"Loh, loh, ini mobil kenapa sih, apa ada yang salah?"
Saat dalam pertengahan jalan, mobil yang Evelyn kendarai rupanya mengalami masalah. Entah kenapa tiba-tiba mobilnya tak mau menyala dan malah berhenti tepat di pinggir jalan raya.
"Astaga... kenapa aku lupa bawa ponsel segala sih!! s**l !!" rutuknya kembali saat ia mencari sesuatu yang penting di dalam tas kecilnya.
Lantas, Evelyn pun keluar dari mobil itu dan melihat lihat sekitar mobil miliknya. Ia tak paham akan kondisi mobilnya sekarang, ia bahkan tidak tahu apa yang musti ia lakukan sekarang.
"Ck, baru pagi-pagi udah kena s**l, dasar mobil rongsokan!!" ia menendang mobilnya sendiri lalu mencari bantuan terhadap kendaraan lain. Namun, sepertinya tidak ada kendaraan yang mau berhenti untuk sekadar menolongnya.
Beberapa kali, sampai ada sebuah mobil berwarna hitam itu berhenti dan mau meminggirkan mobilnya untuk menolong gadis itu. Evelyn merasa lega sebab ada orang yang mau menolongnya dalam keadaan seperti ini.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan penampilan rapi itu keluar dari mobil berwarna hitam tadi. Rambut halus sedikit tebal yang tumbuh di sekitar dagunya dengan kacamata hitam dan berkulit bersih itu tersenyum ke arah Evelyn.
Namun, setelah keluarnya pria itu, Evelyn bahkan ingin pergi. Ia terlihat seperti muak dan tak mau melihatnya.
"Loh, kenapa? Kau mau kemana?" kata pria itu dengan nada suara yang membuatnya hampir lupa.
Evelyn sedikit menarik tangannya dan menatap tajam ke arah pria itu. "Lepaskan. Jangan pernah menyentuhku!!" tegasnya.
Sudah hampir tiga tahun, Evelyn tidak melihatnya. Seharusnya pria itu tidak pernah menemuinya lagi. Tetapi kali ini?
"Aku merindukanmu, Ev. Kenapa kamu menghindar dariku?" perlahan ia melepaskan genggamannya dari tangan Evelyn.
"Heug... merindukan aku katamu? Yang benar saja!!" Evelyn memalingkan wajah segera melipatkan tangan di atas dadanya.
"Ya, apa kamu tidak percaya padaku?"
Kembali menatapnya tajam. "Hei Tuan Robi yang terhormat. Saya bahkan tidak ingin melihat Anda seumur hidup saya dan saya selalu berdoa agar Anda lenyap untuk selamanya dari muka bumi ini."
"Uusss... kejam sekali doamu, Ev. Tolong jangan begitu dan maafkan aku, waktu itu aku ..."
"Memaafkan kamu katamu?" Evelyn menyela. "Jangan harap aku memaafkan Anda setelah Anda mempermalukan aku dan lebih memilih wanita yang lebih kaya. Apa Anda tau, Anda tak lebih dari pria berengsek yang pernah aku temui di dunia ini!!" tegasnya sambil menunjuk tangan ke arah pria itu.
Pria dengan sebutan Robi itu tersenyum dan kembali memegang tangan Evelyn. Kali ini pun Evelyn memilih untuk mengibaskan tangannya.
"Selama tiga tahun terakhir ini aku minta maaf dan aku ingin menjelaskan kesalahpahaman selama ini."
Evelyn memilih untuk pergi.
"Aku tidak pernah menikah dengan siapapun!!" lanjutnya lagi membuat gadis itu menghentikan langkahnya cepat lalu kembali melihatnya.
"Apa kamu bilang?"
"Ya, waktu itu aku hanya menuruti keinginan ayahku dan pada akhirnya semua terbukti kalau Nela punya pilihan lain. Selama tiga tahun ini aku ikut dengan ayah dan kau tau, aku bahkan merindukanmu selama di sana," jelas Robi.
Evelyn mengulum bibirnya diam sejenak untuk mencerna semua yang Robi katakan. Apa ia harus percaya dengan semua ucapannya?
"Kenapa baru sekarang kamu menjelaskan semuanya?" tanya Evelyn sedikit ragu.
"Sebab aku sibuk di sana dan ayah baru bisa memahami keadaanku sekarang. Ev, tolong maafkan semua kesalahanku waktu lalu, aku juga ingin menjelaskan semuanya sama keluarga kamu. Apa kamu mau membantuku untuk semua itu?"
Evelyn terdiam. Tiga tahun baru melihatnya kembali dan ia sangat merindukan wajah tampan itu. Evelyn hanya menatap kedua mata pria itu dan hampir mengeluarkan air matanya.
"Tolong aku Ev."
Setelah mendengar permohonannya untuk ke sekian kali, Evelyn baru mau menganggukkan kepalanya. Itu artinya ia setuju.
"Makasih, Honey." Robi memegang kepala Evelyn dengan lembut dan itulah kebiasaannya sejak dulu. "Ah iya, ngomong-ngomong kenapa kamu ada di sini? Tadi aku lihat kamu lambai-lambai tangan ke jalan, apa ada masalah?"
Beberapa detik kemudian Evelyn baru tersadar dan dengan cepat ia menghapus air matanya yang sudan turun tanpa sadar.
"Ah, iya, mobilku mogok dan aku lupa bawa hp aku. Apa kamu bisa menolongku?"
"Oh ternyata itu, tentu saja aku bisa nolong kamu, Ev. Sebentar aku cek ya!!" Robi pun segera mengecek mobil milik Evelyn yang katanya mogok. Tidak semua yang dia tahu, tetapi, setidaknya Robi melihat sumber masalah yang menyebabkan mobilnya berhenti tiba-tiba.
"Hmmm, kayaknya harus dilihat langsung sama ahlinya deh. Gimana kalau aku antar kamu pulang sekalian aku menjelaskan semuanya sama keluarga kamu, Ev."
"S-sekarang?" Evelyn terkejut. "A-apa tidak kecepetan?" katanya lagi.
"Lebih cepat lebih baik, Ev."
Robi membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Evelyn untuk masuk ke dalam sana. "Ayo, Ev."
Evelyn mengangguk, sedikit tersenyum. Robi senang, akhirnya ia bisa kembali dekat dengan gadis itu. la pun segera melajukan kendaraannya.
"Aku tau kamu sudah menikah selama tiga tahun ini," cetusnya yang membuat Evelyn langsung melihat ke arahnya.
Lalu, Robi pun melanjutkan. "Dan aku juga tahu selama ini kamu tidak pernah suka sama suami kamu, benar kan?"
Evelyn menarik napasnya dalam sebelum ia melanjutkan. Sedikit heran, kenapa Robi bisa tahu semuanya?
"Kamu memata-mataiku?" kata Evelyn.
"Haha... apa sih yang aku tidak tahu tentangmu, Honey."
***
"Menantu bodoh!!! Bisa-bisanya dia rusak ponsel anakku. Lihat saja, kalau sampai Evelyn tau, habis kamu!!" Renata terus merutuk dengan kekesalannya.
pagi ini. la masih tak habis pikir, kenapa Devan bisa sampai melempar ponsel milik Evelyn sampai hancur dan tak bisa kembali dihidupkan.
"Bu, ada apa?"
Renata yang sibuk mengumpulkan beberapa bagian itu tak lama mendengar putrinya kembali ke rumah. Lantas, Renata pun memberikan barang milik Evelyn.
"Nih kelakuan suami kamu. Dia melempar ponsel kamu sampai hancur begitu," jawab Renata.
"Apa?" Evelyn melotot. "Kenapa Devan sampai rusakin hp aku segala. Terus, di mana dia sekarang?" gadis itu terlihat sangat emosi.
"Pergi!!" jawab Renata singkat.
"Pergi? Setelah rusakin barang aku dia pergi?"
"Ya!! Dan kamu tau, lebih baik ibu gak lihat dia lagi di sini daripada dia suka buat darah ibu naik tiap hari," cetusnya lagi.
"Halo, Tante, apa kabar?"
Mendengar ada yang menyapanya di sana, Renata pun melihat ke arah pria itu dan ia terlihat begitu terkejut akan kedatangan pria tersebut.
"K-kamu..." tatapannya berubah menjadi sangat tajam. "Mau apa kamu ke sini? Belum puas lihat Evelyn menderita selama ini, huh!!"
Renata hendak ingin memukul pria itu. Namun, dengan cepat Evelyn menahannya. "Bu, Robi ke sini mau jelasin semuanya sama ibu sama ayah juga. Kali ini ibu sama ayah pasti mengerti."