Mengingat jika dirinya tidak membawa apa-apa saat keluar dari rumah mertuanya, Devan menyadari bahwa ia melupakan sesuatu. Menarik napasnya dalam. Devan merasa begitu malas jika ia harus kembali ke rumah itu. Namun, ia melupakan suatu yang sangat penting terutama harta paling berharga dari mendiang kakeknya ada di sana.
Khawatir ada orang yang mengambilnya, Devan pun terpaksa kembali ke rumah itu. Padahal jika diingat lagi, bagaimana mungkin ada orang yang mau masuk ke dalam kamarnya. Bahkan istrinya sendiri pun enggan memasuki kamar itu.
'Kalau saja aku membawanya, takkan mau aku menginjakkan kaki lagi di rumah ini'
Di luar dugaan, Devan malah melihat seseorang di dalam rumah itu. Dia seperti tamu istimewa dengan sambutan yang hangat dari mertua serta sang istri di sana. Bukan hanya itu saja, Devan melihat Evelyn duduk di samping pria yang tidak ia kenali sebelumnya.
''Siapa dia, apa dia saudara Evelyn?'' Sebelumnya Devan tidak pernah melihat pria itu. Ia hanya menganggap jika pria itu ialah saudara Evelyn.
Berbeda dengan pria yang tidak ia kenali. Evelyn menyambut Devan dengan perasaan marah. Dia lantas berlari ke arah suaminya.
"Dari mana saja kamu, kenapa kamu sampai rusakin hape aku, memangnya aku salah apa sama kamu, huh??" kata Evelyn sedikit berbisik tetapi terdengar emosi.
Devan terdiam. Ia tidak menatap Evelyn melainkan menatap ke arah pria berikut sang mertua yang ada di sana. la lantas berjalan menuju kamarnya yang ada di belakang sana tanpa menghiraukan Evelyn lagi.
"Hei, aku bicara sama kamu, Devan. Apa kau tidak dengar, Devan!!" Evelyn akhirnya berteriak, tetapi Devan tetap tidak mendengarnya.
"Menantu bodoh!! Lihatlah itu, sudah salah malah bikin ulah. Itulah kelakuan menantuku. Ahh ... aku hampir lupa kalau aku tidak pernah punya menantu seperti dia,"cetus Renata.
Bahkan sekarang Devan tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Renata. Yang paling penting baginya adalah mengambil barang-barang berharganya yang ada di ruang belakang tepat di sebelah dapur.
Ingin sekali ia mengeluarkan semua emosinya yang sudah lama ia tahan. Namun, mungkin bagi mereka itu percuma. Devan hanya tidak mau keluarga Evelyn bahkan Evelyn sendiri menganggapnya semakin gila.
Dengan cepat ia mengemasi semua yang harus ia ambil dari dalam sana. Tidak semua, ia hanya membawa yang penting-penting saja. Tidak ada barang berharga lainnya sebab Evelyn tidak pernah memberinya apapun selama 3 tahun pernikahan mereka.
Tidak ada yang harus Devan tangisi. Sebaliknya, ia bahkan merasa kesal akan perlakuan keluarga Evelyn selama ini.
'Menantu tak berguna, bodoh, berengsek, t***l, hanya itu yang mereka sebutkan untukku. Lantas, apa aku harus terus seperti ini?' gumamnya dalam hati.
Devan membawa tas punggung berukuran kecil. Merasa sudah lengkap, ia pun keluar dari kamar dan segera pergi. Baginya, pamit pun akan percuma. Selama ini dirinya tidak dihargai oleh keluarga itu.
"Mau kemana kamu. Apa kamu gak tau malu setelah merusak ponsel aku, huh!! Mana tanggungjawab kamu!! yang ada kamu tuh cuma bikin ulah saja setiap hari," ungkap Evelyn.
Kali ini Devan tidak mau diam dan bergumam dalam hatinya. Ia menatap Evelyn dalam dan berkata,
"Aku tidak akan mungkin merusak ponsel milikmu kalau aku tidak melihat semua bukti yang kau lakukan dengan pria yang kamu anggap menyebalkan. Joni, dia menelponmu dan meminta agar semua yang dia berikan kembali padanya, tapi apa? Bukankah aku sudah mengganti semua yang dia kasih? Lantas, kenapa kamu tidak memberikan semuanya?"
Evelyn kehabisan kata-kata, gadis itu seolah diam seribu bahasa dan tidak berani menatap suaminya.
"Kenapa? Apa kamu sudah menghabiskan semuanya? Atau kamu pakai seperti apa yang kamu lakukan dengan orang itu?"
"Hei, jaga bicara kamu ya, Devan. Anakku tidak pernah melakukan hal itu," hardik Renata tak terima jika anaknya dituduh seperti itu.
"Benarkah? Lantas, apa selama ini kalian menghargaiku sebagai suami atau menantu di rumah ini?" Devan sudah tidak peduli akan tanggapan mereka.
"Tak berguna!!"
Devan tersenyum seakan tertekan. "Ya, aku memang tidak berguna. Aku bodoh, aku juga lelaki pengangguran. Tidak ada yang kalian harapkan dariku."
"Baguslah kalau kau sadar. Sekarang saatnya kamu untuk melepaskan Evelyn untukku," terdengar dari mulut seorang pria yang menyela ucapannya.
Devan berbalik dan berkata, "Siapa kamu?"
"Saya? Kau tau, andai kau tidak menggantikanku di pelaminan itu mungkin sampai saat ini Evelyn akan tetap manjadi milikku" lanjutnya lagi
Haha!! Kali ini Devan tertawa lepas di sana. Baru kali ini bahkan Evelyn sendiri terkejut mendengar tawa suaminya sendiri. Selama ini ia tidak pernah mendengar ataupun melihat suaminya tertawa lepas seperti itu.
"Itu berarti siapa yang berengsek di sini," celetuknya sampai membuat semua yang ada di ruangan itu menampakkan wajah emosi terhadapnya.
"s****n kau!!"
"Siapa? Aku?" Devan menunjukkan jari ke arah dirinya sendiri. Lantas, ia pun kembali tertawa.
Buk!!
Tidak menunggu lama, rupanya Robi melempar kepalan tangannya tepat mengenai wajah Devan. Tidak merasa sakit sedikitpun. Devan malah kembali tertawa.
"Dasar gila!!" cetus Renata.
Menatap tajam ke arah mertuanya. "Aku gila?" Devan menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk pergi. Namun, ia mendengar tapak kaki yang mendekatinya dari belakang.
Buk!! Kali ini bukan dia yang merasa kepalan tangan hingga tersungkur. Tetapi pria yang meninggalkan pelaminan hari itu. Robi.
"Aakkhh!!"
Bukan hanya Renata yang terkejut ketika melihat Devan melakukannya, bahkan Evelyn sendiri pun tidak menyangka kalau suaminya bisa berbuat seperti itu.
"Devan ... apa apaan kamu ini." Evelyn malah membantu pria itu untuk berdiri, sedangkan Devan hanya tersenyum lebar di sana. Sekarang ia tahu bagaimana perasaan wanita yang selama ini ia bela, ia perjuangkan dan dia anggap sebagai istri sah nya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga atau aku laporkan kamu sebagai perlakuan k*******n," hardik Renata.
"Ibu mertua, ah, aku lupa, aku bahkan tidak punya ibu mertua sepertimu." Devan sepertinya tidak menganggap Renata sebagai ibu mertuanya. “Tanpa kamu bilang aku akan pergi dari sini dan untuk kalian berdua, jika kamu ingin bersatu, aku akan membebaskanmu mulai sekarang, Evelyn. Akan kuurus semuanya dan kau bisa bebas memilih siapapun yang kau inginkan termasuk pria b******k ini."
Seperti itulah perkataan Devan untuk yang terakhir kalinya. la sudah lelah, benar-benar lelah. Selama 3 tahun ia dianggap sebagai pria tak berguna, bodoh, pengangguran, mungkin ini sudah saatnya dia melepas semuanya.
Sungguh, kali ini ia tidak bisa menoleransi perlakuan yang diberikan oleh semuanya termasuk Evelyn sendiri. Disaat seperti ini pun Evelyn tidak membelanya sama sekali. Sebenarnya selama ini dia dianggap apa?
Mendengar hal itu, Evelyn pun kembali terdiam. Ia hanya melihat Devan pergi tanpa peduli akan dirinya lagi.
''Apa yang dia katakan semuanya benar? Lalu, kenapa aku seperti tidak rela dia mau melepasku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?''