearahku membuat aku bergerak perlahan ke kepala ranjang.
"Kenapa aku berada disini? Siapa kau?" Dia tak menjawab pertanyaanku dan terus bergerak mendekati ranjang.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanyaku takut. Tubuhku mulai gelisah dengan semua pergerakkannya. Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan berbuat jahat kepadaku?
Dia semakin dekat dengan menaiki ranjang ini. Otakku mulai merespon waspada, aku harus kabur. Tak perduli bagaimana dan dimana aku sekarang. Yang harus aku lakukan adalah kabur dari pria berbahaya ini.
Ketika aku hendak kabur dari atas ranjang ini. Dia mencengkram tanganku dan membanting aku kembali ke atas kasur. Membuat aku jatuh terlentang. Mataku memejam ketika semua kejadian itu terjadi begitu cepat. Ketika aku membuka mataku. Aku melihat pria asing itu berada tepat di atasku, mengurungku dengan tubuh kekarnya. Ya tuhan , apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan memperkosaku? Aku menggeleng takut. Tidak , itu tak boleh.
"Tu... tuan... apa yang kau lakukan?" Tanyaku dengan suara yang bergetar takut.
"Mencicipi barang yang baru saja ku beli."
"Ya?" Aku bingung dengan kalimat anehnya. Mencicipi barang yang baru dibeli? Apa maksudnya?
"Maksudmu?" Kata itu keluar begitu saja.
"Kau milikku," ucapannya membuat mataku membesar tak percaya. Ya tuhan , pria ini akan memperkosaku. Dia mulai mendekatkan wajahnya kearahku.
"Tidak! Menjauh dariku!" Teriakku sambil memberontak dari kukungannya. Mengelengkan kepalaku keras. Aku mendorong dan memukul dadanya kuat berharap dia menjauh dari atas tubuhku. Namun dia malah menangkap kedua tanganku dan mencengkramnya erat dan meletakkannya tepat diatas kepalaku.
"Lepaskan aku. Lepaskan aku , b******k!" Teriakku masih dengan menggeleng keras. Walau tanganku sudah di tahan, aku masih melawanya. Aku memberontak dengan menendang asal kedua kakiku, membuatnya menggeram marah dan menjapit kedua kakiku dengan kakinya, menekannya keras tepat ditengah kedua kakinya.
"Aku mencoba bersikap lembut padamu. Tapi sepertinya kau lebih suka kekerasan." Ucapnya sambil melepaskan ikat pinggangnya, dengan cepat mengikat kedua tanganku menggunakan ikat pinggang itu. Kucoba untuk melepaskan ikatan itu tapi lilitan ikat pinggang itu begitu kencang membuat aku malah meringis sakit dan aku yakin pergelangan tanganku pasti memerah.
Pria itu kembali mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku menggelengkan cepat kepalaku menghindarinya. Namun dia menangkup kedua pipiku menahanku untuk tak menghindarinya. Bahkan dia menekannya cukup kuat hingga aku merasa sakit. Pria asing itu mulai mencium, melumat bibirku dan membasahinya dengan saliva. Aku tetap bergerak gelisah mencoba untuk tetap melawan. Kubungkam rapat rapat bibirku. Aku tak akan sudi dia mengeksplor bibirku. Tapi pria ini malah mengigit bibirku. Hingga aku membuka bibirku dan dia mulai menjelajahinya. Sial, aku ingin menghindar tapi dia menahan kedua pipiku.
Mataku panas dan hendak mengeluarkan airmata. Namun aku tak sudi menangis. Aku sakit diperlakukan rendah begini tapi aku tak mau terlihat menyedihkan di mata pria b******k ini. Dia melepaskan ciumannya dan memandang wajahku dengan mata yang berkabut gairah.
"Lepaskan aku, b******k! Kau tak bisa melakukan ini padaku."
"Aku bisa melakukan apapun pada tubuhmu. Karena tubuh ini milikku," ucapnya sambil mengelus pelan lenganku. Berjalan menjelajah di setiap lekuk tubuhku, menghantarkan perasaan asing padaku.
"Tubuhku bukan milik siapapun. Ini tubuhku bukan milikmu." Ucapku menantangnya. Matanya menajam marah membuat tubuhku tersentak karena takut.
"Kau!" Ucapnya penuh penekanan di suaranya.
"Aku berjanji ketika aku bebas dari sini, aku akan membunuhmu!" Teriakku marah didepan wajahnya.
"Apa? Membunuhku? Hahahaha." tawanya menggelegar , tawa jahat yang sering kudengar di film horor.
"Kau tak akan bisa membunuhku ,nona. Karena kau hanya bisa memberikanku kenikmatan dan aku tak akan membiarkanmu bebas dari genggaman tanganku." Aku sedikit takut mendengar ancamannya. Namun aku berusaha menutupinya. Aku harus kuat dan melawannya. Dia mulai berani mencium leherku. Tangannya mulai melepaskan gaunku. Membuatku polos dengan cepat.