Jika ini mimpi, maka biarkan aku tenggelam selamanya. Tapi jika ini kenyataan, maka kenyataan telah mencuri diriku—dan mengurungnya dalam tubuh yang tak aku kenali.
"Bangunlah, Sasha."
Langit di atasnya tak punya warna. Dinding-dinding tak ada. Hanya lantai putih, kosong, sejauh mata memandang.
"Sasha..."
Suara itu lagi. Sasha melihat sekeliling.
Ia berdiri—atau melayang? Ia tak yakin. Tapi ia tahu satu hal:
Ia sendiri.
“Sasha...” suara itu mengulang, lebih pelan, seolah menyusup langsung ke tulang punggungnya.
Ia menoleh ke kanan. Ke kiri. Hampa.
“Siapa kau?” bisiknya. Tapi yang menjawab hanya gema suaranya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu muncul dibenaknya:
“Apakah itu namaku?”
Tiba-tiba, lantai di bawah kakinya retak. Udara terhisap keluar. Tubuhnya terjatuh—dan dunia menjerit dalam diam.
Kesadaran merayap lambat. Seperti cahaya yang menyusup lewat celah pintu gelap.
Dingin.
Bukan hanya dingin biasa, tapi seperti tubuh yang ditinggal terlalu lama di ruang tanpa napas.
Sakit menjalar perlahan. Di pelipis. Di rusuk. Di sendi-sendi yang kaku. Ada denyut tumpul seperti memar yang tak selesai sembuh. Tubuhnya terasa berat—seolah telah menjadi milik orang lain.
Ia mencoba mengangkat kelopak mata.
Sulit.
Dan di sela kabut penglihatan yang mulai jernih, ia merasakannya.
Seseorang.
Bukan bayangan. Bukan mimpi. Tapi napas hangat yang menari di atas kulitnya.
Sentuhan.
Jari-jari seseorang menyentuh pipinya. Lembut, nyaris penuh kasih sayang—dan itu yang membuatnya justru takut.
Ada gerakan kecil di jemarinya. Tak cukup kuat untuk menolak, tapi cukup membuat tangan asing itu berhenti.
Keheningan menebal. Lalu sebuah suara terdengar. Dalam. Rendah. Terlalu tenang.
“Bangunlah, Sasha.”
Matanya terbuka.
Seorang pria duduk di sisi ranjang. Rambut cokelat gelap. Mata biru yang menusuk. Sorotnya terlalu tajam untuk disebut akrab.
Sasha langsung menegakkan tubuh, membiarkan punggungnya membentur kepala ranjang.
"Siapa... kau?"
Alih-alih menjawab, pria itu tetap diam. Matanya tak lepas darinya. Perlahan, tangannya terulur, menyibak helaian rambut dari dahinya.
Sasha diam, tubuhnya tegang. Ia tidak mengenal pria ini, tapi bukannya panik, ada sesuatu yang menahannya tetap di tempat.
“Sasha.” Suaranya lebih dalam sekarang. “Kau merasa sakit?”
Sasha memalingkan wajah, menepis sentuhan itu. “Jawab pertanyaanku dulu.”
Pria itu akhirnya menarik diri sedikit. “Aiden Lancaster.”
Tak ada apa pun yang terlintas di benak Sasha saat mendengar nama itu. Kosong. Hampa.
Ia menelan ludah. "Aku... tidak mengenalmu."
Aiden mengangguk kecil. Tidak tersinggung. Seolah sudah menduga.
“Kau mengalami kecelakaan.”
Sasha mencoba mengingat. Tapi pikirannya seperti kolam yang keruh—tak bisa melihat permukaan, apalagi dasar.
“Kecelakaan di mana?” tanyanya cepat.
Aiden tidak langsung menjawab. “Di jalan. Saat kau sedang berkendara sendiri dan hujan lebat.”
Ia mencoba mengingat suara hujan. Lampu jalan. Tapi hanya kabut putih yang menyelimuti semuanya.
Kepalanya mulai berdenyut dan telinganya berdenging.
"Ah!" desah Sasha, menekan pelipisnya yang nyeri. Tangannya menyentuh kain perban—dan baru saat itu ia menyadari... tubuhnya penuh luka.
Bukan hanya satu. Tapi banyak. Terlalu banyak untuk disebut kecelakaan biasa.
Sasha mengedarkan pandangan ke sekeliling. Langit-langit tinggi. Lampu gantung kristal. Dinding-dinding dari kayu mahoni mengilap, tampak mahal dan asing. Di sudut ruangan, jendela besar menjulang dengan tirai beludru tebal yang menjuntai hingga lantai marmer yang dingin dan sempurna.
Di mana ini? bisik batinnya. Tempat ini... asing. Ia tak pernah mengenalnya.
Pandangan matanya menangkap sesuatu—cermin besar di samping jendela.
Ia menggertakkan gigi.
Dengan satu gerakan kasar, Sasha menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tapi saat ia mencoba turun dari ranjang—langkahnya limbung.
Dunia berputar.
Kakinya kehilangan pijakan.
Sebelum tubuhnya menyentuh lantai marmer yang dingin, pria bernama Aiden itu sudah menangkapnya.
Sasha mendorong d**a pria itu. “Lepaskan aku!”
Aiden tidak menjawab. Ia hanya menatapnya.
“Aku bilang lepaskan!”
"Kalau kau terus memaksa," suaranya tenang, "kau akan jatuh lagi."
"Aku lebih memilih jatuh daripada disentuh orang asing!" desis Sasha.
Dengan helaan napas berat, Aiden mengangkat tubuh Sasha ke dalam pelukannya. Ia melangkah tenang menuju sofa di dekat jendela besar—tepat di hadapan cermin yang memantulkan bayang-bayang yang tak ingin dikenali.
Sasha menatap pantulan itu.
Perempuan di sana tampak lemah, kacau, dan... asing.
Rambutnya acak-acakan. Matanya sayu. Luka merah samar membelah pelipis hingga ke pipi. Tapi bukan itu yang membuatnya bergidik.
Yang membuatnya ngeri... adalah cara perempuan itu menatap balik.
Tenang. Hampir tanpa ekspresi. Seolah tahu lebih banyak daripada dirinya sendiri.
“Siapa...” gumamnya. “Kau memanggilku siapa tadi?”
Ia menoleh perlahan pada pria yang masih berdiri di sampingnya.
“Sasha?”
Nada suaranya nyaris pecah. Setengah ingin memastikan, setengah ingin menyangkal. Ia kembali menatap bayangan di cermin—dan mengulang pelan, seakan mencicipinya di lidah sendiri.
“Sasha...”
Nama itu terasa aneh. Terlalu ringan. Terlalu asing.
Tapi... tidak sepenuhnya salah.
Seperti lagu yang pernah ia dengar dalam mimpi, tapi tak bisa diingat liriknya.
“Jadi, itu namaku?” tanyanya nyaris pada diri sendiri.
Aiden mendekat satu langkah, suaranya masih tenang, nyaris terlalu tenang.
“Sebelum kau bertanya apa hubungan kita... aku akan jawab dulu.”
Sasha mengalihkan tatapan dari cermin.
Aiden menatapnya dalam, lalu berkata pelan namun tegas—
“Aku adalah tunanganmu, Sasha.”
Sasha menatapnya lama, mata abu-abunya menyipit. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Seakan pikirannya sibuk menolak apa yang baru saja didengarnya.
"Tunanganku?" katanya akhirnya, suara penuh keraguan.
Aiden hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Kau bercanda, kan?” suara Sasha terdengar serak, hampir seperti tawa yang dipaksakan.
“Kenapa? Sulit dipercaya?”
“Tentu saja sulit,” desisnya. “Aku bahkan tidak tahu siapa diriku.”
Sasha menunduk, menatap tangannya sendiri. Jemarinya kosong. Tak ada cincin.
Ia lalu menoleh pada tangan Aiden. Sama—juga tanpa cincin.
“Mana cincinnya?” tanyanya tajam, telunjuknya terarah langsung pada tangan pria itu.
Aiden hanya menjawab dengan senyum tipis. “Kau yang memintaku melepasnya.”
Sasha nyaris tertawa—pahit. “Berapa lama kau sudah menyiapkan semua ini?”
Sebelum Aiden sempat menjawab, ketukan pelan terdengar di pintu.
Sasha menoleh refleks, jantungnya melonjak.
Pintu terbuka sedikit. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang. Wajahnya kaku. Pandangannya melirik cepat ke arah Sasha, lalu ke Aiden.
“Tuan Aiden... makan malamnya sudah siap. Haruskah saya membawanya ke kamar?”
Aiden tidak segera menjawab.
Sasha menelan ludah. “Tolong,” katanya cepat pada Eleanor. “Tolong biarkan aku bicara denganmu sebentar saja.”
Eleanor terdiam. Matanya memburam. Lalu ia menunduk dan berkata lirih, “Saya akan bawakan makanannya ke atas.”
Pintu tertutup kembali.
Sasha mengepalkan tangan. “Apa semua orang di rumah ini takut padamu?”
“Tidak,” kata Aiden. “Mereka hanya... terbiasa tidak ikut campur.”
Sasha mendengus pelan. “Itu bukan jawaban.”
Aiden menatapnya. “Kau ingin makan di sini atau di ruang makan?”
“Kenapa? Supaya aku tidak kabur?”
“Kau belum cukup kuat untuk kabur, Sasha.”
。𖦹°‧
Beberapa menit kemudian, makanan tersaji di meja kecil di sudut kamar. Sasha tak menyentuhnya.
Ia memandangi pergelangan tangannya—ada bekas samar di sana. Tidak terlalu jelas. Tapi cukup untuk menimbulkan pertanyaan yang bergema dalam kepalanya.
Dan tiba-tiba, sesuatu mencuat di benaknya.
Kilasan.
Rantai.
Dingin di kulit.
Tekanan.
Suara langkah yang bergema di lorong.
Dan satu suara...
“Jangan menangis, Sasha.”
Darahnya terasa dingin. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pergelangan itu dengan jari gemetar.
Lalu, ia menoleh tajam ke Aiden.
“Jawab aku jujur,” katanya pelan, tetapi jelas. “Apa kau menculikku?”
Aiden tidak langsung menjawab. Tatapannya gelap, namun tetap tak terguncang.
“Apa menurutmu aku perlu menculikmu?”
“Kau tidak menjawab.”
Keheningan melingkupi ruangan.
Sasha menelan ludah. Napasnya tercekat.
Tangannya bergerak pelan ke pergelangan kiri, menyentuh bekas samar yang mulai memudar.
“Ini…” gumamnya. “Ini bekas tali, bukan?”
Aiden menatap tangannya. Tak menyangkal. Tak membenarkan.
Sasha menatapnya lurus.
“Kau pernah mengikatku, bukan?”
Senyumnya perlahan mengembang. Bukan jawaban, tapi seperti pengakuan diam-diam yang sengaja tidak diucapkan.
❀ ❀ ❀