Terlalu Percaya
Penulis : Bayu Satriani
Didalam kelas yang sangat monoton, pas mata pelajaran matematika, mata pelajaran yang membuat seseorang sulit menemukan jawaban yang benar dan selalu saja salah. Ditengah pak guru sedang menerangkan matematika di papan tulis, seisi kelas mulai mengantuk bahkan ada yang tidur sampai mendengkur.
Maklum sudah jam 12. 45, sudah tak kuasa mataku melihat ke depan papan tulis. Aku pun juga mengantuk, tak lama pandanganku sudah tidak kuat melihat tulisan-tulisan di papan tulis, kepala pun juga tidak betah, tiba-tiba aku tertidur lelap, dan aku mulai bermimpi …
“Mbah! Mamad mau nonton TV mbah!”
“Ya bentar! Mbah lagi masak nih!”
Tiba-tiba diriku berada di pojokan ruang tamu—dekat pintu depan rumah. Tapi aneh, aku terlihat tembus—sedikit samar berwarna putih—tapi aku yakin mereka nggak bakal melihatku karena aku tembus pandang—alias gaib.
Aku yang asli masih kecil—sekitar umur tiga tahun—sedang bermain mainan diatas karpet dekat TV. Dulu aku memang gemes, gemoi, dan juga putih pula kulitnya nggak kaya sekarang, sawo matang.
Diriku—yang samar ini—sedikit mendekat dengan diriku yang dulu. Tak lama simbah—alias nenek—pun datang dari dapur.
“Eh mbah, di dapur mbah masak apa mbah?”
“Simbah lagi masakin sup dek, mau dek?”
“Mau mbah!”
Tak lama Simbah menekan tombol power TV tabung berukuran 21 inch itu dan setelah menekan tombol itu lalu mencari saluran TV. Sampai di nomor 6, Dora pun muncul. Tak disangka-sangka ternyata benar-benar muncul.
Aku pun kegirangan melihat tayangan Dora. Tak lama simbah kembali ke dapur. Adegan itu pun berlanjut sampai Dora dan moyet bersepatu itu kehilangan arah.
Dora ingat, dia mempunyai si peta—yang berada di tas ranselnya—lalu Dora memanggil. Tak lama si peta muncul dan keluar sambil diiringi lagu khasnya yaitu ‘aku peta’.
Si peta membuka peta yang Dora tujui. Isi peta tersebut ada tiga yaitu gunung, sawah, dan laut.
“dimanakah gunung itu?”
Tiba-tiba anak panah berwarna biru mencari keberadaan gunung itu.
“apakah yang pertama, yang kedua, atau yang ketiga?”
Anak panah itu masih mencari keberadaan gunung itu. Tak lama anak panah itu mengarah yang kedua yaitu gunung dan ‘klik’.
“aha! Di sana!, ayo kita ke sana!”
Aku pun mengikuti Dora ke belakang TV, ternyata tidak ada. Aku cari di ruang makan, ternyata tidak ada juga. Aku cari lagi di belakang rumah, ternyata tidak ada juga. Sampai di kebun belakang rumah pun tidak ada juga.
Rasa jengkelku membuatku menangis karena kesal gunungnya belum ketemu. Suara tangisku terdengar sampai dapur. Tak lama simbah menghampiriku ke kebun.
“dek! Ada apa tho dek!, adek digigit semut ya?”
“bukan mbah!”
“lha, terus apa kok malah nangis gitu”
“itu mbah, disuruh Dora cari gunung mbah gitu mbah”
“Ya Allah, itu kartun kok dipercaya. Dah, yuk makan nasi goreng kesukaanmu, ada sosisnya lho”
“yang bener mbah?”
“iya bener kok, kan tadi mbah masak di dapur. Ayo ke ruang makan”
“ya mbah”
Simbah dan aku menuju ke ruang makan, diatas meja makan tidak hanya nasi goreng, tapi ada sayur sop, tempe goreng, dan sambal pete. Keduanya menikmati hidangan itu, hal itu membuat diriku rindu masakan simbah dulu.
Di tengah diriku melihat keduanya menikmati nasi goreng, pandanganku menjadi pudar hingga menjadi hitam, tak lama berubah menjadi berwarna putih terang, diriku berusaha membuka mataku.
“Ahmad! Ahmad! Bangun!”
Suara itu kayaknya kenal. Suaranya berat agak cempreng, mungkin pak guru, mungkin.
Aku berusaha mengucek-ngucek mataku dan aku lihat sebelahku ternyata pak guru. Aku pun terkejut setengah mati.
“hey Ahmad! Kalau pak guru lagi menerangkan itu harus perhatikan. Ini malah tidur seenaknya, dengkur lagi, hih malu-maluin pak guru saja”
“Mohon maaf pak, saya minta maaf karena saya lalai”
“Baik bapak maafkan hari ini, besok jangan diulangi lagi ya”
“baik pak”
Seluruh isi kelas pun tertawa melihat aku bangunin pak guru. Pak guru melanjutkan di depan kelas menerangkan yang tadi.
tamat