Berawal dari kisah cinta remaja antara Edo jonathan yang sangat penyayang dan hangat, dengan wanita cantik dan manis bernama Femania, seorang gadis sederhana yang pintar dan cerdas serta apa adanya ini, berhasil menjerat hati Edo untuk dijadikan kekasih hati satu-satunya dalam hidupnya. Namun sayang, cinta yang seharusnya berlanjut bahagia, justru harus berhenti di tengah jalan karena sesuatu hal.
Semua berubah drastis begitu saja, kebahagiaan yang masih hangat-hangatnya itu hilang tidak berjejak, saat Ibu Edo memilihkan Lina sebagai wanita satu-satunya di hidup Edo, seorang wanita yang bertahun-tahun telah mencintai Edo dengan segenap jiwanya.
Namun Edo hanya menganggapnya sebagai teman sekolah yang cukup dia kenal saja.
Sikap acuh Edo yang terus di ditunjukkan terhadap Lina, membuat seorang Lina yang obsesif itu mencari tahu apa yang menghalangi cinta nya. Berbagai cara dilakukan Lina untuk mendapatkan cinta Edo yang sangat sulit untuk dikejar dan di dapat. Sehingga dia pun akhirnya mendatangi rumah Edo dan membicarakannya dengan Ibu Edo, Nyonya Jessica yang terpandang dan terkenal dengan bisnis kosmetik serta fashionnya itu, menyambut dengan antusias keinginan Lina yang ingin menjadikan Edo putranya sebagai suaminya.
Siapa yang tak mengenal keluarga Lina yang kaya raya, serta memiliki berbagai macam perusahaan dan bisnis itu, orang tuanya pun juga bergabung investasi bersama Ibu Edo. Sehingga membuat kedua keluarga itu terjalin baik dan sangat erat.
Jessica pun segera mencari tahu siapakah kekasih putranya selama ini, diam-diam dia menyewa seseorang untuk mengikuti kemana pun putranya itu pergi, Jessica ingin mengetahui wanita yang telah menjerat hati Edo.
Dua hari kemudian, Jessica pun mendapatkan informasi mengenai kekasih Edo selama ini. Dia wanita dari kalangan biasa dari kelas menengah kebawah. Seseorang yang hanya lulusan SMA di sebuah sekolah biasa yang tak begitu terkenal. kini dia bekerja sebagai pramuniaga di sebuah kafe yang cukup ternama di kota ini, dia bernama Femania, biasa dipanggil Ema.
Esoknya Jessica pun mencari tahu informasi tentang Ema ini, ia mendatangi tempat kerjanya di jam istirahat. Ema yang masih kebingungan akan kedatangan seseorang yang tak dikenalnya pun menjadi canggung. Langsunglah Ibu Edo itu memperkenalkan dirinya, tanpa basa-basi lagi, ia menginginkan Ema meninggal kan Edo secepatnya, karena Edo sudah memiliki tunangan yang akan segera menikahinya bulan depan.
Ema yang mendengar penjelasan dari wanita bernama Jessica itu pun masih belum mencerna ucapannya dengan baik. Segera tanpa takut Ema mengusir Jessica secara halus, ia mengatakan kalau jam kerja segera dimulai , dia harus siap sepuluh menit lebih awal sebelum jam istirahat selesai.
Dua hari kemudian setelah kedatangan Jessica waktu itu, membuat Ema sulit dihubungi yang akhirnya membawa Edo untuk mendatangi tempat kerja Ema dan mengajaknya makan siang, ia menunggu Ema dengan setia sampai jam istirahatnya tiba. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya Ema keluar dengan seragam cafe nya menghampiri Edo yang terlihat masih duduk manis di sudut cafe.
"Hai," sapa Ema kepada Edo.
Edo kembali tersenyum melihat kekasihnya itu berada di hadapannya. Rasa kagum akan kecantikan Ema pun selalu menghinggapi otak dan pikirannya setiap waktu.
"Mau, kopi?" tanya Ema.
"Boleh," jawab Edo manis.
Langsung Ema beranjak dari tempat duduknya dan pergi membuatkan kopi spesial buat kekasih hatinya itu.
Selesai, di bawalah secangkir kopi dengan aroma yang begitu menggoda di hadapan Edo.
"Sudah lama?" tanya Ema kepada Edo.
"Lumayan, tapi aku selalu happy setiap menunggu kedatanganmu," ungkap Edo kembali. Yang membuat keduanya saling bersenda gurau dan sangat mesra.
Pembicaraan keduanya pun terpotong oleh Ema, ada sebuah pertanyaan kecil dari Ema yang membuat Edo sedikit emosi.
"Do, aku mau sedikit bertanya kepada, kamu?"
"Apa, sayang?" jawab Edo.
"Mmmm, apa benar yang dibilang orang-orang itu, kalau kamu akan segera menikah dengan orang lain?" tanya Ema kepada Edo dan masih belum ada jawaban dari Edo.
Edo terus menyeruput kopinya tanpa ada respon sedikitpun tentang pertanyaan Ema barusan.
"Enak kopinya," ucap Edo.
Ema yang semakin kesal dengan sikap acuh Edo saat ini. Dia pun kembali bertanya kepada Edo.
"Apa benar kamu sudah bertunangan? Jawab Edo!"
"Aku paham Do, tapi kenapa kamunya tidak pernah bilang kepadaku. Dan menjelaskan yang sebenarnya," cerocos Ema. "setidaknya aku tahu dari kamu, bukan dari orang lain, Do!"
Edo masih tetap terdiam tanpa kata, dia memilih tidak bersuara agar suasana tidak semakin ricuh.
"Jawab, Edo!" gertak Ema pada Edo lagi sambil melotot.
"Apa sih, Ema sayang," jawab Edo kaget.
"Jangan pura-pura tidak dengar, Do!" teriak Ema kesal.
"Kamu, dengar dari siapa?" Edo balik bertanya kepada Ema.
Ema hanya diam tanpa kata, kekesalannya akan pernyataan wanita kemarin itu membuat hatinya ngilu dan sakit.
"Siapa yang bilang itu semua Ema? Katakan?" kembali Edo semakin penasaran.
"Sedang aku saja tidak tahu menahu soal ini, Ma. Sudah jangan beri aku pertanyaan yang menyulitkan lagi,"
ungkap Edo dan pergi begitu saja meninggalkan Ema yang masih belum puas dengan semua jawaban dari nya.
Sayu-sayu langkah Edo semakin jauh pergi meninggal tempat Ema bekerja. Ema hanya bisa menghela nafas panjang dan meneteskan air mata, tak biasanya kekasihnya itu semarah ini kepadanya, apalagi hanya sebuah pertanyaan yang sudah biasa jadi bahan pangan keduanya.
Dengusan kesal keluar dari mulut Ema, di rapikan kembali meja tempat Edo minum kopi tadi oleh Ema, kemudian dia kembali bekerja seperti biasanya, menutupi segala kekecewaan dan luka di hatinya. Disisi lain Edo sangat bersedih dengan pertanyaan Ema yang selalu sama, namun hari ini tadi pertanyaan itu lebih dalam dan bermakna, seakan benar ada seseorang yang telah membakar api cemburu Ema kepadanya.
Dalam hatinya berkecamuk, akan pernyataan Ibunya tadi malam soal Lina, yang ingin menikahi nya bulan depan. Ibu Edo ingin dirinya menikahi Lina secepatnya, dan memutuskan semua hubungan dengan wanita lain. Karena dengan pernikahan ini, bisa memperluas usaha bisnis kosmetik Ibu nya serta bisa mengembangkan semua usaha dagang yang selama ini sudah dijalankan bersama.
Ponsel Ema berdering keras ada panggilan nama Edo sedang terpajang, diangkatlah panggilan dari kekasihnya itu.
"Ya, Do."
"Maafin aku sayang, tadi siang telah meninggalkanmu begitu saja, aku hanya takut kehilanganmu dan seringnya kamu tanyakan ini padaku, yang membuatku semakin takut," ucap Edo terdengar jelas di ponsel Ema.
"Aku sudah memaafkan kamu, Do. Lain kali jangan kamu tinggalkan aku begitu saja," sahut Ema dengan nada kesal.
"Maaf, maaf Ema, sayang. Telah membuatmu kecewa," ucap Edo lagi.
"Okelah sayang, tidak apa-apa, hanya aku yang berlebihan bertanya berulang kali kepadamu. Aku juga minta maaf, sayang," Jawab Ema.
********
Paginya, Lina sudah datang di rumah Edo dan mereka pergi bersama ke sebuah pusat oleh-oleh. Mereka akan pergi ke rumah Lina menemui ibu Lina yang sedang sakit .
Teror di ujung senja
By Adilia