"Aku mendapatkannya dari seorang teman."
"Apa? Itu artinya kau meminjam semua uang ini?"
Evelyn terlihat begitu muak dengan suaminya. Bagaimana bisa ia harus meminjam uang sebesar itu hanya untuk membantunya melunasi ganti rugi? Memalukan.
Sama saja bohong. Evelyn berpikir, suatu saat nanti, uang itu harus ia kembalikan juga. Oh, tidak.
Renata kembali berkoar tak terima.
"Kamu ini memang menantu tak punya otak. Sebaiknya kita mengharapkan bantuan orang lain saja dari pada dengan lelaki kotor ini. Setidaknya, orang lain akan memberinya tanpa harus menggantinya "
Renata benar, jika Joni tidak akan pernah menerima uangnya untuk di ganti. Terkecuali jika Joni memberikan persyaratan. Itu tidak masalah bagi Renata dan Kristian, apapun persyaratannya, mereka akan penuhi termasuk Evelyn.
"Tidak, Bu. Aku..."
"Bawa kembali uangmu," teriak Evelyn.
Devan diam menatap Evelyn dingin. Ia tidak akan pernah mengambil kembali barang yang sudah ia berikan kepada istrinya termasuk uang itu. Devan melangkah kembali ke kamarnya.
"Hey, apa kamu tuli? Devan ..." Renata berteriak memanggil Devan.
"Dasar gila. Dia meninggalkan uang orang lain di sini. Harus kita apakan uang ini?"
"Biar aku yang memberikannya lagi."
Rumi mengambil uang itu, memasukkannya kembali ke kantung. Ia bergegas ke kamar Devan yang ada di belakang. Evelyn sangat keterlaluan, ia membiarkan suaminya tidur di dekat dapur yang dingin itu. Apakah dia seorang pembantu?
Rumi adalah sahabatnya. Namun, jika harus melihat tempat tak layak seperti ini membuatnya miris.
Devan pria yang baik. Bagaimana mungkin ia tahan dengan perlakuan keluarga Evelyn selama tiga tahun ini? Pikir Rumi.
"Ada apa kau di kamarku?" Devan kini melihat sahabat istrinya sudah memasuki kamar miliknya sendiri.
bughh.
"Ambil kembali uang itu. Biarkan Evelyn menerimanya dari temanku." Rumi melemparnya tepat di depan wajah Devan. "Tolong. Biarkan temanku bahagia, kau harus melepaskannya untuk bersanding dengan orang lain."
"Itu tidak akan terjadi, karena dia istriku."
Rumi menggeram kesal. Dia menghentakkan kakinya dan pergi. Pria itu keras kepala.
***
Devan
Renata memanggil menantunya dengan suara lantang.
Ada apalagi?
"Iya, Bu. Ada apa?" Devan sudah menghampirinya cepat.
"Berikan tas ini sama Evelyn. Dia sedang ada di kantor teman Rumi dan ini alamatnya."
Devan mengernyit, "Untuk apa?"
Tidak biasanya Renata menyuruhnya keluar hanya untuk memberikan barang putrinya. Itu adalah suatu kejanggalan untuk Devan.
"Jangan banyak tanya. Antarkan saja apa susahnya!"
"Baiklah."
Devan bergegas mengambil motornya untuk segera pergi ke alamat kantor yang di tulis Renata tadi.
Sebetulnya Renata ingin Devan melihat teman Rumi yang kaya itu. Setidaknya Renata ingin membuat menantunya malu karena putrinya bisa mendapatkan orang kaya seperti Joni.
Renata telah menerima kabar jika Joni menyukai Evelyn pada pandangan pertama. Joni memutuskan untuk memberikan semua uang itu secara percuma asalkan Evelyn bisa dekat dengannya.
Itu tak masalah. Selama Evelyn terus menerus bersamanya setiap hari, maka besar kemungkinan Evelyn akan menyukainya. Renata mengharapkan itu semua. Ia berharap juga kalau nanti Devan akan segera menceraikan Evelyn.
***
Eksir Co.
Perusahaan milik Joni. Lebih tepatnya milik ayahnya dan diteruskan olehnya.
Perusahaan itu merupakan perusahaan gaun terbesar dan termewah. Merk nya pun sudah terkenal dan bahkan menembus sampai luar Negeri. Joni telah sukses membesarkan perusahaan ayahnya.
Joni memberikan sebuah kotak kepada Evelyn. Mereka sedang duduk berdua di atas sofa di ruangan pribadinya. Joni sangat menyukai Evelyn karena bentuk tubuhnya yang indah dan wajahnya yang sangat cantik.
"Ini untukmu. Semoga kamu menyukainya."
Evelyn tersenyum manis dan itu membuatnya semakin terlihat cantik. "Terimakasih."
Evelyn mengambil kotak itu dan segera membukanya. Isinya sangat ia harapkan. Sebuah gaun dengan rangkaian renda mewah di sisinya. Gaun itu nampak indah, kainnya pun terasa sangat lembut. Ini adalah gaun yang dibuat oleh desainer terkenal, ia tak ragu jika Joni memberikannya karena ia tahu betul kalau Joni banyak mengenali para desainer papan atas. Itu sudah pasti.
"Apakah ini untukku?"
Joni mengangguk sambil tersenyum. Ia membelai rambut Evelyn dengan lembut. "video Tentu saja."
Evelyn berdiri untuk mencoba meletakkannya di atas tubuhnya yang ramping. Sungguh, ini gaun yang sangat cantik.
"Bagaimana?" Evelin memutar dan menyibakkan gaun itu di depan Joni.
Joni sangat menyukainya. Bukan soal gaun. Namun Evelyn yang terlihat sangat senang.
"Aku akan memberikan banyak gaun lagi jika kamu bersedia menjadi wanitaku."
Evelyn mengerecut, bibirnya yang seksi telah mengerut.
"Kenapa? Apa itu karena suamimu?" Joni hampir memeluknya.
"Evelyn, ini tasmu yang tertinggal di rumah."
Devan membuka pintu ruangan yang sedikit terbuka sejak ia datang. Namun, hatinya seakan teriris saat melihat pemandangan di depannya.
la melihat orang lain memperlakukan istrinya begitu manja, dan lebih anehnya, mengapa Evelyn mau dipegang oleh lelaki itu?
"Kamu ..." pekik Evelyn.
n"Untuk apa kamu kesini? Kamu telah merusak pertemuanku dengan Kak Joni."
Kenapa Evelyn bisa memanggilnya dengan sebutan
saudari?
"Istriku, aku membawakan tas ini untukmu. Ibu yang menyuruhku untuk memberikannya padamu."
Seketika tatapan Devan mengarah Joni dengan tajam. Pria ini benar-benar cari mati.
"Pulanglah, aku tidak mau orang tahu kalau kamu suamiku."
"Lalu, apakah kamu akan mengakui suami terhadap lelaki itu?" ucap Devan menahan amarahnya.
"Tentu saja akan kulakukan. Tapi aku harus bercerai denganmu dulu."
Devan terkesiap. Dia kembali melihat sebuah gaun yang masih di pegang Evelyn. Apa karena gaun dan uang itu sehingga dia berani berkata seperti itu? Pikirnya.
"Istriku, aku bisa membelikan gaun yang lebih bagus dari yang kamu peluk. Tolong jangan bicara seperti itu lagi. Aku tidak akan pernah menceraikan mu."
"Apa kau bilang? Membeli yang lebih bagus dari ini? Bahkan kau tidak akan sanggup membelinya," ketus Evelyn.
"Omong kosong. Aku mengambil ini dari desainer terkenal di Kota ini. Harganya pun sangat mahal. Kamu pasti tidak mampu membelinya," ucap Joni angkuh.
Devan melihat sisi tengah dari gaun itu. Ia melihat tepat mengarah ke merk gaun itu. Ia melihatnya dengan teliti.
Devan terkekeh, Merk itu tak jauh dari harga 10 juta. Bahkan jika merancangnya sendiri tidak akan jatuh dengan harga sebesar itu. Devan tahu kalau perusahaan Joni merupakan perancang busana. Dia tahu modal yang keluar.
"Istriku, aku akan membelikan gaun yang lebih dari 10 juta jika kau mau. Bahkan aku bisa membawamu bertemu langsung dengan Desainer nya."
Apa?
Dia tahu harga gaun itu?
Bagaimana mungkin?
"Kamu ..."
Joni hampir tak bisa berkata.
Evelyn menggigit bibirnya, "Apa aku harus mempercayaimu?"
"Tentu saja. Aku akan bertanggungjawab atas perkataanku."
"Aku akan ambil kembali uang itu jika kamu ikut dengannya."